
"Apa yang dikatakan guru tidak bisa kumengerti. Sebenarnya siapa diriku? Kenapa alam semesta bahkan guruku memujaku," gumam Lego yang tengah terduduk di atas batu di tepi sungai.
Sore ini merupakan waktu santai Lego. Biasanya jika sedang memiliki pemikiran yang sulit dipecahkan, Lego akan mengasingkan diri dari nenek dan kakek.
Pria berambut pirang itu terus melamun tenggelam dalam pemikiran berat mengenai siapa dirinya.
"Besok aku berada di usia duapuluh tahun pas. Aku sangat ingin tahu ada apa di usiaku yang pas itu."
Swoossh
Tubuhnya terhentak ke belakang, ketika air sungai naik layaknya air mancur. Ia mengamati air mancur di hadapannya. Tak berlangsung lama muncul pria paruh baya perawakan tinggi dan gagah. Dengan tongkat tinggi di tangannya, dihiasi mahkota bergambarkan bintang kecil.
"Salam untukmu Yang Mulia. Sangat senang bisa bertemu dengan anda di wilayah saya. Sungai Daft," ucap pria paruh baya itu dengan menundukkan kepalanya sedikit dan tangan itu diletakkan di dadanya.
"Apa lagi ini, siapa dia? Kenapa pria paruh baya ini memujaku. Sebenarnya semua ini apa?" batin Lego.
"Kau siapa?" tanya was-was Lego.
"Saya Twons, saya adalah orang yang dipercaya raja Roem Janhi, untuk memimpin kerajaan Gyok, kerajaan di bawah air."
"Apa lagi ini? Kerajaan Gyok itu di mana?" batin Lego lagi.
Setelah dua hari tidak ada kejadian aneh lagi, hari ini terjadi lagi. Heran yang selalu ia rasakan tidak pernah luput.
"Kerajaan Gyok?"
"Ya. Kerajaan Gyok merupakan kerajaan yang berada di permukaan air. Kerajaan Gyok menyatukan sungai dan laut. Sungai dan laut berada dalam satu wilayah kerajaan Gyok."
Lego terdiam sejenak, tidak mengerti apa yang diucapkan. Ia baru tahu bahwa di dalam air ada kerajaan. Apalagi yang akan terjadi setelah semua ini?
Apakah setelah duapuluh tahun pas, ia akan lebih mendapatkan kejadian aneh secara?
"Lalu untuk apa kau memujaku? Aku bukan raja."
Bukan jawaban yang Lego terima, justru raja Twons memberikan senyuman kecil pada Lego.
"Saya pamit Yang Mulia. Untuk merebut kembali tahta Mettadik, saya akan senantiasa membantu anda."
Setelah ucapan itu, Raja Twons kembali ke asalnya. Air itu perlahan turun beserta mengikuti arahan Twons. Sampai sungai itu mengalir secara normal kembali.
Lego masih tertegun. "Raja Roem Janhi, siapa dia?"
"Dan--merebut tahta Mettadik? Memangnya kerajaan Mettadik milik siapa?"
__ADS_1
SKIP
22.27
Hari sudah malam, tapi Lego belum pulang ke rumah. Nenek Osin khawatir sekarang, bahkan Kakek Dori.
Entah kenapa nenek dan kakek merasa khawatir. Perasaannya tertuju pada perkataan sang petapa agung yang menjadi guru Lego.
"Kelak, Lego akan banyak memiliki musuh dari kalangan bangsawan. Di usia duapuluh tahunnya, ia akan mendapat banyak tantangan dan rintangan. Namun tidak akan terjadi apa-apa yang lebih, karena sang dewa memberkatinya."
"Aku sangat khawatir, ini sudah malam tapi Lego belum terlihat menghampiri rumah kita."
"Ya. Ini sudah sangat larut, haruskah kita mencarinya ke hutan?" jawab kakek Dori.
Nenek Osin terdiam sejenak. Apa yang dikatakan kakek Dori termasuk solusi baik menurutnya. Tidak masalah jika harus berjalan di kegelapan malam, asalkan nenek Osin bisa memastikan apakah Lego baik-baik saja atau tidak.
"Tidak. Lego akan baik-baik saja. Kita tunggu saja sebentar lagi."
"Tapi ini sudah malam, Bung," jawab nenek Osin.
Kleeek
Bunyi pintu terbuka, nenek dan kakek menoleh. Ternyata dia adalah Lego yang mereka khawatirkan. Raut wajah Lego sendu, langkah kakinya begitu perlahan. Apa rasa lelah masuk ke tubuhnya?
"Lego."
Memang rumah kayu Lego sangat sederhana. Hanya terdapat dua kamar yang beralaskan ranjang kayu, dapur beserta ruang penerimaan tamu.
"Nek, kek," ucap Lego.
"Lego, kamu dari mana saja? Kenapa sudah larut seperti ini baru pulang," tanya Dori.
"Maaf, Kek. Aku baru dari sungai, senang dengan udara malam."
"Aku tidak akan membicarakan semuanya pada nenek dan kakek. Mereka pasti khawatir jika aku terus mengalami hal aneh berturut-turut," batin Lego.
"Mulai sekarang berhati-hatilah Lego. Jika kau ingin ke luar, bicaralah terlebih dahulu," ucap sang kakek.
"Iya, Kek. Kalau begitu aku masuk kamar dulu."
SKIP
23.56
__ADS_1
Masih terasa belum mengantuk untuk Lego, pikirannya dipenuhi pertanyaan. Mencoba menebak semua yang sudah terjadi. Namun, sama sekali tidak memiliki jawaban.
Semuanya hanya memberikan teka-teki untuknya. Tidak ada yang memberitahu jawaban, padahal ini sangat penting.
Bunyi misterius dari langit masuk ke telinga Lego secara tiba-tiba. Lego sempat terkejut. Ia lihat dari jendela kamar yang terbuat dari kayu. Langit menjadi bersatu, awan dan bulan seolah-olah bersahabat. Titik di mana bulan yang menjadi pusat, seperti terhubung pada jiwa Lego.
"Pertanda apa ini?" gumamnya.
Kemudian bulan memberikan satu titik terang yang berpusat pada Lego. Seakan pertunjukkan dalam panggung, tapi cahaya ini lebih terang dari apa pun. Lego sampai harus menutup mata saking terangnya bulan yang memancarkan cahaya hanya padanya.
Lego heran. Matanya berkelana ke kanan dan kiri, semuanya gelap kecuali dia. Segera, ia tutup jendela itu dengan panik dan waspada. Ia kembali tenggelam dalam pikiran penuh tanda tanya.
"Apa ini titik puncak dari semuanya? Tepat 5 menit lagi usiaku duapuluh tahun pas. Apa ini pertanda bahwa---?"
Ingatannya masih murni, kejadian sejauh ini yang menimpa, terlintas di otaknya. Sebuah gelar Raja, ia berpikir ke situ. Apa Lego akan menjadi raja?
Rasa penasaran akan pertanyaan yang belum terjawab terus terngiang-ngiang. Dengan keberaniannya, Lego beranjak menuju luar rumah, perlahan-lahan agar kakek nenek Lego tidak mengetahui.
"Astaga. Bulan itu terus memancarkan cahayanya hanya padaku," gumamnya setelah ia berada di luar.
Tiba-tiba kekuatan gabungan antara oranye dan blue menyatu dari tubuh Lego. Lego sendiri heran, apa yang terjadi dengan tubuhnya?
Satu pedang datang bertamu, terwujud sangat cantik. Ia tidak bisa meraih pedang itu karena jarak. Melayang di udara layaknya awan, posisi pedang itu.
"Pedang apa itu? Apa itu untukku?" gumamnya.
"Bulan, apa kau yang mengirimkan ini?" teriaknya pelan, seolah-olah Lego yakin bahwa bulan akan menjawabnya.
Pedang itu menyerang Lego. Beruntung Lego sempat menghindar. Tidak hanya satu kali, semakin lama, semakin lincah. Lego tidak semudah itu untuk dikalahkan. Jangan lupa bahwa Lego adalah pendekar hebat dengan ilmu bela diri yang cukup tinggi. Hanya saja ia tidak memiliki sihir, meskipun begitu, Lego tidak mudah dikalahkan.
Swooshh
Grep
"Akh," ringis Lego ketika ia berhasil memegang pedang. Namun genggamannya seakan terkena sengatan listrik. Pada akhirnya pedang itu terlepas dari lengan Lego.
"Aku tidak boleh menyerah, pedang itu pasti bisa kugenggam. Aku yakin titik lemah pedang itu adalah pegangan tangan," batinnya.
Grep
Sekali lagi dan akhirnya berhasil. Meskipun di awal kesakitan akibat sengatan listrik dari pedang itu. Dengan pegangan tangan yang kuat, Lego berhasil mendapatkannya.
Ia bisa mengendalikan pedang itu. Seketika semua cahaya yang memancar dalam dirinya hilang. Ia kembali heran.
__ADS_1
Tak berlangsung lama, seseorang datang, berdiri di udara. Seorang pria paruh baya, jenggot lebat. Jubah yang menjadi baju itu mencerminkan sosok manusia agung.
"Kau akan menjadi Raja di kerajaan Mettadik, kau adalah keturunan Raja Roem Janhijanha, seorang raja agung yang berhasil membangun setiap perdamaian alam semesta. Kau harus membalaskan perbuatan Rindosaka, lalu kau yang akan menjadi raja di kerajaan Mettadik."