
"Pergilah sebelum mereka menangkapmu, Paduka."
"Tidak Reduka. Kau harus kembali dengan baik-baik saja."
"Tidak. Pergilah, aku akan merasa bersalah jika Paduka tertangkap oleh pasukan Rindosaka."
Pikiran Lego sangat bimbang. Di antara berbagai situasi ini tidak ada yang bisa dipilih. Reduka yang terluka akibat sihir petapa kerajaan itu sudah sangat fatal saat ini. Sihir yang begitu kuat sampai ia bisa bertahan sampai di sini.
Reduka terduduk lemah disandaran tanah terowongan yang dibuat Lego untuk mengakses ke kerajaan. Luka tanpa darah namun sangat menyakitkan, bahkan untuk seorang Reduka yang sangat sakti sekalipun.
Pada akhirnya Lego membunuh petapa agung kerajaan itu tanpa sengaja. Sihir yang tidak bisa dikendalikan lagi muncul dalam jiwanya saat itu.
Lego yang berjongkok di hadapan Reduka merasa khawatir akan keadaan Reduka yang sangat miris. Di tengah-tengah pikiran yang bingung, seketika Lego teringat bahwa ia pernah menyembuhkan luka Dev, bahkan membangunkan Dev yang sudah mati sekalipun.
Tap tap trak trak
Bunyi langkah kaki yang semakin dekat menghampiri mereka berdua. Sontak mereka menoleh ke arah menuju istana. Belum terlihat ada seseorang, hanya saja bunyi ini membuat mereka semakin was-was.
"Cepat, Paduka. Mereka sedang menghampiri ke sini," ucap Reduka yang masih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Bukan meninggalkan Reduka. Lego justru memejamkan matanya dengan menempelkan tangannya di bahu Reduka.
"Dewa, Reduka adalah utusanmu untuk menemaniku berjuang merebut hak tahta kerajaan," batin Lego.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak bisa melakukan sihir, tapi aku pernah menghidupkan kembali zio Dev. Saat ini, aku ingin rasa sakit Reduka menghilang. Entah sihir apa yang dilakukan pria paruh baya kerajaan itu. Aku hanya ingin dia bisa kembali sehat," batin Lego lagi.
Reduka terheran dengan raut wajah layu. Apa yang dilakukan Lego? Tersirat pertanyaan itu di pikiran Reduka.
Seketika cahaya datang dari bahu Reduka yang digenggam oleh tangan Lego. Lego membuka matanya, sama seperti Reduka. Ia menyaksikan cahaya yang keluar dari tangannya. Lalu cahaya itu padam, mungkin hanya beberapa detik cahaya itu muncul.
Mereka saling menatap seolah tidak menyangka. Apa yang dirasakan Reduka saat ini adalah fresh. Ia seakan tidak ada yang terjadi pada Reduka.
Reduka mengangkat tangannya hanya untuk ia tatap. Penglihatan itu berpindah menatap seluruh tubuhnya. Rasa sakit itu menghilang. Bahkan ini lebih baik, tidak ada rasa lelah dan letih lagi setelah Lego mengobatinya.
__ADS_1
Reduka langsung berdiri tanpa mengalihkan tatapannya dari tangannya. Kemudan ia menoleh pada Lego.
"Itu dia," teriakan seseorang yang membuat mata Lego dan Reduka melirik. Terlihat pada pengawal kerajaan sudah berada tidak jauh dari mereka.
"Ayo Lego," ucap Reduka. Kemudian mereka berlari secepat mungkin agar terhindar dari semua pengawal kerajaan yang mengejarnya.
Sementara kondisi di kerajaan tidak baik-baik saja. Tentu saja. Itu karena aset berharga kerajaan sudah dicuri oleh penyusup. Bahkan petapa sakti kerajaan sampai merenggangkan nyawanya.
Tepat di kuil ini, Rindosaka meluapkan amarahnya kepada komainu atau penjaga kuil. Tidak satu orang, komainu itu berlima.
Rindosaka amat marah kepada komainu kerajaan yang tidak bisa menjaga kuil dengan baik. Bahkan sang raja sudah memberikan senjata yang terbaik untuk komainu gunakan jika seseorang masuk ke kuil kerajaan.
Sroosh
Satu serangan dari Rindosaka yang mengakibatkan para komainu itu terjungkil dan merasa sakit di sekujur tubuhnya.
Ini kemarahan raja sekaligus peringatan untuk komainu yang tidak bisa menjaga kuil. Tentu raja sangat marah karena yang dicuri bukan harga yang murah. Ini seperempat dari kelemahannya. Jika pohon keinginan itu tidak ada di sini, maka riwayat dirinya seperempat akan habis. Anugerah dewa akan semakin surut untuk kerajaan ini.
"Untuk apa kalian kubayar di sini, hah? Main-main?"
"Maaf Yang Mulia Raja, kami berada di luar pintu. Selama kami berjaga, tidak ada yang masuk ke kuil," salah seorang yang menjawab pertanyaan raja.
"Penyusup itu datang dari bawah tanah. Apa kalian tidak merasakan kehadirannya? Lampu berbunyi remang, bukan?"
"Akh. Dasar tidak berguna,"
Sreeestt
Satu sihir lagi ia berikan untuk para komainu itu. Sampai nyawa para komainu itu habis di tangan raja. Terdapat Jwiyu dna Grodki yang menyaksikan pembunuhan ini.
Raut wajah raja yang gusar menjadi pemandangan Jwiyu dan Grodki. Raja secara terus-menerus mondar-mandir tidak jelas.
Rindosaka yang tidak tenang seperti merasa ketakuatan. Tangan yang mengepal dan pikiran yang tidak berada dalam satu jalur.
__ADS_1
"Siapa yang bisa membunuh petapa agung kerajaan?" gumam raja.
Jwiyu dan Grodki mengikuti pikiran sang raja. Wajah mereka menjadi serius, seolah kerajaan sedang diterpa masalah yang bertubi-tubi.
Keanehan yang terjadi membuat mereka menyangka bahwa ini adalah suatu ancaman untuk kerajaan.
"Hanya satu orang yang bisa melukai petapa agung kerajaan," ucap Grodki dengan yang ia alihkan kepada Rindosaka.
Raja menoleh kepada Grodki dengan pertanyaan 'siapa'.
"Pelaku meninggalkan jejak tanda bulan sabit yang hangus ditubuh petapa. Kemungkinan ini ada hubungannya dengan badai lalu,"
"Peramal itu pernah mengatakan bahwa akan ada tanda sakti di setiap jejak pemuda itu. Ada benarnya jika tanda itu adalah bulan sabit,"
...----------------...
Rencana yang melelahkan namun ini berjalan lancar. Baru di tahap awal sudah selelah dan seberbahaya ini, apalagi di tahap selanjutnya.
Sesampainya di gubuk yang Somi tempati, Lego membuang rasa lelah sejenak dengan terduduk santai.
Keringat yang sudah membasahi tubuhnya, bahkan pakaian hitam dan topengnya yang sudah ia lepas. Ia kembali dengan memakai pakaian lama, yang hanya memperlihatkan tangannya.
Rambut pirang style two block itu semakin cantik karena keringatnya. Kulit putih dengan keringat ini sangat menawan untuknya.
Bukti dari rencana awalnya adalah nafas Lego yang ngos-ngosan akibat berlari menghindari para pengawal kerajaan. Sementara Reduka sudah menghilang kembali ke tempat asal.
Tatapannya ia alihkan pada pohon permintaan yang berada di sampingnya. Kemudian ia meraih benda itu, teringat ketika ia ingin mengambil benda itu. Sangat sulit hingga harus menguras tenaga.
Saat pertama kali disentuh orang sembarangan, pohon itu mengeluarkan sengatan listrik. Lego bingung harus dengan cara apa ia mengambil pohon itu.
Bukan pohon besar, melainkan pohon permintaan ini sangat kecil. Normal untuk digenggam tangan, serta daunnya bukan berwarna hijau. Melainkan berwarna emas kecoklatan. Ini merupakan ciri bahwa pohon kecil ini bukan pohon sembarangan.
"Seperempat kelemahan Rindosaka sudah kumiliki," gumamnya.
__ADS_1