
"Hei tampan. Bantuan zio nih, berat," teriak zio Dev kepada Lego.
Lego yang tengah membantu wanita paruh baya membawa gebok berat, segera menyelesaikannya. Lalu menghampiri Dev, membantu mendorong batu yang menghalangi jalan selokan. Sudah terlihat air menggenang ke atas karena batu besar yang menghalangi.
Dev terkejut ketika sekali Lego menyentuh, batu hancur. Bukan hanya Dev, beberapa warga melihatnya ikut kaget. Ingat, tidak semua, hanya beberapa orang.
Mereka sampai menghentikan aktifitasnya sejenak. Lego sendiri terkejut dengan apa yang diperbuatnya barusan.
"Ini mustahil. Mana mungkin aku bisa memecahkan batu sebesar ini dengan ototku," batin Lego.
"Lego. Che cos'è questo? (Apa ini?)"
Lego menoleh pada Dev, lalu ia melihat kedua tangannya.
"Kekuatan apa tadi? Apa sihir itu muncul? Tapi aku tidak menggunakannya," batin Lego.
"Lego. Kamu bisa sihir, ya?" tanya Dev lagi.
"Aku tidak tahu zio. Aku tidak memiliki kekuatan apa pun. Aku hanya menggunakan ototku untuk mengangkat batu ini," jawabnya.
"Aku harus tanyakan pada guru," batin Lego.
Ia melangkahkan kaki meninggalkan perkampungan ini.
"Hei tampan. Mau ke mana? Zio kenapa ditinggal di sini?" teriak Dev. Kemudian ia pun berlari kecil mengikuti Lego.
Beberapa rakyat yang melihat kejadian, waspada. Mereka berpikir bahwa yang dimaksud raja mungkin ini. Penyusup itu adalah Lego?
Tapi mereka tahu, Lego hanyalah pedagang kecil, satu pasar dengan mereka.
"Siapa pemuda itu? Kenapa dia bisa menghancurkan batu hanya dengan sentuhan saja."
"Yang Mulia Rindosaka harus tahu ini. Dia pasti penyusup yang dimaksud Yang Mulia."
"Benar. Ayo kita pergi ke istana."
Mereka yang mengumpat, melangkah menuju istana. Namun, di tengah perjalanan, Reduka datang. Ia mencegah mereka.
Satu jalur kaki dilengkapi pepohonan di tepi menuju istana sangat jauh, menjulang tinggi layaknya jurang bersifat jalan setapak. Orang awam mungkin akan lelah. Jika orang yang memiliki kekuatan sihir, mereka bisa dengan singkat sampai.
"Kau siapa? Kau dewi?" ucap salah satu dari mereka.
"Ya. Aku adalah dewi, dan aku akan menghapus ingatan kalian."
Sekali sentilan tangannya, mereka kehilangan kesadaran sejenak. Sementara sang dewi pergi dengan satu detik, seperti yang dilakukan di hadapan Lego.
Mereka tersadar kembali, serta kehilangan memori mengenai sihir Lego. Kebingungan masuk dalam dirinya.
"Apa yang akan kita lakukan, ya?"
"Aku tidak tahu kenapa aku ada di sini?"
......................
__ADS_1
Berapa lama Lego harus berjalan, menemui gurunya. Tidak mudah untuk menemuinya. Ia tinggal sendirian di dekat goa Krom. Goa yang berada di pertengahan bukit, menuju gunung Red.
Seorang Petapa Agung keturunan dewa sakti. Keberadaannya tidak dikenal semua orang, dia terus mengurung diri di gubuk untuk berdoa. Bisa dibilang dia adalah seorang pemuja setia dewa.
Dia tidak mempunyai murid selain Lego. Ia sendiri memiliki alasan kenapa bersedia menjadi guru Lego. Bukan bersedia, melainkan menawarkan dirinya untuk menjadi guru Lego.
"Tampan, ini baru sampai mana? Lama tidak, Le?" tanya Dev.
"Sangat lama. Jika tidak kuat, zio boleh tidak ikut. Karena jalan masih sangat jauh."
"Hah?" ujar Dev dengan mulut yang terbuka dan kepala mundur ke belakang. Namun hanya sejenak, ia kembali ke ekpresi normal. Ini bisa dikatakan berlebihan, ekpresi dan sikap yang sangat-sangat berlebihan.
"Jauh? Le, zio stanco(lelah)."
"Yasudah zio pulang saja. Tidak perlu memaksakan."
"Pulang? Ini sudah jauh Lego."
Keberadaan zio bukan mengganggu, melainkan Lego tidak nyaman jika ditemani. Apalagi kalau menemui guru, Lego keberatan.
Satu ranting menyerang tanpa aba-ab, entah dari mana. Namun, tangan kekar itu sigap menahan ranting yang menyerang, sehingga tubuhnya aman dari tusukan.
Mereka terkejut setengah mati karena kecepatan ranting sangat tinggi. Beruntung Lego bisa membaca pergerakan. Ia terlatih dengan kecepatan apalagi ketahanan. Karena bimbingan sang guru, Lego cerdas membela diri, meskipun kelemahan itu ada.
Zio Dev ngos-ngosan, terkejut setengah mati. Ilmunya di bawah Lego, mungkin tidak bisa melakukan hal itu jika menimpa dirinya.
"Siapa yang menyerang?" teriak Lego. Ranting itu dibanting sembarangan.
"Wah, sepertinya hutan ini sangat menarik," ujar Dev. Bukannya takut, ia menantang di sini.
Swooshh
Satu lagi ranting akan mengenai tubuh Dev, dengan cepat pula Lego menahan ranting itu.
"Tunjukkan siapa kalian yang menyerang."
Tak berlangsung lama bermunculanlah beberapa orang bertopeng putih. Bukan orang biasa, melainkan seperti berilmu tinggi. Pedang di tangannya, serta panah di punggungnya. Lego tidak membawa apa-apa, hanya mengandalkan jiwa untuk menghadapinya.
"Siapa kalian?" tanya Lego waspada.
Tidak ada yang menjawab, mereka menyerang Dev dan Lego. Lego terlihat mahir dalam ilmu bela diri, tapi bukan berarti ia sangat ahli. Hanya saja ilmunya bisa terbilang tinggi.
Lama mereka bertahan dengan serangan lawan. Sama sekali tidak tahu kenapa Lego bisa diserang. Ia tidak memiliki musuh.
"Akh," ringisan Dev ketika pedang itu mengiris lengannya. Ia mundur sejenak, menstabilkan tubuhnya.
"Zio Dev," teriak Lego kerita penglihatannya mengarah ke Dev yang terkena irisan pedang di lengannya.
Sreet
"Akh." Kali ini ringisan Lego.
Sama seperti Dev, ia terkena irisan pedang di lengannya ketika sedang lengah, memperhatikan Dev yang terluka.
__ADS_1
Lego mundur sejenak, menghindari serangan musuh. Namun, musuh terus menyerang, Lego masih bertahan. Ketika teriakan Dev itu terdengar lagi di telinga Lego, Lego menghentikan sejenak perkelahiannya.
Ia menghampiri Dev yang terbaring karena tusukan pedang musuh pada tubuh Dev.
"Zio Dev," ujarnya.
Lego menepuk pelan pipi Dev, mencoba untuk membuat Dev terbangun dengan panggilannya. Bagaikan di tengah-tengah hidup dan mati, itu adalah keadaan Dev sekarang. Nafasnya terengah-engah seolah ia akan kehabisan oksigen.
"Zio Dev, bertahanlah. Zio Dev."
"Bangun zio Dev. Jangan membuatku khawatir."
Mulut itu seakan ingin bicara, namun sulit. Mata sayu Lego menjadi saksi, betapa lemahnya tubuh Dev saat ini. Ia khawatir serta panik akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
Dev tak sadarkan diri. Ini membuat Lego lebih khawatir lagi, ia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.
"Zio Dev bangun, zio Dev," ucap panik Lego sembari menepuk-nepuk pelan pipi Dev.
Sreet.
Irisan pedang lagi, tepat di punggung Lego. Namun, aneh. Ia sama sekali tidak merasakan rasa sakit, hanya sejenak ketika di awal. Lego mengalihkan perhatiannya pada musuh.
Mereka menyerang tanpa menunggu Lego bersiap melawan. Raut wajah Lego emosi, rahang mengeras dan mata yang tajam menggambarkan kemarahan Lego.
"Kalian pembunuh," bentak Lego.
"Aku akan membalas kematian zio Dev," bentaknya lagi.
Kemudian bermunculanlah api di tubuh Lego, bukan menyakiti Lego, ini kekuatan Lego. Api itu terus bermunculan ketika marah Lego memuncak. Lego sendiri tidak mengetahui kenapa banyak api di tubuhnya. Sampai ia tidak merasakan panasnya api itu.
Meskipun terheran dengan kedatangan api dalam tubuhnya, ini kesempatan untuknya membalas pembunuh zio Dev. Dengan memanfaatkan kekuatan yang muncul dalam dirinya, ia melempar api-api itu ke lawan.
Lawan Lego berjatuhan dengan rasa sakit di tubuhnya karena api menjalari badan mereka. Mereka akhirnya mati tepat di hadapan Lego, sampai hangus tidak ada yang tersisa dari tubuh itu.
Kondisi kembali menjadi hening, Lego terdiam. Amarahnya mulai mereda, nafas yang semula menggebu-gebu cepat, akhirnya kembali normal.
Pandangannya ia alihkan ke zio Dev, menghampiri zio Dev. Menjongkokkan tubuhnya, rasa sedih menyelimuti wajahnya.
"Zio Dev," gumamnya dengan rasa sedih itu.
Ia memegang luka di tubuh yang tertusuk pedang, beberapa detik luka itu hilang akibat sentuhan tangan Lego. Lego terkejut sampai memundurkan tubuhnya tak percaya.
"Bagaimana bisa?" gumamnya, lalu ia mengangkat tangannya setengah. Melihat kedua tangannya, "Tangan ini ada apa?" gumamnya.
Ia mencoba menyentuh luka Dev di lengannya yang teriris pedang. Sama seperti sebelumnya, lukany hilang dan kulit itu mulus seperti semula.
Lego harus tersentak karena kenyataan barusan.
Zio Dev membuka matanya, terbangun dengan mata melotot sempurna. Sorot mata Dev menatap Lego, mereka saling tatap.
"Lego," ucap Dev.
"Aku hidup lagi?" ucap Dev dengan raut wajah yang mendefinisikan ketidakpercayaan, namun raut wajah komedi itu terus tertampak dalam jiwanya.
__ADS_1
"Lego. Aku masih hidup?"
Sementara Lego, dia terus heran mengenai apa yang bisa ia lakukan barusan. Membangunkan orang mati? Bagaimana bisa,? Dia bukan dewa.