
"Eey, kenapa datang terlambat hari ini? Ini tidak biasanya si tampan datang terlambat."
"Kau tahu tidak? Barusan ada badai menghancurkan pedesaan? Beruntung barangku tidak semuanya hancur."
"Karena ada badai, aku jadi terlambat zio Dev."
Zio dalam bahasa Italia artinya sebutan dari kata paman. Dev merupakan pembuat senjata, dia berasal dari Italia, dia berada di sini dari tahun 1456 sampai saat ini. Sikap yang penuh candaan membuat Lego tidak senada dengan Dev. Bayangkan sikap dingin Lego disatukan dengan sikap humoris Dev.
Sekitar empatpuluh tahunan usia Dev, tapi ia belum mempunyai istri. Dia belum ditakdirkan untuk memiliki pasangan, bukan Dev tidak mau. Hanya saja Tuhan belum memberinya seseorang yang setia menjadi pendampingnya.
Kelebihan Dev yaitu ia menguasai banyak bahasa. Itu karena ia berjualan di wilayah lain, berbagai negara ia pernah menginjakkan kakinya.
"Kau benar. Kau tahu? Langit bahkan bersuara, ee-- apa ya yang dikatakan langit tadi."
"Ah ya langit itu berkata berdoalah untuk raja yang sudah tertampak. Gitu."
"Kira-kira pertanda apa, ya? Ini sangat tiba-tiba sekali. Sangat allarmante (menyeramkan)."
Lego terhentak sejenak, ia merasa tersinggung dengan ucapan Dev.
"Zio Dev. Sepertinya hari ini libur, ya? Kita harus membantu warga membereskan lingkungan. Dan barang ini sebagian ada yang rusak."
Topik pembicaraan yang ia alihkan untuk menghindari pertanyaan lebih dari zio Dev. Raut wajah itu tidak memiliki ekpresi, terlihat tenang dan kalem. Jika di kehidupan nyata, ia sangat adem untuk dilihat.
"Ya. Kau benar. Terpaksa zio tidak memiliki uang untuk hari ini."
Dev membuang nafas sejenak, "Ada-ada saja kejadian hari ini."
Dev melangkah, membereskan setiap halaman rumahnya yang berantakan oleh dedaunan dan ranting-ranting. Sama seperti Lego, Dev lebih memilih tinggal sedikit jauh dari warga lain. Itu karena untuk membuat senjata memerlukan konsentrasi lebih.
Membuat senjata tidak bisa sembarangan, harus dipahat dengan benar. Senjata bukan untuk main-main, menggunakannya harus bisa sesuai di tangan.
Dev mengambil satu per satu senjata yang berserakan. Kemudian ia letakkan di sudut luar rumah Dev.
"Kenapa diam saja, Lego? Bantu."
Lego mulai membantu Dev membersihkan lingkungan. Semuanya bersih tak tersisa lagi, sampah dedaunan maupun barang milik Dev yang berserakan, sudah mereka bereskan.
Sama halnya dilakukan Lego, di kerajaan pun semuanya bergotong royong. Pelayan-pelayan bekerja keras untuk membereskan kembali istana yang kacau akibat badai. Pengawal-pengawal berupaya tetap berjaga dan waspada jika ada badai susulan. Mereka membuat tameng kerajaan dengan sihir agar badai yang terjadi, tidak akan masuk.
__ADS_1
Ke-tiga istri raja dijaga dengan ketat, mereka terus terdiam di kamar karena waspada. Namun, satu orang yang membuat pengawal jengkel, dia terus menolak untuk tetap diam. Dia ingin menemui raja. Sosok istri yang berbeda dari kedua istri raja.
"Kenapa aku tidak bisa ke luar? Aku ingin menemui suamiku, kau tidak bisa terus-menerus menghalangiku, kau hanya pengawal kecil di sini," ujarnya.
Dia Malleda. Istri yang memiliki jiwa pemberani, mengerti politik dan taktik. Memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki kedua istri raja. Salah satu yang menjadi sorotan adalah ketika perang di tahun 1475, dia menjadi sosok istri, dimana dia membuat semua orang gempar karena berani menghadapi manusia serigala pemberontak.
Sang raja salut dengan keberaniannya. Sampai saat ini raja memiliki kedekatan baik dengannya. Kedekatan yang tidak dimiliki kedua istrinya.
"Biarkan aku menemuinya."
Baru saja Malleda melangkah, dua pengawal terus-terusan menghalangi jalannya.
"Maaf, Ratu. Tapi raja memerintahkan agar kami tidak mengizinkan Ratu keluar kamar."
Meskipun pengawal itu membantah keinginan Malleda, mereka tetap menghormat. Yang dilakukan semua pengawal, seperti itu.
"Ada pembicaraan apa hingga sang ratu ingin sekali menemuiku."
Sang raja datang disela-sela pertengkaran Malleda dan pengawal. Raja menghampiri Malleda saat ini, hingga ia berhadapan dengan Malleda, pengawal itu pergi dengan rasa hormat.
"Kau lihat? Pengawal itu tidak patuh," ujarnya dengan mempoutkan bibirnya.
"Pengawal itu tidak bersalah, dia patuh padaku. Memangnya kau ingin apa, istriku?"
"Mengenai badai tadi--" Raut wajah yang serius ini kembali lagi.
...----------------...
"Astaga. Semuanya berantakan sekali, perkampungan ini terlihat sangat hancur. Beruntung gubuk zio tidak ada apa-apa."
"Benar sekali, zio Dev. Ini terlihat sangat parah, semua barang dagangan juga berserakan."
"Sebenarnya sebesar apa badai yang membuat semua orang gelisah," batin Lego yang melanjutkan.
Mereka berjalan di tengah-tengah keramaian warga yang sedang membereskan lingkungan. Entah harus mulai dari mana mereka membantu.
Lego tiba-tiba berlari meninggalkan Dev. Ternyata ia menghampiri kakek yang sedang menanggung air. Kakek yang terlihat akan tumbang karena menanggung dua wadah air di bahunya. Beruntung Lego menghampiri kakek itu, jika tidak, mungkin kakek itu akan terjatuh beserta tumpahnya air.
"Kek, kakek tidak apa-apa?" tanya Lego.
__ADS_1
Lego menahan sang kakek agar tetap seimbang.
"Tidak apa-apa. Terimakasih sudah membantu, anak muda. Semoga kau diberkati," ucap sang kakek.
Setelah mengucap, barulah kakek pergi meninggalkannya. Dan anehnya, kakek itu kembali normal dan biasa. Tidak ada rasa berat lagi menanggung air dalam ember.
"Eyy Lego," ucap Dev yang mengejutkan Lego. Secara refleks, Lego menoleh kepada Dev.
"Kau bicara dengan siapa?"
Perasaan aneh yang dirasakan Lego. Ingin sekali ia mengatakan bahwa apa zio Dev tidak melihat Lego bicara dengan siapa barusan.
"Lego. Kenapa melamun, apa jangan-jangan--"
"Tidak. Lego tidak mungkin sedang berhalusinasi bukan?"
Lego sedikit merasa aneh, ia pun menoleh pada kakek, sudah jauh darinya. Sang kakek sudah tidak kelihatan.
"Zio Dev tidak melihat aku sedang berbicara dengan kakek-kakek tadi?"
"Kakek-kakek? Tidak ada kakek di sini Lego," jawab Dev sembari menoleh ke kanan kiri, melihat apakah ada keberadaan kakek yang Lego maksud.
"Tidak mungkin. Aku tadi berbicara dengan kakek yang sudah sangat tua. Dia menanggung dua ember yang berisikan air di sini."
"Lego, tidak ada orang tua di sini. Dan tidak ada kakek yang menanggung dua air juga di sini."
Lego terdiam kembali, ia sangat yakin barusan ia menolong sang kakek yang akan tumbang. Namun berbeda dengan Dev.
"Attention! Attention please."
Terdengar ke telinga mereka berdua. Pengawal berdatangan dengan tujuan ada yang ingin mereka sampaikan dari raja. Semua warga segera berkumpul untuk mendengar pengumuman apa yang akan di sampaikan prajurit kerajaan.
"Raja menginginkan identitas kalian, untuk menghindari adanya penyusup. Setelah badai yang telah terjadi, raja khawatir jika badai ini dibuat oleh musuh yang ingin mencelakakan seluruh rakyat dan anggota kerajaan."
"Raja sudah meyakinkan bahwa badai yang terjadi, bukan badai alami. Melainkan badai ini adalah buatan, karena perkiraan cuaca tidak sesuai dengan apa yang telah terjadi."
"Demi kesejahteraan dan keamanan bersama, raja menginginkan identitas kalian. Mulai dari nama dan usia, itu yang paling penting."
Hasil dari pengumuman prajurit kerajaan, bagi orang awam ini masuk akal. Tapi tidak dengan Lego, menurutnya ini tidak akan mempengaruhi musuh. Bahkan sangat aneh jika meminta identitas untuk mencegah penyusupan.
__ADS_1