Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Awal Kemenangan


__ADS_3

"Goa apa ini?"


Tak berlangsung lama, Lego memutuskan untuk masuk ke dalam secara perlahan. Tidak ada hal aneh apa-apa. Hanya saja banyak rumput yang tumbuh di bebatuan serta halaman yang sedikit dipenuhi tanaman benalu. Suasana ini seakan tidak mendukung Lego untuk masuk.


"Nona," teriaknya ke dalam goa itu.


Tidak disangka, ternyata goa ini memiliki daerah yang luas. Seisinya tidak terbayangkan sebelumnya oleh Lego.


Lego terus masuk. Ia berteriak lagi. Sampai pada teriakan ke-tiga. Satu sihir menyerangnya dari dalam. Ia tidak sempat menghindar sehingga tubuhnya harus terpental sedikit.


Lego memegang perutnya yang sakit. Ini seperti pukulan namun melalui sihir. Ekspresi wajah itu menjelaskan kesakitannya. Perlahan ia terbangun. Satu sihir lagi menyerangnya hingga ia harus terduduk kembali.


Teringat perkataan kakek tua yang muncul si hadapannya tadi.


^^^"Lakukanlah apa yang menurutmu benar. Kakek sudah hidup lama bersama Raja Janhi. Aku tahu mengenai Raja Janhi, dia sama sepertimu. Berani mengambil resiko dan--sosok yang sulit ditebak."^^^


^^^"Berhati-hati dan teliti. Lakukanlah sikap ini, kakek mengetahui taktik dan pergerakan ayahmu, Paduka. Tapi tidak sepenuhnya."^^^


Lego sangat mengerti sejauh ini. Dia bangkit, untuk kali ini harus waspada dan lihai. Ya, satu serangan lagi menghampirinya. Ia berhasil menghindari serangan itu.


Perlahan ia melangkah maju. Setiap gerak-geriknya memiliki kewaspadaan yang tinggi. Satu ruang kosong lagi yang belum ia temui. Entah ruang apa. Ia masuk dengan perlahan.


"Lego," teriakan yang berasal dari arah kiri Lego. Sontak Lego menoleh. Ya, terdapat Somi di sana. Di ruang yang lainnya.


Somi tidak di apa-apakan. Hanya saja ia terlihat tidak bisa ke luar meskipun tidak ada halangan. Itu menurut penglihatan Lego.


Ketika Lego menghampirinya, tubuhnya memental hingga termundur sedikit. Ia baru sadar bahwa ada sihir yang menjaga. Ini seperti pintu tanpa terlihat menolak Lego masuk. Tentu ini adalah sihir.


"Dia memberikan tameng di sini agar aku tidak bisa ke luar," ucap Somi.


Mereka saling berhadapan, namun sihir itu menjadi penghalangnya.


Lego menyentuh sihir ini, dan benar. Terasa keras layaknya pintu namun tidak ada bentuh fisik.


Lego terdiam dengan pemikiran mencari solusi untuk menghancurkan sihir ini.


^^^"*Gunakan sihirmu dengan bijak. Gunakan sesuai suasana hatimu. Apa pun suasana hatimu, kau bisa menggunakan sihirmu, untuk apa pun."^^^


^^^*Ucapan kakek tua sebelumnya*.^^^


Yang terlintas dalam pikiran Lego. Ia menoleh ke arah Somi yang terus menatapnya gelisah. Dari sorot mata Somi, Lego bisa membaca bahwa ia sangat mengharapkan Lego bisa membebaskannya.


"Aku akan mencobanya, Nona. Menjauhlah daeu sekitar ini," ucap Lego.


Somi mengangguk, ia mundur menjauh. Sementara Lego mencoba menggunakan sihirnya.


Mereka tidak melupakan Kerajaan Lembuh yang sedang diserang. Apalagi Somi. Ia terus cemas dan khawatir mengenai kerajaannya.


Kerajaan belum berakhir dengan peperangan. Banyak yang menjadi korban. Dari pihak Kerajaan Lembuh maupun musuh.


Adipati kerajaan sudah kewalahan dengan penyerangan ini. Pihak musuh sangat kuat, hingga perkiraan mereka mengenai musuh yang berasal dari kerajaan tinggi, bisa dikatakan benar. Tidak mungkin beberapa pengawal pihak musuh bisa melumpuhkan banyak prajurit kerajaan Lembuh, kecuali mereka dari kerajaan tinggi.


"Sangat sulit ditahan. Sebenarnya mereka prajurit dari mana?" gumam adipati Lembuh.

__ADS_1


Baru saja sejenak break, adipati harus menerima serangan musuh lagi. Pertahanan sudah mulai renggang. Banyak prajurit yang terluka akibat sulitnya menahan serangan lawan.


Tidak ada ide yang terlintas dalam pikiran adipati lagi. Satu kali berpikir, tak lama serangan itu datang.


Adipati bisa menahan beberapa prajurit, namun yang ia khawatirkan adalah pengawal Lembuh. Bagaimana jika prajurit Lembuh terluka? Lalu hanya ia sendiri yang bertahan. Tidak, untuk melindungi kerajaan, mereka harus bekerja sama.


Semua musuh terkapar oleh adipati. Baru saja ia sejenak terdiam memulihkan tenaganya. Tiba-tiba seseorang datang, berjubah dan topeng hitam bagaikan gagak buruk rupa. Mereka saling berhadapan.


Sebenarnya, adipati ingin kembali di titik gerbang masuk istana. Namun satu orang ini mencegahnya.


Tanpa berlangsung lama, petopeng hitam itu melangkah maju menyerang adipati Lembuh. Pada akhirnya mereka saling memberikan perlawanan.


Beberapa Jam Kemudian


Datangnya Lego dan Somi merupakan kemenangan untuk kerajaan Lembuh. Ini sudah diyakinkan akan terjadi.


Mereka berdua terkejut ketika mata elangnya melihat banyak para prajurit yang terkapar kalah. Beberapa tabib wanita kerajaan membawanya ke dalam untuk pengobatan.


"Kenapa paduka raja tidak bilang bahwa kerajaan di serang?"


"Benar. Padahal kami bersedia ikut serta dalam peperangan ini. Kami mencintai tanah air ini."


Ya, mereka tidak datang berdua. Untuk melindungi kerajaan, mereka membutuhkan kerjasama sejati layaknya gotong royong dalam terkena musibah.


"Itu karena peperangan ini mendadak. Mereka tidak menyuarakan akan adanya perang. Ini bisa dikatakan penyerangan sepihak," jawab Somi.


Somi berbalik menghadap kepada beberapa warga yang bersedia ikut serta dalam peperangan ini. Diikuti oleh Lego.


"Untuk melindungi bumi pertiwi ini, apakah kalian bersedia berkorban?"


Somi tersenyum kecil, merasa bangga karena tanah kerajaan ini memiliki rakyat yang mencintai tanah air.


Ia menoleh ke samping kanan, dimana Lego berada di dekatnya. Masih dengan senyumannya, ia mengangguk. Balasan Lego sangat hangat. Senyuman kecil mereka layaknya mentari yang baru naik di pagi hari.


Tanpa berlangsung lama, "Seraang," teriakan Somi.


Pada akhirnya para warga maju, memberikan perlawanan pada musuh. Sebaliknya mereka berdua.


Somi akan melangkah maju, namun Lego menarik lengannya pelan, menahan langkah Somi. Somi menoleh dengan pertanyaan dalam bahasa isyarat.


"Titik kelemahannya ada pada pria outfit hitam yang menculikmu. Seharusnya---kita memberikan serangan untuknya, bukan?"


SKIP


"Adipati, dia dalam bahaya," ucap Somi. Ia berada jauh dari perkelahian adipati dan pria topeng itu. Sebut saja ia sedang mengawasi, layaknya mata-mata.


"Aku akan memanahnya," ucap Lego sembari melangkah ke arah belakang. Namun Somi menahannya.


"Jangan dulu."


"Kenapa?"


"Aku takut kau salah sasaran."

__ADS_1


"Tidak akan. Aku bisa memanah,"


Somi terdiam ragu. Tapi tidak ada gunanya, ia bahkan tahu seberapa hebat Lego. Yang ia takutkan adalah adipati, salah sasaran bisa saja mengenai adipati.


"Nona, percayalah."


Somi perlahan melepas cengkraman tangannya dari Lego. Membiarkan Lego melakukannya.


Lego melangkah, ia naik ke pohon untuk membidiknya dari atas.


Ia menatap intens panglima Edeun yang menyamar sebagai pria topeng. Fokus, sebelum ia memanahnya. Tiba-tiba, apa yang dilihatnya berbeda. Ia melihat kejahatan di diri Panglima Edeun. Ia terkejut karena objeknha berganti.


Panglima Edeun yang tengah membunuh anggota keluarganya. Ya, itu yang terlihat dalam mata batinnya. Lego menggosok-gosok matanya sejenak, namun yang keluar masih sama.


"Kenapa panglima Edeun muncul, dan--dia membunuh? Tapi siapa yang dibunuh?" gumam Lego dengan ekspresi wajah bingungnya.


Bukankah yang dilihat pria bertopeng itu? Kenapa mata batinya memperlihatkan panglima Edeun yang sedang membunuh seseorang.


"Apa mungkin dia---panglima Edeun?" gumamnya lagi.


Tanpa berpikir lama, Lego mengangkat busur dan anak panah itu. Ia memfokuskan terlebih dahulu, lalu melayang.


Cleb.


Satu anak panah mengenai punggung panglima Edeun. Dan anehnya, tubuh panglima Edeun langsung terbakar akibat anak panah yang diberikan Lego. Serta panah itu menembus tubuh Edeun sampai ke perutnya.


Lego sendiri terkejut melihatnya. Panah dan busur ini tidak memiliki hal yang berbahaya. Hanya untuk melumpuhkan musuh saja.


Somi pun. Dia menengadahkan kepalanya ke arah Lego. Sama terkejutnya dengan Lego. Ia bingung dengan kekuatan Lego yang sebenarnya.


Kenapa banyak hal yang terjadi tanpa Lego sadari? Ketika Lego menginginkannya, kekuatan itu tidak muncul.


Adipati yang melawannya, sama terkejutnya seperti Lego. Adipati mengalihkan penglihatannya ke arah dari mana panah itu lepas.


Terlihat seseorang yang tak lain Lego di atas pohon tepat jauh darinya. Juga, ia melihat Somi di bawah pohon itu.


"Putri Somi," teriak adipati.


Somi menoleh, tak lama ia menghampiri adipati dengan berlari kecil.


"Apa ayah masih belum ke luar?" tanya Somi.


Padahal yang adipati inginkan adalah penjelasan mengenai kejadian barusan.


"Belum, Putri."


"Lalu, bagaimana yang lainnya?"


"Prajurit kerajaan banyak yang terluka. Tabib wanita secara sigap membawa prajurit yang terluka. Dan----keadaan mentri, aku tidak tahu."


"Kita tidak ada waktu lagi, Adipati. Titik pusat kekuatan itu ada pada pria topeng ini," ucapnya sembari menunjuk Edeun yang perlahan menjadi abu.


"Lego sudah membunuhnya. Untuk sekarang, kita lawan musuh yang lain."

__ADS_1


"Baik, Putri."


__ADS_2