
Pria Pilihan Ibu Bagian 28
Oleh Sept
"Sayang ..."
Arman mengosok matanya, dilihatnya sebelah ranjang sudah kosong. Aroma nasi goreng menyeruak, dan dia yakin Lia pasti sedang masak untuk sarapan mereka berdua.
Tap tap tap
Klek, Lia membuka pintu kamar. Lia muncul dengan apron hello Kitty warna pink.
"Bangun, Mas. Mandi, sarapannya sudah siap."
"Iya ... tolong buatin teh hangat ya."
"Iya."
"Eh ... bentar, sini dong."
Dahi Lia langsung mengkerut.
"Ada apa?"
"Sini dulu," seru Arman dengan mengerlingkan mata. Membuat Lia curiga. Semalam udah dobel, kok pagi-pagi sudah mencurigai. Semoga tidak minta bonus.
"Kenapa?" tanya Lia sambil berkacak pinggang.
Sett ...
Tiba-tiba Arman langsung meraih lengan Lia, dan membuat wanita itu oleng serta jatuh tepat di pangkuan Arman.
"Mas! Lia sudah kerama 2 kali semalam!" omel Lia.
Saat melihat istrinya mengerucutkan bibir, Arman malah semakin gemas. Belum mandi sudah nyosor Lia, pipi, dahi dan hidung Lia jadi sasaran.
"Bauuuk! Sana mandi dulu!"
"Mandi lagi ya?" goda Arman. Lia langsung mencubit lengan suaminya sangat keras, sehingga pria itu terkekeh sambil menatap Lia yang keluar sambil komat-kamit, ngomel gara-gara diajak mandi lagi.
Entahlah, sejak jadi pengantin baru, jiwa Arman seperti tidak ada lelah-lelahnya. Maunya menanam jagung terus di kebunnya. Berharap nanti akan tumbuh, dan keluarga mereka akan menjadi banyak.
Belum apa-apa, Arman sudah membayangkan punya anak lucu-lucu dari Lia. Pasti cantik seperti ibunya, dan ganteng seperti dirinya, bibirnya mengulas senyum tanpa sadar.
***
Beberapa saat kemudian.
Arman sudah ganteng dengan baju seragamnya. Pria itu duduk di meja makan, siap untuk menyantap hidangan istimewa dari sang istri, koki barunya.
"Harum banget, pasti enak."
Arman langsung makan dan matanya sedikit menyipit, nasi goreng dan bumbunya tidak merata, sehingga ada yang asin dan ada yang hambar. Namun, karena tidak ingin membuat Lia berkecil hati, Arman makan dengan lahap.
"Enak, Mas?" tanya Lia polos karena melihat suaminya begitu makan dengan semangat.
"Enak dong," puji Arman kemudian minum air putih dan teh hangat banyak-banyak.
__ADS_1
Selesai makan, Arman pun berangkat kerja dulu. Dan Lia mengantar sampai depan pintu mobil.
"Di rumah baik-baik, ya."
"Hemm."
"Dan satu lagi, masalah kerjaan, jangan cari-cari kerja lagi. Sebentar lagi kamu aku kasih kerajaan baru," ucap Arman lalu mengecup kening Lia. Dan Lia pun menatap heran, kerjaan apa?
"Memang kerjaan apa, Mas? Reseller? Online shop?" celetuk Lia.
Arman tersenyum geli, lalu mengusap kepala Lia dengan sayang.
"Pokoknya tunggu saja!" kata Arman lalu masuk ke dalam mobil.
"Kunci pagarnya ya."
"Iya."
***
Saat Arman sudah kerja, giliran Lia yang kesepian di rumah. Ia sempat video call sebentar dengan Bu Damri, tapi karena Bu Damri ada acara pengajian hari itu, Lia pun telpon cuma sebentar.
"Bosan banget ... ngapain ya?"
Lia akhirnya mengambil kemoceng, kanebo dan perlengkapan pembersih lainnya. Tidak ada kegiatan, ia pun melakukan bersih-bersih rumah.
Beberapa jam kemudian, rumah sudah wangi, rapi dan bersih. Lantainya licin, lalat saja mungkin terpeleset.
Tinggal satu yang belum Lia bersihkan, gudang tempat menyimpan barang-barang. Begitu pintu gudang dibuka, aroma debu nan pengap langsung menyeruak. Lia pun memakai masker, kemudian merapikan gudang yang lama tidak dibuka tersebut.
Lia tersenyum, melihat sebuah kotak berisi banyak album lama saat Arman kuliah, KKN dan saat main dengan teman-teman kampusnya.
"Pasti mantan pacarnya!" gerutu Lia kesal.
Lia yang tadi semangat bersih-bersih, seketika keluar gudang dengan wajah masam dan ditekuk.
Hingga sore menjelang, Arman pulang tapi disambutnya dengan dingin.
"Sayang, ambilkan minum dong."
Arman duduk, tapi Lia hanya menatapnya tanpa melakukan apapun.
"Sayang," panggil Arman.
"Sayaaanggg!" gumam Lia kesal.
"Lah ... kamu kenapa? Lagi dapet?" tebak Arman.
Lia langsung mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Kenapa di simpan? Masih belum move on?" sindir Lia.
Arman menatap foto yang sudah lama tersebut, dan mengumpat dalam hati. Jangan sampai Lia marah, bisa-bisa pisang Ambon tidak dapat servis.
"Itu ... kan sudah di gudang, buang saja gak apa-apa."
"Buang bagaimana, wong sudah terlanjur Mas simpan. Kenapa? Kelihatan kalian dekat sekali ... atau jangan-jangan, wanita yang itu?" Lia mulai mengoceh.
__ADS_1
"Astaga, ya Allah Lia. Itu masa lalu, gak penting. Yang paling penting sekarang ... karena sekarang kamu masa depan Mas."
"PRETTT!" balas Lia langsung ke kamar dan merajuk.
"Ish! Lia!"
Arman menyusul ke kamar.
"Sayang, jangan macem-macem ya. Itu cuma foto, benar-benar gak penting."
"Gak penting kenapa disimpan."
"Kan di gudang."
"Alasan! Udah, malam ini Mas tidur di kamar tamu."
"Gak bisa gitu!" balas Arman tegas.
"Ya sudah, aku yang tidur kamar sebelah."
"Liaaaa!" panggil Arman.
Sedangkan Lia masih merajuk, wajahnya ditekuk seperti cucian kusut.
"Dengerin Mas ya. Dengerin baik-baik. Only you, cuma kamu yang ada di sini!" Arman menyentuh jantungnya, dan mulai melakukan jurus gombal.
"Gak ada cela untuk masa lalu, kamu kan sudah tahu luar dalam Mas, masak cemburu sama foto usang itu," tambah Arman.
"Percaya sama Mas. Jangan buang-buang energi untuk sesuatu yang gak penting seperti ini, mending tenaganya buat yang lain," ucap Arman lagi lalu merengkuh pinggang Lia.
"Lepasin!" omel Lia.
Namun, Arman justru memeluk semakin erat, kemudian mengusap kepala Lia dengan sayang.
"Jangan marah-marah, nanti aku bisa pusing. Cuma kamu, dan aku berani bertaruh ... sampai kapanpun, hanya kamu."
Lia mau gak percaya, tapi dekapan hangat itu nyatanya mampu membuatnya luluh.
"Ya sudah, mandi dulu sana."
"Hemm. Oke. Siapin bajunya ya."
Arman kemudian ke kamar mandi, sengaja tidak membawa handuk. Selesai mandi, dia teriak-teriak.
"Sayang, handuk!"
Tap tap tap
Tanpa curiga, Lai mengambil handuk kemudian mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok
"Mas, ini handuknya."
KLEK
Pintu terbuka lebar, dan tangan Arman keluar lalu menarik lengan Lia.
__ADS_1
"MAS!"
Bersambung