Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Upaya Somi


__ADS_3

Perlahan Somi membuka lebar kedua matanya. Bangkit dari terbaringnya. Rambutnya ada sedikit dedaunan yang menempel. Hingga ia terduduk, baru sadar bahwa sebelumnya ia sedang bersama Lego.


Kepalanya berkeliling, melihat keberadaan Lego. Namun, tidak ada jejak Lego di sana.


"Di mana Lego?" gumamnya.


Seketika darah mengalir dari lengannya. Akan tetapi tidak ada rasa sakit yang ia rasakan. Somi mengerutkan keningnya.


"Kenapa bisa?" gumamnya.


"Lego. Apa dia dalam bahaya?" gumamnya lagi.


Somi mencoba memegang luka itu, benar-benar tidak merasakan sakit, meskipun lukanya sobek.


"Sebuah takdir menghubungkanku dengannya, apa mungkin ini adalah luka yang Lego rasakan."


"Aku tidak bisa merasakannya, tapi luka fisiknya ada padaku, atau ini ilustrasi?" pikirnya.


Somi segera bangkit ketika pikirannya terlintas Wilyusa. Dengan tegas ia berpikir bahwa haruskah ia menemui Wilyusa.


"Aku harus menanyakan hal ini kepada guru Wilyusa. Ya, ini pasti karena Lego jodohku Jai aku bisa mengalami apa yang di alami Lego," gumamnya.


Perlahan kakinya melangkah. Tujuannya yaitu Wilyusa.


......................


"Aku tidak ingin rugi dalam kesepakatan sebelumnya. Ayahku sudah menjamin keamanan Lembuh, dengan jaminan Somi menikah denganku.


Karena anda membatalkan perjodohan ini, anda harus mengganti rugi."


"Saya tidak menjanjikan. Ayahmu tidak bermasalah dengan batalnya perjodohan ini. Sebelumnya bukan kesepakatan, melainkan kerja sama," jawab yang sebenarnya dari Petro.


Petro meninggalkan tombak di tempat. Setelah ucapannya ia menghampiri Bindusa yang berdiri tak jauh darinya.


"Ayahku sudah mengeluarkan banyak harta untuk rakyatmu yang kelaparan. Sebagai balasannya, ayahku meminta putrimu untukku. Kau setuju. Tapi kau mengingkari janjimu," ujar Bindusa.


"Kau salah paham, Nak. Di masa lalu kerajaanmu memiliki hutang kepada Lembuh. Aku bilang pada ayahmu, bisa menggantinya kapan saja. Hingga saat ayahmu tahu kondisi rakyatku miris, dia bertindak."


"Soal perjodohan, aku menyetujuinya. Akan tetapi Somi tidak menginginkannya."


Bindusa mengeraskan tatapannya, tapi senyuman kecil itu terpampang. Sulit menyamakan kedudukan muda dan tua. Perjalanan Bindusa masih cukup sempit, belum seluas Petro. Dia terdiam, sulit menjawab. Meskipun kebenaran diketahui, Bindusa tidak menerima itu. Hatinya tertutup ketika sebuah nasihat masuk.


"Anda mengatakan kerja sama. Itu bukan kerja sama, melainkan balas budi," ucap Bindusa.


"Kerja sama di antara kami adalah saling mempertahankan. Kami merupakan pengikut setia Raja Janhi. Maka dari itu kenapa saya setuju mengenai perjodohan Somi.


Sekarang, Somi memiliki pria yang begitu mencintainya. Dia akan menikahinya, Somi bersedia bersamanya."


Perkataan disertai senyuman Petro sama halnya kepada putra putri kandungnya. Ia menganggap Bindusa sama seperti Somi dan yang lainnya. Hubungan Petro dan ayah Bindusa begitu baik, apalagi mereka memiliki pihak yang sama.


"Pria itu pasti si berengsek itu," batinnya emosi. Kemarahannya ternampak dalam hati, tidak dalam fisik.


"Yang Mulia, tidakkah kau berpikir bahwa ini merugikanku. Aku sudah lama menunggu dan berharap,"


Petro memegang bahu Bindusa.

__ADS_1


"Kuharap kau mengerti kemauan putriku, Nak." Senyuman Petro tidak disukai Bindusa. Setelah ucapan itu, Petro beranjak pergi meninggalkan Bindusa sendiri di sana.


Bindusa melihat kepergian Petro. Menatap tajam punggung Petro. "Aku tidak bisa menerima ini," gumamnya keras.


......................


Selina melamun keras. Rasa cemburu dan salah paham. Tubuhnya terduduk gelisah, tidak berpikir positif kepada Lego.


"Mereka pasti berduaan, senior Lego sepertinya menyukai Senior Somi," gumamnya.


"Aku merasa kalah dengan senior Somi. Tapi itu benar, secara Senior Lego begitu cocok dengan senior Somi. Mereka sama-sama pandai dalam taktik,"


Raut wajah yang sayu seolah karena rasa cemburu. Sejak kepergian Lego, ia merasa khawatir tersisihkan.


"Tapi senior bilang dia akan bertanggung jawab. Haruskah aku khawatir lagi? Tidak mungkin dia mengingkari janji, aku melihat dia serius," gumamnya lagi.


"Daripada aku terus berdiam diri, mendingan mencari sayuran. Aku harus masak banyak untuk mereka berdua,"


Segera Selina beranjak. Ke luar mencari sumber makanan, di hutan tidak jauh dari gubuk.


......................


"Di mana guru Wilyusa?" gumam Somi ketika tidak menemukan Wilyusa di gubuknya. Berapa kali ia mengetuk pintu, tidak menyahut. Ia membuka pintu, tidak ada Wilyusa yang terlihat di dalam.


Ia berdiri di depan pintu, di luar. Mengerutkan kening berpikir. Pandangannya kebetulan mengarah goa Krom, dimana ia mengingat ucapan Lego bahwa Wilyusa selalu bertapa di goa Krom.


"Apa guru di sana?" gumamnya menuju goa Krom. Yakin, ia perlahan melangkah menuju goa Krom.


Dugaannya benar. Wilyusa sedang terduduk kaki bersila di atas batu. Matanya terpejam, kedua tangannya diletakkan di atas lutut, jarinya membentuk bulat.


"Ada apa istri Lego?" Somi terkejut ketika Wilyusa mengetahui kedatangannya, tanpa membuka matanya.


Somi gelagapan. Tak lama ia mendekati Wilyusa.


"Guru, aku ingin bicara mengenai Lego," katanya.


Wilyusa membuka matanya tanpa mengubah posisi. Sebelum berkata, pandangannya mengarah ke lengan Somi yang rusak dan berdarah. Banyak darah yang keluar, itu berhasil membuat Wilyusa khawatir.


"Darahmu. Darahmu terbuang, Istri Lego," ucap panik Wilyusa. Bahkan matanya mendelik sempurna.


Somi sedikit risih dengan panggilan Wilyusa. Itu karena dia bukan istri sah Lego, melainkan calon.


"Ini tidak sakit. Namun, aku merasa jika Lego yang merasakan sakit ini. Aku khawatir jika dia dalam bahaya besar,"


"Kau benar. Jika salah satu dari kalian mengalami luka, maka kalian berdua akan merasakannya. Seperti contohnya ini. Lego pasti dalam bahaya, di mana dia?" tegas Wilyusa.


"Sebelumnya hentikan aliran darah yang mengalir. Darahmu merupakan darah suci, jika kau kehabisan darah, bukan hanya kau yang akan memiliki tekanan darah, melainkan Lego juga.


Kalian sepasang kekasih pilihan dewa. Artinya kalian saling melengkapi serta saling merasakan. Pernikahan kalian nanti bukan hanya sekedar di atas kerja sama, melainkan karena cinta yang kuat."


Somi menaikkan kedua alisnya. Sebelumnya Lego sudah menyatakan cinta kepadanya, tapi dia masih ragu dengan perasaannya. Ia ragu apakah bisa mencintai Lego begitu dahsyat?


"Ambil kain ini dan lipat agar darahmu tidak terus bercucuran." Sebelumnya Wilyusa merobek atasnya bajunya setengah untuk menutupi luka Somi.


Somi mengambilnya. Tanpa basa-basi ia melilitkan kain itu di lengan kanannya yang terkena luka.

__ADS_1


"Aku merasakannya. Lego dalam keadaan kritis. Sebelumnya kau dari mana dengannya?"


Mendengar kata kritis, Somi terkejut. Khawatir dengan keadaan Lego, ketika Wilyusa mengklaimnya.


"Guru, apa yang terjadi dengan Lego?" tanya paniknya.


"Katakan dulu sebelumnya kau melakukan apa dengannya?"


"Aku dan dia berjalan pulang di hutan setelah dari Lembuh. Ia tengah-tengah perjalanan, Lego menemui seseorang, aku dengar dia memanggil paman dalam bahasa Itali, yaitu zio Dev."


"Rindosaka ada di balik kejadian ini."


"Tapi bukan Rindosaka yang menyerangnya,"


"Ya, memang bukan. Dev di suruh Rindosaka."


"Sapaan Lego terdengar akrab, mana mungkin dia memihak Rindosaka,"


"Dia menghianati,"


Penghianat?


Somi terdiam setelah ucapan terakhir Wilyusa. Jika benar, ia tidak bisa berkata lagi.


"Aku harus menyelamatkan Lego, Guru. Apa yang harus kulakukan?"


"Sulit. Mettadik semakin diperketat setelah pencurian Lego di kuil."


"Tapi Lego bisa saja dalam bahaya besar jika benar ia di sana."


Somi gelisah karena khawatir.


"Aku tahu. Pulanglah dulu, aku akan mencari cara agar kau bisa masuk ke Mettadik,"


Somi mengernyit. "Bagaimana bisa? Aku tidak akan tenang sebelum melihatnya baik-baik saja," jawabnya.


"Patuhlah, Muridku. Percaya bahwa Lego bisa bertahan. Temui Selina dan bicara dengannya, yakinkan dia agar tetap tenang,"


"Tapi---"


"Patuhlah. Yakinkan bahwa Lego pasti baik-baik saja."


SKIP


Pintu dibuka secara perlahan. Raut wajahnya begitu lesu dan sayu. Ia tidak mengingat Selina ketika datang. Yang terlintas dalam pikirannya adalah Lego. Begitu khawatir dan panik.


"Senior Somi," sapa Selina. Pandangannya melihat-lihat, tidak ada Lego bersama Somi.


"Di mana Senior Lego?"


Somi memandang sendu Selina.


"Apa kau akan memarahiku jika aku mengatakan di mana Lego?"


Selina mengernyit heran. "Apa maksudnya?"

__ADS_1


"Dia di culik Rindosaka,"


__ADS_2