Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Introgasi Para Pemuda


__ADS_3

Situasi masih gelisah, raja tidak bisa tenang sebelum semua pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya terjawab. Ramalan mengenai sosok raja baru itu memenuhi kegelisahannya.


Rapat petinggi kerajaan terus diadakan. Orang terpenting dalam rapat ini adalah Jwiyu dan Grodki. Yang lainnya di bawah Jwiyu dan Grodki. Dan, tidak luput dari Malleda, sang istri pandai raja.


"Semuanya gempar dengan ramalan raja baru itu, semua istana membuatku tidak bisa fokus dengan pekerjaan lain."


"Pelayan, pengawal dan semua anggota kerajaan. Semuanya membuat telingaku rusak, setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka, selalu mengenai ramalan itu."


"Mulai saat ini--detik ini juga aku tidak ingin mendengar satu kata pun mengenai ramalan itu. Jika sekali aku mendengar hal itu, maka---semua yang ada di kerajaan ini akan kuberi hukuman."


Bukan hal asing lagi bagi para petinggi kerajaan yang hadir dalam rapat. Mereka tahu jelas sikap Raja Rindosaka.


"Hukuman mati."


Soror mata mereka melotot kaget, hal sepele seperti ini sangat membuat sang raja emosi. Mungkin hal sepele bagi mereka, tapi tidak dengan Rindosaka. Ia justru merasa stres karena perkara ini. Perasaan takut jika ramalan itu benar. Apalagi jika benar adanya pemuda yang akan melengserkan kekuasaan Rindosaka.


"Sampaikan kepada semua anggota kerajaan."


...----------------...


"Apa benar ayahku merupakan seorang raja sebelumnya?"


"Tapi apa buktinya, aku bahkan tidak tahu apa pun lagi. Semua perkataan orang pada malam itu terlihat meyakinkan."


Lego masih di perjalanan menuju pulang. Langkah kakinya sangat perlahan, pikiran dan apa yang ia lakukan berbeda.


Hutan ini sangat bersih dari rerumputan panjang. Hanya ada pepohonan tinggi disertai dedaunan mati di atas tanah.


"Sebenarnya siapa orang yang datang pada malam itu?"


...FLASHBACK...


"Aku akan kembali lagi, Cicitku. Banyak yang ingin kusampaikan mengenai siapa sebenarnya dirimu. Kau harus ingat perkataanku ini, Nak. Balaskan dendam ayah dan ibumu, kau harus menjadi pewaris yang sebenarnya. Kau---Raja Roem Legojanha, kelak gelar ini akan resmi untukmu."


Lego terus mematung sebagai pendengar setia. Percaya atau tidak, Lego masih diambang kebingungan. Mudah ditebak bahwa orang yang sedang berbicara pada Lego, merupakan satu darah dengannya.


Dari cara memanggil sampai ucapan nasihatnya. Menjelaskan bahwa dia adalah satu marga, atau satu keluarga.


Seketika dia menghilang tanpa jejak, Lego semakin kebingungan. Pria paruh baya tadi belum menjelaskan semuanya, mengenai apa yang sudah Lego alami.


Seperginya pria dia, semua kembali normal. Bulan yang memancar terang padanya hilang. Berganti dengan bintang-bintang banyak di atas langit. Ia merasakan getaran pujaan dari bintang-bintang itu padanya.


"Pedang ini?" gumam Lego setelah mengalihkan tatapannya dari bintang di atas langit.


"Apa ini pedang milikku?" gumamnya.


"Roem Legojanha," gumamnya lagi ketika ia melihat nama itu di penghujung pedang.


Bisa ditebak bahwa ini miliknya. Lalu pedang itu menghilang, bukan melarikan diri. Melainkan masuk ke dalam tubuh Lego tanpa rasa sakit. Ini menjelaskan bahwa pedang itu tersimpan dalam jiwa Lego.


Tiba-tiba tubuh Lego terangkat, seakan terbang memiliki sayap. Tepat di udara ia merasakan getaran kuat masuk ke dalam dirinya. Cahaya merah dan hitam mengelilingi tubuhnya.


"Aku merasa lebih kuat saat ini?"


"Apa aku akan memiliki sihir yang lebih kuat lagi?"


...OFF...


"Sebaiknya aku menunggu pria paruh baya itu berhadapan denganku." gumamnya.


"Toloong--"


Baru saja Lego melangkahkan kakinya, berjalan dengan normal tanpa melamun. Tiba-tiba dikejutkan dengan seseorang yang berteriak dari kejauhan.

__ADS_1


"Toloong--"


Terpaksa langkah Lego terhenti kembali. Ia mencari di mana orang yang berteriak meminta tolong.


"Siapa itu?" gumamnya.


Ia melihat ke kanan kiri, tidak ada siapa-siapa yang datang. Ia mencoba menunggu siapa yang berteriak.


Terlihat wanita yang tengah berlari dari arah barat. Lego membelalakkan matanya ketika beberapa perampok mengejar wanita itu.


"Tolong, Tuan. Tolong saya. Mereka mau melecehkan saya." ucap wanita itu, bersembunyi di belakang Lego.


"Hei, jangan coba-coba ikut campur," ucap para pria bajingan yang dimaksud wanita itu.


Tentu Lego tidak bisa membiarkan hal ini. Pelecehan sudah mulai membludak di tanah air ini, sudah seharusnya Lego melindungi martabat seorang wanita.


"Kalian tidak bisa menyentuh dia," ucap Lego.


"Banyak bicara. Serang."


Pada akhirnya terjadi perkelahian di antara mereka. Satu lawan tiga, ini tidak resmi. Tapi beruntung, para bajingan itu tidak bisa menyaingi ilmu bela diri Lego. Mereka semua kalah hanya dengan beberapa jurus.


Mereka semua kabur tanpa berkata apa pun. Terlihat takut dan menciut ketika Lego berhasil melumpuhkan perlawanan mereka.


"Kau baik-baik saja?" tanya Lego setelah berada di hadapan wanita itu.


Seorang wanita cantik, meskipun bukan dari kerajaan. Lego bisa menebak hal itu. Sangat muda dan bersih, rapi layaknya bangsawan. Sikap ini mencerminkan tipikal feminim, kurang lebih tingginya 158. Rambut yang dibiarkan terurai panjang itu membuat Lego tertarik.


"Aku baik-baik saja senior. Terimakasih sudah membantu."


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Aku tersesat, awalnya aku memburu kelinci kecil yang cantik. Namun aku melupakan rumahku, aku tidak tahu harus kemana sekarang."


Tutur kata yang lembut, Lego seakan memiliki ketertarikan. Tidak mudah menemukan wanita yang menjadi tipenya. Lego sendiri tidak mengetahui tipe apa yang ia inginkan.


"Ya senior."


"Jangan panggil aku senior,"


Wanita itu menoleh tanpa berkata, "Maaf" ucapnya dengan menundukkan kepalanya malu-malu.


"Apa kita seumuran,? Usiamu berapa?" tanya Lego.


"Usiaku delapanbelas tahun. Keluargaku selalu bilang bahwa usiaku sudah mencapai usia menikah, namun aku belum siap."


Bukan aneh jika perkawinan di jaman kuno dipercepat.


"Sangat muda sekali. Dia tidak salah memanggilku senior." batin Lego.


"Kau lebih muda dariku. Siapa namamu?"


"Selina."


"Nama yang cocok untuk gadis lembut sepertimu," ucapnya. Senyuman kecil itu muncul dengan tulus teruntuk Selina.


Bukan jatuh cinta, untuk gadis seperti Selina, Lego merasa bertanggung jawab. Usia yang menjadi alasan Lego memberikan kelembutan untuk Selina.


...----------------...


"Yang Mulia. Para rakyat pemuda sudah berkumpul di aula terbuka."


Seorang pengawal yang memberitahukannya. Sang raja terlonjat terduduk santainya, di kursi singgasana. Mengenai ketakutannya, sang raja menjadi tergesa-gesa. Perasaan yang semakin agresif, namun ditahan.

__ADS_1


"Biarkan aku, Jwiyu dan Grodki menemuinya. Bawa ke ruang kosong kerajaan."


SKIP


Sekitar duapuluh pemuda berada di ruang kosong kerajaan. Seperti ruang rahasia, tidak ada yang berani masuk di ruangan ini.


Tidak ada apa-apa di ruangan ini, satu barang pun. Semuanya terlihat bersih dan sepi, lampu yang menerangi dibiarkan menyala. Tidak ada jendela, semuanya berbangunan dinding hitam.


Para pemuda heran, mereka tidak tahu mengapa raja harus mengumpulkan para rakyat pemuda. Terlebih di ruangan ini, mereka heran dengan ruangan ini, yang menjadi kumpulan.


"Mereka semua berusia duapuluh tahun, Raja. Panglima mengatakan bahwa semuanya sudah terabsen, tidak ada yang tidak hadir," ucap Jwiyu.


Raja terdiam menatap serius, seakan mengintrogasi. Ia tidak merasakan sihir dan kekuatan besar di sini.


"Biarkan mereka berhadapan denganku satu per satu," ucap sang raja.


"Baik Yang Mulia,"


Jwiyu dan Grodki mulai memberikan kalimat perintah pada para pemuda.


"Satu per satu berhadapanlah dengan Yang Mulia Raja," ujar Grodki dengan nada tinggi.


"Kamu. Mulai darimu," ucap Grodki.


Pemuda yang ditunjuk Grodki maju, mereka semua gugup. Bahkan berbisik-bisik entah membicarakan apa.


Sang raja mengintimidasi pemuda di hadapannya.Tatapannya terus naik turun melihat perawakan pemuda di hadapannya.


"Berbalik!" perintah raja. Pemuda itu mengikuti perintah raja.


Tidak merasa aneh dan janggal, sampai pada pemuda terakhir. Semuanya tidak ada yang aneh, aura dari mereka semua tidak ada yang mencurigakan.


"Seharusnya pemuda itu memiliki kekuatan sihir. Aku bisa merasakan mana yang mempunyai sihir mana yang tidak," batin raja.


"Tapi bisa saja aku tidak merasakan sihir itu. Keturunan Dewa Srodi tidak bisa diremehkan. Berapa kali aku gagal menjatuhkan Janhijanha dulu," batinnya lagi.


"Yang Mulia, apa ada yang tidak anda mengerti?" tanya Jwiyu.


"Bunuh mereka semua," ucao raja perlahan.


"Tapi Yang Mulia, mereka rakyat kecil. Mereka bahkan tidak tahu kenapa mereka dibawa ke sini," jawab Jwiyu.


"Jangan sok suci, Jwiyu. Bukankah kita sepemikiran?"


"Bukan begitu maksud saya, Yang Mulia. Hanya saja rakyat lainnya akan merasa terheran jika pemuda di sini tidak kembali lagi ke pedesaan."


"Kau tinggal bilang bahwa mereka menjadi tamu khusus kerajaan selama satu tahun. Aku tidak mau tahu, bunuh mereka. Setelah itu bersihkan ruangan ini. Jangan sampai menyisakan darah."


Raja kemudian pergi, meninggalkan Jwiyu dan Grodki. Jwiyu dan Grodki terlihat kembar, itu karena perawakan sekitar 175 cm. Lengan dan tubuh yang kekar, dan wajah yang mencerminkan ketegasan. Sikap dan prilaku yang sama, serta penghianat yang sama.


"Kau yakin?" tanya Jwiyu pada Grodki.


Semua pemuda menunggu hasil apa yang mereka dapatkan setelah dipanggil raja. Sementara kepastian ada di tangan Jwiyu dan Grodki.


"Lakukan. Ini bukan kemauan kita," jawab Grodki.


Jwiyu dan Grodki terlibat dalam penghianatan dan pemberontakan Rindosaka dulu. Demi menggulingkan Janhijanha, mereka harus memiliki pimpinan yang sama kuatnya dengan Janhijanha.


Pada saat itu Rindosaka merupakan panglima kerajaan yang terkenal dengan sihir alaminya. Itu menjadikan satu alasan untuk Jwiyu dan Grodki. Mereka sama-sama menginginkan kejayaan baru, tetapi mereka sendiri menjadi berbeda watak meskipun ini kemauan mereka.


Sreett.


Darah bercucuran dan semua pemuda tergeletak. Pedang Jwiyu dan Grodki tembus pada tubuh para pemuda itu. Meninggalkan jejak berupa darah yang mengenai tubuh mereka.

__ADS_1


Pedang itu disertai sihir mereka sehingga hanya satu kali sabetan, mereka semua mati. Kini ruang kosong ini bau amis karena mayat-mayat berdarah. Setiap sudut dihiasi darah kental, semuanya selesai sesuai yang diinginkan raja.


"Ayo keluar. Biarkan pelayan yang membereskannya," ucap Grodki.


__ADS_2