
Hari berganti lagi. Hari ke-5 setelah kejadian di mana Somi sadar.
Kerajaan terlihat baik-baik saja. Tapi tidak dengan Rindosaka. Dia gelisah dan panik, setelah lonceng dan pohon permintaan itu kembali ke tangan Lego.
Ia tidak emosi ataupun murka. Dibalik sikap tenangnya, ia mempunyai rencana licik. Sebelumnya ia menyelidiki kenapa Lego bisa dengan mudah mendapatkan lonceng dan pohon permintaan itu. Jawabannya sudah ada.
Kamar Rindosaka.
"Orang dalam?" gumamnya.
"Iya, Yang Mulia. Sepertinya ada orang dalam, tidak mungkin Lego bisa masuk secara mudah ke istana ini. Terowongan dahulu sudah diberi racun mematikan, dan penjagaan kuil di perketat," Jwiyu berasumsi.
"Siapa orang dalam itu?"
"Salah satu pelayan kerajaan. Hanya pelayan, pengawal, dan pendeta yang diperbolehkan masuk. Terutama pelayan dapur, pengantar makanan,"
Rindosaka terdiam berpikir. Tiba-tiba Malleda menepuk bahunya, segera Rindosaka menoleh. Ia tidak tahu sejak kapan Malleda datang, langkahnya juga tidak terdengar olehnya.
Rindosaka yang berdiri membelakangi pintu masuk, sempat terkejut.
"Kau,"
"Aku tahu Yang Mulia. Siapa yang mencuri lonceng dan pohon permintaan milik dewa."
......................
Rumah yang roboh sedang diperbaiki. Butuh waktu lama untuk memperbaiki kerusakan besarnya.
Lego menancapkan paku di papan pintu kayu. Rumah yang semula begitu cantik, kini berubah seperti dulu. Gubuk kecil lagi.
Selina datang, ia menyapa. Lego membalas sapaannya tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Mau kumasakkan apa untuk makan siang, Senior?"
Lego menoleh sejenak. "Terimakasih, Selina. Apa saja akan ku akan."
"Baiklah,"
Selina beranjak. Setelah Selina pergi, datanglah Somi.
"Lego."
"Hmm,"
Lego menoleh sejenak, sama seperti yang dilakukannya terhadap Selina.
"Aku ingin bicara denganmu,"
Selina mendengar pembicaraan ini. Ia melongok sebelum memasak.
Lego menghentikan kegiatannya. Membalikkan badannya menghadap Somi.
"Mengenai apa?"
Somi terdiam. Perlahan tangannya meraih pergelangan tangan Lego. Ia menuntun Lego untuk mengikutinya, ke luar rumah.
"Kau akan membawaku ke mana?"
"Kita ke sungai,"
Lego mengerutkan keningnya. Apa yang akan dikatakan Somi padanya, Lego tidak tahu.
"Mereka mau ke mana?" Bukan Lego maupun Somi. Selina yang berujar, melihat mereka berdua pergi.
Perlahan Selina mengikuti.
SKIP
Somi melepaskan lingkaran jemarinya di pergelangan tangan Lego. Mereka saling berhadapan, menatap satu sama lain.
__ADS_1
Lego tidak berbicara, ia menunggu Somi untuk berkata.
"Sebenarnya aku menyembunyikan sesuatu darimu,"
Lego mengerutkan keningnya. "Apa yang kau sembunyikan?"
"Kau…kau putra Raja Roem Janhi?"
"Bagaimana kau tahu?"
Lego bingung. Dia tidak pernah memberitahukan siapa jati dirinya kepada Somi.
"Dewa yang mengatakannya padaku,"
Lego mengerutkan keningnya lagi. Somi bisa membaca pikiran Lego. Lego bertingkah bingung. Seolah bertanya, tapi tidak diungkapkan.
"Kau pasti penasaran kenapa aku memeluk untuk setelah bangun dari kematianku, lima hari lalu," ucap Somi sembari melangkah ke tepi sungai, membelakangi Lego.
Lego mengikuti. Dia tidak berada jauh dari Somi yang sedang membelakanginya, di depannya.
"Satu alasan yaitu karena kau putra Yang Mulia Roem Janhi."
"A-aku masih tidak mengerti apa maksudmu, Nona."
Somi menundukkan kepalanya. Melihat air yang mengalir normal dari arah barat. Lalu tubuhnya berbalik, memandang Lego.
"Aku akan menikahimu."
Lebih tidak bisa dimengerti lagi oleh Lego. Secara tiba-tiba Somi menyatakan hal yang sebelumnya tidak pernah ia inginkan. Ini membuat Lego bingung. Sisi apa lagi ini? Sebenarnya Somi mencerminkan sosok seperti apa? Pikirnya.
"Sesuai yang kau ucapkan. Bukankah kita ditakdirkan menjadi sepasang di masa depan. Ini adalah masa depan, kau dan aku bersatu,"
Selina turut hadir. Ia mengikuti mereka berdua. Ketika ucapan pernikahan keluar dari mulut Somi, jujur hatinya sakit. Apalagi ia sangat menunggu jawaban apa yang akan Lego katakan pada Somi. Ia terdiam berdiri, melongok Lego dibalik pohon bambu besar.
"Ya. Aku mengatakan hal itu, tapi aku penasaran kenapa kau tiba-tiba?"
Aku berjanji kepada ayahmu, aku akan menjagamu."
Selina menggerakkan mulutnya, "Senior Lego mengatakan hal itu? Jika Senior Somi pasangan masa depan Senior, maka aku apa? Apa Senior Lego akan membatalkan pernikahan kita? Ini tidak boleh begitu," gumamnya.
Kembali ke Lego dan Somi.
"Aku memiliki kedekatan dengan ayahmu. Keluargamu sangat membantu ayahku dahulu. Maka dari itu, sampai sekarang ayah setia dengan Yang Mulia Janhi.
Begitupun denganku."
"Dewa memberi kita petunjuk, kita tidak bisa menikah di tahun kedua buddha. Rindosaka memiliki kekuatan panjang di tahun kedua. Sekitar enam bulan lagi kita menginjak tahun kedua buddha.
Maka dari itu, secepatnya kita melaksanakan pernikahan."
Lego terdiam berpikir. Somi benar. Dia membutuhkan teman untuk merebut source of strength. Dewa sudah memberitabunya, bahkan mendesak Lego untuk segera menikah Somi, sebagai partner.
"Ya. Segera aku akan menikahimu, Nona."
Deg,
Hati Selina retak. Mendengar jawaban Lego, ia merasa tersisihkan. Merasa dibuang dan diabaikan. Ia mengingat Janji manis Lego, yang akan bertanggung jawab padanya. Tapi buktinya, sekarang ia mendengar perkataan lain dari Lego.
Air mata Selina perlahan turun. Kemudian ia memilih beranjak dari tempat ini, agar tidak mendengar perkataan yang membuatnya terluka.
"Tepat setelah aku menikahi Selina."
Kali ini Somi yang merasa sakit hati. Wajahnya membeku, lalu berpaling ke samping. Perasaan yang ia rasakan seolah mendesaknya.
Ia menahan rasa cemburunya, lebih tepatnya menyangkal.
"Sebelumnya perkataanmu masih kurang kupahami. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dewa bisa menemuimu,"
Somi menenangkan tubuhnya. Pandangannya ia berikan lagi kepada Lego.
__ADS_1
"Salah satu source of strength ada didiriku,"
Lego membelalakkan matanya. Meskipun bukan jawaban dari pertanyaannya, ini lebih penting.
"Satu lagi, aku melihat gambaran. Kau terduduk di singgasana Mettadik, tampilan yang benar-benar berbeda. Rambut pirangmu terus bersinar dikala mendakwa keadilan. Mahkota emas bentuk bulan sabit, lambang Mettadik di samping. Aku terduduk di singgasana permaisuri, di sampingmu. Tampilan yang berbeda. Pakaian kita serasi."
Lego semakin membulatkan matanya. Kini bukan kepadanya lagi petunjuk itu datang, melainkan Somi mulai mendapat petunjuk dewa.
"Beberapa mentri----"
"Tunggu, Nona. Jangan lanjutkan," sela Lego.
Somi terdiam.
"Source of strength. Bagaimana itu bisa ada di dirimu?"
"Apa maksudnya?" lanjut Lego.
Somi memasukkan tangannya ke saku celananya. Lalu dikeluarkan, tangan yang semula kosong, kini memegang benda lain.
Lego tidak tahu benda apa yang dipegang Somi. Ketika Somi memperlihatkannya, sebuah daun bertuliskan bahasa Jepang. Entah apa arti dari tulisan itu.
"Apa ini?"
"Dewa menyimpan benda ini di tubuhku. Aku bisa membawanya ke mana-mana hanya dengan menyelipkan tangan di bajuku,"
"Ini kosakata Jepang. Sebenarnya kau bermimpi apa, kenapa bertele-tele seperti ini,"
"Jika source of strength tidak bisa direbut di Rindosaka, maka kita harus pergi ke Jepang. Untuk meminta petunjuk dari dewa Vrede,"
......................
Para pelayan dapur berbaris beresap. Pemeriksaan sudah berlangsung sekitar 10 menit, tapi belum ada tanda kecurigaan di antara mereka.
Peramal mengamati pelayan satu per satu. Dari jejak hingga prediksi apa yang di lakukan mereka lima hari yang lalu.
"Tidak bisakah kita menghentikannya, ini membosankan. Raja benar-benar membuat kesabaran kita habis," bisik Grodki ke telinga Jwiyu.
Mereka yang berdiri di belakang raja, mengumpat kesal karena terus diberi pekerjaan oleh Rindosaka.
"Kau gila. Raja akan marah jika kau mengganggunya. Lihat! Raja begitu serius mengamati setiap pelayan yang diperiksa," balas Jwiyu.
Rindosaka terlihat serius dan mengamat. Bagaimanapun ini bukan masalah sepele. Salah satu source of strength kerajaan, yang menjadi kekuatannya dicuri. Apalagi ke tangan Lego, pemuda yang dimaksud alam semesta, yang akan menggantikan posisinya.
Tanpa basa-basi, Grodki maju. Ia berada dekat di belakang Rindosaka.
"Yang Mulia,"
Rindosaka menoleh separuh, dengan mendehem sebagai balasan.
"Menunda waktu tidaklah baik. Apakah perlu saay bertindak, mencari Lego. Untuk menghadap Yang Mulia, dan merebur source of strength."
"Tidak perlu." Rindosaka memiringkan senyumannya. Ia membalikkan tubuhnya, menghadap Grodki.
Ujung tongkatnya ia sentuhkan ke bahu Grodki. Mata Grodki mengikuti pergerakan ujung tongkat. Yang dimaksud Rindosaka, tidak bisa dimengerti olehnya.
"Aku ingin dia datang sendiri ke hadapanku."
Grodki mengerutkan keningnya. "Bagaimana caranya Yang Mulia?"
Senyuman devil Rindosaka masih mengembang. Penglihatannya mengalih ke tongkat tinggi, yang dipegang di tangan kanannya.
"Kau lihat sekarang aku sedang apa, Grodki?"
Grodki terdiam sejenak. Ia jelas melihat, bahkan tahu untuk apa Rindosaka mengadakannya.
Grodki menganggkuk, "Ya. Saya melihatnya Yang Mulia."
"Aku sedang mencari umpan Lego. Mereka ada di antara pelayan di sana."
__ADS_1