
Telat Nikah BAB 7
Oleh Sept
Meskipun sebal pada Arman yang PD-nya audzubilah, akhirnya Lia harus tersenyum ramah di depan laki-laki itu. Sebab sang ibu sejak tadi memperhatikan dari jauh. Bisa-bisa ia kena ceramah agama kalau jutek sama Arman.
"Mas Arman jangan kepedean ya, jangan mengiring opini publik seolah kita pasangan," bisik Lia karena takut orang-orang dengar.
"Ehem!" Arman berdehem. Ia sampai heran, mengapa Lia jual mahal sekali? Apa sih yang kurang darinya. Bukannya apa-apa, Arman ini juga termasuk pria idaman. Laki-laki yang digemari banyak orang. Ini Lia kok kaya gak tertarik atau malah terkesan ilfil duluan.
"Tolong kasih alasan, kok saya merasa kamu tidak menyukai saya sejak awal," kata Arman yang mungkin jengah dengan sikap Lia yang super jutek tersebut. Dia mau tahu alasannya, soalnya merasa tidak ada cela pada dirinya.
Pendekatan sudah berbulan-bulan, tapi kok tidak ada titik terangnya. Padahal Arman merasa dirinya juga gak buruk-buruk amat.
"Bukan Lia gak suka sama Mas Arman. Hanya saja Lia gak suka laki-laki yang terlalu agresif," tutur Lia kemudian.
"Agresif? Astaga ... bahkan nyentuh tangan kamu saja tidak pernah, bagaimana bisa kamu ngejudge aggressive?" balas Arman yang mulai kelihatan aslinya.
Lia langsung membuang muka, kemudian pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Oke ... saya mungkin terlalu banyak berharap sama gadis seperti kamu. Gak nyangka saja, kamu seperti ini rupanya. Kalau kamu nilai saya seperti itu, oke ... fine. Saya gak akan mendekat lagi!" ujar Arman sedikit tegas. Lia sampai bengong, itu si Arman kesurupan setan apa?
Karena jengkel, akhirnya Arman pun berlalu. Ia pamit pergi duluan. Dan saat Lia pamit pulang, semua pun bertanya tentang calon suami Lia yang tidak kelihatan tersebut.
"Sudah pulang duluan," jawab Bu Damri yang mencari aman agar tidak malu di depan keluarga besar.
"Semoga bisa nyusul dalam waktu dekat ya, Sayang," kata paman Lia yang punya acara.
"Aamiin, doain saja," sela Bu Damri. Sedangkan Lia, ia hanya bisa tersenyum tipis.
***
Di dalam mobil, menuju perjalanan pulang. Lia dan keluarga mulai membicarakan hal yang tadi terjadi di pesta.
"Nak Arman tadi gagah sekali ya, Lia," ucap Bu Damri. Dia ingin membanggakan calon mantu idamannya itu. Andai mereka berjodoh, pasti dia sangat senang sekali. Arman itu anaknya baik, sopan, pekerjaan stabil, tampan lagi, rasanya beruntung yang mendapatkan cinta Arman dan jadi istrinya. Belum apa-apa Bu Damri sudah terbayangkan.
"Iya, Mbk. Ganteng, sudah mirip bapak-bapak DPR," celoteh Asih yang membuat Lia langsung berwajah datar. Asih ini komplotan Bu Damri, pasti mendukung Bu Damri di barisan depan.
"Gak gubernur sekalian?" celetuk Lia dan kelihatan kesal. Hal itu justru membuat Bu Damri dan Asih terkekeh. Keduanya kompak menertawakan Lia.
"Wah, jadi istrinya pak gubernur dong, Mbk?" ledek Asih. Kemudian menatap Bu Damri, benar-benar kompak meledek Lia.
"Ish!" Lia pun mendesis kesal. Ia mencubit Asih dan keduanya pun bercada.
"Oh ya. Kapan kamu balik?" tanya Bu Damri kemudian.
__ADS_1
"Selasa, Bu." Lia kemudian melihat ponselnya.
"Masih ada waktu, jangan lupa ke makam ayahmu." Bu Damri kelihatan sedih.
"Iya, besok," jawab Lia. Pun sama dengan ibunya, kalau membahas sosok almarhum, pasti berubah sendu.
"Mau Asih temani, Mbk?" Asih menyela.
"Nggak, Mbk sendiri saja," tolak Lia yang mulai asik kemanapun seorang diri.
Tidak terasa mereka akhirnya tiba, begitu sampai rumah, mereka pun istirahat dan ke kamar masing-masing.
Saat di kamarnya, Lia kok jadi kepikiran wajah Arman tadi. Bukan pas dia ganteng, gagah perkasa kaya pejabat, tapi pas dia sedang ngamuk. Entah ngamuk atau apa, yang jelas, baru pertama kali Lia melihat sorot mata Arman yang berbeda tersebut.
Padahal biasanya ramahnya luar biasa, tadi sempat judes saat akan pergi. Dan sampai malam, Lia malah kepikiran. Cuma gara-gara dijutekin sama Arman.
***
Pagi harinya.
Sudah pukul 8 pagi, Lia sedang menuju makam. Sesuai janjinya, dia berkunjung ke makam sang ayah.
"Yah ... Lia datang," gumam Lia kemudian jongkok di sebelah pusaran sang ayah. Tempat istirahat terakhir ayahnya.
Lia mengusap nisan ayahnya yang lama meninggal, kemudian menatap sendu pada deretan nama dan angka yang tertera pada batu tersebut.
Lia menghela napas dalam-dalam, kemudian meletakkan kelopak bunga segar, dia tabur di atas makam ayahnya.
Hampir seperempat jam, ia kemudian beranjak dari sana. Dan saat kembali ke dalam mobil, dia menatap ponselnya.
Gila, gara-gara kemarin Arman agak tersinggung, sampai sekarang dia malah kepikiran.
"Apa aku minta maaf? Tapi ngapain? Aku salah apa?"
Lia bicara pada dirinya sendiri. Kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya. Saat akan perjalanan pulang, dia mampir ke toko buah sebentar, lalu membeli oleh-oleh untuk teman kantornya.
Selesai belanja, ia pun hendak pulang. Saat akan jalan lagi, dia melirik HP yang tidak ada notifikasi, HP nya sepi saat tidak punya pacar atau gebetan, sudah mirip rumah kosong tanpa penghuni.
"Ini sinyal apa mati?" gerutunya karena tidak ada notifikasi sama sekali.
Begitu sampai rumah, Lia malas masuk ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menatap layar ponsel berkali-kali.
Drett ...
Hampir saja ia menjatuhkan hpnya karena kaget. Ada pesan masuk.
__ADS_1
"Maaf yang kemarin!"
Lia bergumam membaca chat WA yang baru masuk, dan tanpa sadar, bibirnya mengulas senyum.
Lia lantas menulis pesan balasan. Saat akan dia kirim, tapi malah dia hapus lagi. Alhasil, ia hanya memegangi ponselnya.
"Aku balasnya bagaimana?" gumamnya.
Sampai akhirnya, pesan itu malah tidak dibalas.
***
Malam hari.
Lia packing semua yang akan dia bawa ke Kalimantan besok. Dibantu Asih, semuanya lebih cepat selesai. Karena lelah, jam 8 pun ia sudah ketiduran.
Hingga ada miscall yang tidak ia sadari, bangun-bangun sudah jam 11 malam.
"Aku telpon balik gak, ya?"
Habis cuci muka, akhirnya Lia pun mencoba telepon. Karena merasa gak enak.
"Hallo."
"Ya, belum tidur?" tanya Arman.
"Tadi gak tahu kalau telpon, ketiduran. Ini baru bangun," jawab Lia dengan jelas. Ia sampai heran, mengapa harus dijabarkan dengan jelas pada laki-laki tersebut?
"Oh. Besok pesawatnya jam berapa?"
"Pagi, jam setengah tujuh."
"Hemm ... yang kemarin, Maaf."
"Gpp, gak perlu minta maaf."
"Hemm, besok mau aku antar?"
Lia menelan ludah. Antara mau apa tidak? Gadis itu mulai gak enakan dan dilema.
Bersambung
Ig Sept_September2020
fb Sept September
__ADS_1
Ceritanya santai ya, bukan CEO-CEO an. Hehehe ...