Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Saling Melengkapi


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya,


"Harus bertanya kepada siapa? Aku tidak tahu tentang obat-obatan," gumamnya.


Malam seperti ini tidak membuatnya takut untuk mencari apa yang ia inginkan. Lama-lama di luar, ia juga khawatir karena meninggalkan Somi sendirian di gubuk. Dalam keadaan pingsan karena pukulan perampok.


Tiba-tiba langkah kaki itu terhenti ketika matanya tertuju pada rumah Selina yang dibuatnya. Berada di awal menuju pemukiman warga, di ujung pemukiman warga.


Terlihat Selina yang sedang menata beberapa kelapa di halamannya. Malam-malam begini tidak menjadi penghalang untuk Selina. Wanita lembut dan pekerja keras, kata ini mencerminkan seorang Selina.


Lego menghampiri Selina.


"Selina," ucapnya sehingga membuat Selina menoleh kepada siapa yang menyapanya malam-malam begini.


Selina sedikit menyipitkan matanya, melihat siapa sosok yang menghampirinya. Tentu ia tidak bisa melihatnya, karena di tempat Lego yang sedang melangkah menghampirinya, sanagtlah gelap.


Hingga tertampaklah wujud Lego di terangnya lampu halaman rumah kayu Selina.


"Senior Lego," ucapnya dengan senyuman kesenangan.


Lego hanya tersenyum kecil.


"Apa kabar, Senior?" tanya Selina setelah melepaskan kelapa yang berada di tangannya.


"Aku baik,"


Sangat terlihat jika Selina menyukai kedatangan Lego. Matanya berbinar, raut wajahnya sangat bersinar.


"Senior, ayo masuk."


"Tidak, Selina."


"Kenapa?"


"Aku hanya kebetulan melihatmu dari sana," ucap Lego sembari menunjuk tempat dari mana ia berasal.


"Kupikir senior sengaja," batin Selina dengan tatapan sayunya. Namun hanya sejenak, ia memberikan senyuman kecil itu lagi.


Selina yang lembut, Lego sempat terpesona barusan dengan perkataannya. Ditambah rambut yang di gelung di tengah, dan poni kecil di samping wajah Selina. Ini menambah kelembutan diri Selina.


"Lalu senior kenapa berada di sini?"


"Aku sedang mencari obat,"


"Obat? Untuk siapa?"


"Temanku. Dia sedang sakit."


"Sakit apa?"


Lego terdiam sejenak, menunduk sejenak, lalu menatap Selina dengan tatapan akrab.

__ADS_1


"Dia terkena pukulan di bagian perut. Aku takut dia mengalami luka dalam di bagian organnya."


Selina seakan tahu. Ia menganggukkan kepalanya, lalu dengan segera ia melangkahkan kakinya, mendekati pohon kelapa yang tinggi.


Ia menggali tanah, entah benda apa yang akan ia perlihatkan pada Lego. Bukan benda.


Lego menghampiri Selina karena merasa berhak. Yang dilihat Lego adalah, tanaman Jahe yang sedang diambil Selina dari galian tanah itu.


"Jahe ini untuk apa?" tanya Lego.


"Ini bisa membantu meredakan nyeri di dalam perut. Senior hanya tinggal menyeduhnya dengan air hangat, lalu minumkan," jawabnya.


Selina mengulurkan tangan yang berisikan beberapa jahe besar di tangannya. Lego menatap Selina yang terus mendorongnya untuk menerima ini.


Perlahan tangan Lego mengambil beberapa jahe di tangan Selina. "Terimakasih," ucap Lego.


Selina berdiri menyamakan posisinya dengan Lego. Ia yang lebih pendek dari Lego.


"Apa itu cukup?" ucap Selina dengan senyuman kecilnya.


"Ya. Ini cukup. Kalau begitu aku segera pulang. Aku meninggalkan temanku di gubuk sendirian,"


Sebelum Lego melangkahkan kakinya, Selina menghentikan pergerakan Lego selanjutnya. Selina menahan tangan Lego sehingga Lego menoleh menatap Selina.


Terdiam sejenak. Lego yang tidak banyak bicara hanya menunggu apa yang akan Selina sampaikan.


"Senior, tinggallah denganku malam ini," mulut Selina dengan sadar berbicara.


"Ee--maksudku,--"


"Biarkan aku terus bersamamu, Senior," ucapan yang keluar dari mulut Selina.


"Kenapa kau ingin bersamaku?" tanya Lego.


"A--aku menyukai senior. Sejak pertama kali bertemu,"


Lego membulatkan matanya, hanya sejenak. Ia mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Selina.


Entah harus apa ia mengatakan. Perasaannya tidak sama dengan Selina yang menyukainya. Namun terlintas dipikirannya bahwa saat ini Lego memang menginginkan seorang calon pendamping. Bukan karena ia yang menginginkannya, tetapi ia teringat dengan ucapan Wilyusa bahwa ia harus segera memiliki keturunan.


Lego terdiam sejenak dengan pemikiran yang mengarah kepada ucapan Selina. Ini berita baik, karena ada seseorang yang bersedia menjadi pendampingnya. Bukan berarti Lego memanfaatkan keadaan, ia pasti akan bertanggung jawab. Hanya saja perasaan cinta itu mungkin akan tumbuh terlambat.


"Kalau begitu, bersediakah kau menikah denganku?" ucap Lego yang dibalas rasa terkejut Selina.


Semudah ini mendapatkan hati Lego? Padahal dari awal Selina berpikir akan sulit. Karena pada kenyataannya Lego sulit menampakkan dirinya di depan Selina.


Tanpa pikir panjang, Selina mengangguk dengan senyuman kesenangannya. Ini yang Selina inginkan. Tidak masalah jika harus menikah di usia muda sekali pun. Bahkan banyak gadis di bawah Selina yang sudah menikah dan mempunyai anak.


"Aku bersedia."


...Flashback Off...

__ADS_1


Setelah membersihkan dapur yang kotor karena asap yang tak karuan, mereka saling menyendiri. Terlibat siapa yang salah, Somi di sini yang menjadi pelaku. Ia bertanggung jawab untuk membersihkan dapur.


Meskipun Lego tidak bersalah, namun melihat Somi yang melakukannya sendiri, ia merasa harus membantunya. Pada akhirnya yang membersihkan dapur gosong itu mereka berdua.


Selesai dalam waktu dua jam, mereka tidak bicara lagi satu kata pun. Masing-masing merasa ngantuk, karena memang sudah malam. Tanpa ada kata lain lagi, mereka masuk ke kamar mereka masing-masing untuk tidur.


Hingga pagi membangunkan mereka dan mempertemukan mereka kembali di rumah ini. Lego tidak banyak bicara, setelah bangun dan bersiap-siap, ia menuju dapur.


Menyalakan api di perapian, memasak makanan yang ada. Tidak banyak, hanya ada satu jagung mentah sisa. Ia mengingat bahwa Somi tidak bisa memasak, jadi ia berniat untuk memasak dan memberikan jagung satu-satunya itu.


"Sedang masak apa?"


Somi yang berbicara disertai langkah kaki menghampiri Lego. Lego yang sedang berjongkok mengisi bahan bakar ke dalam perapian.


Ia tahu jika itu Somi, maka dari itu, ia tidak menoleh.


"Membuatkanmu sarapan," jawabnya singkat.


Tidak ada reaksi dari Somi, ia malah senang dibuatkan makanan pagi-pagi ini. Namun ia tahu diri, Somi tidak sepenuhnya serakah.


"Satu jagung bakar?" tanya Somi.


"Ya."


"Kenapa hanya satu?"


"Tidak ada makanan lagi,"


"Lalu bagaimana dengan kau?"


SKIP


Tidak masalah jika Lego tidak makan. Dia tidak merasa lapar sama sekali. Lego terduduk di samping Somi dengan gigitan pertamamya di jagung itu.


Terlihat bahwa sesekali mata Somi menyudut melihat Lego di sampingnya. Setiap satu suapan, Somi merasa sedikit kaku. Entah merasa tidak enak karena ia hanya makan sendirian, entah apalagi.


Lego beranjak.


"Lego, kau mau ke mana?" tanya Somi.


Lego terhenti dan menoleh. "Aku akan membawa Selina sekarang," ucapnya tanpa membalikkan tubuhnya.


Lego langsung melangkahkan kembali kakinya. Ia tidak tahu bahwa Somi ingin berbicara banyak padanya.


Somi membelalakkan matanya sejenak. "Tunggu, Lego."


Lego kembali menghentikan langkahnya sembari menoleh pada Somi yang terduduk dengan jagung ditangannya.


"Ada apa?"


Mereka terdiam sejenak, "Aku sudah bicara dengan ayahku. Kita bisa ke istana kerajaanku sekarang,"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2