
Siang ini pasar pusat sangat ramai seperti biasa. Beberapa hari Lego harus absen karena kesibukannya mengenai kerajaan.
Hari ini ia kembali lagi ke pasar. Tentu untuk berjualan. Bukan hanya untuk bertahan hidup, ada maksud lain dari Lego. Mulai sekarang kehidupan Lego tidak hanya berjalan normal layaknya rakyat Mettadik. Apa yang ia jalani saat ini akan penuh dengan tenaga. Mungkin jika terus membara, akan ada pertumpahan darah.
Bersama dengan takdir. Kali ini takdir seakan bukan ada di masa depan lagi. Ada sebab akibat di setiap bagian kisah. Lego sudah mengetahui takdirnya. Prioritasnya yaitu merebut hak miliknya. Apa pun jalannya, Lego akan melakukan pekerjaan itu untuk mencapai tingkat tinggi kekuasaan.
"Aku akan memberimu keringanan. Kau bisa berdagang sampai hari ke-tiga. Untuk empat hari kedepan, kau bisa melakukan aktivitas dirimu sendiri," ucap Dev yang kali ini menemani Lego berdagang.
"Kemungkinan juga aku tidak akan sering membuat senjata kecil lagi. Beberapa kerajaan memesan senjata kimia. Akan memakan waktu lama ketika aku membuat senjata kimia," lanjut Dev.
Tanpa menghentikan tangannya yang sedang menata beberapa senjata kecil di atas meja dengan tinggi setengah tinggi Lego, ia menjawab, "Jika zio benar tidak merasa keberatan, aku akan bekerja di hari ke-dua."
"Kemungkinan aku akan sangat sibuk. Zio Dev, kuharap kau tidak masalah dengan permintaanku." Lego menoleh ke arah Dev yang berdiri di sampingnya.
"Sama sekali tidak masalah. Meskipun kau tidak memberitahuku akan ke mana, tapi aku percaya bahwa kau tidak akan menghianatiku,"
Dev mengangkat tangannya, dan ia letakkan di bahu Lego. "Sesuatu pasti terjadi dengan dirimu. Semangatlah!" diakhiri dengan senyuman kecil di mulut Dev.
Lego mengikuti ekpresi Dev. Ia tersenyum kecil dengan perasaan percaya diri.
"Berhentilah tersenyum, Tampan. Kau akan semakin tampan jika terus seperti itu padaku," ucap Dev dengan pukulan kecil di bahu Lego.
Sikap humoris ini seolah-olah kembali lagi. Dev kemudian memalingkan tatapannya dari Lego dengan menggeleng-geleng kecil kepalanya.
Tatapan Dev beralih ke beberapa senjata yang sudah tersusun rapi. Ia meraih satu belati bergantungkan rambut-rambut kecil.
"Belati ini tidak terbuat dari logam, namun ketajamannya sangat ampuh."
"Kau harus seperti belati ini, Lego. Tidak berasal dari bangsawan, tapi jiwa dan pemikiranmu harus bersifat tajam layaknya bangsawan," ucap Dev dengan menatap belari di tangannya.
Satu kata yang menginspirasi. Orang humoris memang terlihat tidak pandai. Tapi dalam satu kali menasihati, ucapannya memiliki makna yang dalam. Bisa dikatakan bahwa orang humoris tidak semuanya bodoh.
Lego terdiam. Ia memahami ucapan Dev.
...----------------...
"Hidup Pangeran Bindusa," bukan pujaan, melainkan kedatangan prajurit yang berada di ambang pintu perpustakaan kerajaan.
Bukan kerajaan Mettadik maupun Lembuh, ini kerajaan Bindusa. Tidak tepat, bukan milik Bindusa, dia hanya calon raja di kerajaannya.
Bindusa yang tengah terduduk di kursi dengan fokus membaca buku di genggamannya, harus sejenak mengalihkan tatapannya. Tatapan datar dan dingin ini mencerminkan sosok yang pandai dan berwibawa.
"Raja Lembuh mengirim surat untuk anda," ucap prajurit yang masih di ambang pintu masuk perpustakaan dengan menunduk menghormati Bindusa.
"Berikan padaku," perintah Bindusa.
__ADS_1
Dengan patuh, prajurit itu masuk, menghampiri Bindusa yang terduduk di kursi. Tanpa basa-basi, surat itu ia berikan pada Bindusa.
"Keluarlah," ucap Bindusa.
Bindusa meletakkan buku di tangannya. Seperginya prajurit itu, Bindusa perlahan membuka lembaran kertas yang diinjakkan pena.
Pupil mata Bindusa melotot ketika ia membaca isi surat itu. Ia menghentakkan kertas di tangannya ke atas meja dengan keras. Ia menatap tajam kosong ke hadapannya. Tangan itu mengepal kuat sehingga kertasnya rusak.
"Bagaimana bisa perjodohan ini dibatalkan," gumamnya dengan wajah yang sudah mengerut sejak awal.
"Bagaimana denganmu, Bindusa?" Seseorang masuk ke dalam menghampiri Bindusa.
Bindusa menoleh ke sumber suara. Ayahnya tengah menghampirinya saat ini. Sangat sama berwibawanya seperti Bindusa. Sekitar enampuluh tahunan ayah Bindusa. Tubuh yang gagah dan mahkota besar di kepalanya sudah sangat mencerminkan bahwa dia raja di kerajaan ini. Kerajaan Songui. Anak Kerajaan Mettadik berdarah China dan Janha.
"Apa maksud Raja Petro, Ayah?"
Raja Petro, seorang raja dari Kerajaan Lembuh. Merupakan ayah Somi dan kerajaan yang setia dengan Raja Roem Janhijanha.
"Seperti yang kamu baca dam isi surat itu. Dia membatalkan perjodohan ini,"
"Tidak bisa. Bukankah sudah sepakat bahwa aku dan Somi akan menikah," ucap sewot Bindusa.
"Tetapi mereka membatalkan pernikahan ini."
"Jadi?"
"Aku yang menginginkannya, Ayah."
"Apa boleh buat. Kita hanya terima saja apa mau mereka, ayah dari awal memang tidak menyukai perjodohan ini. Itu karena Somi yang sama sekali tidak berniat untukmu."
"Tidak bisa. Ini sudah kesepakatan. Aku akan menuju istana Lembuh saat ini juga. Aku harus bicara dengan Raja Petro," Bindusa bangkit dari terduduknya. Namun Song Joe menahan Bindusa agar tetap tenang.
Mereka terdiam sejenak dengan saling tatap. "Kita akan menemuinya esok lagi. Ada yang lebih penting dari ini,"
Tak terasa matahari mulai tenggelam. Senja yang selalu menjadi saksi kepulangan Lego masih sama. Kemungkinan senja bukan hanya melihat Lego pulang lagi karena Lego tidak hanya memiliki satu urusan.
Angin sore yang menembus tubuh Lego seakan tidak merasa bersalah karena membuat Lego dingin. Sesampainya di rumah, Lego melihat sosok Somi yang sedang berada di dapur.
Terdengar suara kekacauan di sana. Perabot dapur yang terjatuh bahkan asap yang memenuhi dapur.
Lego menghampiri Somi yang terlihat kesulitan dengan apa yang dilakukannya.
Uhuk-uhuk
Somi menutupi mulut dan hidung dengan tangannya. Disertai batuk karena asap yang berasal dari perapian memenuhi dapur. Serta mata yang menyipit menutupi sedikit matanya.
__ADS_1
"Nona, kau sedang apa?" ucap Lego di ambang pintu sembari menepuk asap dengan menutupi hidungnya.
Somi menoleh ke arah Lego dengan masih terbatuk. Ia menghampiri Lego dan mendorong pelan tubuh Lego agar menjauhi dapur yang dipenuhi asap.
Jarak mereka dengan dapur cukup jauh kali ini. Somi masih terbatuk sampai tubuhnya merukuk, di hadapan Lego.
"Kenapa dengan dapur rumah kita?"
Rumah kita? Apa dia sadar mengatakan hal itu? Sejak kapan mereka memiliki hak rumah ini? Ini seolah sepasang suami istri. Tapi benar, rumah ini adalah untuk mereka, pemberian dari pohon ajaib sang pengantar komunikasi dengan dewa.
Somi meneggakkan tubuhnya dengan batuk yang mulai mereda. "Aku tidak bisa memasak," ucap Somi.
Wajah yang mengerut Lego berganti menjadi sayu. Lego pikir ada apa dengan rumahnya. Setelah mengetahui kenapa penyebabnya, Ia menepuk jidat dirinya sendiri.
"Kau membuatku khawatir, Nona. Kupikir ada apa," ucap Lego.
"Aku lapar," ucap Somi dengan wajah sayunya.
...Satu jam kemudian...
"Bocah ini bisa masak juga. Lagi, masakannya enak," batin Somi.
Somi yang baru memasukkan makanannya, ia harus terhenti mengunyah karena rasa terkejut dengan masakan Lego yang enak. Ia menoleh ke arah Lego yang terduduk di sampingnya.
Apa ruang tamu ini akan menjadi saksi mereka berdua?
"Kenapa? Masakannya tidak enak?"
Somi mengalihkan tatapannya perlahan dengan kaku. "Ini tidak buruk," jawabnya. Ia kembali melanjutkan makannya perlahan.
Merasa tidak perlu menjawab lagi. Lego terdiam membisu.
Sampai perkataan yang keluar membuat Somi terkejut. "Aku akan membawa Selina tinggal di sini,"
Uhuk-uhuk
Perkataan Lego yang membuat Somi keselek oleh makanannya sendiri. Somi segera mengambil minum dan meneguknya perlahan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Lego ketika melihat Somi keselek.
"Siapa Selina?" tanya Somi dengan tatapan penolakkan.
"Dia---"
Flashback
__ADS_1
"Biarkan aku terus bersamamu, Senior," ucapan yang keluar dari mulut Selina.