
Wanita Pilihan Ibu Bagian 31
Oleh Sept
Sore itu Arman ingin cinta-cintaan dengan sang isteri. Maunya mesra-mesraan, tapi apa yang dia harapan tak sesuai realita. Arman harus bersikap santun dan jaga jarak tatkala sang mertua datang dan menginap.
"Gimana kabarnya, Bu?" tanya Arman basa-basi saat mereka sudah duduk di meja yang sama.
Sementara itu, Lia sedang menyiapkan camilan serta kue yang tadi dia pesan online beberapa saat lalu.
Bu Damri sendiri senang melihat keluarga Lia yang harmonis. Padahal dulu dijodohkan kaya gak mau banget. Namun, begitu menikah malah mirip seperti perangko.
Melihat anaknya sangat dicintai oleh Arman, rasanya Bu Damri sudah tidak mau apapun lagi. Kebahagiaan Lia adalah harapan satu-satunya Bu Damri.
"Ibu baik-baik saja. Maaf kalau kedatangan Ibu mengganggu waktu kalian."
"Menganggu apa, Lia senang Ibu datang." Lia meletakkan beberapa piring berisi makanan.
"Kami senang kok, Bu. Maaf ... kami gak begitu sering ke tempat Ibu," sahut Arman.
"Iya, Ibu tahu. Nak Arman pasti sangat sibuk," balas Bu Damri.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan panjang. Membahas ini itu, sesekali mereka terlihat tersenyum ketika bercanda membahas hal yang lucu-lucu.
"Oh ya, Lia ... kamu gak KB, kan?" tiba-tiba Bu Damri menanyakan perkara anak.
"Gak, Bu."
"Syukurlah," kata Bu Damri lega.
Sedangkan Arman, hanya senyum-senyum sambil curi-curi pandang pada istrinya itu.
"Doain ya, Bu. Semoga Arman sama Lia segera diberikan kepercayaan anak sama yang di atas," ucap Arman kemudian.
"Iya. Ibu pasti berdoa yang terbaik untuk kalian berdua."
Bu Damri menatap menantu dan anaknya secara bergantian. Tidak sia-sia ia menjodohkan Arman dengan Lia. Wanita paruh baya itu tidak henti-hentinya bersyukur karena sekarang Lia sudah punya pendamping hidup seperti Arman.
***
__ADS_1
Pukul 9 malam
Semuanya sedang menonton TV, karena sudah semakin malam. Bu Damri pun berangkat tidur.
"Ibu masuk kamar dulu ya. Sudah malam, gak kuat lihat tv lama-lama," pamit Bu Damri yang rencana menginap beberapa malam di rumah Lia karena katanya kangen.
Arman pun senang, kalau mertuanya tidur, kini saatnya quality time bersama sang istri.
"Bu, tidur sama Lia, ya?" celetuk Lia tiba-tiba.
Arman langsung melirik istrinya dengan tajam, kemudian menggeleng selagi Bu Damri tidak melihat.
"Gak menemani suamimu?" tanya Bu Damri lalu melihat Arman yang tersenyum padanya.
"Gak apa-apa, Bu. Mungkin Lia kangen," balas Arman. Padahal hatinya mengerutu.
Alhasil, malam itu Lia tidur bersama ibunya di ruang tamu. Sedangkan Arman, sampai larut malam dia tidak bisa tidur.
Hingga pukul satu dini hari, Arman akhirnya meraih ponselnya. Lalu mengirim pesan singkat ke ponsel Lia.
[Kalau bangun, pindah ke kamar!]
Lama sekali Lia tidak membalas, karena orang yang dikasih pesan ternyata sudah tidur.
[Lia ... kalau bangun, segera ke kamar!]
[Jangan pura-pura tidur]
[Sayang ...]
[Aku ke sana sekarang, aku ketuk kamarnya!]
Lima menit kemudian.
Arman berdiri di depan kamar tamu, tapi tidak mengetuk pintunya. Karena gak enak sama ibu mertua. Sampai akhirnya dia lebih baik nonton bola sampai ketiduran.
Pukul 4 subuh.
Lia keluar dari kamarnya, karena mau sholat. Mukena Lia ada di kamar. Wanita itu kaget melihat TV yang masih menyala. Kemudian mendekat dan mematikan tv-nya.
__ADS_1
"Kenapa tidur di luar?"
Lia kemudian membangunkan sang suami.
"Mas ... bangun. Pindah ke kamar."
Arman yang baru bangun tidur, kemudian melihat ke sekeliling.
"Jam berapa ini?"
"Jam empat."
Arman pun mengosok matanya, lalu beranjak ke kamar sambil memegangi tangan Lia.
"Kenapa, Mas?" tanya Lia heran. Lia pikir suaminya lagi mengigau.
KLEK
Lia semakin heran, karena pintunya langsung dikunci saat mereka sudah masuk.
"Mas nunggu kamu dari semalam," kata Arman dan langsung melepaskan pakaiannya.
Lia terkejut, bengong menatap sang suami.
"Udah, ayo rebahan," kata Arman.
"Mas ..."
Bukkkk ...
"Mas ... cuci muka dulu sana."
Arman tersenyum tipis. Lalu kek kamar mandi sambil menyerukan sesuatu.
"Kamu jangan ke mana-mana!"
"Iyaaa!"
Begitu Arman kembali, wajahnya langsung sumringah. Dilihatnya Lia sudah ready dengan balutan pakaian perang yang mengguncang iman. Bersambung.
__ADS_1
***
Minal aidzin walfaizin ya. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf jika ada ketikan yang selama ini kurang berkenan. Salam hangat dari sept September yaa. Lope lope.