Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Pergerakan Awal


__ADS_3

Selama dua hari Lego harus terdiam diri dengan tubuhnya yang lumpuh. Kesembuhannya sangat cepat dan tidak mudah ditebak nalar. Bahkan Somi sendiri yang merawatnya merasa aneh ketika racun menjalari tubuh Lego, namun sembuh hanya dengan waktu yang singkat.


Setelah kesembuhannya, ia memanfaatkan waktu yang tertunda. Rencana yang akan ia lakukan dua hari yang lalu harus terjeda karena kondisinya.


Masih di gubuk yang sama dengan orang yang sama. Lego mengganti bajunya dengan kain yang lebih tertutup. Berwarna hitam lekat layaknya seseorang yang akan berbuat kejahatan.


"Kau terlihat seperti akan merampok," ucap Somi yang terduduk di atas kursi kayu.


Bukan berarti Somi melihat Lego berganti baju. Somi hanya melihat Lego yang terus berkemas dengan rapi dan efektif.


"Aku bukan akan merampok," jawab Lego tanpa menoleh kepada Somi. Penglihatannya tetap fokus pada kemasan barang yang akan ia bawa.


Somi sontak beranjak dari terduduknya dengan tingkah malas. Ia melangkah menghampiri pintu keluar, dan seterusnya Somi entah akan ke mana.


Lego tidak menghiraukan kepergian Somi. Ia masih terus fokus dengan kebutuhannya sendiri.


Bukan pakaian ataupun makanan yang Lego bawa. Ia mengemas satu per satu senjata zio Dev yang akan ia gunakan untuk rencana awalnya.


Pertama-tama untuk membuat lorong kecil yang akan mengakses dirinya masuk ke dalam istana. Tepat di kuil istana.


Peta masuk ke dalam istana sudah dibuat. Sisanya untuk Lego adalah tindakkan atau pekerjaan.


...----------------...


"Titik paling aman berada di sini," gumam Lego setelah menelaah peta di genggamannya. Lalu tatapan matanya mengalih pada tanah yang menjulang tinggi.


Bisa dibilang ini adalah jurang. Lego berada di bawah jurang karena perjalanan menurut denah peta.


"Ya, saya bisa merasakannya," seseorang menjawabnya.


Lego tidak sendirian. Reduka muncul di tengah perjalanan dengan tampilan yang berbeda. Hanbok yang ia kenakan kini berganti menjadi pakaian kasual.


Celana longgar kayaknya aladdin dan atasan yang hanya menutupi payud*ra. Serta kain sari yang setengah menutupi tubuh Reduka. Atau bisa disebut pakaian adat India. Rambut digelung bulat di pertengahan kepala, serta menyisihkan poni kecil di kanan dan kiri yang menghiasi wajahnya.


Tak luput dari senjata. Reduka membawa pedang yang menempel di samping pinggang cantiknya, serta racun belerang di saku celana.

__ADS_1


"Kau tahu selanjutnya?" tanya Lego.


"Saya bisa merasakan ada sihir di sini," jawab Reduka.


Mereka terdiam kembali. Mengintrogasi tanah sangat sulit. Untuk memulai penggalian, butuh proses yang lama meskipun jaraknya tidak terlalu jauh.


"Dari mana kita memulai penggaliannya?" tanya Lego tanpa menoleh ke samping, di mana Reduka ada di sana.


"Menggali tanah dengan tangan kita akan memakan waktu lama,"


Lego sontak menoleh, "Serius Reduka. Tidak ada orang yang melakukan pekerjaan dengan menggunakan kaki," jawab Lego. Keningnya mengerut karena ucapan Reduka.


Kepala Reduka bergerak menghadap Lego. "Maksud saya gunakan sihir anda," ucapnya.


Lego terdiam dengan tatapan yang masih sama. "Bagaimana caranya?"


Reduka menepuk jidatnya. Baru pertama kali ia menemukan seorang calon raja yang memiliki ilmu waris tinggi, tidak bisa menggunakan sihirnya.


"Paduka memiliki sihir yang tinggi. Tapi Paduka sama sekali tidak bisa menggunakannya?" Kedua alis Reduka mengangkat.


"A-aku bisa." ucapnya sembari mengerjap-ngerjapkan mata menutupi kebodohannya.


Lego mengalihkan tatapannya. Ia berjalan perlahan mendekati tanah yang menjulang tinggi itu.


Seketika ia mengingat perkataan Wilyusa, bagaimana seharusnya Lego menggunakan sihirnya.


*Kekuatan akan besar jika hati kita fokus, murni dari pikiran lain. Lakukanlah sesuai kata hatimu.*


Dengan perlahan tangan Lego mengangkat. Ia sentuh tanah itu dengan tangannya, seketika ia menegang. Hanya sejenak.


Ia menutup matanya mengumpulkan konsentrasi layaknya ion-ion yang beterbangan terpisah. Ia membuang pikiran kotor yang terus membayanginya.


Srooss


Dengan perlahan tanah itu separuh hancur dan berserakan di atas tanah lagi. Lego membuka matanya setelah bunyi keras hancurnya tanah. Meskipun menggunung di atas tanah, setidaknya Lego ini masih memudahkan akses Lego menuju kuil di Kerajaan.

__ADS_1


Reduka menghampiri Lego dengan perlahan. Apa yang ia lihat tidak sepenuhnya mereka harapkan. Hanya saja ini masih bisa aman.


"Apakah aku harus mengeluarkan sihirku sampai di kerajaan?" tanya Lego tanpa menoleh ke arah Reduka.


"Ya. Setidaknya ini lebih mudah."


Di sisi lain, kerajaan yang tak pernah padam dengan hausnya kekuasaan, mereka para petinggi sedang membicarakan bagaimana langkah menuju Kerajaan yang menjadi target.


Kerajaan yang masih berpihak kepada Roem Janhijanha. Mereka berpura-pura berpihak kepada Rindosaka hanya agar kerajaan mereka aman.


Saat ini Rindosaka sudah mengetahui posisi di mana lagi kerajaan yang berpihak pada Janhijanha. Mudah untuknya menaklukan kerajaan itu. Sudah dibilang bahwa Kerajaan Mettadik adalah kerajaan di atas kerajaan.


Sedangkan kerajaan yang berada di wilayah negeri Janha, itu adalah sebagian kerajaan kecil dari Mettadik.


Menyusun rencana untuk melakukan peperangan terhadap kerajaan penghianat Rindosaka sangatlah mudah. Hanya dengan beberapa detik saja mereka berdiskusi, langkah itu akan muncul.


"Panglima Perang Edeun akan memimpin. Para petinggi tidak akan susah-susah turun tangan menghadapi Kerajaan Lembuh yang sudah tua itu," ucap sang raja.


"Berbagai informasi berkata bahwa Raja Kerajaan Lembuh memiliki seorang putri tangguh. Dia kabur karena perjodohan, dan sampai sekarang Raja Lembuh masih belum menemukannya," ujar Lenggo. Penasihat kerajaan yang terkenal apik, rapi dan tersusun.


"Apa hubungannya putri itu dengan peperangan?" tanya Rindosaka.


"Jangan biarkan dia mengetahui peperangan ini, Yang Mulia. Dia sama halnya dengan panglima perang, wanita tangguh dan tak kenal menyerah," lanjut pria paruh baya bertubuh bungkuk itu. Pakaian Kimono khas Jepang dan bawahan celana longgar yang senada. Lenggo memiliki khas Jepang dan Inggris yang menjadikan pengetahuannya sangat luas.


Rindosaka tersenyum menyeringai, "Tidak mungkin bisa mengalahkan Panglima Perang Edeun, bukan?"


Lenggo terdiam menciut. Memang benar, tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengalah dengan Rindosaka. Tidak masalah baginya, selagi ia sudah memperingatkan Rindosaka.


Di sela-sela mereka mengadakan rapat di aula utama, tiba-tiba seorang penjaga dengan tombak di lengannya masuk.


Pengawal itu menjongkok dengan tatapan tertunduk dan tangan yang melipat di depan dadanya.


"Mohon maaf Yang Mulia. Seorang maid melihat petapa kerajaan sudah tidak bernyawa di kuil utama kerajaan," ucap pengawal itu.


"Lampu peringatan juga berkedip secara terus-menerus. Patung dewa juga menghilang dan pohon permintaan hilang,"

__ADS_1


"Apa?" teriak Rindosaka. Bahkan ia terperanjat dari terduduknya di kursi singgasana.


Raut wajah yang panik dan emosi. Dan--sedikit ketakutan dalam jiwanya.


__ADS_2