
Terlihat sederhana dan elegan. Kesan pertama Lego ketika menginjakkan kaki di istana Somi. Wilayah yang kecil dan penjagaan yang ketat. Terkesan disiplin dan rapi.
Suasana yang teduh ketika di halaman istana. Tangga-tangga tidak tinggi itu berada di mana-mana. Para prajurit menundukkan kepalanya ketika Somi berjalan masuk menuju istana. Lego yang berada di belakang mengikuti Somi, hanya mengagumi wilayah istana ini meskipun kerajaan ini kecil.
"Di mana ayah?" tanya Somi kepada prajurit yang tengah berkeliling mengawasi setiap sudut istana.
Dengan menunduk hormat, prajurit itu menjawab, "Saat ini paduka raja sedang berada di goa pertapaan, Putri."
Tanpa bicara lagi, Somi melangkahkan kakinya. Bukan menemui ayahnya. Ia tahu jika ayahnya sedang bertapa, tidak ada yang boleh mengganggunya. Bukan hanya ayahnya saja yang tidak boleh diganggu ketika sedang bertapa, melainkan semua orang yang sedang bertapa.
Sangat kosong dan sunyi. Tidak ada orang terdekatnya yang nampak di kerajaan ini. Ibunya entah ke mana, dan saudara-saudaranya juga entah ke mana.
Somi tidak butuh mereka, yang Somi ingin temui adalah ayahnya saat ini.
Lego sempat bingung, kenapa Somi membawanya ke kamar. Bukankah mereka akan menemui Raja Petro ayah Somi?
Lego melihat sekeliking kamar Somi yang sangat kosong. Hanya ada dua lemari yang entah apa isinya. Sudut jendela yang besar dan tertutup, sehingga kamar ini gelap.
Somi menutup pintu kamarnya rapat dari dalam. Kemudian melangkah, mendudukkan tubuhnya di atas kasur kapuk beralaskan sprei hitam kelam bersih.
"Kau dengar ucapan prajurit tadi, bukan? Kita bisa menemui ayah nanti," suara yang keluar dari mulut Somi membuat Lego menoleh padanya.
"Beristirahatlah sejenak. Aku tahu, jarak jauh membuat kakimu lelah," lanjutnya.
Lego hanya terdiam saja. Lalu ia berjalan menghampiri Somi yang terduduk di atas ranjang. Ia dudukkan tubuhnya perlahan di samping Somi.
Tanpa menoleh pada Somi, ia berkata, "Ini kamarmu?"
"Ya, kenapa? Kau aneh dengan kamarku?" jawab cepat Somi tanpa menoleh ke arah Lego di sampingnya.
__ADS_1
Lego menundukkan kepalanya sejenak, lalu menoleh ke arah Somi. "Ini terasa aneh untukku. Kau tidak memiliki ketertarikan dengan hiasan?"
"Kupikir kamar wanita bangsawan akan terlihat cerah dan berwarna," lanjutnya sembari memalingkan kepalanya dari Somi. Disertai senyuman hambar.
"Sudah kubilang kalau aku tidak seperti wanita yang lain. Aku tidak peduli jika kau keberatan dengan menjadi apa pun diriku," ucap Somi datar tanpa ekspresi.
Lego menoleh, hanya sejenak. "Aku tidak menghina. Hanya saja ini aneh untukku," ucapnya.
Somi menoleh. Akhirnya mereka saling menatap datar tanpa ekpresi. Sikap dan tingkah yang sama di antara mereka sangat menguatkan kenyataan bahwa mereka cocok untuk menjadi sepasang teman hidup.
Somi tersenyum miring meremehkan. Kemudian ia baringkan tubuhnya di sana. Lego yang melihat tidak merasa mengganggu Somi. Bahkan Somi tidak merasa malu bersikap aneh di depan Lego.
"Aku merasa cemas jika melihat banyak antek-antek di kamarku. Itu membuat kepalaku pusing," ucap Somi dalam posisi tutup mata.
Seakan lelah tengah menghampirinya, mata itu perlahan semakin meredup layaknya lampu yang akan padam.
"Wanita seperti apa Nona ini?" batin Lego.
Tangannya saling menggenggam, kedua sikunya menopang di lutut masing-masing. Raut wajah yang seolah bingung dengan sikapnya sendiri.
"Aku tidak yakin jika Somi akan menjadi jodohku. Sepertinya ini kesalaha," batin Lego.
"Tapi, semua orang--ah maksudku semuanya mendukungku dan Somi. Bahkan pohon aneh itu juga," lanjut batin Lego.
Pohon permintaan yang di maksud pohon aneh Lego.
Ia menoleh lagi ke belakang di mana Somi terbaring. Bukan terbaring lagi, bahkan Somi sudah terlelap dalam mimpinya.
Tidur. Kata yang seharusnya Lego ucapkan. Tak berlangsung lama, ia sendiri menguap. Satu tangannya menutup mulutnya. Ini pertanda bahwa ia juga mengantuk.
__ADS_1
"Seharusnya Somi tidak akan marah jika aku tertidur di sampingnya. Sedikit lebih jauh mungkin tidak akan masalah," gumam Lego.
Tak berlangsung lama, Lego menjauhkan diirnya sedikit dari Somi. Ia baringkan tubuhnya lalu matanya terpejam. Setelah beberapa lama, barulah Lego terlelap dalam tidurnya.
Waktu ini memperlihatkan rasa santai mereka. Berbeda dengan orang lain. Maksudnya Rindosaka. Rencananya ia sudah mulai hari ini, detik ini juga.
Ia tidak akan pusing mengambil alih perlawanan mereka terhadap Kerajaan Lembuh. Panglima Edeun yang memimpin.
Sudah dikatakan bahwa menaklukan Kerajaan Lembuh akan sangat mudah. Kerajaan yang masih setia dengan Roem Janhi itu sangat bernasib malang saat ini.
Panglima kembali ke lapangan kerajaan, di mana duaratus prajurit sudah berkumpul di sana. Sebelumnya ia harus menemui Rindosaka untuk mendengarkan arahan yang Rindosaka inginkan.
Panglima Edeun berdiri di depan sebagai pemimpin.
"Kalian sudah siap?" seru panglima Edeun dengan teriakan tegas kepada para prajurit.
"Sudah," teriak semangat para prajurit.
"Kalau begitu pergilah. Lakukan sesuai rencana. Aku akan maju di bagian utara," seru Edeun.
Tanpa bertingkah lagi, semua prajurit berjalan perlahan menuju ke luar wilayah istana. Tentu bertujuan menuju Kerajaan Lembuh.
Sedikit perkenalan yang tertunda mengenai Panglima Edeun.
Panglima yang tidak pernah setia. Panglima Edeun merupakan prajurit sebelumnya di masa kekuasaan Janhijanha. Rindosaka menjanjikan pangkat tinggi untuk Edeun. Ia di angkat menjadi kepala prajurit, namun ia tidak menerima pangkat ini. Dengan kejam ia melumpuhkan panglima perang sebelumnya. Baru dia bisa diangkat menjadi panglima perang.
Ini masih mendingan untuknya, tapi rasa haus pangkat itu belum habis. Ia masih menginginkan lebih, setelah panglima perang menjadi gelarnya. Ia menginginkan pangkat paling tinggi seperti halnya mentri-mentri kerajaan.
Ia memiliki istri dan satu anak yang menjadi kekuatannya. Serta ini adalah salah satu kenapa dia menginginkan pangkat tinggi. Ia menginginkan gaji yang tinggi hingga bisa memenuhi kebutuhan sang istri dan anak di pedesaan.
__ADS_1
"Sesuai yang dikatakan Rindosaka. Aku bisa melakukan apa saja di sana, bukan?" gumamnya dengan senyuman devil itu.