
Boom,
Ledakan yang berasal dari Lego. Kemarahan yang tidak bisa tertahankan, hingga ia memberikan sihir yang begitu dahsyat. Membunuh semua orang termasuk pengawal Lembuh. Tidak semuanya terbunuh, sebagian mendapatkan luka.
Bahkan rakyat Lembuh yang berada jauh dari kerajaan, bisa mendengar ledakan ini. Mereka semua terhenti dalam melakukan kegiatannya masing-masing.
Semua terkejut. Adipati, mentri-mentri kerajaan menutup wajah dengan lengannya. Sampai di telinga Raja Perto. Mata itu langsung membuka keras dalam keadaan duduk kaki bersila mata terpejam fokus.
Sementara keadaan di luar, sangat parah berantakan.
Kemarahan yang perlahan mereda. Dalam terengah-engahnya nafas Lego, perlahan memudar.
Ia menoleh ke kanan, dimana terdapat Somi yang berjarak darinya. Sontak menghampirinya. Tanpa berkata, Lego mengangkat tubuh Somi yang lemah itu. Ala bridal style. Sebelum beranjak, Somi berucap.
"Kau akan membawaku ke mana?" Nada lemah itu bersuara.
"Kita harus pergi sebelum Jwiyu sadar dengan sihir dariku," jawabnya.
Tidak banyak ucapan lagi dari Somi. Tubuhnya sulit bergerak banyak, akibat sihir besar dari Jwiyu.
Sebelum ledakan ini terjadi, pasukan Jwiyu dari kerajaan Mettadik datang menggantikan Edeun. Semuanya tahu bahwa Jwiyu berasal dari Mettadik.
Jwiyu membuat kerusakan serta menyerang setiap petinggi kerajaan Lembuh, termasuk Somi. Dengan sihir kuatnya, Jwiyu juga melukai Somi. Meninggalkan luka yang sangat serius.
Dan ini penyebab dari kemarahan Lego. Luka parah Somi membuat dirinya emosi hingga sihirnya tidak bisa dikendalikan. Sihir api dimana sebelumnya ia tidak bisa mengendalikan emosinya, ketika Dev dibunuh.
Lego membawa Somi ke rumah mereka berdua. Di tengah hutan, yang sebelumnya gubuk. Ia membaringkan tubuh Somi di ats ranjang kamar Somi.
"Kau masih sakit?" tanya panik Lego.
"Dadaku sedikit sesak," jawabnya dengan nada yang seolah akan habis.
Lego menjadi gusar, ia tidak tahu cara pengobatan. Lalu ia harus bagaimana sekarang?
"Apa yang harus kulakukan?" gumamnya sembari mengacak-acak rambut pirang style two block itu.
Secara jujur, Lego panik dan khawatir melihat Somi menahan rasa sakit tubuhnya.
"Sihir itu sangat kuat hingga membuatku lemah. Tenagaku seakan terhisap olehnya," ucap Somi.
"Tolong berikan air jahe hangat," lanjut Somi.
Lego mengangguk, dengan segera ia menuju dapur. Beruntung tersedia jahe di sana. Hanya saja air hangat itu tidak ada.
__ADS_1
Sejenak Lego bingung. Bagaimana ia memasak air sedangkan air saja tidak ada di sini. ia mengangkat tangannya, mengharapkan sihir api darinya keluar untuk bisa memasak air.
Ia mencoba melakukannya. Jari-jarinya memutar sejenak, lalu mengarahkan tangannya ke perapian. Dan ya, api muncul darinya. Akhirnya perapian itu menyala dengan sihir api.
Kondisi ini sangat panik dan gelisah. Sedangkan di Lembuh, Raja Perto tengah dikejutkan dengan kondisi di luar kerajaan.
Semuanya terkapar. Yang ia khawatirkan adalah rakyat yang ikut serta dalam perang.
SKIP
"Obati semuanya. Aku akan membayar mahal jika kau bisa menyembuhkan mereka semua," ucap raja pada tuha nambi atau tukang obat.
Mereka yang terluka dibawa ke lapangan di dalam kerajaan untuk di obati. Sedangkan yang meninggal, mereka di kebumikan di tanah kepahlawanan setelah memberitahu keluarga korban. Beruntung banyak yang selamat meskipun kritis.
"Ayahanda,"
Seorang wanita muda menghampiri raja, dia putri terakhirnya yaitu Freka. Teelihat cemas dan takut dari dirinya yang tengah berlari kecil menghampiri sang ayah.
"Freka,"
Pelukan takut Freka pada Perto.
"Jangan takut. Semuanya sudah kembali normal," ucap Perto sembari mengelus pelan surai rambut Freka.
"Aku baik-baik saja. Lalu di mana kakak?" Freka menengadahkan kepalanya sejenak.
"Kakak? Somi di sini?"
"Ya. Dia menyuruhku untuk tetap di kamar, melarangku untuk keluar, namun sampai sekarang kakak tidak menemuiku juga. Aku khawatir dengan kakak,"
Perto terdiam sejenak. Sebelumnya ia terkejut mendengar Somi sudah berada di sini tanpa bertemu dengannya.
"Tidak akan terjadi apa-apa dengannya, bukan? Dia bisa menjaga diri," batin Perto. Jujur Perto cemas meskipun mulutnya yakin dengan ucapannya.
"Ayah tidak melihat kakakmu."
"Bagaimana bisa? Kakak ikut serta dalam peperangan tadi,"
Lagi, Perto terdiam. Ia menunduk melihat anaknya yang masih dalam pelukannya.
"Ayah akan mengirim pengawal untuk mencari Somi. Jangan panik,"
......................
__ADS_1
"Tidak seharusnya kau membuat ledakan di sana. Bukan karena aku tidak ingin melumpuhkan musuh, hanya saja di sana kerajaanku."
"Aku juga tidak ingin rakyat Lembuh serta anggota istana terluka," lanjut Somi.
"Aku tahu. Tapi Jwiyu turun tangan, semua orang tahu bahwa penasehat Kerajaan Mettadik itu ahli sihir. Tidak mudah melumpuhkan serangannya,"
"Dan--aku tidak ingin dia melihatku," batin Lego.
Somi meminum air hangat jahe yang di buat Lego, dalam posisi terduduk bersandar di atas ranjang serta Lego pun terduduk di hadapannya.
"Apa hubunganmu dengan Jwiyu tidak baik?"
"Bukan. Bukan hal itu,"
"Lalu apa? Apa kau sebelumnya tahu bahwa Mettadik akan menyerang Lembuh?" tanya intimidasi Somi.
"Aku tidak tahu-menahu tentang penyerangan ini. Maksudku, ada hal yang kusembunyikan dari semua orang,"
Lego menunduk sejenak, tatapan itu kembali tertuju pada Somi yang tengah meletakkan air hangat itu di nakas samping ranjangnya.
"Aku tidak ingin tahu soal rahasiamu. Saat ini aku mengkhawatirkan keluargaku. Ayah, Freka dan kak Fergo."
"Peperangan sudah berakhir. Aku yakin keluargamu tidak mengalami luka dalam, jangan khawatir lagi,"
"Bagaimana tidak khawatir. Aku tidak melihat kakakku dalam peperangan itu, entah di mana Kak Fergo saat itu."
"Kerajaan Mettadik benar-benar licik. Peperangan ini hanya sepihak, bahkan aku sangat yakin jika pasukan kami belum bersiap," lanjut Somi.
"Bukan kerajaannya, melainkan pemimpinnya. Sejak dulu Kerajaan Mettadik tidak memiliki taktik licik seperti ini, karena penghianat mengambil alih Mettadik, semuanya jadi gelap," jawab Lego.
Somi mengerutkan dahinya. "Apa yang kau katakan?"
Lego dengan yakin menjawab, "Ya. Kebenarannya seperti itu. Raja Janhi merupakan raja terakhir yang asli dari keturunan dewa Srodi. Sedangkan Rindosaka, dia bukan raja yang sebenarnya."
Rindosaka, nama itu menggema di telinga Rindosaka yang tengah terduduk kaki bersila di atas batu. Mata itu langsung terbuka lebar, mata yang di letakkan di lututnya seketika lumpuh, hingga meleset.
Pertapaan yang belum terselesaikan selama beberapa jam ini harus gagal. Rindosaka seakan mendapat ancaman melalui jarak jauh, yang bisa di dengar.
^^^..."Paduka Janha yang sebenarnya akan kembali menjadi raja di Mettadik." ...^^^
Suara itu muncul setelahnya. Goa yang ia tempati ini bergetar menyuarakan nama itu lagi. Nama yang paling ia benci dan hindari.
Tubuhnya seakan bergetar. Keringat perlahan muncul di kepala Rindosaka. Rasa takut itu kembali muncul, disertai rasa emosi yang cukup membara.
__ADS_1
"Aku harus secepatnya menemukan siapa keturunan Janhijanha," gumamnya.