
Telat Nikah BAB 19
Oleh Sept
Arman benar-benar tidak sabaran, setelah masuk kamar pengantin, laki-laki itu langsung menuntun Lia ke ranjang.
"Tunggu ..."
"Nunggu apa? Kita sudah sah, nunggu apa lagi?"
Lia menelan ludah.
"Lia mandi dulu, Mas."
Arman menatap istrinya yang baru ia nikahi tadi pagi.
"Oke, kamu mandi dulu."
Lia bisa bernapas lega, kemudian buru-buru masuk kamar mandi, menginjak banyak kelopak mawar yang disebar di sepanjang lantai.
KLEK
Dia langsung mengunci pintunya. Apakah begini perasaan pengantin baru? Mengapa dia jadi deg-degan?
Sepuluh menit berlalu, Lia belum keluar kamar. Membuat Arman mondar-mandir.
Tok tok tok
__ADS_1
"Lia!" panggil Arman dari luar.
Lia yang masih keramas tidak mendengar karena suara kran yang menyala.
Tok tok tok
"Lia ...?" panggil Arman lagi.
Karena suara Arman lebu lebih keras, Lia pun mendengar, dan mematikan kran airnya. Ia raih bathrobe kemudian ragu-ragu untuk keluar. Tadi gak sempet bawa baju ganti, jadi ia pun pakai handuk model kimono yang disediakan oleh hotel.
KLEK
"Kirain pingsan di kamar mandi, kok lama?"
Lia garuk-garuk. Kalau nervous dan deg-degan, perut Lia memang suka begitu, mendadak mules.
"Sakit perut tadi," gumam Lia lirih karena malu.
Arman kemudian berbalik, mencoban melihat koper.
"Bukan, bukan diare, Mas. Memang suka begitu. Kalau banyak pikiran lari ke perut. Tapi cuma gitu aja, gak sampai pupp."
Lia malu sekali, sampai akhirnya mengalihkan perhatian dan duduk di meja rias. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri, kemudian terlihat Arman juga mendekati dirinya.
"Mas gak mandi?" tanya Lia cepat saat suaminya sudah semakin dekat di belakangnya.
"Ya," jawab Arman kemudian menarik napas panjang.
Lia merasa lega, ia kemudian buru-buru ganti baju saat suaminya ke kamar mandi. Tanpa menoleh, Lia langsung melepaskan bathrobe dan mengambil baju dalam koper, belum sempat ia pindah dan pilih-pilih.
__ADS_1
"Astaga!" pekik Lia Hapsari dengan kaget.
Buru-buru dia mengambil bathrobe yang semula ia letakkan di atas ranjang, tapi malah langsung diraih Arman dengan cepat.
Malu, Lia langsung berbalik. Dia heran, suaminya kok keluar dari kamar mandi, padahal baru masuk beberapa saat lalu.
"Gak jadi mandi, Mas?" tanya Lia gugup sambil membelakangi suaminya. Sangat malu, sampai Lia memiliki menarik apa saja untuk menutupi tubuhnya.
"Nanti aja," ucap Arman dengan tatapan penuh makna.
BUKKK
Lia sangat kaget, karena Arman langsung melempar tubuhnya ke tengah ranjang, walaupun bukan lemparan kasar dan keras.
Lia sampai malu sekali, sampai menundukkan pandangan. Tidak berani menatap mata pria yang kini resmi jadi suaminya.
"Aku matikan lampu dulu," kata Arman yang baru sadar, lampunya masih terang benderang.
Lia merasa lega saat lampu mulai padam, setidaknya mengusir rasa malu yang terus meliputi hatinya.
Settt ...
Mata Lia langsung menutup sempurna, betapa malu dan deg-degan jantung gadis yang kadaluarsa tersebut.
Arman melepaskan kemejanya, melemparnya ke arah kursi. Dan Lia sempat mengintip sedikit. Body Arman memang gak kaleng-kaleng, tegap atletis dan cukup besar.
Lia menggeleng keras. Dia panik sendiri karena pikirannya terlalu jauh jalan-jalannya. Ini gara-gara dia melihat sesuatu yang baru pertama kalinya. Ketika Arman melepaskan celana kain yang semula ia kenakan. Ada sesuatu yang menonjol, akan tetapi bukan bakat.
"Jangan merem, Lia. Gak mau lihat ini?"
__ADS_1
Seketika tubuh Lia langsung lemes.