
Brugh, brak.
Seketika Selina terkejut. Terdiam di kamar. Tangan yang memegang sapu, terjatuh. Kakinya melangkah, keluar kamar.
Yang membuat matanya lebih membelalak lagi ketika setengah rumahnya roboh. Asap abu membuatnya terbatuk.
Tangannya menggenggam, lalu menutup mulut yang batuk, "Ada apa ini?" gumamnya.
Rumahnya kini tidak memiliki pintu. Ketika asap abu sudah mendarat. Seseorang bisa ternampak. Selina memicingkan matanya, terkejut ketika Raja Rindosaka tertampak. Segera ia kembali masuk ke kamarnya. Ia mengunci rapat-rapat pintu kamarnya. Punggungnya ia sandarkan di pintu itu.
Perasaan waspada dan ketakutan kini hadir. Selina mengelus dadanya ketika nafasnya semakin mengguncang.
"Kenapa Raja Rindosaka ada di sini?" batinnya.
Seketika pintu kamar terketuk keras. Ia semakin takut. Pupil matanya bergerak beserta kepala seperti menggeleng.
"Aku harus bagaimana?" gumamnya.
"Selina,"
"Aku tahu kau di dalam sana," ujar seriangaian Rindosaka.
Tubuhnya bergetar. Ia semakin panik ketika Rindosaka berkata.
Kaki pendek jenjang itu berlari menghindari pintu kamar. Untuk melarikan diri, ia bisa keluar melalui jendela. Jendela kecil kamar itu muat untuk tubuh Selina. Ia sudah menginjakkan kakinya di luar, tapi ia mengingat sesuatu. Hal yang pernah Lego katakan padanya.
"Pohon permintaan dan lonceng. Aku melupakan itu," gumamnya.
Kakinya mengangkat, masuk ke dalam kamar lagi. Secara cepat ia membuka lemari kayu. Di tangga kedua lonceng dan pohon permintaan terletak. Tangan Selina segera meraih keduanya. Lalu menyelamatkan diri dari Rindosaka.
Ia berlari sekencang-kencangnya menghindari Rindosaka. Kedua barang itu ia peluk hati-hati. Bagaimana tidak? Itu amanah untuknya, Lego mempercayainya.
"Aku harus menemui senior Lego."
"Akh,"
Satu pukulan sihir mengenai punggung Selina hingga tubuhnya terjatuh. Wajahnya mengerut menahan sakit.
Sementara Rindosaka yang menyerang, tersenyum devil layak iblis sebenarnya. Rindosaka menghampiri Selina. Menjongkokkan badannya, menatap intens serta senyuman miring.
"Selina. Apa hubunganmu dengan pria itu?" nadanya begitu mengerikan.
Memberikan getaran ketakutan tidak akan membuat Rindosaka simpati padanya. Lebih baik melawan.
"Kau tidak perlu tahu raja busuk. Ini urusanku," jawab Selina, meskipun tubuhnya bergetar ketakutan.
Rindosaka memberikan ekspresi tajam. Giginya menggertak serta sorot mata begitu tajam.
Tangannya meraih dagu Selina hingga mencekalnya.
"Beraninya kau," bentaknya di kata 'kau' sembari mendorongkan tangan yang mencekal dagu Selina.
__ADS_1
Selina harus terjatuh lagi.
"Kau mulai berani semenjak bersama Lego, hah?" bentak Rindosaka. Rindosaka terdiam.
"Sekali lagi aku memberimu kesempatan, katakan apa hubunganmu dengan pria cabul itu?" bentaknya di akhir beberapa kata.
Selina perlahan membangkitkan kepalanya, menatap Rindosaka. Rambut yang sudah mengahalangi wajahnya, ditepiskan perlahan.
"Senior Lego bukan cabul. Kau yang cabul, dasar pedofil."
Di lingkungan lain, Lego masih menahan nafas, serta memberi sedikit hawa untuk Somi, meskipun dirinya saja sudah lemah.
Hah--hah--hah
Lego mulai kehabisan nafas. Beberapa kali ia mendorong tanah dengan punggungnya. Namun, tidak ada hasil yang baik.
"Rindosaka, dia--" batinnya penuh kemarahan.
Wajahnya memerah karena kemarahannya perlahan memuncak. Seketika tubuhnya memanas layaknya api mulai terbit dari tubuhnya.
"Akh, panas," gumam Somi. Kemarahan Lego kembali turun, ketika telinganya peka dengan suara kecil Somi.
Mata Somi tidak terbuka meskipun ia sadar. Ini menggambarkan tubuh Somi lemah, tapi bisa merasakan.
"Astaga, seharusnya aku menahan emosiku," batin Lego.
Beberapa Jam Kemudian
"Aku tidak boleh tinggal diam, Somi harus selamat. Dan juga diriku. Masih banyak yang harus kulakukan untuk meruntuhkan Rindosaka," batinnya.
Sekali lagi ia mendorong tanah dengan punggungnya. Sihirnya perlahan keluar, menghancurkan tanah yang menimbunnya.
Lego kembali menghirup oksigen. Ia terengah-engah sejenak. Tatapannya mengalih ke Somi yang tidak sadarkan diri.
Dengan tekad, ia menggunakan sihir untuk naik ke atas. Somi menopang di kedua tangan Lego.
"Nona," ucapnya. Tangan Lego menepuk pelan kedua pipi Somi.
Tidak ada pergerakan dari Somi. Satu jari telunjuknya merasakan nafas Somi dari hidungnya.
Sontak Lego membelalakkan matanya. Ia menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin," gumamnya. Raut wajahnya tak luput dari kecemasan dan panik. Mulut itu kelu untuk berkata lagi setelah mengetahui bahwa Somi--tidak bernafas.
Setelah kegusarannya, Lego mencoba menyentuh tubuh Somi. Ia masih ingat dimana ia bisa menghidupkan Dev yang meninggal dulu.
Namun, untuk kali ini dia gagal. Ia tidak paham kenapa disaat ia menginginkan sihir, sihir itu tidak muncul.
Masih dengan rasa panik, Lego mengangkat tubuh Somi. Berdiri, lalu melangkah cepat. Entah akan ke mana.
......................
__ADS_1
"Percuma, pria yang kau cintai tidak akan datang menyelamatkanmu, Selina."
Selina memberikan wajah sayu dan rasa takut. Meskipun ia sudah berani melawan, akan tetapi rasa takut itu lebih mendominan.
Kedua tangan yang diborgol, menggambarkan seorang tawanan raja. Padahal Selina tidak memiliki kesalahan. Sebelumnya Selina terlihat seperti sudah mengenal lama Rindosaka. Pria paruh baya yang kejam.
"Kenapa kau diam? Tidak ada kata lagi untuk diucapkan? Atau kau takut?" ucap seringaian Rindosaka.
Di tengah asiknya Rindosaka menghina Selina, Grodki datang.
"Yang Mulia, seorang penjual senjata sudah datang kemari. Sesuai kemauan anda, dia sendiri yang membawakan senjata itu," ucap Grodki.
"Tunggu aku di tribun."
"Baik Yang Mulia,"
"Tahan dia di kamar tamu," perintah Rindosaka kepada prajurit yang mengawal Selina.
Rindosaka menuruni anak tangga dari singgasananya. Melewati Selina, "Kau harus melayaniku sampai puas, tunggu aku di sana," ucapnya tepat di telinga Selina.
Selina membelalakkan matanya. Kedua tangan itu bergerak-gerik mencoba melepaskan dirinya. Sungguh, rasa takut ini paling ia hindari.
Sementara Rindosaka, si tua pedofil itu menyeringai kuat tanpa menghentikan langkahnya.
SKIP
Di tribun.
Rindosaka terduduk di tribun, Dev berlutut tidak jauh dari Rindosaka.
"Apa kau membuatkanku bonus yang spesial?" tanya Rindoasaka, senyuman licik itu terus tertampak di wajahnya.
"Ya. Sebuah pedang panjang tajam dengan ukiran khas lambang mettadik di ujungnya," jawab Dev.
"Lalu?"
"Sesuai pesanan Yang Mulia. Ceruti, pedang, tombak, panah dengan ukiran khas eropa beserta senjata campuran kimia."
Rindosaka berdiri. Langkahnya turun satu langkah, mendekati Dev.
"Kau tahu kenapa aku memesan banyak senjata. Ini pertama kali untukku."
Dev menengadah sejenak, kepalanya menggeleng mengartikan tidak.
"Berdiri," perintah Rindosaka.
Dev menengadah kembali, perlahan tubuhnya berdiri masih dengan menatap Rindosaka. Rindosaka satu tangga lebih tinggi dari Dev.
"Kau ingin tahu kenapa aku memesan banyak senjata?"
Dev terdiam bingung. Tidak berani untuk mengangguk iya, juga menggeleng tidak.
__ADS_1
"Untuk membunuh Lego. Pedagang senjata milikmu," ucapnya tepat di telinga Dev. Dev sempat bergetar, punggung lehernya dingin serasa angin meniupnya.