
Ia terus gusar mondar-mandir tidak tahu harus melakukan apa. Yang intinya saat ini ia panik karena keadaan Lego sangat miris. Meskipun tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Lego, namun ia merasa bertanggung jawab untuk membantunya.
Tatapan mata yang khawatir serta panik, kuku tangan yang terus ia gigit sepanjang kegusarannya. Dan pikiran melayang jauh, mencari bagaimana cara ia bisa membuat Lego sadar.
"Berpikirlah, Somi. Ayo berpikir," gumamnya.
"Aku memang tidak tahu banyak tentang racun dan penawar. Tapi aku pernah menggunakan racun botulinum untuk melumpuhkan musuh," gumamnya.
"Air kelapa?" seketika Somi terhenti, ia teringat dengan air kelapa yang bisa menyembuhkan beribu penyakit ataupun luka.
"Kenapa tidak terpikirkan dari tadi,"
Tanpa berpikir panjang lagi, Somi beranjak, melangkahkan kakinya dengan berlari kecil keluar dari gubuk ini.
Swoosh,
Setelah kepergian Somi, seseorang masuk ke dalam gubuk itu. Aura sihir yang kuat dari seorang dewi yang tak lain adalah Reduka.
Reduka mengetahui bahwa Lego terluka. Apa yang Lego alami, Reduka akan mengetahuinya. Karena mereka memiliki insting yang bisa terasa satu sama lain. Selain karena dewa yang memberikan insting Lego pada Reduka, mereka mamiliki darah keturunan yang dekat.
Reduka menghampiri Lego yang terbaring di atas ranjang kayu tanpa kasur. Pertama-tama ia melihat Lego serta kondisinya. Tidak berlangsung lama, Reduka membalikkan tubuh Lego. Karena luka Lego di belakang, maka Reduka harus melihat luka itu.
Perlahan tangan putih mulusnya menghampiri luka Lego. "Racun botulinum," gumamnya.
Reduka melepaskan sentuhannya. Ia melihat tangannya ada darah Lego yang menempel setelah ia menyentuhnya. Seketika tangannya melepuh. Bukan karena darah Lego, melainkan racun botulinum ikut tertempel di lengannya.
__ADS_1
"Tidak ada cara lain. Ini seperti racun modern, aku akan mencoba sihirku," ucapnya setelah mengalihkan penglihatannya dari tangan yang melepuh.
"Ya dewa. Apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan Lego," gumamnya.
Keadaan Lego sudah sangat miris, namun nafasnya masih bisa normal. Racun botulinum memang menyerang pernafasan, namun sampai saat ini Lego bisa bertahan.
Tanpa berkutik lama lagi, Reduka memejamkan matanya. Tangan kanannya mengangkat dengan mengepal jarinya di samping kepala Reduka.
"Tidak perlu khawatir Reduka. Lego akan baik-baik saja selama dia bersama wanita yang sedang bersamanya," ujar dewa yang terdengar oleh Reduka saja.
Terlihat Reduka mengerutkan dahinya. "Siapa wanita itu, Dewa?" gumam dalam batinnya, yang menghubungkan komunikasinya dengam dewa.
Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Reduka diutus Dewa Vrede untuk mendampingi Lego. Dan saat ini, yang berkomunikasi dengan Reduka adalah Vrede.
"Ini akan menjadi takdirnya. Sekarang pergilah,"
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang tengah berlari menuju gubuk yang ditempati Lego. Reduka menoleh ke arah pintu, hanya sejenak. Lalu ia membalikkan tubuh Lego kembali ke semula. Dan dia menghilang hanya satu detik.
Kleek
Pintu terbuka perlahan dengan menampakkan Somi yang segera masuk. Dengan membawa tiga buah kelapa segar, beberapa kain dan tali kecil dan air dalam wadah kayu.
Somi menghampiri Lego yang terbaring. Tubuhnya ia dudukkan di kursi kayu kecil yang ia seret dari sudut gubuk.
__ADS_1
"Aku merasa bersalah karena terlambat mengobatinya," batin Somi yang masih panik.
Melihat bibir Lego yang kering membuat hati Somi merasa tergeser. Rasa iba yang ia rasakan sulit ditolak. Meskipun awalnya ia menolong Lego karena sebagai perikemanusiaan. Namun di hati yang paling dalamnya, ia seolah-olah merasakan hal yang lebih dari sebagai perikemanusiaan.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati ia membersihkan darah yang berserakan dengan air bersih. Air dari sungai yang sengaja Somi bawa untuk membersihkan darah Lego.
Satu per satu kain itu ia lilitkan di tubuh Lego layaknya baju. Kemudian Somi membalik tubuh Lego menjadi terlentang kembali.
Somi mengambil satu kelapa. Dengan tangannya, ia membuka lubang kecil di kelapa itu dengan mudah seakan tangannya adalah pisau. Ia dekatkan kelapa itu ke mulut Lego. Kemudian diminumkannya air dalam kelapa itu.
Ini seolah-olah gagal karena air kelapa itu bukannya masuk ke dalam mulut Lego. Air itu malah terbuang sia-sia. Ini karena sulit untuk meminumkan air kelapa itu.
"Sulit sekali. Bagaimana lagi caranya supaya air kelapa ini masuk ke mulutnya," gumam Somi.
Ia berpikir sejenak masih dengan memegang kelapa. Tersirat ide bagus namun memalukan, hal inti* yang mengandung unsur dewasa.
"Aku tidak bisa," gumamnya seakan seseorang memerintahnya.
Somi mengalihkan tatapannya lagi kepada Lego yang terbaring miris.
"Tidak ada cara lain lagi," gumamnya.
Kemudian ia meminum air kelapa itu dengan banyak. Perlahan bibir itu mendekat ke bibir Lego. Rasa yang aneh yang tak pernah Somi rasakan ini muncul. Entah perasaan apa.
"Aku akan membalas budi," batin Somi.
__ADS_1
Matanya memejam ketika jarak wajah mereka sangat dekat. Hingga cup, bibir itu menempel. Dengan tanpa lama, Somi meminumkan air kelapa itu dari mulutnya.