
Pria Pilihan Ibu BAB 6
Oleh Sept
Ada salah satu tante Lia yang mendekat, seketika Lia dan Arman pura-pura bicara normal, setelah itu Arman numpang ke kamar mandi untuk ke belakang, padahal cuma alasan.
Selang beberapa saat, Arman pamit. Karena harus kembali ke Barulah setelah kepergian Arman, Lia langsung diwawancarai oleh tante-tante nya. Semua heboh bertanya ini dan itu. Sudah mirip polisi yang meminta keterangan dari para tersangka.
Di sisi lain, melihat putrinya dikributi oleh pada saudara yang pada kepo, Bu Damri jelas merasa bangga, karena semuanya ikut bangga kalau Lia akhirnya dapat calon suami yang seperti Arman, sudah PNS, ganteng, tinggi, keluarga jelas, pokoknya suami idaman. Tidak sia-sia Lia belum menikah, kalau akhirnya dia dapat pria yang sempurna seperti Arman, itu pikiran Bu Damri.
Lia yang dielu-elukan, hanya bisa menelan ludah. Apa harus ia coba? Ini menikah sekali seumur hidup, masa mencoba-coba? Dilema, akhirnya dia pun hanya bisa pasrah. Ketika semua mengharapkan dia menikah dengan Arman. Dengan laki-laki pilihan sang ibu. Entahlah, Lia benar-benar belum melihat titik terang dari masa depannya. Akan bersama siapa, dan akan kapan menikah.
***
Akhirnya, hari yang ditunggu datang juga. Hari di mana menjadi alasan kepulangan Lia saat ini. Sekarang adalah hari pernikahan sepupu Lia. Pernikahan digelar di sebuah gedung yang bagus. Cukup mewah, karena besan tantenya adalah pengusaha sembako yang punya cabang di beberapa kota. Jadi sangat wajar kalau banyak tamu dan harus di adakan di gedung khusus, bukan hanya di halaman rumah saja.
Hari itu Lia pikir dia akan pura-pura sakit saja, karena malas nanti pasti ditanya kapan nikah oleh keluarga besar ibu dan ayahnya yang hadir di sana. Namun, apa daya Lia. Sang ibu sudah membawanya ke salon pagi-pagi sekali, setelah itu mereka bertiga akan ke gedung pernikahan bersama-sama. Lia, Bu Damri dan Asih. Mereka sudah mirip seperti trio Wek Wek.
Di salon, Lia harus menghela napas panjang, karena ibunya meminta perias untuk mengotak-atik wajah Lia. Padahal, Lia suka make-up minimalis, jangan terlalu kentara. Tapi malah didandani layaknya akan hadir di sebuah ajang kecantikan tingkat internasional.
"Bu, paling acaranya sejam terus pulang," protes Lia yang memang tidak suka make-up tebal. Mungkin dia juga trauma dengan hal berbau sekarang ini, pernah gagal akan nikah, padahal sudah lamaran, itu menyisakan rasa tersendiri di hati Lia.
"Sudah, biar cantik. Semuanya juga pasti nyalon," balas Bu Damri yang juga sedang di make up. Lia pokoknya harus kelihatan cantik, jangan biasa saja. Nanti malah jadi bahan gibahan orang-orang di pesta pernikahan tersebut.
"Mbk, tolong merem dikit," kata perias yang sedang memoles bagian mata agar kelihatan cetar membahana.
"Ya ampun, gak usah pakai bulu palsu, MBK!" protes Lia. Bulu mata Lia sudah sangat lentik, ini malah mau disambung lagi.
"Gak usah," kata Lia.
__ADS_1
Tapi sang ibu mengangguk pada perias, membuat Lia harus memakai alis palsu yang cetar membahana tersebut. Melihat Lia tersiksa, Asih hanya tersenyum di pojokan. Ia sendiri sudah cantik, sudah anggun dan bulu matanya lentik. Tidak seperti Lia yang protes terus, mendadani Asih jauh lebih gampang daripada si Lia.
"Nah ... tuh kan. Cantik sekali anak Ibu," puji Bu Damri melihat kecantikan anaknya yang paripurna.
Lia hanya bisa cemberut, kemudian langsung senyum saat ibunya menatap tajam.
Karena tiga wanita beda generasi itu sudah cantik-cantik, mereka pun bersiap ke acara. Lia yang menyetir, mereka naik mobil tua peninggalan almarhum ayah Lia. Mau dijual, tapi kenangan-kenangan. Ya sudah, di letakkan di garasi saja. Dipanasi kalau sempat, kalau gak sempat ya dibiarkan saja.
Acaranya kebetulan hari minggu, dan keluarga Arman ternyata di undang juga. Kerena juga kenal sudah lama.
Tiba di gedung pernikahan, Lia menjadi pusat perhatian, terutama keluarga dari pihak ibunya yang julid.
"Lia ... kamu kapan nyusul?" celetuk salah satu tantenya yang lama tidak ketemu. Dan baru ketemu sudah memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
"Doakan, Tante," jawab Lia basa-basi.
"Jangan pilih-pilih, terus jangan asik kerja. Inget, umur kamu gak muda. Mau cari suami model apa?"
Lia yang kesal, dia memilih duduk sendiri di pojokan, sampai akhirnya di samperin laki-laki itu lagi, siapa lagi kalau bukan di Arman.
Lihatlah laki-laki itu, pakai batik, celana kain, sepatu mengkilap, sudah mirip bapak pejabat. Tapi Lia kok belum ada feel. Belum ada getar-getar rasa. Apa ada yang salah pada hatinya?
"Kamu cantik," puji Arman yang langsung duduk tanpa permisi. Laki-laki tersebut sepertinya gampang tersihir oleh pesona Lia Hapsari.
Lia mendongak, lalu minum es warna biru yang ada di meja. Dia pura-pura tidak mendengar.
"Lia!" panggil seorang om-om. Itu adalah adik dari ayah Lia yang juga lama tidak ketemu. Wajahnya mirip seperti almarhum ayahnya. Membuat Lia langsung berkaca-kaca dan memeluk omnya.
"Apa kabar?" Salah seseorang menyapa.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik. Om." Lia pun menyapa balik dengan senyum sejuta keramahan.
"Ini siapa? Calon suami kamu ya?" tanya om. Laki-laki itu menatap penuh selidik pada Arman.
Baru akan menjawab, tapi Arman malah mengulurkan tangannya pada pria tersebut.
"Arman, Om," kata Arman mengenalkan diri. Dia menyapa dengan senyuman Pepsoden.
Lia pun mendesis dalam hati. Arman ini cowok apaan, suka sekali SKSD, membuatnya sebal.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu jodoh. Om doakan segera ke pelaminan," ucap om Lia. Dan sekarang membuat Lia kembali mengeluarkan senyum palsunya.
"Makasih Om doanya," timpal Arman yang membuat Lia pucat.
"Pokoknya kabari Om tanggalnya," kata Om Lia lagi. Sepertinya keluar Lia senang melihat Lia bawa pasangan.
Sementara itu, Arman justru mengangguk semangat, dan Lia yang ekpresinya langsung lemas, sambil pura-pura tersenyum ramah.
Selang beberapa detik, Lia langsung dikerubungi para keluarga besarnya, mereka malah antusias saat menyadari kehadiran Lia bersama pria yang kelihatan matang dan dewasa.
"Kalian kapan nikah, jangan tunda-tunda."
Di sini, Lia semakin garuk-garuk kepala. Apalagi si Arman justru kelihatan sangat sumringah.
Saat semuanya sudah pergi, Arman kemudian berbisik.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" Lia langsung melotot. Dan saat tidak jauh dari sana ada sang ibu yang memperhatikan, seketika ia menurunkan pandangan.
__ADS_1
Bersambung