Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Perkara Anak


__ADS_3

Pria Pilihan Ibu Bagian 35


Oleh Sept


Lia bagaikan ditampar oleh kenyataan. Mendengar sesuatu yang disembunyikan oleh sang suami, cukup membuatnya sesak. Sebuah kenyataan yang cukup membuatnya shock dan terpukul berat. Tidak mau ketahuan kalau sedang menguping, Lia pun bergegas ke kamar.


Suasana ketemu keluarga yang harusnya harmonis seketika berubah. Sejak pulang dari kunjungan itu, Lia sering murung. Saat suamiku pergi bekerja, Lia pun mulai browsing.


Pasti ada obatnya, pasti Arman salah bicara. Tidak mungkin apa yang dikatakan pria itu, Lia menepis segala kemungkinan buruk. Ia rasa, diagnosa dokter pasti salah.


Akhirnya, Minggu pagi Lia sengaja tidak membangunkan Arman. Ia menunggu sampai suaminya itu bangun sendiri.


"Hoamm."


Arman menoleh ke jendela, matahari sudah bersinar cerah.


"Sayang ... kok Mas gak dibangunin?"


Arman mencari sang istri yang sibuk di dapur.


"Sayang." Arman melingkar lengannya di pinggang ramping Lia.


"Mas kok gak dibangunin?"


Lia diam saja, melanjutkan memotong wortel dan kentang.


"Lia, kamu sakit?" tanya Arman.


Pria itu sadar, Lia memang agak aneh paska pulang dari mengunjungi keluarganya. Mungkin ada ucapan salah satu kerabat yang tidak enak di telinga.


"Kamu masih marah sama keluargaku?" tebak Arman.


"Sudahlah, Mas. Cuci muka dulu, sarapan sebentar lagi sudah siap!"


Lia mengalihkan perhatian.

__ADS_1


"Lia!"


Lia menepis lengan suaminya.


"Nanti kena ini, tajem!" celetuk Lia.


Arman menghela napas dalam-dalam. Apa Lia Lagi M? Kok jutek begitu. Akhirnya Arman pun balik badan dan ke kamar lagi untuk membersihkan diri.


Setengah jam kemudian, sarapan sudah siap di atas meja. Sedangkan Lia masih memakai apron. Ada satu menu lagi yang harus dia olah.


"Sayang, ayo sarapan ... ini udah cukup. Masak apa lagi itu?"


"Bentar, Mas!"


Tap tap tap


Lia memegang mangkuk berisi soup dengan bau agak menyengat. Aroma rempah yang kuat.


"Apa itu? Baunya aneh!" Arman menutup hidung.


Mata Arman melotot, dari segi penampilan saja mengerikan. Apalagi aromanya.


"Sayang, kamu yakin ini bisa dimakan?" celetuk Arman.


"Sudah, Mas. Bagus untuk kesehatan. Makan saja."


Arman mengambil sumpit, ia kemudian mengaduk bahan-bahan dalam mangkuk. Seketika Arman langsung menelan ludah. Lalu menatap istrinya yang bahkan menghindar saat dia tatap.


"Apa dia tahu sesuatu?" gumam Arman yang mulai gelisah.


"Makana apa ini?"


"Soup herbal!" jawab Lia lalu makan dan masih mengalihkan perhatian.


"Bukan itu, ini untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk kesehatan, biar gak gampang capek."


"Bukan itu maksudku!" balas Arman.


"Sudahlah, Mas. Habiskan saja."


Arman langsung meletakkan sumpit, dan beranjak meninggalkan meja makan.


"Mas!" Lia mengusap wajahnya, matanya perih, ditambah menatap soup buatannya, sungguh dia malah ingin menangis.


Arman tidak jadi makan, dia malah ke halaman belakang. Duduk di gazebo belakang rumah sambil menyalakan korek, padahal gaya hidupnya sudah sehat, tapi kalau banyak pikiran larinya ya ke situ juga.


Tap tap tap


Tari berjalan di belakang, suara derap langkah kakinya terdengar semakin jelas di telinga Arman.


"Sejak kapan kamu mengetahuinya?"


Lia seketika berhenti berjalan.


"Apa kamu mau meninggalkan aku?" tuduh Arman.


"Mas ..."


Arman melempar benda pipih di tangannya, lalu berbalik menatap Lia yang matanya sudah mengembun.


"Bagaimana jika sampai nanti aku tidak bisa memberikanmu anak?" tanya Arman.


Lia menggeleng, bibirnya bergetar menahan tangis.


"Bagaimana kalau aku benar-benar mandulll?"


Lia tidak kuasa menahan sesak, ia berpegang pada tubuh Arman, tapi pria itu mematung dan diam saja. Ada kesedihan, ada kekecewaan, ada banyak perasaan yang campur aduk tidak bisa digambarkan.


***

__ADS_1


Anak itu hak sepenuhnya Allah. Manusia boleh meminta, tetap Allah yang memutuskan.


__ADS_2