Putra Kerajaan Tersembunyi

Putra Kerajaan Tersembunyi
Rencana Rindosaka?


__ADS_3

"Lepaskan, Bindusa."


"Diam, Somi. Kau sudah sangat lama bersenang-senang dengan pria itu. Sudah saatnya kau menyenangkanku."


Bindusa. Pria yang akan ia jodohkan dengan Somi dan membuat Somi harus kabur dari istana karena perjodohan yang tidak ia inginkan.


Pria dengan perawakan tinggi kecil berotot itu terus menarik lengan Somi sejak dari lingkungan rumahnya. Emosi yang tidak tahan dengan kelakuan Somi. Alasannya karena Somi kabur dari perjodohan, padahal Bindusa menginginkan Somi.


Somi terus memberontak. Cekalan tangan Bindusa sangat kuat. Ini seakan Bindusa sedang melampiaskan kemarahannya. Tidak mungkin Bindusa bertindak kasar kepada seorang perempuan.


"Lepaskan dia,"


Swoosh


Satu sihir kecil melayang ke tubuh Bindusa. Hanya sihir untuk melukai kecil. Akhirnya cekalan tangan itu terlepas karena tubuh Bindusa terjatuh oleh sihir.


Dengan cepat Somi menghindari Bindusa. Seseorang yang memberikan sihir kepada Bindusa adalah Lego. Somi melangkah ke arah Lego.


Bindusa bangkit, ia memicingkan tatapannya. Bindusa terdiam sejenak menatap tajam Lego dan Somi. Ia tersenyum menyeringai.


"Kau mengajak bermain sihir denganku?" ujarnya. Kemudian ia meregangkan otot lehernya.


"Lego. Jangan sembarangan dia berbahaya," sedikit bisik Somi tanpa menatap ke samping, yang terdapat Lego di sana.


"Kau benar, Somi. Aku sangat berbahaya. Bahkan kau sendiri belum mengetahui sepenuhnya, betapa berbahayanya diriku," jawab Bindusa.


Lego menghampiri Bindusa perlahan. Dengan sedikit jarak, mereka saling berhadapan. Mereka sama-sama memberikan tatapan tidak nyaman.


Somi yang terdiam di belakang. Enggan untuk menghampiri mereka berdua. Sedikit rasa khawatir jika Lego membuat Bindusa salah paham. Somi berpikir bergitu karena ia tahu sikap Bindusa.


"Dia adalah jodohku. Kau tidak berhak menyebutnya calon istrimu," ujar Lego.


Sejenak raut wajah Bindusa terkejut. Ia kembali memberikan tatapan angkuh itu lagi.


Sejenak angin kecil lewat di antara mereka berdua. Seakan mendorong akan adanya pertikaian. Bahkan dedaunan berpindah tempat, seolah keadaan akan berganti.


Tanpa aba-aba, Bindusa melayangkan pukulan mengarah ke wajah Lego. Namun Lego menahan kepalan tangan Bindusa.


Mereka terdiam sejenak dengan posisi menahan dan menyerang. Senyuman menghina itu kembali muncul lagi di mulut Bindusa. Lalu ia menyerang Lego dengan beberapa pukulan ilmu beladirinya.


Tidak semudah itu melawan Lego. Sebelumnya Lego adalah pria tangguh dengan ilmu beladiri yang tinggi.


Somi yang melihat merasa tegang. Tidak tahu bagaimana menghentikan mereka, serta ada rasa khawatir dengan Lego. Bahkan pupil matanya melebar ketika pertengkaran itu dimulai.


Terik cuaca matahari di siang hari ini seakan menjadi saksi pertengakaran pertama mereka. Dengan objek seolah-olah merebutkan Somi.

__ADS_1


Dedaunan yang menghiasi tanah itu terus berpindahan karena angin dan hembusan dari pergerakan mereka berdua.


Satu pukulan terakhir yang membuat Bindusa kalah dalam pertarungan ini. Lego tidak salah, ia hanya membela diri dari setiap serangan Bindusa. Meksipun bukan pukulan mematikan, tapi pukulan Lego ini cukup membuat Bindusa kesal dan emosi.


Tentu karena tubuh Bindusa sedikit terpental dengan jarak sedikit jauh. Terlihat bahwa setiap anggota tubuh Bindusa mengeras. Ia bangkit dengan perasaan yang seolah-olah menahan dendamnya pada Lego.


Giginya menggertak, rahangnya mengeras. Dan yang paling tajam adalah tatapannya. Mahkota di kepalanya mencerminkan ketidakpantasannya menjadi seorang putra kerajaan. Bukan karena ia kalah dalam pertarungan, melainkan sikap yang tidak ia perhatikan.


Lego mundur mendekati Somi yang terus berdiri berjarak dari pertarungan tadi. Ia menggenggam tangan Somi, "Ayo pergi, sebelum dia berulah lagi," ucap Lego tanpa menoleh.


Berbalik. Somi yang menoleh kepada Lego dengan anggukan setuju. Dengan cepat mereka berbalik dan berlari secepat mungkin. Bukan berlari biasa, Lego mengangkat Somi dengan lari kencang di atas udara. Tidak setinggi pohon, hanya setinggi rerumputan kecil yang menjadi alas kaki Lego yang berlari.


"Sial."


"Lelaki itu," ucapanya dengat kata yang tajam dan tangan yang mengepal.


Lego mendarat di halaman rumahnya. Ia berdiri tegap saling berhadapan dengan Somi. Perasaan yang lega menghiasi Somi, kewaspadaannya hilang karena ia berada di dekat Lego.


"Sebenarnya siapa laki-laki itu? Dia seperti putra mahkota kerajaan?" tanya Lego.


Nafas Somi masih terengah-engah. Bukan karena lelah berlari, melainkan lelah waspada.


"Ayah menjodohkanku dengannya. Itu karena ayahku dan ayahnya memiliki kerja sama yang bagus."


Somi menengadahkan kepalanya ke Lego, "Entah. Aku tidak tahu. Selama ini ayah tidak pernah membiarkanku ikut campur dengan masalah kerajaan. Itu karena kerajaan kami mempunyai tradisi bahwa seorang putri tidak boleh mencampuri urusan politik,"


Perasaan dan ekpresi ini mulai akrab. Somi juga sama sekali tidak merasa keberatan untuk bercerita sedikit pada Lego.


Lego mengangkat kedua alisnya, "Kenapa perempuan selalu dilarang melakukan segalanya. Bukankah bagus jika kau mempunyai keinginan seperti itu?"


Somi memalingkan tatapannya dari Lego. Ia melangkahkan kakinya ke depan perlahan dengan tatapan tanpa kedipan mata. "Ini yang tidak kutahu. Ayahku mengatakan bahwa seorang putri harus menjadi permaisuri yang anggun. Bisa menyenangkan suami, serta pandai merawat diri."


"Aku menyukai politik karena aku mengerti. Aku tidak ingin dijodohkan. Aku masih muda. Zaman sekarang tidak seharusnya masih ada tradisi menikah dini."


"Setelah Bindusa mengetahui tempatku, dia pasti akan memberitahukan ini kepada ayah. Dan mereka tidak akan tinggal diam kepadaku,"


"Hanya ada satu cara, Nona," timpal Lego sembari melangkahkan kakinya mendekati Somi.


Mereka saking berhadapan kembali. Somi yang menengadah menatap wajah Lego yang tinggi, sedangkan Lego menunduk.


Tatapan yang meyakinkan dan pasti dari Lego sangat ditunggu Somi saat ini.


"Apa?"


"Menikahlah denganku,"

__ADS_1


Deg.


Perkataan secara tiba-tiba. Lego tidak merasa kaku untuk mengatakan hal ini. Sementara Somi membantah keinginan Lego.


Ia memicingkan matanya. Kedua alisnya naik, "Kau menganggap ini bercanda?" ucap Somi.


"Aku serius. Setelah status kita sah, kita temui ayahmu, dan katakan bahwa kita sudah menikah. Dengan cara ini ayahmu akan berhenti menjodohkanmu,"


Somi lebih menyipitkan tatapannya lagi. Ini sangat to the point. Tanpa kehadiran basa-basi dan tanpa aba-aba.


"Kau pikir menikah berdasarkan kerja sama,"


"Nona, kita adalah jodoh. Untuk apa kita menunda pernikahan lagi. Kita sudah sama-sama tahu bahwa kita berjodoh,"


"Kita? Kau gila? Kau sedang mengarang cerita, hah?"


"Kau masih tidak mempercayaiku? Kau bisa tanyakan kepada peramal atau petapa agung. Bahkan alam semesta sudah menyurakanku dan kau."


"Itu khayalanmu, Lego."


Secara agresif, Lego memegang erat bahu Somi. Meyakinkan Somi bahwa apa yang dikatakan Lego semuanya benar. Bahkan kebenaran langsung dari Dewa.


Meskipun cintanya belum tumbuh, tapi Lego ingin merubah takdir serta memperpanjang keturunan seperti apa yang dikatakan Wilyusa waktu itu.


^^^"Dengan cepat, kau harus memiliki keturunan. Dengan begitu, kau akan mendapatkan anugerah dewa, karena anugerah dewa sanagt besar jika melewati seorang bayi. Dengan anugerah dewa, kau akan mudah menyelesaikan pekerjaanmu."^^^


"Percayalah. Aku menyukaimu, menikahkah denganku," ucap Lego.


...----------------...


"Beberapa pengawal akan dibagi dua. Tugas yang sangat paduka inginkan, yaitu meruntuhkan Kerajaan Lembuh dan pemuda yang menyusup ke kuil."


"Pasukan pertama dengan duaratus pengawal akan mendobrak Kerajaan Lembuh. Dan duaratus pengawal akan mencari penyusup itu."


Sudah biasa. Akhir-akhir ini Rindosaka selalu menghabiskan waktunya di aula utama. Tentu karena kasus lahirnya raja baru membuat dirinya gelisah karena belum diketahui apa jawabannya.


Ditambah kasus pembunuhan petapa agung kuil kerajaan ini. Peristiwa yang sudah terjadi membuatnya terancam. Meskipun ia sakti tapi jika takdir tidak mendukungnya, ia akan kalah.


Panglima Edeun yang berbicara di tengah-tengah kehadiran petinggi kerajaan di aula ini. Rindosaka yang terduduk di kursi singgasana, di atas, paham dengan rencana Panglima Edeun. Ia setuju dengan pendapat Edeun, mendapatkan target dengan satu waktu. Hal ini menarik untuk Rindosaka.


"Karena wilayah Mettadik sangat luas, mungkin akan memakan waktu lama untuk menemukan pemuda yang paduka inginkan,"


"Sudah cukup panglima Edeun. Lakukanlah rencanamu, aku percaya padamu," ujar Rindosaka menginterupsi ucapan Edeun.


"Baik Raja,"

__ADS_1


__ADS_2