
Somi menggeliat setelah terbangun dari tidurnya. Tanpa bangkit, Somi melihat sekeliling kamar yang lebih baik dari sebelumnya. Ini bahkan seperti kamar dirinya di kerajaan. Mungkin lebih kecil.
Kemudian Somi menyibakkan selimutnya. Tubuh itu bangkit, sejenak menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.
Mengingat kejadian semalam, Somi jadi terbangun terlalu siang. Itu karena pola tidur yang tidak baik. Perdebatan mengenai gubuk yang berubah menjadi rumah ini belum selesai.
Dengan mata yang masih berat, ia menoleh ke arah nakas yang terbuat dari kayu, di samping ranjangnya. Terdapat gulungan kertas, entah apa isi dari kertas itu.
Perlahan tangan itu meraih gulungan kertas di atas nakas itu. Ia membuka lalu membaca isi kertas itu dengan mata yang menyipit.
^^^"Setelah bangun, temui aku di lingkungan rumah ini. Ganti bajumu! Aku sudah menyiapkan baju, menggantung di dekat jendela kaca kamarmu."^^^
Somi sontak menoleh ke arah jendela kamarnya. Benar, terdapat setelan baju kasual yang terbuat dari satin.
Atasan crop top lengan panjang longgar. Serta bawahan celana kulot khas zaman kuno. Ini seperti baju tradisional namun memiliki citra khas modern.
Somi memicingkan matanya. "Baju apa itu?" gumam Somi.
Jujur Somi baru pertama kali melihat setelan seperti ini. Ia berpikir bahwa Lego cabul karena memberikan pakaian terbuka di bagian perutnya.
Kemudian ia kembali mengalihkan tatapannya seperti semula. Wajahnya mengerucut heran. Ia longgarkan tangan yang menggenggam kertas surat dari Lego.
"Apa yang ingin dia lakukan?" gumamnya dengan raut wajah yang serius.
SKIP
Terlihat Lego yang tengah berlatih bela diri di halaman rumah yang berasal dari gubuk ini. Perlahan langkah kaki Somi mulai terhenti. Dengan maksud menunggu Lego berhenti melakukan latihannya.
Raut wajah yang serius ini enggan hilang darinya. Bahkan berubah mengerut ketika melihat Lego di sana.
Tangannya ia pelukkan di tubuhnya. Matany sedikit mengintimidasi pergerakan Lego. Yang menjadi heran adalah ketika Lego terhenti karena ia mengeluarkan sihir dari tangannya.
Terlihat oleh Somi bahwa tatapan Lego sedang mengintimidasi tangannya. Ini seolah Lego pertama kali mengeluarkan sihir. Itu yang Somi lihat.
Perlahan kaki itu melangkah menghampiri seseorang yang menjadi tujuannya. Hingga sampai langkah kaki itu mendekat, "Ada apa?" ucap Somi.
Lego menoleh ke belakang, dimana Somi bertanya padanya. Pada akhirnya mereka saling berhadapan dengan sedikit jarak. Perbedaan tinggi juga sangat menonjol di antara mereka. Mata Lego menampakkan kegelisahan. Entah dengan apa atau siapa.
"Kau terlihat gelisah, Lego," ucap Somi.
Lego langsung memalingkan tatapannya dari Somi. Ia menatap tanah dengan dedaunan yang ramai di atasnya.
__ADS_1
"Tidak ada salahnya jika aku menceritakan semuanya kepada jodohku, bukan?" batin Lego.
Mengingat semalam, suara yang membuat telinga Lego panas. Lego jadi merasa bahwa sudah jalan takdirnya jika Somi jodohnya. Ia pasrah untuk menolak, jika pun ia tidak menginginkannya. Tapi takdir mendukungnya.
"Ya. Aku gelisah karena semuanya berdatangan secara tiba-tiba. Informasi yang seolah-olah memaksaku terus mengelabui pikiranku," ucap Lego.
"Sesuatu yang muncul tanpa disangka-sangka. Sihirku. Aku tidak bisa mengendalikan sepenuhnya, meskipun aku sudah berlatih."
Tatapan Somi mengerut. Kedua alisnya terangkat setengah. Seolah-olah ia tidak puas dengan cerita singkat Lego.
"Dan--" Lego menatap waspada Somi. Sulit untuk Lego mengatakan bahwa Somi dan dirinya akan memiliki hubungan yang dekat. Bukan dekat lagi, bahkan sangat-sangat dekat.
"Nona, apakah kau akan berpikir bahwa aku adalah jodohmu," ujar Lego setelah mengambil ancang-ancang untuk berbicara seperti itu.
Pupil mata Somi melebar. Tangan yang semula ia pelukkan di tubuhnya, kini perlahan melonggar. Somi sontak menengadahkan kepalanya kepada Lego dengan tatapan menyipit dan intens.
"Aku tidak akan setuju. Aku tidak suka bocah sepertimu, Lego,"
"Aku bukan bocah. Ini kebenaran. Takdir kau dan aku adalah sama. Kehidupan selanjutnya adalah dimana kita memimpin Kerajaan Mettadik."
"Kau bermimpi? Apa kau terobsesi untuk menjadi seorang raja? Kau ingin memberontak, hah?" ucap Somi masih dengan tatapan yang sama.
Lego terus mencoba agar Somi mempercayainya dengan raut wajah serius itu. Meskipun usianya di bawah Somi, tapi Lego terlihat dewasa. Sama halnya seperti Somi. Cara berpikir dan bertindaknya sama, serta hati nurani mereka tak lepas dari tanggung jawab.
Tersurat senyuman menyeringai di bibir Somi. Rasanya lucu untuk dikatakan bahwa cerita Lego nyata. Somi belum mengira bahwa Lego memiliki dendam pahit dengan Rindosaka. Bahkan untuk mengetahui apa yang Lego lakukan, ia sama sekali tidak peduli.
"Caramu berbicara sangat meyakinkan, Lego. Apa pun yang kau katakan tidak akan terjadi, meskipun takdir mendorongku, aku tidak akan jatuh cinta denganmu."
Lego menahan kekesalannya pada Somi. Ucapan angkuh yang tidak luput dari Somi itu membuat Lego semakin tidak menyukainya.
Lego berbicara hal seperti ini bukan semata-mata karena ia jatuh hati pada Somi. Melainkan agar ia bekerja sama dengan Lego agar bisa membantunya merebut tahta kerajaan.
"Kuharap kau memikirkan semuanya yang sudah terjadi di antara kita, Nona. Ini bukan sebuah kebetulan."
"Awal pertemuan, dan sihirku yang selalu menjadi duakali lebih tajam ketika kau berada di sekitarku."
"Bahkan pohon ajaib itu menunjukkan bagaimana sihirnya. Mungkin kau tidak tahu bahwa pohon itu bisa berbicara. Itu karena hanya aku yang bisa mendengarkannya."
"Bukan hanya pohon itu. Aku bisa mendengarkan setiap makhluk hidup di dunia ini. Dari hewan sampai tumbuhan, aku bisa mendengarnya."
Somi terdiam masih dengan menengadahkan kepalanya karena tinggi badan Lego. Raut wajah itu menahan rasa kepercayaan dirinya yang melemah karena ucapan Lego.
__ADS_1
Meskipun Somi merasakannya. Tapi ia tidak menginginkan hubungan antara dirinya dan Lego. Buktinya sihir Lego barusan, saat ia tengah berlatih ilmu bela diri. Begitu Somi datang, sihir Lego mulai tidak terkendali karena saking kuatnya hubungan mereka berdua.
Mereka masih menatap satu sama lain dengan tatapan berbeda. Lego yang sudah menyelesaikan tugasnya untuk bercerita, sedangkan Somi yang sulit mencerna pernyataan ucapan Lego.
"Sejak kapan aku sulit bercerita," batin Somi.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku adalah jodohmu? Membunuhku?"
"Bagaimana bisa kau berpikir sejauh itu, Nona? Apa aku terlihat seperti seorang pembunuh? Jika benar aku akan membunuhmu, banyak kesempatan dari awal untukku membunuhmu.
Lagi-lagi Somi terdiam tersemprot ucapan Lego.
"Aku tidak memiliki niat untuk menjalin hubungan, Lego. Apalagi denganmu."
"Karena kau mengira aku adalah jodohmu, apa yang akan kau lakukan?" lanjut Somi.
"Aku akan me----"
Wooshh
Belum sempat Legi menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba anak panah menyerangnya. Beruntung tangan kekar itu dengan cepat menahan anak panah itu.
Sontak mereka berdua terkejut. Mereka menatap anak panah di tangan Lego dengan rasa tidak percaya.
Tatapan Somi berpaling. Tubuhnya memutar mencari siapa yang melakukan hal ini. Tidak ada siapa-siapa yang Somi lihat.
"Penyerangan ini lagi?" gumam Lego.
Tiba-tiba beberapa orang bergerombol bermunculan dari arah timur. Penampilan layaknya pengawal kerajaan, namun entah kerajaan mana. Lego tahu betul bagaimana seragam pengawal Kerajaan Mettadik.
Sedangkan Somi, ia membelalakkan matanya seakan tahu bahwa siapa yang dicari mereka.
Tak berlangsung lama, muncullah sosok pria tinggi sekitar 180. Pakaian yang elegan mencerminkan putra bangsawan. Style rambut curly yang membuatnya sangat gentleman.
Apa yang di ekpresikan Somi menggambarkan rasa tahu dan waspada. Rasa tahu kepada pria yang memimpin sedang menghampirinya. Dan waspada karena pria itu menginginkannya.
"Apa kabar calon istriku," ujar pria itu.
Pria tampan dan dewasa. Sekitar tigapuluh tahun. Kulit putih kuning yang bersih, serta penampilan anggun dan berpendidikkan.
Somi memicingkan tatapannya. Yang berarti inj adalah sebuah penolakan dari Somi untuk pria dihadapannya.
__ADS_1