
Kebenaran satu persatu sudah terungkap. Cales, ibu dari Lego. Ternyata dia masih hidup. Ia bergaul dengan orang istana agar bertahan hidup sebelum menemukan anaknya. Dia menyamar, mengganti wajahnya dengan penduduk yang sudah tidak bernyawa.
Duapuluh tahun yang lalu, sebenarnya dia berhasil selamat. Tubuhnya tenggelam ke laut timur kerajaan, laut Blue Sea. Diambil dari bahasa inggris, itu karena penduduk di sana merupakan tentara inggris, sekitar abad ke-13.
Prajurit pemihak Rindosaka membawa Calesta ke laut Blue, melemparnya hingga tenggelam. Seluruh tubuhnya serasa mati, ia pasrah waktu itu. Namun, sebelumnya kesadarannya mati, ia merasakan seseorang datang padanya. Entah siapa.
Dia menyelamatkan Calesta dalam kepasrahannya. Saat sadar, ia berada di sebuah gubuk kecil. Di malam hari, api unggun menyala dalam perapian. Satu pria menjaga api unggun.
Hingga akhirnya mereka terpaut pembicaraan. Mengenai tujuan Calesta yang ingin balas dendam, pria itu membantunya. Calesta ingin mengubah wajahnya, agar bisa hidup di lingkungan Mettadik dan membalas dendam. Pria itu mengabulkan keinginan Calesta. Mengubah wajah cantik Calesta menjadi wanita biasa, wanita desa biasa.
Permulaan itu sampai sekarang masih terwujud.
Sekarang ia sudah menemui Lego, dan mengatakan yang sebenarnya. Meskipun begitu, itu tidak membuat dirinya keluar dari Mettadik. Rencana mereka sama, sampai terjalin kerja sama di antara mereka.
Bahkan Calesta membantu Lego mencuri lonceng dan pohon permintaan. Dengan tanda sabit di lengannya, tanpa terlihat orang lain, ia bisa membawa lonceng dan pohon permintaan. Pada dasarnya Source Of Strength tidak mudah di sentuh orang biasa.
"Senior, kau akan membawaku ke mana?" tanya Selina.
Pikirannya bingung. Lego membawanya berjalan tanpa henti, tujuannya belum sampai.
"Ikut saja. Nanti juga kau akan tahu."
"Tapi kenapa perjalanan ini harus melewati hutan?"
Langkah Lego terhenti. Ia membalikkan badannya, menghadap Selina.
"Aku tidak ingin benih Rindosaka jadi di perutmu, kau tidak ingin juga, bukan?"
Selina mengangguk antusias, tanpa senyuman, ada kepanikan.
"Kalau begitu, kamu harus ikut aku,"
"Baiklah."
Lego membawa Selina ke rumah tabib yang bisa mencegah kehamilan di perut Selina. Lumayan jauh dari rumah yang baru robohnya.
Sampai hari berganti. Mereka menginap di rumah tabib yang menyelamatkan mereka dari benih Rindosaka di perut Selina.
Karena masih banyak yang harus Lego kerjakan, ia meninggalkan Selina di rumah tabib. Hanya sejenak ia mengatakannya.
"Tunggu aku, aku akan menjemputmu setelah semuanua selesai,"
"Sepagi ini? Apa sebenarnya yang akan kau lakukan?"
"Nona Somi mengalami gangguan kesehatan. Pagi ini guruku akan melakukan beberapa ritual."
Selina terdiam sejenak. Ia memalingkan tatapannya sejenak, seolah berpikir.
__ADS_1
"Baiklah."
Lego mengangguk dan tersenyum tipis. Ia melangkah masuk rumah tabib, hanya memperlihatkan tubuhnya di ambang pintu. Sedangkan sang tabib di dalam, sibuk debgan perapian.
"Onkel Sago. Tolong temani Selina sebentar, aku akan menemui guru pagi ini," ucapnya.
Pria kulit gelap itu menoleh, "Sepagi ini? bahkan matahari belum muncul," jawabnya.
"Ada yang harus dikerjakan, Onkel,"
Onkel merupakan terjemah paman dalam bahasa Jerman. Sago merupakan tabib Jerman, ia tidak begitu terkenal, tapi kemampuannya tidak diragukan lagi.
"Baiklah. Aku akan amanah,"
Lego mengangguk. Ia menutup kembali pintunya, berangkat. Sebelumnya ia menghampiri Selina, mengelus puncak rambut Selina ditambah senyuman kecil tulusnya.
"Jaga diri baik-baik," ucapnya dari kejauhan setelah menoleh separuh.
Selina mengangguk, senyuman kecil juga terpampang di wajahnya.
Sampai di rumah Wilyusa. Suasana yang tidak asing. Sampai di ambang pintu, Wilyusa sedang terduduk di atar kursi kayu. Somi terbaring tidak sadar di hadapannya.
Tak berpikir lama, ia masuk menghampiri Wilyusa. Lego meletakkan lonceng dan pohon permintaan di atas meja kayu.
"Guru, bagaimana?"
"Sebentar lagi. Kita tunggu matahari terlihat," jawab Wilyusa.
Kukuruyuuk.
Suara ayam. Lego sempat terkejut, matanya mencari-cari.
"Sejak kapan ada ayam di sini?" tanyanya.
"Aku membawanya. Ayam akan menjadi syarat untuk pemujaan ini."
Wilyusa beranjak, ia melangkah. Tangannya membawa kendi besar di sudut gubuknya.
"Bawalah air dalam kendi ini, tidak perlu penuh."
Lego mengangguk. Tidak jauh sungai dari daerah ini, jadi tidak ada alasan Lego keberatan.
Lego melangkah, membawa kendi di tangan Wilyusa.
SKIP
Meskipun tidak tahu kenapa harus ada ayam dan air, Lego tetap patuh. Ia tidak pernah meragukan Wilyusa, meskipun kesalahan pernah terjadi pada Wilyusa.
__ADS_1
"Keluarlah. Aku akan memanggilmu jika kau dibutuhkan dewa," ucap Wilyusa.
Lego yang berdiri di belakang Wilyusa terduduk, mengangguk patuh. Sontak tubuhnya membalik, membuka pintu, lalu keluar dari gubuk Wilyusa.
Ia terduduk di atas kursi kayu depan gubuk. Pikirannya berdoa mengenai kesadaran Somi, ia sangat berharap. Entah kenapa batinnya, Lego seolah-olah sangat menginginkannya.
Sekitar tigapuluh menit, Wilyusa baru memanggil Lego. Lego sontak masuk.
"Iya, guru," ucapnya.
"Duduklah di sampingku?"
Penglihatan Lego mengarah ke kursi kayu di samping Wilyusa. Ia bingung. Sebelumnya tidak ada kursi kayu di samping Wilyusa. Lalu sejak kapan benda itu ada?
Tanpa banyak tanya, ia melangkah lalu terduduk.
Ke mana ayam tadi? Lego baru sadar ia tidak melihat kehadiran ayam itu. Perihal itu ia lupakan, kali ini harus fokus dengan ritual pemujaan.
"Baca kalimat ini dalam batinmu,"
Lego menoleh.
"God, *laat mijn koetomstige vrouw je niet ontmoeten, ze is mijn lot, geef haar een kams o te leven. Ik zal in de teokomst mer haar trouwen."
"Dewa, jangan biarkan calon istriku menemuimu, dia takdirku, berikan dia kesempatan hidup. Aku akan menikahinya di masa depan*."
Lego tahu. Percakapan dalam bahasa belanda. Ia mengangguk mengerti.
Segera Lego mengucapkan kata itu, sebelumnya ia menutup mata.
Wilyusa menyiramkan air ke wajah Somi, sementara Lego membaca permintaannya.
Sebelumnya Lego terlihat kaget, ucapan aku akan menikahinya di masa depan, terlalu mustahil. Tapi apa boleh buat, gurunya yang meminta.
Seketika, Lego melihat keanehan dalam matanya yang terpejam. Sosok cahaya, tapi bisa berbicara. Apa itu?
"*Ya. Aku akan mengabulkan doamu. Seorang putra Roem, kau di anugerahi keberkahan. Semua dewa dalam posisi terbenggulu, mereka diam tanpa bertindak karena source of strength di tangan orang salah.
Karena kau sudah lahir, generasi baru, raja baru. Semua dewa mengharapkan tahta Mettadik berada di tanganmu. Seorang keturunan yang asli dan murni*."
Seusai ucapan itu, sekilas apa yang dilihatnya berubah. Jeritan wanita, ledakan di sebuah pulau, kerusuhan di kerajaan. Ya, itu tertampak olehnya, meskipun matanya terpejam. Katakan saja ini mata batinnya bertindak.
Lego sontak membuka matanya lebar-lebar. Ia terdiam dengan pikiran yang tertuju pada kejadian barusan. Raut wajahnya begitu serius. Seperti apa kebenarannya, mengenai kejadian yang dilihat oleh mata batinnya?
"Lego,"
Sebuah pelukan mendarat di tubuhnya. Ia terkejut, ketika Somi sudah dalam keadaan sadar. Dan saat ini ia tengah memeluknya.
__ADS_1
Tangan Lego kaku untuk menyentuh, tapi jiwanya memaksa. Perlahan tangannya mengangkat, mengelus punggung Somi.
......................