
Pria Pilihan Ibu BAB 26
Oleh Sept
"Apa aku salah ucap ya?" gumam Lia dalam hati saat melihat ekspresi suaminya yang langsung berubah.
"Apa aku gak boleh kerja? Jangan bilang dia berubah, dulu boleh kok!" batin Lia yang mulai ketar-ketir.
Lia ini terbiasa berkarya, sejak muda selalu aktif melakukan banyak hal di luar sana. Tidak hanya saat di dunia kerja, saat di universitas dulu dia juga sangat aktif di banyak organisasi.
Setelah menikah, satu dua hari dia hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, lebih tepatnya di atas kasur, sampai badannya capek semua. Lebih lelah daripada lembur sampai malam saat banyak proyek.
Mungkin karena bosan, kalau pagi sampai sore sendirian di dalam rumah, Lia pun memberanikan izin pada Arman untuk mencari pekerjaan.
Lia pikir Arman akan woles, selow seperti sebelumnya. Karena mereka kan sudah membahasnya dulu, kalau Lia mau kerja ya tidak masalah. Namun, ini wajah Arman sudah mirip lap meja kusut yang lama tidak dicuci. Hingga Lia merasa tidak enak sendiri.
"Sayang ... kan dulu katanya gak apa-apa?" ucap Lia hati-hati.
Arman langsung berbaring, menarik bantal dan langsung merebahkan tubuhnya, pesawat tidak jadi mendarat, mendadak mood Arman anjlok, tidak berselera lagi.
__ADS_1
"Memangnya kamu cari apa? Bukannya tabungan sudah aku kasih kamu semuanya?"
Lia langsung manyun. Dia tidak butuh uang, Lia cuma bosan dan ingin melakukan sesuatu agar dia gak jenuh di rumah saja.
"Cari apa lagi sih, Lia? Mas sudah kerja, nanti kalau kamu kerja, pasti kamu capek. Capek badan capek hati, belum lagi kalau nanti suatu saat kamu hamil," protes Arman.
"Janjinya dulu bagaimana? katanya boleh!" balas Lia.
"Ya boleh, tapi lihat sikon dulu. Misal aku pulang sore, kamu juga pulang sore. Sudah! Pasti sama-sama capek, sama-sama lelah. Terus apa gunanya nikah?"
"Maksudnya? Mas mau pulang ada yang layani gitu? Kan bisa ambil ART?" saran Lia.
"Ish ... kalau mau ART sudah dari dulu aku cari ART, aku nikah itu butuh istri, Lia. Kamu tahu istri kan? Tugas istri itu melayani suami," ucap Arman.
Lia salah strategi, belum mantap-mantap sudah menghancurkan mood Arman. Alhasil pria itu kelihatan gusar.
"Mas kok egois? Mas enak, nggak setres karena bisa ke luar. Lah Lia? Bosan Mas, 24 jam cuma di rumah.
"Jadi kamu iri? Ya sudah, besok ikut Mas dinas!" celetuk Arman lalu menyingkur Lia. Dia berbalik dan membelakangi Lia.
__ADS_1
"Lah ... Kok dia jadi marah-marah?" gumam Lia.
"Salahnya di mana?" batin Lia kemudian menatap punggung suaminya yang luas dan bidang.
Ini adalah pertengkaran pertama mereka, dan Lia tidak kelihatan sedih saat melihat suaminya jadi dingin. Dia malah mencebik berkali-kali karena merasa aneh melihat Arman yang selalu bijak kini seperti anak kecil yang merajuk.
Selang beberapa saat.
Arman yang gusar, karena sakit kepala atas bawah, ia pun memilih memejamkan mata. Sialnyaa, ia malah dibuat kesal sendiri. Karena Lia malah sudah tidur duluan, terdengar dari dengkuran halus istrinya itu.
"Bisa-bisanya dia tidur begitu saja?" omel Arman kemudian berbalik dan menatap wajah istrinya dalam-dalam.
"Kalau dia kerja, bisa-bisa waktunya untukku akan berkurang. Dan aku tidak mau itu," kata Arman lalu mengusap lembut pipi Lia, hingga kelopak mata Lia bergerak-gerak dan perlahan membuka.
Blakkk ...
Lia cukup kaget, saat membuka mata malah melihat wajah Arman sangat dekat.
"Mau ngapain dia?" batin Lia yang kaget.
__ADS_1
Melihat Lia sudah bangun, Arman kemudian mengusap bibir Lia dengan jempolnya.
Mata lentik itu hanya kedap-kedip, karena bangun tidur. Dan Lia langsung beringsut, kegelian saat wajah Arman mendesak masuk antara kepala dan lehernya. Lia kira suaminya mau absen mantap-mantap, ternyata ada yang sudah keras.