Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
ARMAN


__ADS_3

Telat Nikah BAB 11


Oleh Sept


Hari itu Arman memberikan shock therapy yang cukup membuat Lia kaget. Dan dengan santainya laki-laki tersebut pergi setelah melambaikan tangan. Setelah apa yang sudah terjadi, setelah apa yang sudah Arman lakukan padanya.


Itu adalah interaksi intens pertama mereka, jadi membuat Lia shock. Sedangkan Arman, pria itu seperti laki-laki tanpa dosa. Wajahnya biasa saja, padahal Lia masih sangat terheran-heran.


"Sampai ketemu lagi," ucapnya dengan senyuman khas.


Saat Arman sudah pergi, dan hanya Lia yang ada di ruangan tersebut, Lia kemudian memegangi keningnya. Lia menggeleng kepala keras, kemudian mengusap wajahnya dengan satu tangan. Pipinya jadi hangat, jantungnya berdegup kencang.


Jangan-jangan komplikasi, jangan-jangan dia sakit lagi.


Lia lalu menggeleng kepala keras. Sambil ngomel-ngomel, padahal orang yang dimarahi sudah pergi beberapa saat yang lalu.


"Berani sekali Mas Arman," gumamnya berkali-kali. Lia masih kaget atas aksi berani Arman itu. Ia kemudian mengusapi wajahnya dengan tangan, lalu mengatur napas.


"Cuma di kening! Jangan baper!" gerutu Lia, tapi bibirnya menahan untuk tidak senyum. Tanpa dia sadari, kecupan itu memberikan sebuah setruman khusus.


"Ada yang salah denganku," gumam Lia lalu mencoba menutup mata. Mencoba mereka adegan yang terjadi tadi. Yang ada, detik berikutnya ia malah dibuat malu sendiri.


***


Siang harinya.


Gara-gara kecupann tiba-tiba itu, hari Lia di rumah sakit jadi terganggu. Apalagi ketika Arman mengajak video call, padahal biasanya Lia cuek, tapi saat akan mengangkat panggilan masuk, dia merapikan diri tersebut.


"Sudah sampai?" tanya dengan suara lembut, tumben banget.


"Hemm, sudah. Ini baru masuk rumah," kata Arman.


Lia mengangguk, sambil memperhatikan camera. Matanya tidak lepas dari layar smartphone tersebut.


"Sendirian, Mas? Kok sepi gak ada orang?" tanya Lia penasaran. Sudah mulai kepo dengan kehidupan calon suaminya.


Sambil tetap video call, Arman masuk ke dapur. Membuka kulkas yang masih menyala meski dia tinggal. Arman lalu mengambil sebotol minuman, kemudian meminumnya karena haus.


Selesai minum, barulah dia bicara lagi dengan Lia yang menunggu di seberang telpon.


"Ya sepi, kan cuma aku saja yang tinggal di sini," jawab Arman setelah selesai minum air mineral dari dalam kulkas.


"Oh." Lia bingung mau tanya apa lagi.


"Gimana tadi? Apa kata dokter?" tanya Arman yang memang sudah ciri khasnya yang begitu perhatian.


"Besok bisa pulang," jawab Lia.


"Syukurlah. Ambil cuti, jangan masuk kerja dulu." Kelihatan di sini Arman mulai mengatur, akan tetapi lebih ke mengatur dalam hal baik dan positif. Sebab Lia masih pemulihan, jadi sebaiknya istirahat yang banyak. Jangan langsung bekerja.


Bibir Lia langsung mengerucut.


"Kalau cuti terus, yang bayar cicilan aku siapa?" celetuk Lia. Dia mulai nyaman bercanda dengan pria tersebut.


"Ehem! Mau aku cicilin?" sahut Arman.


Terlihat di dalam layar, Lia menggeleng keras. Membuat Arman terkekeh.


"Ya sudah, aku mau mandi terus ke rumah orang tuaku dulu."


"Iya."


"Sudah ya."

__ADS_1


"Hemm."


"Bye ..."


"Bye."


Keduanya seperti mulai engan mengakhiri panggilan video tersebut. Sudah mirip ABG yang baru jadian, shy-shy cat!


***


Beberapa hari kemudian.


Lia sudah keluar dari rumah sakit, dia ijin cuti kembali karena memang belum pulih sepenuhnya.


Hingga rekan kerja datang ke rumahnya. Melihat kondisi Lia yang memang masih belum pulih sebelumnya.


"Kayaknya kamu harus istirahat lama deh, sakit beberapa hari badanmu sudah kering begitu," celetuk rekan kerja Lia.


Sedangkan Lia, diejek seperti itu, dia hanya mampu tersenyum tipis.


"Ya sudah, kami balik. Kami baik-baik ya ... get well soon."


"Hem, makasih semuanya."


Lia mengantar sampai teras, kemudian masuk rumah sambil memeluk tubuh tubuhnya sendiri karena merasa udaranya dingin di luar sana.


Baru beberapa saat rebahan di kasur, ponselnya kembali berdering.


"Baru pulang?" tanya Lia yang melihat Arman akan masuk rumah.


"Ya, baru pulang. Ada penyuluhan tadi."


"Penyuluhan apa, Mas?"


"Masalah KB."


"Ya sudah, pasti capek. Mandi dulu sana."


"Iya, nanti aku telpon lagi."


"Iya."


Lia meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian memeluk guling. Matanya menatap langit-langit kamar. Sejak aksi heroik Arman, Lia seperti terhipnotis.


Sampai malu sendiri, apa karena lama tidak jatuh cinta lagi? Tapi masa ini cinta? Mungkin ini hanya sebuah rasa senang karena ada sosok laki-laki yang perhatian. Entahlah, Lia masih belum tahu, rasa apa ini. Yang pasti, dia yang biasanya ilfil pada Arman, seolah berubah sedikit demi sedikit. Kalau belum ditelpon Arman rasanya belum komplit.


Menjelang malam.


Keduanya akan berangkat tidur, di tempat masing-masing. Sebelum tidur sempatkan video call dulu, macam ABG yang sedang LDR.


"Kapan mulai masuk kerja?"


"Mungkin senin depan."


"Memangnya sudah baikan?"


"Sudah, sudah sehat malahan sekarang."


"Baguslah. Lalu bagaimana dengan rencana resign?"


Lia langsung mengalihkan perhatian, pura-pura menatap sesuatu sampai tidak fokus pada camera.


"Lia."

__ADS_1


"Ya."


"Bagaimana?"


"Emm ... itu. Bentar Mas. Aku mikri dulu."


Arman menghela napas dalam-dalam.


"Gak lucu Lia, kita nanti menikah jauh-jauhan begini," celetuk Arman.


"Itu ..." Lia bingung. Kemarin itu dia lagi sakit, gak ada sanak sodara. Jadinya galau.


"Gajiku sangat cukup buat kamu. Semuanya ... semuanya buat kamu."


"Eh ... bukan begitu, Mas."


Lia salah tingkah. Kok kesannya dia matre.


"Trus kapan kamu pulang?"


"Tunggu, Mas."


Haduh, Lia jadi serba salah. Ini Arman kok mau sat set. Tunggu lah dulu, jangan buru-buru.


"Apa mau aku jemput?"


"Eh ... Gak, Mas. Lia bisa atur semuanya sendiri. Kan harus dibicarakan kalau mau resign, gak bisa keluar gitu saja."


"Hemm, iya. Aku paham."


"Trus lagian aku juga mikir-mikir, nanti aku pulang ngapain? Kan gak mungkin langsung dapat kerjaan?"


"Di rumah saja dulu, ngurus suami."


GLEK


Kata-kata suami cukup membuat Lia bergidik. Wajahnya juga memerah, mungkin malu. Obrolan biasa yang cukup membuatnya salting.


"Udah ya Mas. Lia tidur dulu."


"Iya."


Seperti itulah komunikasi mereka selama hampir sebulan lebih. Intens sekali untuk sekedar video call.


Hingga akhirnya Lia benar-benar mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan.


"Sayang banget kalau kamu lepas pekerjaan ini."


"Maaf, Pak. Lia kan mau nikah. Masa bapak mau lihat Lia jomblo terus?"


Atasan Lia langsung tersenyum. Kemudian mengangguk.


"Oke. Baiklah, surat pengunduran diri kamu saya terima."


"Terima kasih banyak, Pak."


Lia pun pamit pada bosnya, kemudian langsung telpon Arman.


"Hallo."


"Nanti aku telpon lagi ya, ini ada tamu," kata Arman dan buru-buru menutup telponnya.


"Haloo! Hallo!"

__ADS_1


***


Di ruang kerjanya, Arman sedang duduk di depan seorang wanita berjas putih.


__ADS_2