
"Buatlah lorong kecil yang tertutup menuju istana. Ini harus menuju kuil kerajaan, di sana terdapat lonceng keinginan kepada dewa. Pertama, curi lonceng itu dahulu. Lalu kau kembali dengan cepat," ucap Wilyusa.
Dalam satu minggu Lego menghabiskan waktunya untuk membuat rencana. Sedikit demi sedikit harus bisa terlaksana. Lego bisa saja masuk ke istana dengan memanfaatkan ilmu bela dirinya yang dibutuhkan Rindosaka.
Tapi Wilyusa melarang, ia memiliki isyarat bahwa akan berbahaya jika Lego menetap di istana. Dan Grodki mengetahui wajah Lego.
"Sihirmu perlahan sudah meningkat, Lego. Kau hanya perlu menggunakan dan mengendalikan. Ikuti perasaanmu, jangan biarkan ***** menenggelamkanmu. Itu akan berakibat fatal jika kau menggunakan sihir dengan nafsumu."
"Baik Guru. Aku akan memulai rencana ini dengan hati-hati. Nanti sore, aku akan memulainya nanti sore."
Tatapan Lego terlihat gelisah, Wilyusa bisa merasakan itu. Bukan karena kediaman ini tidak nyaman. Jika dibilang begitu tidak mungkin, Lego sering berdiam diri bersama Wilyusa. Goa Krom yang selama seminggu ini menjadi saksi latihan sihir Lego. Saat ini mereka terduduk di atas batu besar yang terdapat dalam goa itu.
"Apa yang membuatmu gelisah, Lego?"
Lego sontak menoleh setelah tatapannya berarah ke selain Wilyusa.
"Apa aku bisa melakukannya sendiri? Ini sangat berat, untuk merebut kekuasaan tidaklah mudah."
Wilyusa mengusap janggut panjang sekitar lima senti. Ia tahu Lego membutuhkan teman untuk menjalankan rencananya bersama.
"Di mana wanita yang bersamamu satu minggu yang lalu?"
Pupil mata Lego melebar, ia terkejut dengan pernyataan Wilyusa yang mengetahui ia sedang bersama wanita yang tak lain Somi.
"Maksud Guru?"
"Dia adalah jodohmu di masa depan. Jaga dia agar tetap berada di sampingmu. Cinta kalian akan sejati dan itu akan menjadi sumber kekuatanmu di masa depan."
"Somi akan menjadi permaisurimu setelah kau menduduki tahta kerajaan. Dia akan menjadi tamengmu dan kau menjadi tamengnya."
Lego terdiam dengan mulut terbuka setengah, ia tidak pernah berpikir bahwa Somi akan menjadi teman hidupnya. Jika dilihat dari keadaan, akan sulit akrab dengan Somi. Lego merasakan bahwa Somi tidak menyukainya.
"Bagaimana guru bisa seyakin itu?"
"Takdir berada di tangan dewa, dewa memberitahuku."
"Bukan hanya Somi, kau akan memiliki anak dari wanita lain."
Lego semakin kaget. Takdirnya sangat rumit, menjadi raja dan memiliki beberapa istri?
Terlihat raut wajah yang kaku dan alis yang terangkat. Wajah yang memperlihatkan ketertegunan.
"Tapi, cinta sejatimu ada di dalam diri Somi. Dia akan menjadi permaisuri utama meskipun jika Somi bukan istri pertama."
"Guru, aku tidak ingin membahas hal ini. Dan aku tidak ingin memiliki istri banyak. Apa aku bisa merubah takdirku?"
"Tentu saja. Setiap orang bisa mendobrak takdir dengan caranya sendiri. Tapi aku tidak tahu banyak, hanya dewa yang tahu."
Lego memalingkan tatapannya dari Wilyusa, tenggelam dalam pemikiran apa yang dikatakan Wilyusa.
"Aku tidak pernah membayangkan hal sejauh ini. Selama ini aku tidak pernah tertarik dengan hubungan. Hidupku hanya untuk berbakti kepada kakek dan nenek," batin Lego.
"Namun kini aku mengetahui segalanya tentang siapa diriku dan Kerajaan Mettadik. Rindosaka yang kejam selalu tidak terlihat jahat karena topengnya sangat tebal," batin Lego lagi.
__ADS_1
Karena pada awalnya Lego tidak pernah berpikir bahwa Rindosaka adalah raja yang kejam. Ia terus berprasangka baik padanya, tapi sekarang ia tahu segalanya mengenai siapa sebenarnya Rindosaka.
Kematian orang tua Lego sangat tragis. Sudah seharusnya Lego membuka kedok dan membalas perbuatan-perbuatan keji Rindosaka.
"Apakah tidak ada orang yang setia kepada Raja Roem Janhi sampai saat ini?"
"Menurut instingku ada. Tapi tidak yakin, kemungkinan dari kalangan anak Kerajaan Mettadik, atau petinggi Kerajaan Mettadik,"
Lego mengalihkan tatapannya serta tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Untuk menjalankan misi ini, Lego harus bertindak tegas. Terlebih lagi ia menginginkan seseorang yang membantunya berjalan.
"Wanita itu,? Apa aku akan memiliki kebahagiaan di masa depan dengan Nona Somi? Jika takdirku bersama dengannya, aku akan menolak keras. Aku harus merubah takdirku," batin Lego.
"Merubah takdirmu sangatlah mudah, dewa selalu memberkatimu. Jika kau mau, kau bisa berdoa, tapi titik dari kekuatan akan ada dalam diri Somi. Dia merupakan wanita perang sejati, serta ketangguhan yang melekat pada jiwanya."
Lego sontak menoleh, Wilyusa seakan tahu isi hati Lego saat ini.
Merasa sudah cukup, Lego menurunkan kakinya yang semula sila di atas batu. Ia melangkah lalu terdiam dekat dihadapan Wilyusa. Ia menundukkan kepalanya sejenak, mengartikan rasa hormatnya pada Wilyusa.
"Aku harus pergi, Guru."
Lego membetulkan kepalanya menjadi tegap lagi. Mereka saling tatap sebelum Wilyusa menjawab.
"Pergilah. Aku memberkatimu."
...----------------...
12.44
Tiba-tiba di perjalanan beberapa orang menirkamnya dengan anak panah. Anak panah itu mengenai punggung Lego, ia meringis karena rasa sakit.
Berdatanganlah tiga pria bertopeng kain hitam dengan perawakan kurus dan satu orang gemuk. Dengan membawa pedang sederhana, dan satu orang membawa anak panah di punggungnya seeta busur ditangan.
Legpo terkejut dengan raut wajah kesakitan. Ia kembali diserang, entah siapa tiga pria ini.
"Tangkap dia," perintah orang gemuk yang berada di tengah-tengah rekannya yang kurus.
Kedua pria kurus itu menghampiri Lego mencoba menangkapnya. Beruntung Lego masih bisa membela diri dengan melayani perlawanannya. Hanya saja kekuatannya melemah, karena anak panah yang menusuk punggungnya.
"Akh," ringisnya ketika kedua pria kurus itu berhasil mengunci pergerakan tangan Lego.
Dengan tanpa perasaan, anak panah itu dicabut kasar oleh salah satu dari mereka berdua. Bukan main, anak panah ini seakan memiliki racun. Keadaan tubuh Lego melemah, panas itu seakan membakar tubuhnya.
"Akh," ringisnya serta wajah yang perlahan berkeringat.
"Tuan, ke mana kita akan membawanya?" tanya salah satu dari mereka berdua kepada si gemuk yang menjadi bosnya.
"Bawa ke gubuk, dan kita bedah tubuhnya," jawab si gemuk.
Perampok yang sangat lihai, mereka memburu organ tubuh manusia. Karena jika dijual, harganya sangat fantastis. Mereka menjualnya ke pedagang luar negeri, tentu karena di luar negeri sudah canggih.
Sementara di sisi lain, Somi yang tengah berlatih bela diri di pekarangan gubuk yang sudah satu minggu ini ia tempati, secara tiba-tiba pergerakannya terpeleset. Ia meringis.
Pikirannya menjadi gelisah, seperti terjadi sesuatu, tapi apa? Ia terdiam tanpa mengedip, menatap kosong arah depan.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa hatiku sangat gelisah?" gumamnya.
Pikirannya melayang mengingat Lego, ia tidak menyukainya, tapi Lego melintas dalam pikirannya.
"Pertanda apa ini? Kenapa hatiku tertuju padanya," gumam Somi.
Somi memicingkan matanya dengan pemikiran yang sulit dipecahkan.
"Mungkin ini salah. Dia bukan siapa-siapa untukku. Dan aku tidak memiliki rasa peduli padanya. Apalagi peduliku?" gumamnya menyangkal kebenaran bahwa ia gelisah karena Lego.
Somi beranjak, ia berdiri. Kemudian terduduk di kursi kayu dekat bilik gubuk. Meskipun ia menyangkal rasa gelisah ini, tidak bisa. Gelisah karena Lego? Ada hubungan apa?
"Apa terjadi sesuatu padanya?" gumamnya.
Grremm
Mata Somi membelalak ketika suara auman terdengar di telinganya. Ia sontak berdiri, matanya melengok kanan kiri sekitarnya. Mencari sosok hewan buas yang menggelegar di telinganya.
Ia tahu jika ini suara auman harimau, maka dari itu ia waspada. Jika seekor harimau menerkamnya, ia sudah siap untuk melawan.
"Ternyata sekitar di sini menyeramkan juga," gumamnya.
Dari arah barat, terlihat harimau sedang menghampiri Somi, berlari perlahan. Somi berposisi waspada, ia mengangkat tangannya dengan mengepal kuat seakan memukul, hingga harimau itu berada di hadapannya.
Somi tidak pernah membayangkan bahwa harimau itu jinak di hadapannya.
Jantung Somi yang semula berdebar kuat karena ketakutan dengan harimau besar ini, kembali tenang.
"Harimau ini tidak menyerangku?" batin Somi.
Pergerakan sang harimau itu seakan ingin memberitahukan sesuatu, tapi sulit karena Somi tidak mengerti bahasa hewan. Apalagi harimau.
Hewan buas itu terus menggerak-gerakan setiap anggota tubuhnya. Sama sekali tidak bisa dimengerti.
Saat Harimau itu membalik badannya dan berjalan perlahan, Somi seolah mengerti bahwa harimau itu ingin ia mengikutinya.
Perlahan, langkah kaki Somi berjalan. Ia mengikuti langkah harimau itu dengan jiwa yang waspada.
Berapa lama Somi berjalan mengikuti harimau itu, sampai ia tertegun mematung melihat sosok Lego yang lemah, bersandar di bawah pohon kelapa tinggi.
Lebih terkejut lagi ketika dua ekor harimau yang terlihat seolah-olah menjaga Lego. Mereka di sisi kanan dan kiri. Sementara di sisi lain, terdapat tiga pria bertopeng terbaring tak sadarkan diri.
"Lego," gumamnya.
Ia menghampiri Lego dengan langkah kaki yang tergesa-gesa melewati mayat ketiga perampok yang dipenuhi cakaran. Somi bisa menebak bahwa cakaran itu akibat harimau.
"Dia kenapa?" batinnya setelah menjongkokkan badannya menyeimbangkan posisinya dengan Lego.
Setelah Somi berada di dekat Lego, semua harimau pergi meninggalkan Lego dan Somi. Yang menjadi pertanyaan bagi Somi adalah, "Kenapa harimau itu harus memberitahuku tentang kondisi Lego,"
"Bukankah orang lain bisa?"
"Aku gelisah karena ini?" batin Somi.
__ADS_1