
"Maafkan aku, karena ketakutanku terhadap Rindosaka, kalian harus tinggal di gubuk kecil ini."
Meski Lego dan Somi tidak mempermasalahkan ini, Selina tetap merasa tidak enak hati. Ia berpikir bahwa dirinya egois, padahal mereka tidak berpikir seperti itu.
"Jangan merasa bersalah seperti itu. Aku bertanggung jawab atas keselamatanmu. Bukankah aku sudah berjanji?" Lego menghampiri Selina yang terduduk di atas kursi kayu, Somi di sampingnya, tapi berbeda kursi. Setelah ia mengunci pintu masuk gubuk ini.
"Di sini ada dua kamar, kau tidak perlu khawatir. Aku akan tidur di kamar belakang," timpal Somi.
"Tidak, Nona. Kau tidur di kamar depan saja. Kamar belakang belum dibersihkan," imbuh Lego.
Jujur, Selina Tidak ingin di kamar belakang. Namun, Lego yang menyarankannya, ia bisa apa?
"Tidak. Sementara aku tidur di kursi ini, besok aku akan membersihkan kamarnya," jawab Somi.
Tatapan Lego mengalih ke kursi yang di duduki Somi. Apa pantas untuk dipakai tidur? Benar-benar tidak layak, apalagi keras.
"Kalian masuklah ke kamar. Jangan hiraukan aku," ucap Somi.
"Aku akan membersihkan kamar belakang agar kau bisa tidur di sana," imbuh Lego.
Baru satu langkah. Somi berkata, membuat Lego terhenti. "Aku tidak ingin merepotkanmu, kalian pengantin baru, aku tidak ingin mengganggu, ini tidak masalah," jawab Somi.
"Tapi---"
"Lego, patuhlah. Aku lebih tua darimu." Tatapan serius muncul dari Somi.
Lego terdiam, mengalah. "Baiklah."
Lego mengalihkan penglihatannya kepada Selina. "Selina, mari."
Selina mengangguk. Tubuhnya beranjak, diikuti Lego. Perlahan pintu kamar tertutup, meninggalkan Somi.
Lego terduduk di atas ranjang. Ia mengerutkan keningnya berpikir, disertai lamunan.
Selina memegang bahu Lego, "Kau mengkhawatirkan Senior Somi?"
Sontak pandangannya mengalih ke Selina. Tatapannya berjalan, melihat tangan Selina di bahunya. Kemudian memegang tangan Selina di bahunya.
"Ya. Itu karena di gubuk ini sangat dingin," jawab Lego.
"Senior Somi sudah mengatakan, dia baik-baik saja di sana."
Lego tersenyum kecil. Ia menarik pelan Selina, agar posisinya sama dengan Lego.
"Kau benar." Tangannya mengelus punggung tangan Selina.
Mereka terdiam. Saling tersenyum. Lego terlihat senyum terpaksa, mungkin karena tidak ada cinta di antara mereka. Pernikahan yang mengikat hubungan mereka, kemungkinan Lego hanya sebatas bertanggung jawab.
Tangan Lego bangkit, ibu jarinya mengelus sudut bibir Selina. Tatapan Selina mengikuti pergerakan tangan Lego.
"Apa kau siap, Selina? Kamu sudah tahu, bukan?" tanya Lego.
Selina mengerti. Sebelumnya ia bersedia, dan berjanji akan memberikan keturunan dengan cepat.
Selina mengangguk senang hati. Bagaimanapun, mereka sudah sah. Tidak masalah untuk mereka melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri.
"Kau berhak atas diriku, Senior. Lakukanlah," ucapnya.
Lego terdiam sejenak. Kemudian wajahnya maju, mendekat ke bibir Selina. Mata Selina terpejam, seolah sudah siap dengan apa yang akan dilakukan Lego.
Sehingga bibir itu saling bersentuhan. Lego memperdalam ciu*annya. Gairahnya semakin bertambah ketika permainan terus berlangsung.
"Hah…hmmp."
Ciuman itu terlepas sejenak. Lego menatap Selina lama. Perlahan, Lego menuntun Selina berbaring. Hingga Lego berada di atas tubuh Selina.
Lego mengelus lembut pipi kanan Selina. Tidak lama, ia mendaratkan kembali bibirnya ke bibir Selina.
SKIP
Tengah malam seperti ini Lego belum juga tidur. Setelah hubungan ranjang yang sah, Lego tidak berniat untuk tidur. Hanya menyuruh Selina tidur.
Posisi mereka saling berpelukan, mengenakkan pakaian setelah adegan int*mnya.
Lego menatap langit-langit kamar ini. Di samping kanan, Selina memeluk Lego yang terlentang.
"Bagaimana keadaannya di luar?" batinnya.
Yang dimaksud adalah Somi. Berapa detik ia memikirkan Somi. Hingga perlahan tangan Selina dilepas olehnya. Ia beranjak, meninggalkan Selina yang tertidur.
Setelah pintu kamar dibuka, jelas ia melihat Somi belum tidur, di malam hari seperti ini. Memang matanya terpejam, namun tangannya terus bergerak menepuk setiap anggota tubuh yang digigit nyamuk.
Lego menghampiri Somi, dalam keadaan telanjang dada. "Nona," sapanya.
Merasa ada yang memanggil, mata Somi perlahan terbuka. Ia menegakkan tubuh dalam duduknya. Somi juga heran, kenapa Lego belum tidur.
__ADS_1
"Kenapa kau di sini?" tanya Somi.
Jujur, awalnya dia terkejut ketika tubuh telanjang dada Lego ternampak di hadapannya. Begitu jelas, bidang dan atletis. Ia tidak pernah menyangka bahwa Lego memiliki tubuh bagus.
"Aku mengkhawatirkanmu," jawab Lego singkat.
Tidak. Meskipun terdengar perhatian, Somi tidak bisa luluh hanya dengan ucapan. Ia memalingkan tatapannya, "Apa dia pamer telah melakukan s*x?" batin Somi.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa," jawabnya tegas. Tatapan itu saling bertemu kembali.
"Aku tidak bisa tenang jika kau belum tertidur."
"Kembalilah ke kamarmu. Jika Selina melihat ini dia akan cemburu." Somi memindahkan pandangannya lagi.
"Selina sudah tidur."
Lego mendudukkan tubuhnya di kursi samping Somi. Pada akhirnya di malam-malam begini, mereka saling berbicara.
Angin malam menghembus, menembus gubuk yang mereka tempati. Namun, tidak terasa oleh Lego, meskipun ia tidak memakai baju atasan.
"Menurutmu bagaimana dengan orang tuamu, mengenai pernikahan kita," ujar Lego. Somi sontak menoleh. Agak risih rasanya jika terus membahas pernikahan.
Bukannya menjawab, Justru ia balik bertanya. "Apa kau sudah berbicara dengan Selina, bahwa kita akan menemui ayahku besok?"
"Belum. Selina pasti berpikir, kapan kita memiliki rencana ini."
"Katakan saja dengan jujur."
Lego menghela nafas. "Nona, apa kau mengerti pernikahan tanpa cinta?" tanyanya sembari menoleh ke Somi.
Somi menaikkan kedua alisnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Seolah Somi tidak suka.
"Aku sangat terdesak. Aku menikahi Selina bukan karena cinta, melainkan karena aku butuh."
Somi semakin mengerutkan alisnya. Ia tak habis pikir Lego menikahi Selina hanya memenuhi hasratnya.
"Kau brengsek. Bagaimana jalan pikirmu? Jika kau menikahinya hanya karena hasrat nafsumu, sebaiknya jangan. Kau menyakitinya, Lego," sewot Somi.
Lego mendelik bingung. Somi salah mengartikan. Bukan Mengenai nafsunya, yang dimaksud Lego bukan seperti itu.
"Kau salah paham, Nona. Aku tidak segila itu."
"Lalu apa?"
"Karena aku menginginkan seorang anak."
"Keturunan Jangan tidak boleh terlambat. Apalagi mengenai perebutan kekuasaan, aku harus memiliki penguat mental. Yaitu dengan adanya seorang anak kandung."
"Selama ini ibuku masih hidup, dia berada di lingkungan istana, dengan wajah baru. Meskipun saat ini masih aman, entah di kemudian hari."
"Keturunan bisa menjadi sumber kekuatan. Terlebih ketika kekuasaan jatuh ke tangan siapa lagi, jika bukan ke keturunan kita."
Lego menoleh, memandang Somi. Perlahan tangannya meraih tangan Somi. Mata Somi mengikuti pergerakan tangan Lego. Hanya sejenak, tatapannya kembali ke Lego.
Heran melihat tingkah Lego. Ini secara tiba-tiba.
"Aku menemukan cintaku. Meskipun kau menolak, tapi aku tidak bisa menolak."
Somi semakin heran. Pikiran tak terduganya apa akan terjadi? Tingkah dan sikap Lego, ini seolah-olah pernyataan perasaan Lego.
"Nona, aku akan jujur. Ini mengenai perasaanku. Entah sejak kapan aku merasakannya, akan tetapi, berjalannya waktu, perasaan ini kian membesar," ucap Lego.
Somi gelagapan. Sontak ia menarik lengannya dari genggaman Lego, sebelum pernyataan itu terucap.
"A-apa maksudmu, Lego? Jangan bermain-main,"
Lego memandang kecewa. Sejenak matanya melihat tangan yang dihempas Somi. Sedangkan Somi, ia masih gelagapan menghindari tatapan Lego.
"Nona, kau harus mendengar ini. Aku---"
Ucapannya terhenti ketika Somi bangkit dari duduknya. Masih dengan gelagapan, Somi menghindari ucapan yang akan keluar dari mulut Lego.
"Aku ingin mencari udara segar. besok katakan pada Selina, bahwa kita akan ke Lembut untuk meminta restu ayahku," ucapnya tanpa bertatapan dengan Lego.
Setelah selesai, Somi melangkah. Membuka kunci pintu, lalu ke luar gubuk. Secara sengaja Somi menghindari ucapan Lego, seolah ia tahu apa yang akan dikatakan Lego padanya.
Lego menatap kecewa. Bahkan bibirnya menyudut kesal.
"Sepertinya belum tepat," batinnya.
......................
Sinar matahari di pagi hari menelusup gubuk. Rasa hangat ini benar-benar mendamaikan tubuh. Tidak ada ayam yang berkokok, tidak ada suara sepi. Air yang mengalir dari sungai, tidak jauh dari gubuk itu, terus terdengar. Setiap malam, pagi, siang dan sore, tidak henti-hentinya air mengalir.
Tubuhnya bergerak, menggeliat. Perlahan matanya terbuka, menampakkan sosok pria gagah di sampingnya, yang masih menutupkan matanya.
__ADS_1
Ia bangkit. Mulutnya menguap. Senyuman lebar terpampang jelas di mulutnya. Kemudian ia beranjak, turun dari ranjang. Membenarkan bajunya, merias dirinya sejenak. Masih biasa, rambutnya diikat terurai.
Tangannya menepuk-nepuk sang empu yang masih memejamkan matanya.
"Suamiku. Bangunlah," ucapnya.
Perlahan mata itu bergerak, membuka sedikit demi sedikit. Kepalanya bergerak ke arah kiri, memalingkan dari Selina.
"Apa ini sudah pagi?" tanyanya. Matanya masih tertutup.
"Ya. Karena kita tidak menyediakan makanan, aku akan mencari apa yang bisa dimakan," ujar Selina.
Lego membuka matanya, mengusap wajahnya, lalu bangkit. "Tidak perlu. Aku yang akan mencarikannya untukmu. Kau tunggu saja di sini," ucapnya.
Wajahnya menampakkan orang bangun tidur. Bahkan cara bicaranya, nadanya begitu serak.
Lego beranjak, turun dari ranjang secara perlahan. Ia membuka pintu kamar, ke luar dari kamarnya. Diikuti oleh Selina.
"Kalian makanlah. Aku memetik buah-buahan ini di depan sungai," ucap Somi.
Jadi, mereka tidak perlu lagi mencari makanan.
"Senior Somi sudah menyiapkan ini?" tanya Selina.
Selina duduk di samping Somi, begitu pun dengan Lego. Somi berada di tengah-tengah mereka berdua.
"Ya. Makanlah Selina,"
Selina mengangguk. Perlahan tangannya meraih satu apel hijau. Namun, terhenti ketika melihat Lego menaruh kepalanya di bahu Somi. Matanya terpejam.
Meskipun tidak menoleh, tapi itu terlihat dari sudut matanya. Rasa cemburu lagi? Ya.
Somi gelagapan, ia melihat Selina murung. Segera ia mendorong kepala Lego dari bahunya. Sebelumnya Somi terkejut juga, tapi itu tidak masalah. Karena tidak ingin Selina salah paham, ia segera bertindak.
Lego terbangun. Jujur, itu bukan disengaja. Melainkan karena rasa kantuk yang tidak bisa ia tahan.
Selina mengambil apel hijau itu. Bertingkah seolah dia baik-baik saja.
"Senior Somi. Aku makan ya?"
......................
Berjalan menyusuri koridor istana. Mereka melakukannya untuk menemui raja Petro. Di mana pengawal mengatakan bahwa Raja Petro berada di lapangan kerajaan.
Sudah terlihat, Raja Petro sedang berlatih bela diri dengan pedang. Beberapa kayu, di atasnya lilin, mengelilinginya. Sangat hebat dan perkasa.
"Ayah," ucap Somi ketika sudah mendekati Raja Petro.
Petro mengentikan latihannya. Ia menoleh kepada siapa yang memanggil. Senyumannya muncul ketika Somi yang datang menemuinya. Namun senyuman itu harus lumpuh lagi. Tatapannya mengintimidasi, ketika mengarah ke Lego.
Hingga saling berhadapan, "Ayah, aku ingin bicara dengan ayah," ucap Somi.
SKIP
Mahligai kerajaan kedatangan tamu, yaitu Lego. Pria yang di bawa Somi. Hanya ada mereka bertiga di ruangan ini. Karena penting, Petro tidak membawa orang lain, istrinya sekali pun.
"Ada apa putriku?" tanyanya tegas.
Caranya duduk terlihat sangat berwibawa, apalagi ketika sedang memasang tongkat sakti yang menjadi sumber kekuatan raja.
"Dia Lego. Lego yang menyelamatkan kerajaan kita dari serangan Rindosaka," ucap Somi.
Tidak ada reaksi spesial dari Petro. Masih bersikap datar.
"Lalu?"
Somi menghela nafas. "Aku meminta restu ayah untuk bisa menikah dengan Lego."
Petro mendelikkan matanya, terdiam sejenak.
"Tidak setuju. Ayah Tidak setuju, ayah tidak tahu bagaimana sikapnya."
"Bukankah ayah sudah mendesakku untuk menikah. Aku akan menikah dengan Lego,"
"Tidak, Somi. Ayah tidak bisa memberikan restu untuk kalian. Meskipun ayah mengabulkan keinginanmu untuk membatalkan pernikahan dengan Bindusa, ayah tidak akan memberikanmu padanya."
Petro bahkan belum mendengar semuanya dari Somi. Bagaimana bisa ia langsung menolak Lego?
Kemungkinan karena orang asing, Petro tidak bisa memantaunya jika berhubungan dengan orang jauh.
"Ayah, aku---"
"Cukup. Kau ke sini hanya untuk ini? Aku tidak bisa meladenimu, Somi."
Sontak Petro beranjak, menuruni singgasana tempat duduknya.
__ADS_1
"Tapi dia putra Roem Janhijanha."
Petro terhenti melangkah. Ia tertegun ketika Somi mengatakan ini. Jika mengenai Janhijanha, apa Petro bisa merestui?