
Di sebuah villa mewah yang besar dengan taman indah yang mengelilinginya dan juga kolam renang di dalamnya, tinggal-lah seorang pengusaha muda yang kaya raya dengan beberapa pelayannya yang selalu ada untuk melayaninya.
"Tuan Muda, semuanya sudah siap." Kalimat terucap dari seorang Kepala Pelayan bernama Eko Gusnandar yang telah berumur 55 tahun. Eko Gusnandar menunduk sebagaimana bentuk penghormatan kepada Tuan Mudanya tersebut di dalam ruang kamar tidur tempat Tuan Mudanya sedang berada.
"Tidak perlu sampai menunduk seperti itu. Anda lebih tua dari pada saya, Pak Eko." Tuan Muda yang sedang mengenakan jas hitamnya tersebut segera berbalik dengan senyuman di wajahnya.
"Ini adalah pekerjaan saya. Sudah sewajarnya saya melakukan hal ini." Eko Gusnandar segera mendekati tepat di hadapannya untuk merapikan dasi yang di kenakan oleh tuan mudanya tersebut.
"Terimakasih. Pak Eko sudah bersama saya sejak saya masih kecil. Kalau tidak salah saat itu usia saya masih sekitar 2 tahun. Pak Eko sudah saya anggap sebagai ayah kedua bagi saya."
"Saya sangat bersyukur Tuan Muda tumbuh menjadi orang yang sangat baik. Sekiranya sudah 20 tahun berlalu sejak pertama kali saya bertemu dengan Tuan Muda. Saya harap Tuan Muda selalu di berikan kebaikan." Kedua tangan Eko Gusnandar menepuk pundak Tuan Mudanya dengan lembut.
"Terimakasih, Pak Eko." Tuan Muda yang mendengar perkataan Eko Gusnandar tersebut merasa sangat senang.
Tuan Muda yang bernama lengkap Satria Putra Dinata adalah pengusaha properti dan investasi kedua terbesar di dalam negeri. Sekitar 10 tahun yang lalu, perusahaan milik ayahnya bukanlah perusahaan besar seperti sekarang. Berkat keahliannya sedari kecil, Satria Putra Dinata mampu menaikkan keuntungan bagi perusahaan. Hingga 5 tahun berlalu, ayahnya memberikan kendali penuh perusahaan kepada Satria Putra Dinata.
Saat ini, Satria Putra Dinata sedang bersiap untuk pergi ke sebuah acara di salah satu Panti Asuhan. Satria Putra Dinata akan memberikan bekal yang layak untuk anak-anak di sana. Acara seperti ini sudah mulai di langsungkan olehnya sejak setahun yang lalu di hampir semua panti asuhan yang berbasis di sekitar wilayahnya. Kedua orang tuanya mendukung apa yang di lakukan oleh putra satu-satunya itu. Mereka tahu bahwa apa yang di lakukan putranya itu adalah hal yang sangat baik. Berkat didikan dari kedua orang tuanya, Satria Putra Dinata benar-benar tumbuh menjadi seseorang yang sangat baik dan peduli ke sesama.
Satria Putra Dinata yang sudah bersiap pun beranjak pergi keluar dari dalam villanya dan di temani oleh Eko Gusnandar. Pada bagian teras, para pelayan lainnya sudah berbaris dengan rapi. Mobil sudah siap menunggu. Para pelayan mulai menunduk untuk memberi hormat saat Satria Putra Dinata sedang berjalan melewati tepat di hadapan mereka.
"Terimakasih, semuanya." Tak lupa, Satria Putra Dinata memberikan salam balik kepada para pelayannya itu.
Supir mulai membukakan pintu mobil tepat di saat Satria sampai di hadapannya. Satria pun masuk dan supir dengan hati-hati menutup pintu mobilnya.
"Saya berangkat dulu, Pak Eko." ujar Satria Putra Dinata dari balik jendela mobil yang di naikinya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Tuan Muda." Eko Gusnandar menunduk untuk memberikan salam keberangkatan untuk Tuan Mudanya tersebut.
Mesin mobil pun menyala dan mulai berjalan pergi ke tempat yang akan di tuju. Selama dalam perjalanan, Satria Putra Dinata hanya melamun memikirkan bagaimana kehidupan yang akan di jalani ke depannya.
"Apakah hanya akan seperti ini terus?" Dalam hati Satria Putra Dinata berkata dengan perasaan yang hampa.
***
__ADS_1
Waktu pun berlalu dan sampailah Satria Putra Dinata di Panti Asuhan. Panti Asuhan tersebut memiliki luas bangunan yang cukup kecil. Satria Putra Dinata yang keluar dari dalam mobil sudah di sambut oleh beberapa Pengasuh di Panti Asuhan dan juga Panitia acara yang di bentuk oleh Satria Putra Dinata.
"Selamat datang, Tuan." Salah satu Pengasuh itu mendekati dan membungkuk padanya.
"Tidak perlu membungkuk, Bu. Anda lebih tua dari pada saya. Jadi seharusnya saya yang memberi salam hormat kepada anda." Satria Putra Dinata yang melihat Pengasuh itu segera mengangkatnya.
"Baiklah, Tuan. Tidak hanya tampan, tapi anda sungguh sangat baik. Saya benar-benar berterimakasih karena anda sudah mau mengunjungi dan membantu Panti Asuhan ini."
"Sama-sama, Bu. Saya berterimakasih kembali."
"Ngomong-ngomong, apakah truk yang mengangkut barang-barang sudah sampai di sini?" Satria Putra Dinata melihat sekeliling untuk memastikan apakah kedatangannya terlalu cepat.
"Belum datang, Tuan."
"Begitu, ya. Seharusnya sebentar lagi datang." ujar Satria Putra Dinata sambil melihat jam pada tangan kanannya.
Tak lama kemudian truk yang di tunggu-tunggu pun datang. Truk mulai berhenti. Para Panitia mulai menurunkan barang-barang yang akan di berikan kepada anak-anak.
"Baiklah." Dengan senang hati Satria Putra Dinata mengikuti para pengasuh untuk menuju ke ruangan acara. Satria Putra Dinata melihat sekeliling dan menemukan bahwa bangunan itu benar-benar butuh perbaikan.
Sesampainya di dalam ruangan acara, terlihat anak-anak menyambut dengan riang. Satria Putra Dinata melambaikan kedua tangannya untuk membalas sambutan dari anak-anak tersebut. Acara pun segera di mulai. Anak-anak terlihat sangat senang dengan acara yang sedang berlangsung, mulai dari menyanyi bersama, menggambar bersama dan banyak hal lainnya.
Sampai pada penghujung acara, Panitia mulai membagikan barang-barang untuk bekal anak-anak kedepannya. Saat acara pembagian, Satria Putra Dinata keluar ke teras sejenak untuk melakukan sebuah panggilan telepon.
"Halo. Dalam waktu dekat, tolong anda siapkan pekerja untuk merenovasi sebuah bangunan. Alamatnya akan saya kirimkan segera. Terimakasih." Kemudian Satria Putra Dinata menutup panggilan yang tertuju pada Sekretaris yang merupakan tangan kanannya tersebut.
Tiba-tiba sebuah pukulan kecil yang lembut terasa pada salah satu kaki Satria Putra Dinata. Satria Putra Dinata yang penasaran melihat ke bawah. Seorang anak perempuan yang masih berumur 4 tahun muncul di hadapannya. Satria Putra Dinata pun duduk di lantai teras demi melihat anak perempuan itu dari dekat.
"Pa-... pa?" Sebuah panggilan yang tak di duga dari anak perempuan itu kepada Satria Putra Dinata. Kemudian salah satu Pengasuh datang menghampiri mereka berdua.
"Oh, di situ kamu rupanya, Diana." Pengasuh itu menggendong anak perempuan itu.
"Diana. Apakah itu nama anak perempuan ini?" Satria Putra Dinata mulai berdiri kembali.
__ADS_1
"Iya benar, Tuan. Dia yang termuda di antara anak-anak lainnya. Tapi dia tidak mudah bergaul, jadi dia selalu pergi menyendiri dan menjauh dari anak-anak lainnya. Saat bertemu orang asing juga dia akan langsung menangis. Makanya orang lain yang akan mengadopsinya tidak pernah berhasil." Pengasuh itu menjelaskan tentang anak perempuan itu. Kemudian salah satu Panitia acara datang menghampiri.
"Tuan, untuk acara terakhir adalah sesi foto bersama."
"Baiklah, ayo!" seru Satria Putra Dinata dan mereka pun mulai kembali ke dalam untuk melanjutkan acara terakhir.
Setelah sesi foto, maka berakhirlah acara. Satria Putra Dinata mulai berpamitan kepada anak-anak dan juga para Pengasuh. Para Panitia juga mulai bersiap-siap untuk pergi.
"Terimakasih, semuanya." Satria Putra Dinata pun menuju ke mobilnya dan melambaikan kedua tangannya untuk salam perpisahan. Namun, saat akan memasuki mobil terdengar seruan seorang anak perempuan.
"Pa!" Anak perempuan itu mendekati Satria Putra Dinata.
Kemudian Satria berbalik. Anak-anak, para Pengasuh dan para Panitia yang ada di situ melihat dengan terkejut. Salah satu pengasuh mendekat dan menggendong anak perempuan itu.
"Maaf, Tuan. Tidak biasanya Diana seperti ini." Pengasuh itu pun kembali. Diana melihat ke arah Satria Putra Dinata dengan menjulurkan tangan mungilnya. Satria Putra Dinata yang menatap balik ke arah Diana mulai merasakan sesuatu.
"Tunggu." Segera Satria mendekati Pengasuh itu.
"Ada apa, Tuan?" tanya Pengasuh itu.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu pada anak perempuan ini?"
"Tentu boleh, Tuan." Pengasuh itu pun menghadapkan Diana ke arah Satria Putra Dinata.
"Diana. Apakah kamu mau ikut bersama ku?" Tanpa berpikir panjang lagi sebuah ajakan dari Satria Putra Dinata dengan degup jantung yang terasa cukup keras. Orang-orang yang melihat cukup terkejut dengan apa yang di katakan oleh Satria Putra Dinata.
"Tuan Satria kan masih muda! Belum menikah pula! Apa Tuan Satria benar-benar akan mengadopsinya?" Seperti itulah yang di pikirkan oleh orang-orang di sekitar saat ini.
Seketika itu pula, sebuah anggukan kepala dari Diana menjawab dari ajakan Satria Putra Dinata. Terlihat para Pengasuh yang sudah membesarkan Diana pun tak sanggup menahan haru. Kemudian Diana merentangkan kedua tangannya yang ingin di gendong oleh Satria Putra Dinata. Semua orang terlihat sangat senang.
"Baiklah, mari pulang ke rumah kita!" seru Satria Putra Dinata.
Sekali lagi sebuah anggukan kepala dari Diana membalas ajakan Satria Putra Dinata dengan pelukan erat yang begitu hangat.
__ADS_1