
"Tapi dia putra Roem Janhijanha."
......................
"Kami meminta restu ayah untuk menikah untuk Mettadik. Lego sedang dalam perjuangan merebut Mettadik dari tangan Rindosaka."
Petro menunduk 45%. Keningnya berkerut. Apa yang dia harapkan yaitu pernikahan bentuk cinta. Bukan karena hal lain lagi. Sengaja Petro membatalkan perjodohan karena ia mau Somi menikah dengan pria yang ia cintai.
Petro tidak bisa menolak karena Lego putra Janhijanha yang masih hidup. Satu-satunya. Apalagi dia merupakan pengabdi sejati Roem Janhijanha.
"Kami menikah hanya sebatas kerja sama dengan tujuan yang sama."
Lego menolak, "Tidak."
Sejak Somi berbicara tadi, Lego tidak setuju jika ia menikahinya hanya sebatas kerja sama. Perasaannya berubah, hingga perasaan yang sudah lama ia tahan, ingin terbilang.
Somi menoleh, heran. Begitupun Raja Petro.
"Nona, biarkan aku mengatakan perasaanku di depan ayahmu," ucapnya yang tidak bisa dimengerti Somi.
Somi memiringkan kepalanya, seolah bertanya 'apa?'.
"Yang Mulia, biarkan aku berbicara banyak di hadapan kalian berdua."
Petro menjulurkan tangannya, mengizinkan Lego untuk berbicara.
Lego meraih kedua tangan Somi, tatapannya begitu penuh pengharapan. Sedangkan Somi menatap bingung, Somi mengingat semalam, dimana ia tahu jika Lego akan mengatakan perasaannya.
"Secara sungguh-sungguh aku mengatakan bahwa aku menikahimu atas dasar cinta. Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Aku tidak bisa bertahan jauh lagi,"
"Lego, apa yang kau katakan?" sela Somi.
"Aku serius. Aku tahu kau pasti menolak, bagaimana lagi? Perasaanku memang benar begini. Awalnya ku berpikir apa ini hanya kebetulan, semakin berjalannya waktu, aku mengerti bahwa perasaan ini adalah cinta."
Memang terlihat yakin. Somi melihat keseriusan Lego dari matanya. Genggaman tangan yang hangat, seolah memberikan rasa cinta untuk Somi.
"Saat ini, aku melamarmu di depan Yang Mulia Raja Petro, ayahmu. Apa kau menerima lamaranku?"
Somi menundukkan kepalanya 45%. Tidakkah ia memiliki kesempatan untuk berpikir. Perasaannya tidak karuan, meskipun hatinya sudah bisa menerima Lego, tapi ia menentangnya.
Senyuman Petro mengembang. Ketulusan Lego begitu meyakinkan. Tidak peduli apa jawaban Somi, yang terpenting Somi memiliki pria yang mencintainya.
"Somi, putriku. Jangan menyia-nyiakan orang yang mencintaimu."
Somi menoleh sejenak. Tatapan ragu itu yang Lego lihat. Meskipun Somi tidak mencintai, ia tidak bisa menolak untuk menikah. Karena kerja sama yang ia janjikan menjadi ikatan mereka.
"Aku tidak memiliki perasan untukmu, tapi aku tidak bisa menolak karena terikat sebuah janji, bukan?"
"Maka dari itu, aku menerima lamaranmu. Bukan berarti aku memiliki cinta untukmu."
Lego meraut kecewa. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak masalah selama ia bisa memilikinya nanti.
"Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Aku berhak menolakmu karena perasaan kita berbeda."
"Ya aku tahu. Tidak masalah selama kau terus bersamaku, seiring berjalannya waktu kau bisa mencintaiku. Seperti yang dewa katakan," jawab Lego.
"Semoga kalian diberkati. Kapan pernikahan kalian dilangsungkan?" Petro mengalihkan topik pembicaraan, agar tidak menjadi canggung satu sama lain.
Somi menarik kedua tangan yang digenggam Lego. Mereka mengalih pandang, menghadap hormat Petro, di atas singgasana kerajaan.
"Kami belum merencanakan itu. Intinya kami akan menikah sebelum tahun kedua Buddha," jawab Somi.
__ADS_1
"Itu sudah hampir dekat. Bersegeralah sebelum kekhawatiran terjadi,"
"Segera ayah."
Mereka tidak sadar jika Freka, adik Somi sedari awal pembicaraan, memperhatikan. Bahkan ia memandang tajam ketika lamaran Lego kepada kakaknya. Freka mengintip dari balik pintu depan, tanpa diketahui mereka.
Emosi dan kecewa bercampur. Sedih juga termasuk. Kakaknya mendapatkan cinta Lego meskipun tidak mencintainya. Sedangkan ia yang menyukai Lego, tapi tidak mendapatkan cintanya.
Ia tidak bisa membenci Somi karena saudara. Namun, perasaannya benar-benar menenggelamkannya.
"Kakak sudah tua, kenapa harus memiliki cinta dari Lego, bawahannya. Bukankah kakak tidak menyukai anak kecil?" batinnya.
"Aku harus mencegah pernikahan kakak, yang harus menikah dengan Lego adalah aku."
......................
Pengawal Lembuh di pintu masuk melihat kedatangan pasukan. Mereka menyipitkan matanya, mencari tahu siapa yang datang.
"Aku pangeran Bindusa, sampaikan kepada Yang Mulia Petro, bahwa aku ingin menemuinya," ucapnya.
Ya, Bindusa langsung berbicara ketika sudah berhadapan dengan pengawal. Kedua pengawal sejak lama mengenali Pangeran Bindusa, dengan senang hati mereka menghormati.
"Baik, Pangeran," ucap pengawal penuh hormat.
Bindusa menunggu pengawal kembali lagi ke tempat. Cukup lama, hingga Lego dan Somi ke luar dari istana. Ia berjalan berdampingan hingga berpapasan dengan Bindusa.
Mereka terhenti karena Bindusa menghadang langkahnya. Somi tidak ingin berurusan lagi dengannya, hingga melangkah mengabaikan Bindusa. Namun, Bindusa selalu menghadangnya ketika melangkah.
"Apa maumu?" tanya tegas Lego.
"Tenang. Aku tidak ingin mengambil Somi lagi darimu," jawab angkuh Bindusa.
"Lalu untuk apa kau ke sini?" timpal Somi.
Somi menatap tajam. Sementara Bindusa tersenyum puas.
Tiba-tiba pengawal datang. "Pangeran, anda bisa menemuinya, Yang Mulia menunggu anda di lapangan."
Tak berlangsung lama, Bindusa meninggalkan mereka berdua disertai tatapan dan senyuman puasnya.
Somi menatap keras kosong. Keningnya mengerut berpikir. Tidak lama karena Lego membuyarkan lamunannya.
"Ayo,"
Somi mengangguk.
SKIP
Masih berjalan menaungi hutan untuk kembali ke gubuk. Selina tentu sudah menunggu, bahkan ia merasa gelisah. Sedikit rasa takut jika Lego lebih memberi banyak cinta dan perhatian untuk Somi.
Menaungi hutan sudah biasa untuk mereka berdua. Apalagi Somi, ia lama tinggal di daerah hutan. Sendirian tanpa rumah yang layak.
Somi jadi canggung. Ia terus mengingat pernyataan perasaan Lego padanya. Ia menolak cintanya, tapi kenapa terus dipikirkan. Hingga Lego berbicara, ia tak mendengarnya.
"Nona, kau sedang melamunkan apa?" tanya Lego sembari menepuk bahu Somi pelan. Somi sampai terlonjak kaget.
Pandangannya bergerak ke Lego. "Melamun? Aku tidak melamun," elaknya.
"Kau melamun. Aku mengajak bicara, tapi kau diam saja."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya. Kau tidak sadar?"
Somi menggeleng. Padahal ia berbohong. Memang dia sedang melamun, tapi jika bilang iya, Lego bisa bertanya apa yang sedang ia lamunkan.
"Ah,lupakan. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu," lanjut Lego.
"Perihal apa?"
"Kenapa kau sangat membenci anak kecil, eeh tidak. Maksudku, kenapa kau tidak menyukai orang yang usianya di bawahmu?"
"Tidak suka saja. Sikapnya kekanak-kanakkan."
"Tapi kan kau punya adik, bahkan kau bilang sangat menyayanginya."
Somi menunduk sejenak. Jika terus mengelak tidak berguna, maka maju adalah jalannya.
"Sejak kecil aku dikelilingi anak usia di bawahku. Di lingkunganku, aku yang paling tua dulu. Mereka mengejekku tua dan seperti laki-laki. Freka adikku,mau bagaimana pun diriku, dia tetap menghargaiku. Apalagi kami bersaudara, rasanya tidak mungkin saling mengejek."
Lego mengangguk paham. "Jadi begitu. Nona tenang saja, aku tidak akan seperti anak-anak itu. Aku tidak akan menghinamu tua,"
Ini seperti lelucon. Bagaimana bisa Lego tidak akan menghina tua Somi, padahal barusan ia berkata.
Somi sampai mendelikkan matanya saking absurdnya Lego. Somi sadar, bahwa sikap Lego berubah. Pertama kali bertemu, Lego terlihat cool. Bahkan Somi sampai mengira dia paman.
"Sejak kapan kau berubah sikap menjadi kekanak-kanakkan seperti ini?" tanya Somi dengan ekspresi jiji.
"Aku kekanak-kanakkan? Aku rasa--"
"Lego,"
Mereka berdua menoleh kepada siapa yang menyapa Lego. Terlihat Dev sedang berjalan menghampirinya. Dengan tangan kosong.
"Zio Dev?" gumam Lego.
Hingga mereka saling berhadapan. Tidak ada raut wajah komedi di Dev. Seolah ini bukan dirinya. Tapi dia tetap Dev.
"Zio Dev di sini? Sedang apa?" tanya Lego.
Dengan cepat Dev memberikan totok di dadanya. Seketika Dev pingsan, begitupun Somi. Mereka sama-sama diberi totok.
Totok (jurus yang menggunakan kedua jarinya. Menempel di dada agar lawan tidak bisa bergerak. Dan tidak sadarkan diri.)
SKIP
Perlahan kedua mata Lego terbuka. Suasana asing pertama kali ia lihat. Ruangan kosong, bahkan satu barang pun tidak ada. Tubuh yang diikat di atas kursi kayu, membuat dirinya tidak bisa bergerak.
Lego mencoba menggerakkan tangannya yang diikat, namun tidak bisa. Ikatannya begitu kuat. Seketika ia mengingat dimana terkahir kali Dev menghampirinya, setelah itu memberikan totok penghilang kesadaran.
"Zio Dev kenapa melakukan ini?" gumamnya.
"Akhirnya kau sudah sadar Roem Legojanha," ucapan ngeri dari belakang Lego.
Lego Tidak bisa melihat dalam posisi terikat. Apalagi ruangan ini sedikit gelap karena tidak ada jendela yang mengakses cahaya. Ini benar-benar kosong, layaknya goa tanpa penghuni.
"Rindosaka," batinnya ketika Rindosaka berada tepat di hadapannya.
Rindosaka mendekatkan wajahnya ke wajah Lego.
"Kita bertemu lagi Lego, kira-kira apa yang harus kuberikan padamu sebagai hadiah penghormatan di Mettadik,"
Sudah bisa ditebak jika Rindosaka ada, pasti dia di kerajaan Mettadik.
__ADS_1
"Ah ya, bagaimana dengan satu irisan pedang?"