
( 4 Bulan Yang Lalu )
Di dalam ruangan salah satu perusahaan lokal berbasis makanan dan olahan, sedang terlaksana sebuah interview terhadap seorang wanita yang melamar pekerjaan. Sudah berada 4 orang pria di hadapannya yang saat ini sedang memberikan pertanyaan - pertanyaan kepada wanita tersebut.
"Nama saya Andini Wirajaya, saat ini usia saya menginjak delapan belas tahun. Pendidikan terakhir saya, lulusan SMP. Saat ini, saya hanya tinggal berdua dengan ibu saya. Ayah saya sudah meninggal tiga tahun yang lalu."
Begitulah perkenalan yang diberikan untuk menjawab langsung beberapa pertanyaannya. Selain peserta lain, hanya Andini yang berpenampilan kurang menarik. Ke-4 orang tersebut mulai berbisik - bisik dengan ragu.
"Begini, nona. Seperti yang nona sudah ketahui, syarat pasti untuk dapat bekerja di perusahaan kami adalah berpendidikan tinggi. Namun sayang, kami tidak dapat menerima anda yang hanya lulusan SMP saja. Walaupun pada kelengkapan surat lamaran di sini sudah tertulis bahwa anda sangat berprestasi saat SMP, dengan berat hati kami tetap tidak dapat menerima anda. Mohon jangan salahkan kami. Anda sudah boleh pergi, nona. Terimakasih." Salah satu dari ke-4 orang tersebut menjelaskannya dengan keputusan yang sudah bulat.
Andini pun berdiri dari tempatnya duduk dan memberi salam saat hendak beranjak pergi. Seiring keluar dari kantor perusahaan tersebut, tak terabaikan lagi perasaannya saat ini sangat sedih. Mencari kemana pun, hasilnya tetap sama. Mencoba bekerja di sebuah perusahaan besar yang hanya bermodalkan ijazah lulusan SMP.
__ADS_1
"Ah, gawat ! Sebentar lagi aku harus pergi ke toko buku." Andini pun bergegas pergi.
Sesampainya di Toko Buku yang sangat sederhana, Andini mulai bersiap untuk bekerja. Dia sudah bekerja selama 3 tahun untuk menutupi kebutuhannya sehari - hari. Namun upah yang di dapat pun tidak seberapa karena tempatnya bekerja tak begitu banyak pembeli.
"Kamu sudah datang, Andini ?" Seorang wanita tua yang berusia sudah 53 tahun datang menghampiri Andini.
"Iya, Mbok Inah." Begitulah Andini memanggil pemilik toko tersebut.
"Seperti biasa, mbok. Tidak diterima." Dengan wajah yang sedang menutupi sedihnya, Andini mencoba tersenyum.
"Begitu, ya. Andini, setelah kamu selesai bekerja hari ini ada sesuatu yang mau mbok sampaikan sama kamu." Mbok Inah mengatakannya dengan wajah yang sedih.
__ADS_1
"Baik, mbok." Andini yang mendengar perkataan dari Mbok Inah menjawabnya sambil tersenyum. Namun, dia tahu bahwa apa yang akan di sampaikan oleh Mbok Inah bukanlah hal yang baik bagi dirinya.
Mbok Inah pun pergi ke ruangan yang lain, sedangkan Andini melanjutkan pekerjaannya menjaga toko. Seperti biasa, toko sepi tak ada pembeli. Dengan banyaknya waktu luang, Andini biasa membersihkan buku - buku dari debu. Dia pun juga selalu membaca setiap buku yang ada dan tak pernah bosan membacanya berulang kali.
Waktu pun berlalu dengan cepat. Hari sudah menjelang sore dan toko akan segera tutup. Andini berberes - beres walaupun tak banyak yang akan dibereskan. Setelah selesai, Andini pun menghampiri Mbok Inah.
Mereka berdua mulai saling duduk berhadapan. Suasana menjadi hening dikarenakan mereka berdua tak mengatakan apapun. Andini dan Mbok Inah hanya tertunduk dalam waktu yang cukup lama.
"Andini." Mbok Inah memulai perbincangan untuk mengakhiri keheningan.
"Iya, mbok." Dengan kepala masih tertunduk, Andini menjawabnya.
__ADS_1