Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Perubahan Sikap Dev


__ADS_3

"Oh kau Lego. Kukira siapa?"


"Kemarilah,"


Menciptakan seni di senjata, profesi ini baru Dev luncurkan. Tangannya mengasah titik tajam senjata. Terdengar suara hunusan membuat telinga linu.


Lego menghampiri. Tubuhnya ia dudukkan di kursi kayu, samping Dev. Mata murni meneliti setiap hunusan pedang Dev.


"Ukiran ini begitu unik, zio Dev akan mengirimnya ke mana?" tanya Lego.


Dev menaikkan senyumannya, "Mettadik memesannya. Untuk menarik hati raja, aku membuat ukiran bertuliskan logo Mettadik di ujung pedang ini."


Lego mengangguk pelan. "Ini terlihat cantik,"


"Ya, ini khusus untuk kerajaan. Untukmu aku kehabisan stok. Maka dari itu aku tidak bisa membuatmu jualan."


"Tidak masalah. Aku ke sini bukan untuk mengambil barang, Zio."


"Lalu untuk apa?"


Lego terdiam sejenak. Senyumannya tidak begitu lebar. Perkataan selanjutnya yang akan Lego bicarakan membutuhkan ketenangan.


"Zio, apa kau tahu raja sebelum Rindosaka?" tanya Lego.


Dev menghentikan hunusan pedangnya. Seakan ia memiliki ketersembunyian kata untuk dinyatakan. Dev menoleh dengan tatapan sulit teebaca.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Dev.


Tatapan itu bertemu dengan tatapan Lego. "Zio Dev hari ini berbeda. Dia lebih dewasa dan serius," batin Lego.


"Aku ingin tahu. Karena Zio sudah lama di wilayah Janha, aku bertanya padamu."


Dev mengalihkan tatapannya. Kembali dengan pedangnya, kini berganti dengan ceruti.


"Sebelumnya Raja Janhi yang memimpin Mettadik. Karena terjadi pemberontakan, Mettadik harus kehilangan Raja Janhi," katanya.


Dev mengangkat ceruti, mengamati setiap sudut senjata buatannya.


"Siapa yang memberontak?" tanya Lego.


Dev menghentikan perputaran jarinya di ceruti itu. Tatapannya mengalih, sudut matanya melirik Lego sejenak.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini? Sebelumnya kau tidak ingin tahu mengenai Mettadik," ucap Dev tanpa menoleh.


"Kenapa aku merasa zio Dev menyembunyikan sesuatu."


Dev kembali menghentikan kegiatannya. Kali ini ia meletakkan senjatanya. Tubuhnya masih menghadap lurus ke depan. Dev menunduk sejenak.


"Apa yang ingin kau lakukan jika aku memberitahu siapa pemberontak itu?"


"Zio Dev. Kita sudah bersama selama sepuluh tahun. Kau merawatku, menjagaku dan memberiku pendidikkan ilmu. Aku akan bercerita untuk zio, menyangkut aku dan Mettadik."


Dev menoleh menatap Lego.


"Antara Roem Janhijanha, Rindosaka dan aku. Aku sedikit mengetahui jati diri Rindosaka. Namun, tidak dengan sifat dan karakternya," lanjut Lego.


Dev mendatar tak menyangka. Sedikit masuk akal dan nyambung. Apa yang Lego ketahui? pikirnya.


"Ini menjadi rahasiaku, tapi aku menceritakannya pada zio. Aku tidak ragu denganmu,"


"Kau---putra Raja Janhijanha?" tanya Dev disertakan ekspresi datar dan keingintahuan.


Lego kaget. Terdiam sejenak mengerutkan keningnya.


"Bagaimana zio bisa menebaknya?" batin Lego.


"Katakan Lego," gertaknya.


"Ya. Tapi bagaimana zio bisa tahu,"

__ADS_1


Pupil mata Dev membelalak tak percaya. Ia berdiri, memundur tak menyangka. Pemandangan aneh untuk Lego. Tidak bisa dikatakan bahwa Dev terkejut.


"Zio terlihat waspada padaku," batin Lego.


Sudah cukup merasa gelisah. Dev memalingkan tatapan dari Lego. Ia memegang dagu, mendecak pelan.


"Zio kau kenapa?" tanyanya.


"Pulanglah. Aku akan menemuimu nanti malam,"


"Tapi zio--"


"Patuhlah. Pernyataanmu membuatku syok. Kita bisa bicarakan ini nanti malam."


Tidak bisa banyak berbicara lagi. Kegelisahan Dev terasa oleh Lego. Sikap Dev membuat Lego yakin jika sesuatu yang tersembunyi ada di diri Dev. Singkatnya Dev tahu sesuatu.


Kaki kanan melangkah pertama diikuti kaki kiri. Dev menatap kepergian Lego. Tatapannya tidak menggambarkan sosok Dev. Mata itu keras, kebencian hadir dalam dirinya.


"Bagaimana bisa aku merawat putra pembunuh sepertimu," gumamnya penuh penekanan.


......................


Aula Utama,


Terlonjak dari terduduk ketika Jwiyu mengetahui siapa pemuda misterius yang memiliki kekuatan tinggi itu.


"Katakan siapa dia?"


"Yang Mulia, pemuda itu adalah Lego. Sekali hentakan tangan dan kaki, dia menghancurkan Kerajaan Lembuh," jawab Jwiyu.


Dia terduduk di kursi kayu roda. Karena kondisi belum sembuh, Jwiyu harus menerima perawatan beberapa hari setelah perang Lembuh. Luka memar masih terlihat dan menyakitkan.


"Lego," gumam raja. Meskipun tidak terlalu ingat, tapi wajah Lego sedikit terlintas


"Aku sangat yakin pemuda itu adalah dia. Dia pernah menolak rekrutan Panglima sebelumnya."


"Ya, aku tahu Yang Mulia. Tapi--saat itu sihirnya sangat kuat, berasal dari Lego."


Sang raja terdiam berpikir.


"Kira-kira apa yang harus kulakukan, Jwiyu?"


"Tentu membawa Lego ke istana. Dia harus mengaku di hadapan kita semua, bahwa dia adalah putra Roem Janhijanha."


Sementara Lego sangat menyembunyikan sihirnya dari anggota kerajaan. Sebelum mendapatkan tiga seorce of strength, Lego harus sembunyi.


Terlintas rencana memiliki putra demi anugerah dewa. Apakah ini harus? Tapi jika untuk kerajaan, apapun itu ia harus melakukannya.


"Selina," ucapnya normal dibalik pintu gubuk Selina.


Sudah lewat janji Lego untuk menjemput Selina lima hari lalu. Peperangan menjadi alasan keterlambatannya.


Ceklek,


Pintu gubuk terbuka. Selina tertampak di hadapan Lego, tersenyum cantik serta wajah lugu nan lembut.


"Senior,"


Lego tersenyum kecil membalas Selina. "Hari ini aku akan membawamu ke rumahku," katanya.


Selina tersenyum malu, ia mengalihkan tatapannya sejenak. Jemarinya memilin pakaian yang ia kenakan.


"Apa kau akan menepati janjimu?" ucapnya menahan rasa malu berbumbu bahagia.


"Ya. Aku akan menikahimu segera. Bersiap-siaplah, aku menunggumu di sini."


"Baiklah."


SKIP

__ADS_1


Selina keluar gubuk. Tangannya menggenggam ransel kain berisikan pakaian. Sebelum pergi, gubuknya ia kunci.


Lego yang terduduk di atas kursi kayu, sontak berdiri menunggu Selina mengunci gubuk. Selina menghadap Lego.


"Biarkan aku yang membawa ini," ucap Lego sembari meraih ransel kain di genggaman Selina.


"Terimakasih,"


"Mari," ucap Lego.


Mereka berjalan bersama layaknya pasangan.


"Apa kau siap dengan pernikahan ini, jika tidak. Tidak masalah untukku," ucap Lego memecahkan keheningan di tengah perjalanan.


Selina menoleh sejenak. Senyumannya tidak pernah luntur sejak langkah mereka dimulai.


"Aku sudah sangat yakin, Senior. Ini bukan desakan maupun paksaan. Aku jujur menyukai senior sejak awal," jawab Selina.


"Sebenarnya,--aku membutuhkan seorang keturunan."


Selina sontak menoleh. Secepat itu mereka akan melakukan hubungan ranjang?


"Aku tahu usiamu masih muda, tapi aku harus memiliki seorang putra untuk tujuanku. Aku tidak memanfaatkanmu, ini karena terdesak. Aku akan bertanggung jawab. Kau akan tetap jadi istriku sampai akhir hayat," lanjut Lego.


Sesekali Selina menatap Lego. Pernyataan Lego berat untuknya. Tapi tidak masalah jika Lego tidak akan lepas darinya. Apa pun untuk Lego, ia akan berikan karena cintanya sangat besar.


"Aku pasti gila karena ini terlalu cepat untuknya," batin Lego.


"Apa kamu bersedia memberikanku keturunan dengan cepat?"


Selina terdiam sejenak, bukan berarti ia sedang memikirkan antara iya atau tidak.


"Aku siap, Senior. Aku tidak tahu kenapa kamu begitu tergesa-gesa. Tapi aku yakin, kau orang yang tidak bisa mengingkari janji," kata Selina yakin.


Langkah Lego terhenti begitupun Selina. Ia menoleh, tersenyum kecil untuk Selina. Tak berlangsung lama, Lego maju, memberikan pelukan untuk Selina.


Degup jantung Selina seolah-olah akan ke luar mendobrak dadanya. Ini pelukan yang ia inginkan. Bersandar dengan pria tepat, yang menjaga dan bertanggung jawab.


"Terimakasih. Aku akan menjagamu sebagi istri pertama dariku,"


Perlahan demi perlahan hingga sampai di rumah Lego, tepat dibalik pintu rumah, Lego mengetuk.


Tidak ada yang merespon. Artinya Somi tidak ada di rumah. Lego membuka rumah itu, tidak dikunci. Mereka berdua masuk. Penglihatan Selina menelusuri setiap sudut rumah modern milik Lego.


Terlihat luas dan kosong. Diibaratkan dengan hari yang hampa.


"Aku sudah bicara denganmu bahwa di sini juga rumah Somi. Jadi, akrablah!"


Selina mengangguk patuh.


"Kamarmu di sana." Jaei telunjuk itu mengarah ke kamar Lego.


"Di situ juga kamarku. Karena kita akan menikah, tidak masalah jika sementara kita sekamar."


Ceklek,


Di tengah-tengah Lego bercakap, pintu terbuka menampakkan Somi. Tubuh lusuh serta keringat membanjiri wajahnya. Lego tahu jika Somi baru pulang menemui ayahnya.


"Dia yang Lego maksud, ya?" batin Somi ketika matanya tetuju pada Selina.


Somi melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sama sekali ia tidak menghiraukan Lego dan Selina. Karena lelah, ia memilih masuk kamar untuk istirahat.


"Dia senior Somi?" tanya Selina.


"Ya. Aku dan dia bukan siapa-siapa. Kami hanya kebetulan bersama," jawab Lego.


Tak terlintas pikiran negatif. Selina sepenuhnya percaya kepada Lego.


"Istirahatlah Selina,"

__ADS_1


__ADS_2