Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Bertemu Putri Sombong


__ADS_3

"Saya tidak pernah menceritakan hal yang pernah membahayakan saya pada kakek dan nenek."


"Ya. Aku tahu kau sangat khawatir dengan mereka, Lego."


Petapa Agung Wilyusa, guru Lego. Sejak duabelas tahun mengajar Lego, dan sejak itu pula dia mengetahui Lego adalah seorang putra kerajaan, putra Roem Janhijanha, keturunan Dewa Srodihejo. Dewa dari segala dewa.


Keberadaannya tidak diketahui. Semua dewa keberadaannya memang tidak diketahui, hanya saja dewa Srodi memiliki kekuatan untuk membuat alam semesta tidak melihatnya meksipun dia berada di lingkungan manusia.


Dewa Srodihejo dikenal dengan sihir pengendali awan dan planet.


Wilyusa baru mengetahui bahwa Lego cicit dewa Srodi. Tanda bulan sabit di punggung leher Lego menjadikan dia tahu.


Setiap keturunan Srodi memiliki tanda bulan sabit di punggung lehernya. Hanya orang berilmu tinggi yang bisa melihat itu.


"Guru, banyak sekali yang ingin saya tanyakan. Terkait malam kemarin dan usia saya yang duapuluh tahun."


"Bukankah kau sudah tahu? Kau bilang orang yang datang itu sudah memberitahumu."


"Tapi saya masih tidak mengerti, hanya guru yang bisa menjelaskan semua ini pada saya."


"Kau datang ke sini untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikiranmu?"


"Iya, Guru?"


Wilyusa terdiam sejenak, Ia beranjak dari batu tempat terduduknya. Di sini merupakan lingkungannya. Tidak jauh dari tempatnya, terdapat goa. Goa Krom yang sudah disebut, goa ini tidak ada yang tahu. Maka dari itu, Wilyusa lebih memilih berdiam di sini. Membuat gubuk kecil dengan makanan seadanya dari setiap pepohonan yang berbuah di sekitarnya.


Wilayah ini bahkan sudah rela jika Wilyusa sebagai pemiliknya. Dan dewa memberkati kediaman Wilyusa di sini.


"Kau akan tahu semuanya, Lego. Seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikiranmu akan terjawab." ucapnya sembari beranjak dan berjalan menuju masuk goa Krom.


"Sekarang pergilah, Lego. Mulai sekarang dan seterusnya, kau tidak perlu pelatihan. Jika kau memiliki kesulitan, datanglah padaku. Aku akan selalu di sini, tempat ini tidak akan kutinggalkan."


"Kau hanya perlu bersabar untuk mengetahui semuanya. Dan---mulai sekaenag berhati-hatilah, akan ada banyak malapetaka jika kau memperlihatkan dirimu di daerah kerajaan."


Karena Lego berdagang di wilayah pusat desa. Wilyusa memperingatkan Lego untuk berhati-hati. Pusat desa merupakan tempat banyaknya anggota kerajaan berkeliling.


Melihat gurunya yang sudah tak terlihat, Lego berhenti mengganggu lagi. Terdiam sejenak dengan pikiran yang dibuahi pertanyaan. Kemudian ia beranjak, melangkahkan kakinya kembali ke tempat di mana seharusnya dia berada sekarang.


Sama halnya seperti Lego, suasana istana Kerajaan Mettadik juga sedang dibanjiri banyak pertanyaan. Setiap ucapan semua orang di kerajaan, pasti mengenai raja baru yang sudah terlahir. Alam semesta yang berbicara waktu itu membuat semua anggota kerajaan di istana gempar.


Bahkan sang peramal mengatakan, akan ada pendekar tersembunyi yang datang dengan mengibarkan bendera pemberontakan. Di mana kekuasaan yang dimiliki Raja Rindosaka terpecah, atau bisa dikatakan Raja Rindosaka akan mengalami pertikaian yang hebat.


Sama seperti apa yang dilakukannya di masa lalu pada jaman Raja Janhijanha. Namun, pertikaian kali ini akan sulit dihadapi. Untuk menemukan pemuda itu saja begitu sulit untuk Raja Rindosaka.


"Rapat itu tidak penting. Semua petinggi kerajaan sangat bodoh."


"Suamiku, kau bertindak ceroboh. Jangan meremehkan mereka, mereka masih memiliki tenaga untuk kau peras."

__ADS_1


"Ya aku tahu, Malleda. Hanya kau yang pandai di kerajaan ini, dan kau yang mengerti perasaanku."


Ini sangat harmonis dan romantis, hal yang tidak didapat kedua istri Rindosaka. Butuh kepintaran untuk mendekati Rindosaka. Malleda memiliki pikiran dewasa dan cerdas. Sangat pandai dan cepat, tapi itu bukan alasan Malleda untuk mendekati sang raja.


"Suamiku yang malang. Lihat raut wajahmu, kau terlihat lelah, Raja."


Tangan lembut itu membelai pipi sang raja. Raja menggenggam lengan itu di pipinya. Sebuah kehangatan jika Malleda melakukan hal yang membuat raja senang.


"Bukan ini yang aku inginkan, Malleda istriku. Tapi kau meluluhkanku, bagaimana bisa kau melakukan hal ini, hah?"


Berbeda dengan Lego, Lego tidak memiliki pasangan yang dia cintai. Memang jika dibilang, Lego belum waktunya untuk memiliki pasangan. Hanya saja pasangan bisa membuat semangat, seperti halnya sebuah penyemangat berwujud manusia.


Di perjalanan pulang, Lego harus terjebak dalam lubang. Ia sama sekali tidak tahu kenapa bisa masuk ke dalam lubang. Ini bukan jalan sempit, padahal ia sudah teliti dalam berjalan.


"****. Siapa yang membuat lubang di tengah jalan seperti ini." gumam Lego.


"Hei, kau tidak apa-apa di dalam?" ucap seorang wanita dari atas. Lego mendengar itu, ia menoleh ke atas, terlihat seorang wanita dengan rambut yang diikat untun di atas. Dan baju yang terlihat seperti laki-laki, serta anak panah yang digendong di belakang punggung wanita itu.


"Paman, kau tidak apa-apa di dalam?" gumam wanita itu lagi.


Lego terdiam sejenak, tatapannya tak luput dari wanita yang membuatnya heran. Bibirnya tak bisa memberikan perkataan lagi, karena memang tidak ada topik pembicaraan untuk Lego.


"Paman, tunggu aku. Aku akan membantumu,"


Wanita itu melemparkan sebuah tali ke bawah, menarik tubuh Lego ke atas. Setelah tali itu berada di bawah, Lego mencekal tali panjang itu dengan kuat.


"Paman, pegang dengan erat. Aku akan menarikmu." teriak wanita itu daru dalam.


"Paman, kau sudah siap tidak? Kenapa tidak berbicara?" tanya wanita itu lagi.


"Aku sudah bisa." jawab Lego.


Mendengar jawaban Lego, wanita itu dengan cepat menarik tubuh Lego yang berat. Bahkan wanita itu sampai bercucuran keringat saking beratnya Lego. Namun ia tidak pantang menyerah sebelum menyelamatkan Lego.


"Berat sekali." gumamnya.


Cukup lama, sampai pada akhirnya Lego tertarik ke atas dengan kekuatan tanpa sihir.


Nafasnya terengah-engah akibat lelahnya dia menarik Lego. Tapi tidak masalah untuknya, dia yang berbuat, dia yang harus menanggung jawab.


"Paman, kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Paman? Aku setua itu, ya?" batin Lego.


Padahal Lego tampan, tidak ada wajah tua. Hanya ada wajah yang begitu cerah dan cantik layaknya alam yang berseri.


"Seharusnya aku tidak menyapamu paman, ya? Paman terlihat muda." lanjut wanita itu lagi.

__ADS_1


"Sebaiknya kakak saja. Mungkin usia kita tidak berbeda jauh."


Lego masih terdiam, tidak ada topik pembicaraan yang akan ia katakan pada wanita dihadapannya. Selain ungkapan terimakasih dalam pikirannya, apalagi?


"Terimakasih sudah membantu." ucap Lego.


"Ya. Tidak masalah."


Lego merasa tertarik dengan wanita dihadapannya. Bukan karena perasaan cinta, melainkan penampilan dan sikap yang mencerminkan ketangguhan. Bahkan saat berbicara, wanita itu terlihat tangguh.


Perawakan tinggi sekitar 163 dan tubuh yang ramping berotot seperti laki-laki. Baju yang memperlihatkan lengannya, dan celana yang panjang longgar. Sungguh semuanya mencerminkan jiwa tangguh dalam diri wanita itu. Karismanya tidak bisa Lego tolak.


"Sebenarnya ini ulahku, aku dikejar seseorang. Jebakan itu untuk orang yang kumaksud. Tapi, ini malah menyusahkanmu." ucap wanita itu.


"Tidak masalah." jawab singkat Lego.


"Oh ya. Kau tidak perlu memanggilku paman atau kakak, usiaku duapuluh tahun"


Wanita itu terkejut, bukankah duapuluh tahun cukup muda untuknya. Bahkan wanita itu berusia 27 tahun, lebih tua dari Lego. Tidak heran jika Lego mengira wanita dihadapannya wanota dewasa. Karena memang sudah sepantasnya itu dikatakan Lego.


Tapi usia itu tidak membuatnya terlihat tua, bahkan semua orang akan menyangka bahwa wanita di hadapan Lego masih di usia duapuluh tahunan.


"Ternyata seorang anak kecil." batin wanita itu.


Tatapannya kembali tegas, ia kembali ke sikap aslinya. Karena tadi wanita itu pikir Lego lebih tua darinya, maka dari itu nada bicaranya ia lembutkan. Tapi setelah mengetahui bahwa Lego lebih muda darinya, ia tidak peduli dengan kelembutan yang ia lakukan seperti tadi.


"Ah ya baiklah. Kupikir kau lebih tua dariku."


Lego terhentak sejenak karena perubahan dari wanita di hadapannya. Terlihat dingin dan santai, suatu hal yang tidak pernah Lego lihat. Ketidak tertarikan wanita padanya tertampak pada wanita di hadapannya.


"Aku sudah bertanggung jawab atas ulahku, sudah seharusnya aku pergi."


Baru saja wanita itu melangkah, Lego menghentikannya.


"Siapa namamu?" tanya Lego setelah menghentikan langkah kaki wanita itu.


"Untuk apa aku memberitahu namaku, anak kecil."


Lego terhentak, tentu ia tidak percaya dengan sikap wanita ini. Hanya awal yang menjadi santai, tapi sekarang tidak. Lego tidak mengetahui apa yang terjadi pada wanita itu.


Wanita itu kembali melangkahkan kakinya, namun Lego kembali menahan dia dengan menahan lengannya.


Wanita itu membalikkan kepalanya, menatap sinis Lego. Lalu wanita itu menghempaskan tangan Lego, kemudian memberikan pukulan tangan pada Lego.


Lego harus termundur karena pukulan kuat itu, ia tahu jurus apa yang dipakai wanita dihadapannya barusan. Lego bukannya lemah, hanya saja ia tidak siap untuk bertahan. Dan Lego juga tidak curiga jika wanita dihadapannya akan menyerang.


"Sebaiknya kita tidak bertemu di kemudian hari."

__ADS_1


Wanita itu langsung pergi, dengan larian yang begitu cepat. Bahkan Lego melihat ada sihir dalam diri wanita itu. Tapi siapa yang tahu diri seseorang, bukan?


"Dia seperti seorang putri kerajaan yang sedang menyamar."


__ADS_2