Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Perang Sepihak


__ADS_3

Suara guruh, berisik dan teriakan-teriakan itu terdengar samar di telinga Somi. Perlahan Somi membuka matanya. Satu hal yang ia katakan saat pertama kali bangun tidur.


"Lego," ucapnya. Ia terkejut, bahkan ia melonjak ketika saat pandangan pertamanya adalah sosok Lego.


Sosok Lego yang sedang tertidur menghadap dengannya, dan dirinya pun menghadap Lego. Apa sejak awal tertidur? Pertanyaan Somi.


Pupil matanya yang melebar, belum bisa ia normalkan. Terlebih lagi ketika tangan Lego memeluknya saat tertidur. Tentu Somi langsung membanting lengan Lego.


Merasakan ada pergerakan yang mengganggunya, Lego terbangun dengan perlahan. Ia menggosok matanya pelan, sehingga ia bisa melihat Somi di hadapannya.


Ia bangkitkan tubuhnya, memperhatikan Somi yang menatap tajam dirinya. Terdengar juga suara keributan dari luar yang entah apa.


"Dasar cabul," ucap Somi dengan keras. Terlihat bahwa ia kesal dengan Lego dari raut wajahnya yang mengerut.


"Kamu---"


Tok tok tok


"Putri, apa anda di dalam?"


Seseorang mengetuk pinth hingga Somi tidak menyelesaikan pembicaraannya.


Somi juga Lego menoleh ke arah pintu yang diketuk. Nada bicara seorang wanita yang mengganggu Somi itu, terdengar panik dan takut. Bahkan ketukan pintu itu seakan mendesak Somi untuk segera keluar.


Sontak Somi beranjak. Ia berdiri melangkah rusuh untuk menemui siapa yang mengetuk pintunya.


"Ada apa?" tanya Somi setelah membukakan pintu masuk kamarnya.


Sosok pelayan wanita yang terlihat gemetar dan gelisah serta panik. Perasaan yang mudah ditebak, namun tidak bisa menebak alasan kenapa ia gelisah.

__ADS_1


"Kerajaan ini--kerajaan ini diserang, Putri."


Satu kalimat yang membuat Somk tersentak. Somi menyipitkan matanya dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa ia keluarkan.


"Hah? Siapa yang memberontak? Setahuku tidak ada yang bisa memberontak ke kerajaan ini,"


"Saya tidak tahu, Putri. Hanya saja di luar sedang dalam kekacauan. Raja belum selesai bertapa, dan kerajaan hanya dipimpin oleh mentri-mentri serta panglima."


Somi tidak bisa berkata lagi. Matanya memicing seolah ia menolak pernyataan ini. Dengan tanpa basa-basi lagi, Somi melangkahkan kakinya dengan cepat.


Ia tidak memperdulikan Lego yang masih berada di kamarnya. Namun Lego juga tidak tinggal diam. Ia menghampiri pelayan itu dengan rasa keingintahuannya.


"Berapa banyak orang yang menyerang?" tanya Lego.


"Saya tidak tahu. Hanya saja, mereka tanpa raja."


Lego terdiam sejenak, melihat Somi yang sudah jauh darinya. Kemudian kakinya melangkah mengikuti Somi.


"Freka," ucap Somi sembari membukakan pintu kamar Freka, adiknya.


Ya, mata Somi melihat Freka yang sedang mondar-mandir tidak jelas di dalam sana. Somi segera menghampiri Freka dengan langkah tergesa-gesanya.


"Kakak," ucap Freka setelah melihat Somi datang. Tentu rasa aman dan bahagia itu hadir dalam jiwa Freka. Dia yang seakan memiliki pelindung dalam jiwa Somi.


Berbeda dengan Somi. Freka sangat cantik dan anggun meski di usia remaja. Selalu mempercantik diri dengan polesan bedak. Pesonanya ada dalam mata Freka yang murni dan bulu mata yang lentik.


"Di luar sedang--"


"Ya aku tahu, Freka. Makanya aku ke sini, aku mengkhawatirkanmu," sela Somi.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana? Ayahanda sedang tidak bisa diganggu."


Somi berpikir sejenak, "Ibunda di mana?"


"Ibunda tidak ada di istana. Sejak duahari ia mengunjungi kampung nenek,"


"Kak Fergo?"


Kakak laki-laki Somi. Putra pertama, sekaligus pewaris tahta Kerajaan Lembuh.


"Dia turun ke medan perang."


Somi berpikir lagi, entah apa yang terlintas dalam pikirannya. Tapi ia menginginkan semuanya selamat dan dalam keadaan utuh.


Lego datang. Ia terdiri di luar kamar Freka, sedikit menguping. Freka melihatnya. Kesan pertamakali Freka bukan orang asing, melainkan Tampan.


Namun ya, pikiran itu terlintas setelah kakagumannya pada Lego yang tampan.


"Kak, dia siapa?" tanya Freka.


Somi menoleh ke orang yang dimaksud Freka. Terlihat Lego yang tengah berdiri di sana seakan menunggu Somi. Somi memalingkan tatapan itu dari Lego.


"Dia temanku. Dia baik, jangan takut."


"Aku tidak takut. Bahkan aku menyukainya," batin Freka.


"Tunggulah di sini. Kunci pintu kamar, jangan biarkan siapa pun masuk kecuali kakak. Kau harus membukakan pintu jika aku yang berbicara ataupun kak Fergo."


Freka memalingkan tatapannya dari Lego. Ia mengangguk setuju. Dibalas anggukan Somi. Lalu Somi berbalik badan melangkahkan kakinya meninggalkan Freka.

__ADS_1


Ia menghampiri Lego. Ia menatap Lego dengan tatapan tegas nan serius. Baru Somi akan berkata, Lego menyelanya.


"Aku akan turun ke peperangan itu,"


__ADS_2