Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Sihir Pohon Permintaan


__ADS_3

Kebahagiaan kakek Dori dan nenek Osin sangat tertampak. Tentu karena kepulangan Lego yang menjadi kebahagiaan mereka. Meskipun bukan waktu yang lama, tapi mereka berdua merasa kehilangan. Apalagi di usia Lego, serta Wilyusa yang meramal bahwa Lego akan ada dalam bahaya.


Beberapa hidangan makanan lezat yang disajikan nenek Osin spesial untuk Lego. Sengaja ia masak hanya untuk Lego. Meski bukan cucu kandungnya, nenek Osin dan kakek Dori amat menyayangi Lego lebih dari apa pun.


"Ini terlalu berlebihan, Nek. Berapa banyak ikan yang nenek pancing di sungai?" ucap Lego.


"Tidak masalah. Kakek yang memintaku untuk membuatkan semua ini untukmu,"


Beberapa jenis ikan sangat menggoda mulut. Tidak bisa ditolak bahwa masakan nenek Osin sangat lezat seperti para maid di kerajaan.


Lego mengangguk. Lalu tangannya meraih nasi dan satu ikan untuknya. "Kakek dan nenek makanlah," ucapnya.


Mereka berdua tersenyum menyenangi Lego.


"Bagaimana tindakanmu setelah bertemu gurumu, Nak?" tanya kakek Dori.


Lego menoleh dengan satu suapan ke mulutnya. Ia mengunyah pelan. Tatapan itu berpaling lagi dari kakek Dori.


"Sudah berhasil. Guru memberikan arahan padaku selama satu minggu," jawab Lego.


Sebenarnya Lego tidak ingin menceritakan apa yang dia lakukan. Ini membuat nenek dan kakek khawatir jika diceritakan dengan detail.


"Nak, kamu harus hati-hati. Jangan terlalu memaksakan jika pekerjaanmu berbahaya," timpal nenek Osin.


Lego menoleh kepada nenek. Memberikan raut wajah tidak masalah. Ia akan baik-baik saja selama ia mengikuti arahan Wilyusa yang sakti. Mungkin ini sedikit sulit karena awal dari pertempuran atau pertikaian.


Kepulangan Lego bukan untuk menceritakan semua perjalanan awalnya. Hanya saja ia teringat dengan kakek neneknya. Lego tahu betul bagaimana nenek Osin jika sudah khawatir kepadanya.


"Apa pun itu, aku tidak ingin memberitahu semuanya mengenai pekerjaanku. Sebaiknya aku meninggalkan kakek dan nenek selama aku di pertengahan rencana," batin Lego.


Berapa lama mereka makan? Tidak lebih dari setengah jam. Yang menjadikan mereka lama adalah topik pembicaraan. Kakek Dori terus memberikan Lego pertanyaan yang tidak diinginkannya.


"Untuk kedepannya, kemungkinan aku akan jarang pulang,"


Raut wajah kaget dari nenek Osin sontak tertampak. Yang tidak ia inginkan ternyata akan terjadi. Kunyahan serta suapan ia hentikan sejenak seakan ini hal yang paling penting.


"Bagaimana begitu?" ucapnya pelan, memotong ucapan Lego selanjutnya.


Lego menoleh. Ia mengetahui nenek Osin khawatir dengannya. Tapi apa boleh buat, menurut Lego ini jalan terbaik agar ia bisa tetap fokus.


"Nek, maaf. Tapi----"


...----------------...


Harus sesabar apa Somi menunggu Lego pulang? Situasi ini bisa dibilang bahwa mereka seperti suami istri. Satu gubuk dengan dua penghuni beda kelamin.


Tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Tentu mereka pisah ranjang. Somi yang tertidur di ranjang kayu dan Lego tertidur di kursi dengan posisi terduduk.


Cara ini tidak masalah untuk Lego. Meskipun gubuk ini entah milik siapa. Bukan menempati tanpa izin, hanya saja gubuk ini kosong tanpa terkunci.


Lego yang menemukan gubuk ini di saat Somi terluka karena perampok. Pada akhirnya tempat ini jadi tempat tinggal mereka berdua.


Somi yang sekarang sedang terduduk di atas kursi kayu gubuk itu, tengah memandangi pohon kecil aneh yang dibawa Lego. Lego yang menyuruh Somi untuk menitip sejenak selama ia pergi menemui kakek dan neneknya. Awalnya Somi menolak, namun paksaan Lego sulit ditolak.


"Pohon kecil ini pasti ada apa-apa. Tidak mungkin tidak apa-apa jika bentuk dan ukuran pohon ini berbeda dari yang lain," batin Somi.

__ADS_1


Tersirat rasa penasaran ingin menyentuh benda aneh milik Lego ini. Lego melarang Somi untuk menyentuh pohon itu terlebih dahulu. Sebelum Lego melakukan komunikasi dengan pohon itu.


Namun rasa penasaran Somi sulit ditolak. Perlahan tangannya mengangkat menghampiri benda aneh di atas ranjang kayu ini.


Jreett


"Akh,"


Kleekk,


Bersamaan dengan Lego yang membukakan pintu gubuk, ia mendengar ringisan Somi. Terlihat Somi tengah mencoba memegang pohon permintaan itu, tapi Somi tidak berhasil karena menerima sengatan dari pohon itu.


Dengan segera Lego menghampiri Somi. Ia meraih tangan Somi. Telapak tangan yang merah keunguan akibat sengatan dari pohon sihir itu.


"Nona, sudah kukatakan bukan? Jangan menyentuh barangku terlebih dahulu," ucapnya sembari menatap Somi yang terduduk di kursi. Sedangkan ia berdiri di hadapan Somi dan masih memegang telapak tangan Somi.


Hanya sejenak. Ia kembali melihat luka Somi di tangannya. Dengan perlahan ia meniup telapak tangan Somi yang terluka.


Kedua alis Somi mengerenyit. Menahan sakit dan merasa heran dengan perlakuan Lego. Somi memicingkan matanya.


Sadar dengan keadaan yang tidak seharusnya terjadi, Somi menarik paksa lengannya. Ia memalingkan penglihatannya dari Lego. Pupil matanya bergerak kemana-mana serta mengerjap-ngerjapkan matanya.


Tanpa ada kata yang keluar dari mulut Somi. Entah salah tingkah, atau memang tidak ada topik pembicaraan untuknya.


Lego melihat ekpresi gelisah Somi. Ya, ia sadar dengan sikapnya yang refleks barusan.


Lego beranjak. Ia menuju dapur di gubuk itu. Selang beberapa detik, ia kembali lagi menghadap kepada Somi dengan segelas air di tangannya. Gelas yang terbuat dari bambu.


"Nona, basuhi tanganmu. Dengan ini lukamu akan dingin," ucap Lego.


Tangan kiri Somi memegang segelas air yang tebruat dari bambu itu. Lalu ia membasuhi tangan kanannya yang terluka, secara perlahan.


SKIP


"Aku sedikit heran dengan dirimu. Siapa sebenarnya dirimu Lego? Putra sakti? Atau putra kerajaan?"


"Keduanya bukan diriku."


"Lalu?"


Tidak sebaiknya Lego menceritakan siapa jati dirinya sekarang. Tapi Lego mengingat ramalan Wilyusa yang mengatakan bahwa Somi adalah istri di masa depannya.


Malam yang sunyi seperti ini sangat jelas terasa oleh mereka berdua. Bayangkan di tengah-tengah hutan, dalam satu gubuk kecil. Mereka sudah menghabiskan waktu berdua beberapa hari ini. Hanya saja mereka memiliki pekerjaan masing-masing.


Sedikit menceritakan Somi. Memiliki sikap yang sulit Lego tebak. Terkadang sedingin kutub, terkadang sehangat api unggun di malam hari.


"Aku memiliki rahasia yang mungkin tidak akan kamu percaya," ujar Lego.


Kedua alis Somi terangkat, "Aku tidak menginginkan rahasiamu," jawabnya.


Posisi duduk bersampingan di atas ranjang kayu ini seperti akad. Tapi tolong, jangan berlebihan membayangkan posisi mereka.


"Sebenarnya seperti apa sikapmu, Nona?"


"Aku bukan tipe orang yang santai,"

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku tidak suka bocah sepertimu,"


Lego sontak menoleh setelah jawaban yang satu ini. So, Lego merasa seperti dianggap anak kecil? Oh tidak. Seharusnya Somi tahu bahwa Lego memiliki jiwa dewasa meskipun usianya kecil.


Dengan tenang Lego menjawab, "Kenapa?"


Somi menoleh, "Bukan urusanmu," ucapnya tegas dan penuh penekanan.


Segera ia memalingkan wajahnya kembali dari Lego. Ia terdiam, begitupun dengan Lego yang masih menatap Somi dari samping.


"Bagaimana kami bisa berjodoh? Dia saja tidak menyukaiku," batinnya.


Lego menunduk sejenak, lalu mengalihkan tatapannya dari Somi. Kembali menatap pintu gubuk yang berjarak di hadapan mereka.


Tidak ada yang ingin dibicarakan lagi. Lego beranjak dari atas ranjang kayu itu menuju kursi. Sudah waktunya mereka tertidur dengan pulas, dan kembali melakukan pekerjaan masing-masing esok hari.


"Malam ini aku yang akan tidur di kursi," ucap tiba-tiba Somi.


Sebenarnya barusan ia berpikir bahwa sudah seharusnya mereka bergantian. Dalam hal ini Somi seakan merasa bersalah karena terus membiarkan Lego tertidur dengan posisi duduk setiap malam.


Lego menoleh heran, "Kenapa?"


Pertanyaan yang terus-menerus seakan menjelaskan bahwa Lego tidak tahu apa-apa. Atau bisa dikatakan seolah-olah anak kecil yang tidak paham arti solidaritas dan toleransi.


"Kau bilang kenapa?" ucap Somi dengan mengerenyit heran.


Lego menggaruk belakang kepala yang tidak gatal, "Eee-- sebenarnya tidak masalah. Kau bisa tidur di sana dengan tenang," ucap Lego kaku.


Tidak basa-basi, Somi beranjak menghadapkan dirinya kepada Lego. "Jangan banyak tingkah. Lakukanlah! Aku tidak suka banyak basa-basi," ujarnya.


"Tidak perlu, Nona. Aku---"


Sebelum ucapan Lego berakhir, Somi lebih dulu menarik tubuh Lego untuk segera beranjak. Oh tidak, pohon ajaib yang terletak di papan bilik itu tergoyah karena guncangan Somi.


Somi dan Lego sontak refleks menahan pohon ajaib itu. Secara refleks juga, tangan mereka menggenggam satu sama lain.


Lalu mereka saling menatap. Terlalu hanyak yang terjadi kepada mereka, seakan takdir memang mendukung mereka.


Srooosshh


Cahaya yang keluar dari pohon ajaib itu mengalihkan tatapan mereka, tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.


Triing


Gubuk ini menjadi sebuah rumah yang layak. Mereka terkejut dengan perubahan gubuk kecil ini menjadi sebuah rumah sederhana. Rumah modern yang terbuat dari batu-bata layaknya rumah di masa depan.


"Apa ini?" gumam Somi dengan raut wajah heran.


Semuanya berubah drastis. Antara heran dan kagum dengan rumah langka ini. Mungkin karena mereka sebelumnya belum pernah melihat rumah seperti ini.


Dinding kaca, pintu kayu yang rapi serta ruangan yang luas. Mereka bahkan melirik-lirik setiap sudut bangunan yang baru tercipta ini.


"Ini adalah awal dari cinta kalian yang kuat. Aku, penghantar keinginan pada dewa. Tugas pertamaku sudah selesai. Takdir menyuruhku untuk memberikan hadiah ini kepada Yang Mulia Lego."

__ADS_1


Ucapan yang hanya terdengar oleh Lego.


__ADS_2