
Telat Nikah BAB 18
Oleh Sept
Acara prosesi pernikahan hampir menuju inti, mempelai pria sudah datang bersama rombongan keluarga. Kini, detik-detik penyatuan dua manusia di mata masyarakat dan juga disaksikan oleh Malaikat akan segera berlangsung.
Rasanya hati Lia tidak karuan, deg-degan karena sebentar lagi detik menegangkan akan dia lalui.
Saat berjalan menuju meja di mana akan diadakan akad, Lia sempat melirik calon suaminya yang tampan tersebut, sosok pria matang dan akhirnya datang di waktu yang tepat.
Dengan hati diaduk-aduk, jantung kocar-kacir, Lia berjalan menuju tempat di mana Arman sudah menunggu di sana.
Lia dituntut dan digandeng oleh Bu Damri dan pamannya. Karena ayahnya sudah lama meninggal, yang mewakili adalah pamannya.
Ada rasa haru, di mana ini harusnya hari bahagia, tapi Lia malah ingat almarhum ayahnya. Andai sang ayah masih hidup, mungkin ayahnya akan bahagia.
Lia berusaha menguatkan hati, tidak perlu larut dalam kesedihan. Tuhan sudah mengirimkan sosok pria yang akan menjadi pelindungnya.
Sementara itu, pikiran Bu Damri pun berkecamuk. Apalagi saat mengantar Lia menuju meja di mana sudah ditunggu beberapa orang.
"Ibu ke sana dulu," kata sang ibu saat Lia sudah duduk tepat di sebelah Arman.
Bu Damri sempat melihat ke arah Arman, keduanya saling menatap sekilas, kemudian Arman mengangguk, ia menundukkan pandangan. Mungkin juga karena gugup.
"Bagaimana? Bisa dimulai?" kata pak penghulu.
Semuanya mengangguk.
"Bisa, Pak." Semuanya serempak.
Pak penghulu mengambil napas sejenak, kemudian mengulurkan tangannya, dan Arman langsung memegang tangan tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim ... Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Arman Syailendra bin Jaya Suherman dengan Lia Hapsari binti Hasan dengan maskawinnya berupa emas sebesar 50 gram, tunai," kata pak penghulu jelas dan tegas.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Lia Hapsari binti Hasan dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai," ucap Arman dengan lidah yang sangat lancar, walau jantungnya berdegup sangat kencang.
"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu pada para saksi.
"Sah!"
__ADS_1
"Sah!"
Suara sah menggema, dan suasana langsung riuh sekali.
Terlihat Arman mengusap wajahnya dengan lega. Akhirnya sah juga wanita yang duduk di sebelahnya tersebut.
Lia kemudian mengecup punggung tangan suaminya, suami yang baru saja menikahi dirinya.
Kemauan Arman membalas dengan mengecup kening Lia yang dihiasi hiasan pengantin yang sangat cantik.
Arman tadi belum sempat memperhatikan wajah cantik Lia dengan fokus, karena gugup menjelang akad. Setelah acara akad usai, barulah dia bisa tenang dan bisa berpikir jernih kembali. Dilihatnya Lia yang sangat cantik dan anggunly.
Sesekali Arman menoleh, melihat bidadarinya yang cantik jelita. Sudah mirip dayang dari kayangan.
Usai acara satu, mereka kemudian menyambung kenacara yang lainnya. Setelah itu, mereka pun poto-poto dengan saudara dan para keluarga. Sebelumnya, Lia dan Arman sudah poto dulua, Sambil memegang buku nikah. Akhirnya, Lia nikah juga. Mata Lia sedikit menatap langit, mungkin berharap ayahnya melihat.
Kemudian beralih pasa sang ibu, Lia tersenyum pada ibunya. Apalagi di dekat sang ibu banyak tante-tante nya yang selama ini julid, menanyakan kapan Lia nikah setiap lebaran.
Tuh, Lia dah nikah. Dapat suami handsome pula. Dari keluarga baik-baik, dari sini Lia yakin. Bahwa kalau sudah waktunya, jodoh akan datang juga.
Lelah menyalami para tamu, saat semuanya makan-makan, Lia duduk sebentar.
Entah siapa yang ngundang. Kok ada penyanyi dangdut bersuara merdu bertanya alamat.
Lagunya asik, para tamu pun terhibur. Sepertinya papa mertua yang meyiapkan. Maklum, meskipun kepala Desa, tapi jaringannya luas. Katanya tahun depan mau nyalon DPRD. Wah, Lia jadi mantunya pejabat. Padahal sudah sibuk juga memikirkan usaha, bisnis keluarga yang ekspor impor tersebut.
Lia pikir keluarga Suherman hanya kepala desa gitu saja, semakin ke sini. Kok ternyata mereka orang hebat. Itu ada pak Bupati datang, belum lagi pengusaha dari kota.
"Mas, itu tamu Mas?"
"Bukan."
"Lah terus?"
"Kenalan papa," jawab Arman santai.
"Oh ..."
Sesaat kemudian terdengar musik lembut. Dan MC langsung mendekati Lia serta Arman.
__ADS_1
"Mau dansa?" tanya MC wanita yang fashionable dengan batik modern.
Lia menggeleng keras.
"Gak, MBK. Saya gak bisa."
Arman tersenyum geli. Pria itu kemudian berdiri, dan mengulurkan tangannya.
"Mas. Malu, Lia gak bisa!" tolak Lia.
"Ikuti saja aku," kata Arman penuh percaya diri.
Lia menatap orang-orang, sampai akhirnya ia pun coba-coba. Malu juga gak apa-apa deh. Gak bisa dansa kan hal biasa. Dan akhirnya, dengan irama syahdu, Arman membimbing agar Lia mengikuti instruksi darinya.
"Mudah kan?" bisik Arman lalu merengkuh pinggang Lia. Jelas Lia panik, ini Arman sudah pegang-pegang pinggang di depan umum.
"Mas, malu ... udah yuk."
"Baru juga dimulai," kata Arman sambil mendekatkan wajahnya.
Lia langsung menarik diri, malu ada ibunya. Ini Arman emang muka tembok. Mana dilihatin banyak orang.
"Sumpah, Lia malu," bisik Lia lagi. Sampai akhirnya, Arman mengajak Lia duduk lagi di pelaminan.
***
Tidak terasa, segala proses dari awal sampai akhir sukses tanpa kendala apapun. Dan kini mereka sedang menuju kamar pengantin, di salah satu hotel mewah di tengah kota.
WO yang mengatur semuanya, Arman belum pengalaman, jadi minta WO untuk mengatur semuanya dengan sempurna.
"Lah ... Mas, berapa kebon ini? Bunganya ditabur si sini semua?" celetuk Lia. Baru buka pintu kamar pengantin, eh kelopak bunga bertaburan seperti pasar kembang.
Arman gemas, dia langsung berbalik dan menutup pintu.
KLEK
Seketika Lia yang mulai panik
'Tunggu ...'
__ADS_1