
...MOMENT YANG TIDAK DIINGINKAN SOMI...
Ini sudah malam, tapi Somi belum sadarkan diri. Pukulan itu begitu keras. Lego membawanya ke gubuk yang terletak di tengah-tengah hutan. Entah milik siapa, namun gubuk itu kosong dan tidak begitu buruk.
Untuk menyelamatkan Somi, Lego sudah mencoba meracik obat herbal meskipun ia tidak tahu banyak mengenai obat racikan. Ia meminumkan air jahe ke mulut Somi.
Hutan ini jauh dari pedesaan, jika menghubungi tabib akan sangat lama. Somi sendirian, jadi tidak memungkinkan Lego meninggalkan Somi sendirian.
"Aku sangat khawatir, kenapa nona ini belum sadar?" gumamnya.
Uhuk-uhuk
Batuk yang berasal dari Somi. Lego menoleh dan menunggu, berharap Somi akan baik-baik saja.
"Nona, kau baik-baik saja?" tanya Lego.
Sepenuhnya Somi belum sadar, perlahan ia mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya kecil di dalam gubuk ini.
Tangan itu menutupi matanya, sepenuhnya ia sadar sekarang.
"Di mana ini?" gumam Somi. Perlahan tubuh itu terbangun, ia terduduk di atas ranjang kayu tanpa kasur itu.
Matanya memutar, mengetahui di mana ia berada saat ini. Tatapan itu berhenti pada Lego yang berdiri dihadapannya, ia mengerutkan dahinya.
"Kau?"
"Ya. Bagaimana keadaanmu saat ini?"
Sejenak tidak ada jawaban dari Somi, "Aku baik."
Jika Somi tidak lemah, ia sudah pergi dari hadapan Lego saat ini juga. Kondisi lemah ini membuat Somi terpaksa berdiam diri. Bahkan tangannya terus memegang perut yang tidak baik-baik saja.
"Kita belum saling tahu nama kita. Namaku Lego," ujar Lego sembari memberikan tangan untuk bersalaman.
Somi terdiam, menatap uluran tangan Lego tanpa niat ingin membalas. Kemudian tatapan itu beralih menunduk lagi dengan menjawab, "Namaku Somi."
Lego mengembalikkan ulurannya kaku tanpa hati dendam. Ia melangkah, terduduk di kursi kayu jauh di samping Somi.
Somi terus mengendus kedinginan, mengelus-ngelus masing-masing lengannya. Pakaian yang tidak seluruhnya menutupi tubuh itu menjadi penyebab Somi kedinginan. Apalagi cuaca malam ini benar-benar dingin.
"Nona, minumlah jahe ini. Setidaknya perutmu tidak akan terasa sakit lagi," ucap Lego setelah menghampiri Somi.
Somi enggan menoleh, ia masih menatap lain selain Lego. "Taruh saja di sana," ucapnya.
Sikap Somi kepada Lego seperti orang yang tidak ia sukai. Apa karena baru pertama kali kenal, jadi Somi sangat enggan dan kaku. Padahal saat awal ia menyangka Lego lebih tua darinya, ia sangat menghormati dan sopan. Namun, setelah mengetahui bahwa usia Lego lebih kecil darinya, Somi berubah sikap menjadi acuh.
"Baiklah."
__ADS_1
Ia letakkan jahenya, lalu beranjak ke luar gubuk sendirian. Entah akan ke mana.
"Aku tidak suka anak kecil," ucapnya dengan menatap intens Lego yang sudah ke luar gubuk.
Keadaan perampok tadi sangat misterius, aneh jika dipikirkan. Seorang perampok sangat lihai dan memiliki sihir layaknya orang tinggi. Berlari cepat, dan lebih aneh lagi adalah perampok itu berlari ke dua jalur. Kanan istana Mettadik, dan kiri menuju jalan lain.
"Yang Mulia, pemuda tadi memiliki sihir yang kuat. Dia merupakan pedagang, beruntung saya bisa melarikan diri."
Pupil mata Rindosaka membulat, selain anggota kerajaan, tidak ada yang bisa sihir kecuali petapa agung di luar kerajaan. Apalagi sangat jarang di usia muda ada yang memiliki sihir. Sangat sulit untuk mencapainya, di usia tigapuluh tahun saja baru awal mula.
"Siapa dia? Apa kau mengenalnya?" ujar was-was Rindosaka.
"Saya tidak tahu yang mulia. Dia memiliki paras yang tampan, dan jarang sekali saya melihatnya di sekitar wilayah pedesaan pusat."
"Dia sangat tinggi ramping tapi berotot. Rambut pirang itu seakan membedakan dia dengan rakyat biasa. Saya sangat baru melihat pemuda itu,"
"Apakah Lego, dia berambut pirang juga," timpal Grodki.
Sebelumnya Lego pernah datang ke istana karena undangan raja. Saat itu Lego dalam keadaan tidak tahu apa-apa mengenai politik Rindosaka. Pada saat itu juga Rindosaka tidak mencurigai Lego, raja hanya tahu bahwa ia membutuhkan Lego karena ilmu bela dirinya semapan dengan panglima perang di kerajaan.
"Aku tidak tahu. Dia seakan membedakan mana rakyat biasa dan mana dia. Meskipun dia juga rakyat biasa, tapi dia memiliki aura seorang raja atau putra raja," ucap Jwiyu.
Jreess
Satu serangan mengenai tubuh Jwiyu dari Rindosaka. Kenyataannya Rindosaka tidak menyukai jika seseorang berkata seperti Jwiyu, Rindosaka merasa tersinggung.
Jwiyu terjatuh, memegangi dada kanan yang diberi sihir Rindosaka. Beruntung di sini adalah aula pertemuan mereka bertiga. Hanya mereka bertiga yang menjadi penghuni aula ini selama Rindosaka mulai memimpin.
Sorot mata yang tajam dari Jwiyu mengarah pada Rindosaka. Begitupun dengan Rindosaka, sedangkan Grodki menjadi penengah di antara panasnya pertikaian kecil mereka.
"Aku minta maaf Yang Mulia," ucap Jwiyu dengan tatapan kesal.
"Lihat saja Rindosaka. Aku akan merebut tahtamu, setelah aku membantumu, kau tidak membalas budi untuk itu. Maka dari itu, aku akan mengambil tahta ini. Kerajaan ini harus jatuh ke tanganku," batin Jwiyu.
"Yang Mulia, apa sebaiknya kita membicarakan hal pemuda tadi," timpal Grodki membantu mengubah mood Rindosaka, agar Jwiyu tidak dihukum lebih.
Perampok yang sebenarnya adalah Jwiyu. Rindosaka menyuruh Jwiyu untuk merampok harta warga sebagian. Untuk kerajaan dan dirinya, biasanya kegiatan ini dilakukan pengawal tinggi. Namun, karena pengawal tinggi memiliki tugas lain, Rindosaka memerintah Jwiyu untuk mengerjakannya.
Ini suatu kejahatan. Dengan cara merampok tanpa diketahui warga merupakan kegiatan yang sudah dilakukan sejak lama. Rindosaka yang berkedok kebaikan, suatu saat sistem kerajaan yang dipimpin olehnya akan terbongkar. Karena sang raja baru sudah dewasa, dia Lego. Sudah siap untuk merebut kembali hak tahta yang direbut Rindosaka.
Rindosaka menoleh, "Aku ingin kalian temukan pemuda itu. Mau dia Lego atau bukan, temukan dia dan bawa ke hadapanku," ucap raja.
Lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua di aula pertemuan tiga orang ini.
Aula yang sama seperti aula pertama sebagai tempat rapat para petinggi kerajaan. Barang antik seperti gucci tertera di sana. Singgasana kedua Rindosaka beserta kursi yang lebih bawah dari singgasana utama.
"Sudah seharusnya kita cepat bertindak Jwiyu, Rindosaka akan semena-mena pada kita jika terus memimpin," ucap Grodki pada Jwiyu.
__ADS_1
Ia melihat Grodki, mencoba untuk berdiri dengan kaku dan tidak seimbang akibat sihir Rindosaka.
"Ya. Kita harus mencari orang yang bisa kita manfaatkan dalam merebut rahta ini. Kita tidak mungkin sanggup menghadapi Rindosaka," jawab Jwiyu.
"Kau benar. Untuk apa kita terus tinggal diam, seharusnya kita cepat bertindak."
...----------------...
Prak prek.
Somi pikir Lego tidak akan kembali lagi, ternyata Lego pergi mencari kayu bakar dari luar. Malam-malam seperti ini Lego baru kembali, sekitar setengah jam Lego ke luar meninggalkan Somi sendiri.
Ia menyalakan kayu bakar, hingga menjadi bongkahan api kecil. Merasa bertanggung jawab atas Somi, Lego tahu Somi kedinginan, maka dari itu Lego membuatkan api untuk menghangatkan tubuh suasana ini.
"Apa begini tubuhmu merasa hangat, Nona?" tanya Lego.
Somi terdiam sejak kembalinya Lego dari luar. Masih dengan posisi yang sama dan keadaan yang sama.
Somi menoleh lalu berkata, "Kenapa kau kembali lagi?" tanya sewot Somi.
Lego sontak menoleh mendengar perkataan tidak tahu terimakasih Somi. Tidak marah, hanya saja perkataan Somi harus Lego benarkan.
"Anggap saja aku bertanggung jawab atas kejadian sore tadi."
"Di hutan sangat berbahaya, akan ada hewan buas yang melewat."
Somi setuju. Rasa takut dengan hewan buas itu muncul, meskipun selama ini hidup tak karuan di hutan. Ia waspada jika tidur di hutan, dan yang lebih ia takuti adalah tahayul soal hantu.
"Lalu kenapa? Aku tidak takut kepada mereka semua," jawab Somi dengan kaku. Pada kenyataannya dia ragu bisa sendiri tinggal di gubuk ini.
Lego terdiam sejenak, ia menatap Somi lelah untuk bersabar.
"Kau ingin aku meninggalkanmu sendiri, Nona?" tanya Lego.
"Tentu. Aku akan sangat tenang jika kau pergi,"
"Baiklah. Aku juga senang hati," ucap Lego. Kemudian Ia beranjak melangkah ke luar gubuk. Namun baru saja beberapa langkah, Somi berkata.
"Tunggu!" ucapnya dengan tangan yang mengangkat. Ucapannya menggambarkan ia malu karena ia tidak ingin ditinggal sendirian di tengah hutan ini.
"Oke deh. Jangan pergi," ucap Somi setelah memalingkan tatapannya dari Lego yang menoleh padanya sebelum ke luar.
Tidak ada yang ingin Lego jawab, ia hanya mendengus kesal lalu kembali ke api unggun di hadapan Somi.
"Kemarilah jika kau ingin kehangatan,"
Somi tidak menyukai Lego, hanya saja kali ini ia mendesak. Tidak ingin ditinggal dalam keadaan ketakutan. Somi perlahan melangkahkan kakinya mencoba menghampiri Lego. Namun, keseimbangan tubuhnya masih lemah. Somi harus terjatuh, bukan ke tanah melainkan ke pelukan Lego.
__ADS_1
Mereka saling tatap bersama, kejadian ini seakan sering terjadi. Hanya saja berbeda dalam posisi dan sentuhan.
"Dia sangat mungil dari kedekatan," batin Somi.