Putri Kesayangan Tuan Muda

Putri Kesayangan Tuan Muda
Episode 4


__ADS_3

Tak lama berselang, karena Satria Putra Dinata sudah tak sabar ingin menikmati waktu dengan putrinya tersebut, dia pun segera berpamitan kepada orang-orang di sekitarnya.


"Untuk semua yang ada di sini, saya berterimakasih atas waktu yang anda semua luangkan. Jika anda sekalian masih ada yang berkenan ingin menyampaikan sesuatu kepada saya, mungkin pada saat pertemuan kita selanjutnya dengan senang hati saya akan mendengarkannya." Dengan nada yang halus dan kalimat yang sopan, Satria Putra Dinata mengatakannya pada orang-orang di sekitarnya. Mereka pun menerimanya dengan senang hati, dengan semua mata yang masih tertuju kagum akan sikapnya membuat mereka tak dapat lepas dari Satria Putra Dinata.


"Saya mohon pamit karena saya sudah tidak sabar ingin menikmati kebersamaan dengan putri saya." Sebuah tawa kecil dari Satria Putra Dinata di berikan di hadapan mereka. Mereka yang melihatnya justru semakin tak ingin pergi dari hadapan Satria Putra Dinata. Sedangkan Satria Putra Dinata sendiri segera beranjak pergi dan terlihat ibunya sejak tadi sudah menunggu.


"Maaf telah membuat mu menunggu, Bu." Satria Putra Dinata datang menghampiri Ibunya dengan perasaan khawatir.


"Tidak apa - apa, Nak. Ibu senang melihatmu selalu ramah terhadap orang-orang di sekitar dan mereka pun juga ikut menghargaimu." Sebuah pujian dari Ibu tercintanya. Satria Putra Dinata pun turut senang atas perkataan dari Ibunya itu.


"Papa Diana memang Papa yang paling baik! Diana sayang Papa!" Kalimat datang dari bibir Diana Putri Dinata dengan sebuah pelukan yang hangat kepada Satria Putra Dinata. Satria Putra Dinata sontak terkejut dan membuatnya semakin senang.


"Papa juga sayang Diana!" Satria Putra Dinata pun mengusap kepala Diana Putri Dinata dengan lembut. Diana Putri Dinata yang merasa senang kembali memeluk Satria Putra Dinata, namun kali ini dengan pelukan yang lebih erat.

__ADS_1


"Diana juga sayang Nenek!"


"Makasih, Sayang. Nenek juga sayang Diana." Sang Nenek pun sangat senang mendengar ucapan dari cucu kesayangannya dan mencubit dengan lembut pipi imutnya itu.


"Lucunya! Untung saja aku belum pergi dari sini."


"Iya, benar. Ini momen-momen terbaik!"


Sebagian orang-orang tersisa yang masih berada di sekitar merasa sangat senang melihatnya.


"Jadi akan kemana dulu kita pergi, Bu?" Satria Putra Dinata tak cukup berpengalaman soal ini. Dengan sedikit bingung, dia menanyakannya langsung pada Ibunya.


"Kamu dulu kan juga pernah kecil, Nak. Jadi, kamu pasti tahu. Jika masih bingung, coba tanyakan saja pada Diana." Ibunya sedikit tertawa dengan apa yang di tanyakan oleh putranya itu.

__ADS_1


"Diana sayang, Nenek gak mau ngasih tau papa. Diana tau kita harus kemana?" Satria Putra Dinata menatap serius pada putrinya itu.


"Main sama Papa!" Tanpa memikirkan hal yang rumit, dengan polos Diana Putri Dinata mengatakannya sambil tersenyum riang.


"Benar juga. Diana memang putri Papa yang pintar. Berarti kita pergi menuju ke tempat bermain!" Satria Putra Dinata yang mendapatkan jawaban langsung dari putrinya itu mulai bersemangat. Mereka bertiga pun pergi menuju ke tempat bermain anak-anak.


"Kyaaa...! Ini pertama kalinya aku melihat Tuan Satria seperti itu."


"Benar. Dia sangat lembut pada putrinya."


"Apakah aku bisa menjadi istrinya, ya?"


"Jangan mengkhayal terlalu tinggi!"

__ADS_1


Sementara itu, orang-orang yang masih mengikuti Satria menjadi riuh sendiri. Mereka tetap berjalan mengikuti dari jauh di belakang.


__ADS_2