Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Umpan Lego


__ADS_3

"Aku berjanji untuk bertanggung jawab atas Selina, sebagai istriku."


"Aku berjanji akan menemani Lego dikala susah maupun senang, sebagi suamiku."


Setelah mereka berucap janji di depan pendeta, sebagai penuntun akad, Wilyusa menepuk pelan puncak kepala mereka berdua. Pendeta dan Wilyusa berdiri di hadapan Lego dan Selina yang terduduk.


Pendeta memberikan gelang kain kepada Wilyusa, agar dia memakaikannya ke tangan kedua mempelai.


"Semoga kau selalu dalam keadaan baik-baik saja," ucap Wilyusa dalam memakaikan gelang.


Tangan yang semula saling menggenggam di atas paha Lego, dilepas. Untuk menerima gelang suci pertanda sebagai resminya pernikahan ini.


Somi cemburu melihat ini. Mungkin ia masih sedikit menyangkalnya, tapi bagaimana lagi? Jika kenyataannya begitu, ya harus begitu.


Dia terduduk di belakang, berjarak dari kedua mempelai. Menjadi saksi resminya pernikahan Lego dan Selina. Entah perasaan apa? Tapi Somi terlihat cemburu.


"Ritual selesai. Kedua mempelai sudah sah, dan bisa kembali ke kegiatan," ucap pendeta.


Wilyusa menundukkan kepalanya, menghormati. Balasan pendeta pun sama.


"Yishi (saya) pamit."


(Yishi dalam bahasa China aksen tradisional.)


Sepertinya pendeta, Wilyusa membolehkan Lego untuk pulang. Namun, tidak cukup untuk Lego, dia memiliki pertanyaan pada gurunya.


Lego bangkit, berdiri. Diikuti Selina.


"Ada apa, Lego?" tanya Wilyusa karena Lego memanggilnya.


"Bagaimana dengan source of strength ke-dua?"


"Aku akan bertapa, meminta petunjuk kepada dewa. Pulanglah, manjakan istrimu," jawab datar Wilyusa.


Wilyusa beranjak, meninggalkan semuanya. Rumahnya menjadi saksi pernikahan Lego, kemungkinan sebuah anugerah untuknya.


Lego tidak bisa membantah lagi. Ia tahu Wilyusa. Bagaimana sikap dan caranya mendidik, Lego tahu itu.


Lego mengalihkan pandangannya, hingga tatapannya bertemu dengan Selina.


"Mari," ucapnya kepada Selina. Tangannya mengulur, menunggu Selina menggenggam tangannya.


Selina memberikan senyuman manis. Dengan senang hati, tangannya menggenggam tangan Lego. Langkahnya mengikuti Lego, ke luar gubuk Wilyusa. Begitu romantis dan manis.


Somi terdiam. Ia menyaksikan betapa manisnya Lego. Apa Lego melupakannya? Kenapa dia tidak sekalian mengajak Somi?


"Sepertinya sangat bahagia," gumamnya pelan. Rela tidak rela harus rela.


SKIP


Baru menginjakkan pekarangan rumahnya, Lego harus dihadiahi serangan tak terduga. Beruntung Lego bisa menghindarinya.


Selina panik, Sedangkan Lego dan Somi waspada jika kedatangan serangan lagi.


Selina menggenggam erat tangan Lego. Ia ketakutan, beruntung Lego ada di sisinya.


"Tenanglah. Tidak perlu takut, aku ada di sini."


Terdengar ke telinga Somi. Perhatian Lego pada Selina benar-benar membuatnya cemburu buta. Jelas ia tahu bahwa Lego akan menikahinya, tetapi sebagai istri kedua.


"Nona, di belakangmu," teriak Lego, kala Somi terdiam melamun.


Somi menoleh, serangan tertuju padanya. Lego tidak membiarkan ini, ia menjulurkan tangannya, mengeluarkan sihir, untuk melindungi Somi.


Pedang yang mengarah ke Somi akhirnya patah dan jatuh. Somi benar-benar syok. Ia menghela nafas lega ketika sedikitpun pedang itu tidak menyentuhnya.


Lego sontak melepaskan genggamannya, ia berlari menghampiri Somi yang berjarak darinya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya khawatir Lego.

__ADS_1


Somi mengalihkan pandangannya. Lego tertampak di samping kanan dengan wajah khawatir.


"Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.


Lego menghela nafas lega. "Syukurlah. Aku sangat khawatir, seharusnya kau waspada, Nona."


Kali ini kecemburuannya pindah ke Selina. Ia sedih ketika Lego meninggalkannya demi Somi, yang bukan istrinya. Meskipun ia mengizinkan Lego untuk menikahi Somi, tapi rasa cemburu ini hadir padanya.


"Siapa yang menyerang?" tanya Somi.


Ia tidak menghiraukan ucapan Lego yang mengkhawatirkannya. Pikirannya lebih fokus kepada serangan.


Seketika suara angin bergemuruh, tapi yang datang bukan angin, melainkan Jwiyu. Langkah kaki cepatnya saja seperti angin, apalagi sihirnya.


Tatapan mereka saling bertemu. Jarak sekitar satu meter mereka berhadapan. Somi waspada, ia sudah siap jika Jwiyu menyerang.


Pandangan Jwiyu mengalih, di mana Selina berada jauh dari Lego. Segera ia berlari cepat ke arah Selina, membawa Selina pergi.


"Selina," teriak Lego.


Lego mendelikkan matanya, begitupun Somi.


"Senior, tolong aku," teriak Selina. Semakin kecil suaranya karena Jwiyu membawa jauh Selina.


Tidak tinggal diam. Lego mengejar Jwiyu, memakai sihirnya. Begitupun Somi, tetapi dia ketinggalan.


Hingga Lego berhasil menyamakan posisinya, ia membantut pergerakan Jwiyu.


"Lepaskan, Selina," titahnya.


Jwiyu gusar, ia mengerutkan kedua alisnya bingung. Harus memilih jalan mana?


"Senior, bantu aku," teriak Selina. Rasa ketakutan itu selalu muncul padanya. Terutama pernah dilecehkan Rindosaka, hal itu membuatnya semakin takut.


Wajah sayu Selina begitu terpampang. Lego mengerti, tatapannya begitu mengasihani Selina.


Tanpa ada kata, Jwiyu menghindari Lego, ke arah barat. Namun, Lego berhasil menghadangnya. Kembali ke timur lagi, Lego berhasil menghadangnya lagi.


Satu kali Lego memberikan sihir melalui tangannya, langsung mengenai Jwiyu. Selina terlepas dari tangan Jwiyu, sontak ia berlari, ke pelukan Lego.


Jwiyu mengerutkan keningnya, ia terjatuh karena sihir Lego. "Bagaimana mungkin? Sekuat apa dia?" batin Jwiyu.


Sedangkan Selina, ia merasa lega ketika sudah di pelukan Lego. "Kau baik-baik saja? Jangan takut," tanya Lego sembari mengelus punggung Selina.


Kebetulan Somi datang, ia melihat sikap perhatian Lego lagi terhadap Selina. Rasa cemburunya kembali muncul, kesekian kalinya ia menahan cemburu.


Jwiyu perlahan bangkit, ternyata bukan main. Sihir Lego mampu melukai dadanya. Saat ia bangkit, dadanya merasakan sakit hebat. Entah organ mana yang Lego rusak.


"Sial. Dia tahu kelemahanku," batinnya lagi.


Lego menatap tajam Jwiyu, begitupun dengan Jwiyu. "Berdirilah di belakangku, Selina."


Selina mengangguk, segera ia melepaskan pelukannya, berjalan berdiri di belakang Lego.


"Rencana Rindosaka tidak akan membuatku lumpuh. Pergerakanmu saja mudah terbaca, Jwiyu," ucap Lego tajam.


Jwiyu tersenyum devil, "Kau yang tidak mengerti dia, Legojanha. Aku ke sini bukan untuk menculik Selina,"


Jwiyu menjeda ucapannya. "Melainkan memberinya tempat yang aman, agar Rindosaka tidak mengetahui keberadaannya."


Lego menaikkan kedua alisnya. Bingung? Ya. Apa Jwiyu memberontak?


Bukan hanya dia, bahkan Selina sendiri terkejut. Jwiyu yang setia, tetapi saat ini, ia seolah-olah memberontak dan memihak Lego.


"Siasat apalagi ini?"


"Ini bukan siasat. Terserah kau mau percaya padaku atau tidak. Aku sudah memberitahumu."


Jwiyu menjeda ucapannya. "Jika kau ingin Selina tidak diketahui Rindosaka, pergilah ke sungai muara. Terdapat gubuk kecil di sana, aku membuatnya."

__ADS_1


Lego masih dengan rasa bingungnya. "Kenapa kau melakukan hal ini. Kau memberontak?"


"Memberontak? Bisa dikatakan ya. Akan tetapi, aku masih butuh informasi. Kau bisa menafsirkannya, Lego."


Itu menjadi ucapan terakhir Jwiyu. Jwiyu pergi, melangkah perlahan. Ia tidak bisa melakukan sihir karena tubuhnya tidak stabil.


Lego mengerutkan keningnya. Motif yang sebenarnya, ia tidak tahu. Bagaimana Lego mengikuti saran Jwiyu?


"Senior, aku begitu takut. Apa Rindosaka akan menggangguku lagi?" tanya Selina. Tangannya menggenggam erat lengan Lego, karena rasa takut.


"Tenanglah, Selina. Kita akan melindungimu," timpal Somi, setelah berjalan menghampiri mereka.


Selina menoleh kepada Somi, masih dengan tatapan sayu karena rasa takut.


"Sebenarnya kenapa Rindosaka mencarimu, dan…dia bahkan ingin sekali menculikmu?" tanya Somi.


Selina merenggangkan genggamannya. Ia memandang tanah yang ditumpangi dedaunan, berpikir sejenak.


"Sebenarnya,…dia menginginkanku. Maaf aku tidak bilang dari dulu, Senior," ucapnya sambil mengalihkan tatapannya kepada Lego.


"Mungkin kau dalam bahaya jika Rindosaka tahu bahwa aku sekarang istrimu," lanjutnya.


"Sejak kapan?" tanya Somi.


Pandangan Selina beralih lagi ke Somi. "Sudah lama. Ayah dan ibuku menawarkanku kepada Rindosaka, tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin menikah dengan pria tua, maka dari itu aku tidak pernah ingin kembali ke kampungku."


"Orang yang mengejarku dulu, itu bukan perampok, melainkan pengawal kerajaan. Aku begitu takut. Beruntung aku menemui Senior Lego. Aku merasa aman dengannya,"


"Lalu kenapa kau bertahan di pemukiman kami, padahal di sini lebih dekat dengan Rindosaka?" tanya Lego.


"Aku bertahan karena Senior. Dari awal pertama kali bertemu, aku menyukaimu."


Deg,


Rasa cemburu Somi lagi, yang tertahankan oleh ego.


Somi dan Lego saling melirik. Tatapan setianya masih kepada Selina.


"Aku minta maaf kepada kalian. Mungkin jika Rindosaka tahu, kalian dalam bahaya."


"Tidak akan terjadi apa-apa. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Selina. Aku akan menjagamu," ucap Lego sembari mengelus puncak rambut Selina.


"Ya. Bukan Lego saja. Aku juga akan menjagamu, Selina," timpal Somi.


Mereka tersenyum layaknya keluarga. Keakraban sepertinya dimulai dari sekarang.


......................


"Maaf, Yang Mulia. Kami tidak menemukan mereka bertiga di sana. Hanya ada gubuk sisa,"


Sreet,


Pedang itu menusuk, secara sengaja, oleh Rindosaka. Perlahan tubuh pengawal yang memberitahukan informasi, meninggal di tempat.


Rindosaka sudah memanas. Tatapannya begitu keras dan tajam. Apalagi lapangan ini begitu panas, ditambah hawa panas dalam tubuhnya.


"Sial. Tidak adakah yang bisa kuandalakan dari semua pengawal Mettadik. Semuanya terus memberiku kekecewaan," teriak kemarahannya.


Grodki melangkah maju, berada dekat di belakang Rindosaka.


"Yang Mulia, sebaiknya anda menghentikan tindakan ini. Pengawal kita perlahan mengurang jika anda……akh."


Perkataan Grodki terpotong ketika Rindosaka mencekik lehernya. Wajah Grodki memerah, seolah akan mati. Namun, Rindosaka segera melepaskan cekikkannya di leher Grodki.


Nafas Grodki tersendat-sendat setelah dilepaskannya cekikkan Rindosaka. Ia memegang leher dengan Kedua tangannya.


"Sial. Tidak tahu balas Budi," batinnya. Tatapan tajamnya mengarah ke Rindosaka.


"Beritahu Dev, dia harus memulainya." Teriak Rindosaka.

__ADS_1


__ADS_2