
Berlari dengan menggendong beban tidak gampang. Karena mendesak, ia mampu membawa Somi dari jarak jauh menuju goa Krom.
"Guru," ucapnya tergesa-gesa. Ia yang baru masuk, sudah melihat pemandangan dimana Wilyusa terduduk sila dengan mata terpejam.
Meskipun ia mengerti, tidak ada yang boleh mengganggu ketika Wilyusa bertapa. Namun, ini mendesak. Ia nyawa seseorang, Lego tidak memiliki solusi lain.
Beberapa kali ia memanggil, tidak ada respon positif dari Wilyusa.
"Terpaksa aku harus melakukan sihir," gumamnya.
Lego menghela nafas. Ketenangan bisa membuat sihir muncul, sebagaimana Wilyusa berbicara padanya.
"Hentikan, Lego. Aku mengerti," sahut Wilyusa dalam mata yang masih terpejam.
Baru saja tangan Lego akan mengarah, memberi sihir, Wilyusa menghelanya. Tanpa bergerak, hanya mulutnya yang berbicara.
Lego terdiam. Wilyusa membuka matanya. Namun, posisinya masih sama.
"Dia tidak mati."
Lego mengerutkan keningnya, 'kenapa?' pikirnya yang tidak bisa dikatakan oleh mulut.
"Di mana lonceng kuil Mettadik?"
"Dan pohon ajaib?"
Sontak ia menjawab, "Ada di rumahku."
"Bawa. Kita akan melakukan pemujaan kepada dewa."
Lego mengangguk. Secara langsung ia beranjak, ke luar goa. Ia berlari cepat menggunakan sihirnya.
SKIP
Terkejut?
Ya. Tubuh Lego menegang. Apa yang ada di hadapannya nyata? Sejak kapan?
Pekarangan berantakan, serta sebelah rumahnya roboh di bagian depan. Rumahnya telah menjadi abu sebagian. Meskipun desainnya kokoh, tidak akan aman jika Rindosaka yang memberinya sihir.
"Lonceng kuil," gumamnya. Segera ia berlari, masuk ke dalam.
Tidak ada di kamar. Selina juga entah ke mana. Ia khawatir jika Selina menjadi korban, apalagi ia sudah janji akan bertanggung jawab.
Beberapa kali ia membuka lemari kayu serta membuka ranjangnya, tidak ada apa-apa, selain bongkahan abu kecil.
"Rindosaka, pasti dia." Emosi Lego yang tidak pernah padam. Tangannya mengepal, tatapannya sangat kuat, jiwa kasarnya bisa saja mengeluarkan sihir besar. Namun, dibalik sihir itu, ada timbal balik yang dirasakan Lego.
Lego tidak merasakan bahwa dirinya akhir-akhir ini mengalami emosi yang besar. Sejak kematian Dev, emosinya tidak bisa terkendali kepada perampok itu. Akibatnya, sampai saat ini dia terus mengalami emosi berat.
Setelah terdiam beberapa menit, Lego beranjak, emosinya belum terhenti. Sementara itu, keadaan Selina tidak baik-baik saja.
Isakan demi isakan membasahi pipinya. Tubuhnya tak karuan, banyak lebam serta pakaian tidak pantas digunakan. Beberapa bagian ada yang sobek. Ia terduduk memeluk lutut, di atas ranjang. Lesu dan lelah batin yang ka rasakan. Selimut yang dipegang erat, beberapa kali ia memukul ranjang. Rasa emosi dan sedih jelas menggambarkan dia saat ini.
Pelayan kerajaan di sana sudah membawakan nampan berisikan makanan. Selina tidak peduli dengan kehadiran pelayan itu. Sementara pelayan menghampiri Selina perlahan.
"Nona, Yang Mulia Rindosaka memintaku untuk mengantar makanan ini,"
Selina masih sesenggukan, menahan tangis sejenak. Kehadiran pelayan seakan mengganggu meluapkan rasa emosinya.
Selina menoleh, pelayan bisa merasakan betapa sedihnya dia. Separuh ia tahu bahwa Rindosaka memiliki kebiasaan buruk.
"Tidak perlu. Bawa lagi makanannya," ucap pelan Selina setelah memalingkan tatapannya.
"Aku bisa mengeluarkanmu dari sini,"
Sontak Selina menoleh. Ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Perasaan semringah ini bisa dikatakan keinginannya.
"Benarkah? Bagaimana?"
"Bersiaplah. Ikuti aku, Nona."
Kakinya menginjakkan teras. Sebelum lari, Selina meringis, "Akh,"
Tubuhnya tidak seimbang, ia memegang lututnya menahan sakit. Pelayan itu berbalik, tangannya merangkul bahu Selina.
Mata itu tertuju ke tubuh bawah Selina. Bercak merah darah di paha Selina terlihat.
"Tidak salah lagi," batin sang pelayan.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Kau bisa berjalan?" lanjutnya.
Selina mencoba tenang dari rasa kaku. Ia berusaha menyimpan rahasia, tidak ingin semua orang tahu.
__ADS_1
"A-aku bisa," jawabnya.
"Ayo. Aku ingin ke luar dari sini," lanjut Selina.
Pelayan menganggukkan kepala. Ia perlahan keluar kamar, Selina mengikuti dari belakang. Rasa sakit, Selina lupakan. Yang terpenting ia keluar dari kerajaan dan raja iblis itu.
"Sebenarnya ada jalan rahasia dari dapur. Menuju hutan timur kerajaan. Dulu ini dijadikan akses sebagai jalan cepat menuju laut timur daerah Mettadik," ucapnya disela-sela perjalanan.
"Hei,"
Seseorang mengagetkan mereka. Pelayan itu membalik segera tanpa memperlihatkan rasa gugup. Satu pengawal menghampirinya. Pelayan terdiam bergitupun Selina. Selina berdiam gugup, takut jika kaburnya tidak berhasil.
Pelayan terdiam. Tidak tahu harus berbicara bagaimana.
"Ambilkan aku minuman," ucap pengawal. Matanya tertuju pada Selina yang berpenampilan berantakan.
"A--ah baiklah," ucap pelayan.
Pelayan menghela nafas lega, begitupun Selina. Mereka berbalik badan lagi. Baru satu langkah ia bergerak, pengawal itu menyahut lagi.
"Tunggu,"
Sang pelayan terkaget lagi. Apa sekarang akan ketahuan?
Mereka berdua berbalik badan menghadap pengawal itu lagi.
"I-iya?"
"Dia pelayan baru dari desa mana?"
Mereka membuang nafas lega lagi. "Dia dari desa timur kerajaan. Dia sekarang akan bekerja denganku, raja menyuruhku."
Pengawal mengangguk mengerti. Sebelum melangkah meninggalkan mereka berdua, tatapannya singgah di Selina. Bibirnya melipat, seakan hinaan untuk Selina.
"Ayo," ucap pelayan.
Mereka cepat bergerak. Tidak jauh dapur kerajaan terletak. Dan segala rintangan harus ia lakukan di dapur. Banyak pelayan lain di sana, bisa jadi menambah kecurigaan.
Mereka terhenti di samping pintu dapur. Mengintip sebentar.
"Kau sembunyi di balik guci besar ini. Aku akan membawa mereka keluar sejenak,"
Baru saja pelayan melangkah, tangannya merasakan lingkaran tangan Selina di sana. Pelayan menoleh tanpa membalikkan badan.
"Apa kau tidak akan bermasalah dengan Rindosaka jika menyelamatkanku?" tanyanya.
"Aku tidak ingin kejadian yang sama menimpa dirimu." Setelah ucapan itu, pelayan melepaskan tangan Selina, lalu melangkah masuk.
Sedangkan Selina terdiam bingung. Satu pertanyaan 'Kenapa dia ingin menyelamatkanku,' kata yang tidak bisa Selina keluarkan.
Perlahan ia berjongkok. Meskipun sakit, tapi demi keluar dari kerajaan ini, ia harus tahan. Sementara orang penolong Selina entah berbicara apa kepada pelayan lain yang bekerja.
Setelah ucapan pelayan penolong Selina, satu per satu pelayan keluar dari dapur. Menuju barat kerajaan, sedangkan posisi Selina berlawanan.
Selina mengintip ke dalam setelah dapur kosong. Pelayan memberikan intruksi dengan mengayunkan jemarinya.
Selina bangkit lalu beranjak masuk.
"Kau bisa jalan berjongkok?" tanya pelayan.
Selina terdiam sejenak, apa dia bisa, sedangkan rasa sakit itu masih menyelimutinya. Tanpa ragu ia mengangguk, demi keluar dari sini.
"Baiklah. Masuk, aku akan menemanimu sampai terowongan. Untuk menuju hutan, kau tidak perlu berjongkok lagi," ucapnya.
Selina mengangguk. Secara perlahan ia masuk. Seperti lemari yang memiliki pintu, namun hanya dia yang tahu di antara pelayan lain.
Pelayan masuk mengikuti Selina, berjongkok sesuai.
"Akh," ringis Selina setelah beberapa lama mereka berjalan berjongkok. Ia terhenti.
"Kau bisa melakukannya?"
"Aku bisa."
"Baiklah. Tinggal beberapa lagi, ini tidak lama."
Sampai di terowongan. Selina bangkit, begitupun pelayan tadi.
"Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini, Selina. Kau hanya lurus saja, tidak ada apa-apa di sini. Mungkin sangat jauh,"
"Aku sangat berterimakasih untukmu. Ini merupakan keinginanku, kau rela membantuku meskipun kau tahu resikonya sangat besar."
Pelayan menunduk sejenak dengan senyuman tipisnya. Tatapannya kembali ke mata Selina.
"Aku sama sepertimu. Tidak menyukai Rindosaka."
__ADS_1
Kedua mata Selina menyipit, "Lalu kenapa kau berada di sini?"
"Tidak untuk apa-apa. Aku ingin numpang di sini,"
Seolah-olah bohong. Namun, terlihat nyata.
"Pergilah. Aku harus kembali ke istana."
Selina tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangannya, berniat berjabatan.
"Selina. Aku pasti akan mengingat kebaikanmu, Nona."
Kedua matanya mengarah ke uluran tangan Selina. Senyumannya kecil namun tulus. Tangan itu maju, sehingga berjabatan dengan Selina.
"Cales. Aku lebih tua darimu. Aku memiliki putra, dia mungkin seusiamu," jawabnya.
"Kau terlihat sangat murni dan awet muda. Terimakasih Cales,"
"Maksudku Nona Cales,"
Tap tap tap
Suara ini membuat keduanya terkejut. Suara langkah kaki yang berlari. Mereka sontak mengarahkan penglihatannya ke terowongan selanjutnya.
Jabatan tangan mereka turun, senyuman juga hilang. Kini terpampang wajah waspada.
"Selina,"
Seorang pria tertampak di hadapan Selina, berjarak darinya. Segera melangkah menghampiri Selina.
"Senior," gumamnya.
Hingga mereka berhadapan, kedua tangannya memegang pipi Selina, wajahnya begitu khawatir dan panik. "Kau baik-baik saja. Aku khawatir dan panik ketika sampai di rumah," ucap Lego.
Seketika tangis Selina kembali hadir. Ia memeluk Lego dalam keadaan pipi basah. Tangan Lego mengelus punggung Selina, tidak tahu apa yang dilakukan Rindosaka padanya.
Cales belun pergi, dia memperhatikan keduanya.
"Kau kenapa? Rindosaka melakukan apa terhadapmu?" tanyanya.
"Dia--" ucapnya terhela isakan tangisnya.
"D--dia memperko**ku, hiks-hiks."
Deg
Mata Lego membulat sempurna. Tidak bisa menerima pernyataan Selina. Rahangnya mengeras, tatapannya sudah memerah. Emosinya mulai kembali lagi. Namun hanya sejenak, ia bertahan untuk Selina di sini. Ia harus tenang untuk Selina.
Berbeda dari Cales, ia seakan mengetahui kejadian yang menimpa Selina. Ia menutup mulutnya meskipun tidak terbuka. Pernyataan ini tidak membuat dia kaget karena ia tahu jika Rindosaka tidak jauh akan melakukan ini ke setiap wanita yang dibawa ke kamar tamu.
Lego mengedipkan matanya tanpa ritme. Menyesal hadir dalam dirinya, karena terlambat menyelamatkan Selina.
"A-aku--aku takut. Kau tidak akan membatalkan pernikahanku, bukan?" ucap Selina ditengah-tengah isakannya.
Dengan mantap Lego menjawab, "Tidak. Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita. Sebelumnya aku sudah berjanji, bukan?"
Selina menengadah, "Kau benar?" ucapnya.
Tatapan anak kucing, membuat hati Lego luluh. Ini seolah mereka kakak dan adik. Dari perbedaan usia, memang seharusnya sikap mereka seperti itu.
Lego mengangguk, "Ya. Aku janji." Senyumannya tulus untuk Selina. Selina tersenyum, apa yang ia takutkan tidak terjadi. Seberapa besar cinta Selina untuk Lego,?
"Jangan menangis lagi. Sekarang kau aman, sebaiknya kita pulang," ucap Lego sembari mengusut pelan kedua pipi basah Selina.
Selina mengangguk setuju, bagaikan anak kucing patuh.
Lego menarik pelan pergelangan tangan Selina, tapi Selina menghentikannya.
"Tunggu, Senior," ucap Selina setelah Lego menoleh untuknya.
Selina membalikkan badannya, Cales di hadapannya.
"Nona, aku pulang. Sekali lagi terimakasih sudah membantu,"
Cales mengangguk, senyuman kecil ia sematkan, membalas senyuman Selina yang tulus.
"Baiklah."
Mereka sama-sama mengangguk. Selina berbalik badan, menggenggam tangan Lego serta melangkah maju.
Tunggu, penglihatan Cales ada masalah atau tidak? Kenapa ia melihat sesuatu di punggung Lego. Ia menggesek-gesekkan matanya perlahan, menyipitkan matanya agar terlihat lebih jelas.
"Legojanha," ujarnya. Lego mendengar itu, begitupun Selina. Mereka berbalik menoleh kepada Cales.
Cales menatap Lego tak percaya. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya. Membayangkan apa?
__ADS_1
"Kau,--kau Roem Legojanha, anakku."