Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Tatapan Rindosaka


__ADS_3

Karena perang di Lembuh, Lego berada dalam bahaya. Rindosaka tidak akan membiarkan Lego mendapatkan kemenangan.


Dalam satu malam, Jurnalis kerajaan, Grodki, menuliskan beberapa keinginan Rindosaka. Mengenai Lego.


"Sudah kami temukan, Yang Mulia,"


"Di mana keberadaannya?"


Raut wajah tegas itu tidak pernah luput. Tubuh itu masih terduduk tenang di kursi singgasana. Tongkat sihir yang dipegangnya, menjadi sumber segala kekuatan jiwa.


Grodki melangkah. Karton yang tergulung ditangannya perlahan dibuka.


"Ini merupakan gambar rumah itu. Ini di dasar hutan menuju wilayah selatan Mettadik. Karena begitu luas wilayah kita, saya juga menggambar peta untuk menuju rumah Lego,"


Ukiran pena yang cantik serta mirip dengan asli. Rindosaka bisa membayangkan gambar dan peta Grodki. Kakinya melangkah menuruni tujuh tangga. Dari dekat gambar ini terlihat jelas.


Dahinya mengerut. "Ini rumah atau istana? Aku tidak pernah sama sekali melihat model rumah seperti ini," ucapnya.


"Ini rumah. Dari awal saya sempat terkejut, Yang Mulia. Desain rumah Lego terlihat modern, dengan dilapisi cat dari daun pandan."


"Apa kau yakin jika ini rumahnya?"


"Saya melihat sendiri Lego keluar dari rumah itu dan wanita."


......................


"Semoga dewa memberkati kalian berdua,"


Mereka menunduk, "Terimakasih guru," kata mereka.


Mereka segera berbalik badan. Melangkahkan kedua kakinya, menaungi hutan yang menjadi akses jalan menuju ke rumahnya.


Sejauh ini mereka tidak saling memberikan ucapan dari mulutnya. Sampai di tengah hutan mereka baru berkata.


"Gurumu sangat membantuku. Setiap ucapannya, mengandung mutiara yang berharga."


Lego menoleh kurang paham dengan kata Somi.


Kalian mungkin akan berpikir jika Lego bersama dengan Selina. Dengan alasan mereka akan menikah. Namun, tidak. Wilyusa meminta Lego untuk mempertemukannya dengan Somi beberapa hari yang lalu.


Hal penting yang dibicarakan Wilyusa adalah kesetiaan Kerajaan Lembuh terhadap Janhijanha. Wilyusa menyatukan Lego dan Somi, beserta Raja Perto. Raja Perto memihak Janhijanha sehingga Wilyusa mempersatukan mereka, nanti.


"Maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Seperti yang gurumu bilang bahwa peperangan bukan hal yang positif. Jika ingin mengambil alih, kita harus bermain tertutup. Bukan berarti menyerang sepihak, tapi ini mengenai taktik dan strategi," kata Somi.


Lego terdiam sejenak mencerna ucapan Somi.


"Apa mungkin ayahmu akan bersedia bekerja sama denganku?"


"Ayahku merupakan pemimpin setia. Meskipun aku tidak tahu kenapa ayah begitu setia dengan ayahmu raja Janhi, aku yakin ayah bersedia bekerja sama denganmu,"


"Aku akan menemui ayahmu setelah pernikahanku dengan Selina,"


Deg,


Langkah Somi terhenti, diikuti Lego yang tidak tahu kenapa Somi tiba-tiba terhenti. Pikirannya kenapa?

__ADS_1


Penglihatannya mengamati tanah, tapi pikirannya berbeda.


"Nona, kau kenapa?" tanya Lego.


Somi menoleh. Seakan tersadar dari lamunan, mulutnya terlihat kelu. Sebelum menjawab, penglihatannya dipalingkan.


"Aku tidak apa-apa," katanya sembari kembali melangkah, diikuti Lego.


"Kapan kau akan menikahinya?" tanya Somi.


"Aku tidak mungkin memiliki perasaan padanya, bukan?" batin Somi.


"Hari ini, sore nanti."


Pupil mata hitam Somi membelalak dalam tatapan lurus, tanpa sepengetahuan Lego. Ia menyudutkan matanya, melirik Lego. Hanya sejenak.


"Aku ingin minta tolong padamu, Nona. Pernikahan membutuhkan saksi, aku ingin kau termasuk saksi itu."


Kembali membelalakkan matanya seakan terkejut. Somi menoleh, "Kenapa harus aku? Kau bisa mencari orang lain, bukan?" sewot Somi.


Lego mengerutkan keningnya, "Kenapa kau tidak mau?"


"Ya,-- aku tidak tahu. Pokoknya aku tidak mau," sewotnya.


"Aku tidak memiliki orang lain lagi,"


"Ya, aku tidak peduli. Aku tidak suka dengan Selina, dia membuatmu ja---" sebelum menyelesaikan ucapannya ia berhenti.


Mulutnya menganga. Matanya terus berkedip. "Hampir keceplosan," batinnya.


"Membuatku apa?" tanya Lego.


Ia masih mengerjap-erjapkan matanya dengan kepala menunduk 65 derajat.


"A--aku, aku----. Kenapa harus membahas ini sih?" sewotnya lagi.


Lego bingung. Sikap Somi sulit ditebak. Terkadang baik, bijak, akrab, tapi kali ini sewot lagi. Ia mengalihkan tatapannya, fokus dengan langkahnya.


Somi menoleh, "Kau jangan ingat ucapan tadi. Aku hanya berbicara asal, itu tidak ada artinya."


"Kenapa harus begitu? Kau bisa menceritakannya padaku?"


"Pokoknya tidak ya tidak. Kenapa harus terus bertanya sih. Kau itu bocil, tidak perlu tahu arti semuanya. Aku tidak suka kau terus--"


"Nona, awas."


"Aaah,"


Bruk,


Mereka terjatuh ke dalam lubang kecil dalam. Ini terlalu sempit hingga mereka sulit untuk bergerak. Tubuh Somi menunggangi tubuh Lego. Tanah ini mengotori pakaian mereka berdua.


Sebelumnya Lego menahan Somi, tapi mereka berdua masuk ke dalam lubang sempit ini.


"Akh," ringis Lego. Begitupun Somi, ia meringis sakit seperti Lego.


"Nona, menyingkirlah dari tubuhku," kata Lego.

__ADS_1


Somi tersadar. Segera ia bergerak. Apa yang dia bisa? Lubang ini terlalu sempit untuk mereka berdua. Dalam waktu yang lama, Somi berdiri. Lego berada di bawahnya.


Lego berdiri perlahan, mereka saling berhadapan tanpa ditentang. Saling tatap salah tingkah.


"Jangan menatapku seperti itu?" sewot Somi.


"Siapa yang menatap, lubang ini terlalu kecil," jawab Lego.


Somi memgerutkan kening. Kesal dengan Lego. Lego maupun Somi tidak bersalah. Lubang ini mendukung mereka untuk saling merapat.


"Aww," ringis Somi. Sebelumnya ia memalingkan kepalanya karena kesal terhadap Lego. Namun, kesialan menyertainya. Wajahnya mengenai tanah, sehingga pipi cantik itu dihiasi tanah.


Lego tertawa. Wajah kotor namun lucu itu membuat tawaan di mulut Lego.


"Jangan tertawa," sewot Somi.


Lego menutup mulutnya. Mencoba mengehentikan tawanya, tapi tidak bisa. Ini terlalu lucu, tidak bisa dilewatkan.


Terlintas pikiran jahil di pikiran Somi. Tangannya meraih tanah, kemudian ia oleskan di pipi Lego. Kini tawaannya berganti. Sekeras mungkin Somi tertawa, membalas hinaan Lego.


"Nona, apa-apaan ini?" ujarnya sembari meraih pipi yang diberi hadiah tanah oleh Somi.


"Lihat itu, kau sangat lucu, ahahah."


"Lego, Lego."


Seseorang mengejutkan mereka berdua. Mata bulat mereka menoleh ke atas. Rindosaka menampakkan dirinya di atas lubang.


"Pikiranmu terlalu kekanak-kanakkan, Lego. Jika ingin bersaing, jangan bersamaku," hina Rindosaka.


Tatapan yang keras dan tegas dari Rindosaka. Sebuah tongkat tinggi menemaninya, dengan sekali uluran tongkat, keluar satu ular, turun ke bawah.


Mereka was-was. Ular itu menyerang di tempat sempit ini. Secara refleks, Lego membawa ular itu dari Somi. Yang ia khawatirkan adalah Somi.


"Akh," ringis Lego setelah ular itu berhasil menggigitnya.


Mulut Somi menganga dibalik tangan kanan yang menghalangi. Tangan kiri memegang puncak bahu Lego, tapi Lego menepisnya. Ia masih mencoba memusnahkan ular itu, dalam keadaan luka gigitan di tangannya.


Rindosaka tertawa puas, karena hasrat kemauannya terpenuhi.


"Lemah. Kau lemah Legojanha. Sama seperti ayahmu yang pengecut,"


Satu kali injakkan. Lego berhasil menghabisi ular itu. Nafas Lego terengah-engah. Lega rasanya ular itu terbunuh.


"Bagaimana bisa ular andalanku terbunuh?" batin Rindosaka.


Lego menoleh ke atas. Ia memiringkan senyumannya. "Kau yang pengecut Rindosaka," ujarnya.


Kemarahan Rindosaka mulai memuncak. Wajahnya mengerut keras. Rahangnya bersiap untuk memberikan kata panas. Namun bukan perkataan yang keluar, melainkan sihirnya mengambil alih.


Ia mengulurkan tongkat, mengeluarkan sihir. Seketika tanah menimbun mereka berdua, sebelumnya Lego membawa Somi berjongkok. Lego menutupi tubuh Somi dengan tubuhnya.


Dalam beberapa menit mereka masih bisa tertahan. Somi mulai sesak, sedangkan Lego khawatir.


"Bertahanlah,"


"Tidak bisa,"

__ADS_1


__ADS_2