
Lego berjalan di tengah hutan menuju pasar perdagangan. Tidak, sebelumnya ia menemui zio Dev. Pembuat senjata, Lego yang menjualnya.
Tiba-tiba cahaya siang hari kedatangan gelap. Serpihan angin terus berjalan mengelilinginya, mengibaskan pepohonan yang berkeringat.
Di tengah-tengah perjalanan, ia terhenti. Lego segan untuk terus melangkah, Seperti pertanyaan untuknya.
"Peristiwa apa ini?" gumamnya. Kedua mata itu menatap langit gelap.
Angin kencang datang tak diundang menyapu dedaunan mati di atas tanah. Lego semakin heran dengan keadaan. Kepalanya bergerak ke kanan kiri belakang depan, dengan kehadiran rasa bingung.
"Berdoalah untuk Yang Mulia Legojanha. Berdoalah!"
Telinganya mendendang, ia waspada. Pupil mata hitam lekat membelalak ketika namanya disebut. Tentu bukan suatu kebiasaan. Lego pikir mustahil jika alam semesta memang memujinya. Namun, apa pun yang terdengar olehnya, itu adalah nyata.
"Siapa kau? Kenapa kau menyebut namaku?" teriak Lego menatap langit.
Bunyi yang menggema itu berasal dari langit. Tidak semudah itu Lego percaya. Tidak ada wujud yang jelas, seperti teka-teki.
Awan-awan berjalan cepat menggantikan posisinya. Malam merampas cahaya matahari di siang hari ini.
"Berdoalah untuk Yang Mulia kita yang sudah tertampak. Berdoalah"
Sekali lagi berbunyi. Kali ini bukan hanya Lego yang mendengar. Seruan itu sampai ke penjuru negeri Janha. Membuat semua orang bergetar takut. Pemuja tanpa wujud. Semua merasakan getaran sumber bunyi pemujaan alam semesta.
Keadaan sebelum semesta memuji Lego, kerajaan damai dan baik-baik saja. Hingga putaran angin masuk menerobos dinding pertahanan Mettadik.
Sejauh ini kerajaan bisa menahan badai apa pun. Namun, tidak untuk kali ini. Sang raja terlonjak dari duduknya, matanya mengerut tegas. Angin dengan puing-puing pasir kotor menghiasi penglihatannya.
Tamu kali ini bukan keuntungan. Cahaya siang yang berseri, hilang ditelan gelapnya malam. Licik. Ya, alasannya adalah, malam bukan waktunya untuk tampil.
"Apa ini? Kenapa anginnya sangat kuat sekali?" ujar sang raja.
Prang, preng, prong
Kendi antik berjatuhan. Sekali lagi perasaannya terkejut dengan terjatuhnya barang antik kerajaan, bahkan pecah.
Petinggi atau mentri-mentri yang menjadi pendamping raja, dimana raja terduduk di kursi singgasana terkejut. Semua sontak berdiri waspada kala angin belum berhenti.
"Yang Mulia, sepertinya ini bukan sembarangan. Pertama kali kerajaan ini mengalami badai sekencang ini."
Pelayan dapur sampai pengawal, semuanya ricuh.
__ADS_1
"Berdoalah untuk Yang Mulia yang sudah tertampak. Berdoalah"
Tak henti-hentinya mata itu membelalak. Tubuhnya gemetar, waspada, dan rasa takut menenggelamkannya.
Seolah tidak mudah dimengerti, ini bukan badai alami dari perkiraan cuaca. Melainkan seperti badai peringatan. Peringatan dimana pertikaian akan terjadi.
"Apa ramalan akan benar?" batin sang raja.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menerima. Mengingat ramalan bahwa ada seseorang yang akan membunuhnya.
"Tidak. Tidak mungkin," batinnya lagi.
"Aku harus mencari tahu lagi tentang kebenaran ini," batinnya lagi.
Suara ricuh dari pelayan dan pengawal di bawah masih terdengar jelas oleh mereka. Mereka berilmu tinggi, mencoba mengehentikan badai itu. Kekuatan berbeda menjadi andalan untuk membela diri mereka.
Sementara sang raja tenggelam dalam lamunan. Sihir penenang, membuat tubuhnya tenang tak tergoyahkan.
......................
Swoosshh
Dalam satu detik Lego dihadiahkan seseorang dihadapannya. Seorang dewi yang cantik bak bidadari tersenyum dihadapannya. Mereka saling tatap, terdiam dengan tenang di tengah-tengah badai.
Pakaian bersih dan rapi layaknya pengantin. Bukan kebaya, melainkan hanbok emas. Mata bulat coklat, hidung mancung dan bibir tipis merah merona. Menggambarkan kesempurnaan seorang wanita.
Kening terhalangi poni rambut Lego mengerut.
"Siapa kau?" kata yang keluar dari mulut Lego, tanpa memberikan senyuman seperti wanita dihadapannya.
"Namaku Reduka. Aku akan mendampingimu sebagai pengawal di usiamu yang ke-20 tahun."
Bingung dan heran, ini secara tiba-tiba.
"Pengawal?"
"Aku tidak membutuhkan pengawal. Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Kau akan mengetahui semuanya, Yang Mulia Lego. Dewa Vrede mengirimku untuk mengawasi dan menjagamu sampai kau berada di kursi singgasana milikmu."
"Apa semua ini? Sebenarnya apa yang sudah kulakukan," batin Lego.
__ADS_1
"Aku akan muncul ketika usiamu sudah mencapai duapuluh tahun pas. Saat Ini kita cukup sampai di sini, Yang Mulia."
Dengan menundukkan kepala, Reduka cepat pergi meninggalkan Lego. Seperti tadi, dalam satu detik. Jejak yang membingungkan untuk Lego. Memang, penampilan Reduka meyakinkan Lego bahwa Reduka bukanlah manusia biasa. Akan tetapu, gelar itu membuat Lego tak habis-habisnya berpikir.
"Yang Mulia?" batin Lego.
Seperginya Reduka, badai berhenti. Rasa takut semua orang di tempat lain, menghilang. Semuanya kembali tenang. Begitupun warga kerajaan.
Perkampungan sangat berantakan akibat badai, merusak apa yang ada di istana, perkampungan dan harta milik warga.
Sebelum Lego mendapatkan jawaban dari kejadian barusan, berdatanganlah hewan-hewan buas, penunggu hutan ini. Awalnya Lego waspada. Ia pikir harimau-harimau beserta hewan lainnya akan menyerang.
Bukan hanya hewan buas, burung-burung datang, berkicauan di udara seakan menyerukan nama Lego. Tak disangka semua hewan bersujud padanya. Tidak hanya lima atau sepuluh hewan, melainkan banyak.
"Apa maksud semua ini? Kenapa aku dihormati seperti raja. Padahal bukan aku rajanya," gumamnya.
"Apa ini menyangkut usiaku? Kenapa semuanya berbicara aku akan tahu di usiaku duapuluh tahun pas."
"Kenapa aku tidak bisa tahu sekarang?"
Lego mengacak-acak rambut two blocknya gusar. Rasanya geram, pertanyaannya tidak memiliki jawaban. Harus menunggu lima hari untuk menginjak usia duapuluh tahun.
Sementara di kerajaan, Raja Rindosaka masih memberi pikiran berat. Butuh pemikiran yang lebih dalam lagi karena kejadiannya diluar nalar. Logika harus berjalan, layaknya perjuangan.
Setelah badai berhenti, ia enggan mulut itu terus bertasbih dengan masalah. Peramal yang mengingatkan kejadian, sudah terjadi.
"Yang Mulia. Saya yakin ini ada kaitannya dengan perkataan peramal satu tahun yang lalu," ujar salah satu petinggi pendamping Raja Rindosaka.
Dia Jwiyu, merupakan penasehat raja. Di usianya yang sudah berkepala lima, Jwiyu masih terlihat sangat fresh. Sejak Raja Rindosaka mulai memimpin, dia setia mendampingi.
Bahkan merupakan pendekar tergolong memiliki ilmu tinggi. Jwiyu sangat sigap ketika peperangan terjadi, tapi apa pun yang ia lakukan, ia memiliki tujuan, bukan karena semata tulus.
"Peramal itu mengatakan bahwa pemuda itu akan muncul di usia duapuluh tahun. Kemungkinan pemuda itu sudah berusia duapuluh tahun," ucap salah satu petinggi raja yang lain.
Dia Grodki, sama seperti Jwiyu. Namun, Grodki menjabat sebagai jurnalis kerajaan. Mereka berdua merupakan kepercayaan Raja Rindosaka. Sama halnya seperti Jwiyu, apa pun yang ia lakukan memiliki tujuan. Termasuk menginginkan imbalan dengan cara manis.
"Ini masih abad ke-8. Ini masih fase baru untuk Yang Mulia. Tidak mamungkinkan bahwa peramal itu berkata bohong," ucap Grodki.
"Semuanya keluar selain Grodki dan Jwiyu." Perintah sang raja.
Semua keluar sesuai keinginan raja. Tidak ada yang tahu apa yang akan raja katakan. Hanya mereka orang terdekat raja sampai saat ini. Karena mereka terlibat dalam penghianatan duapuluh tahun lalu.
__ADS_1
"Yang Mulia--."
"Bunuh setiap pemuda yang berusia duapuluh tahun."