Putri Kesayangan Tuan Muda

Putri Kesayangan Tuan Muda
Episode 26


__ADS_3

Suasana ruangan pun semakin sunyi seiring larutnya malam. Mereka yang sedari tadi menikmati hidangan tersebut pun telah selesai menyantapnya.


"Satria. Ada hal yang ingin ku sampaikan padamu." Bima kembali memulai pembicaraan. Terlihat Satria sedang meneguk sisa minuman miliknya. Rio juga telah duduk dengan tenang.


"Benarkah ? Baiklah, akan aku dengarkan." Satria pun meletakkan gelasnya. Bima mulai memasang wajah serius.


"Aku akan melangsungkan pernikahan dalam waktu tiga bulan lagi. Aku harap kau bisa datang pada saat itu." Bima menghela nafasnya dan memperhatikan respon Satria. Tak disangka Satria hanya terdiam sejenak.


"Hei ! Kau kenapa ? Apakah sebegitu terkejutnya kau mendengar aku akan menikah ?"


"Ah, maaf. Aku memang benar - benar terkejut setelah mendengar itu. Aku hanya tak menyangka seseorang seperti dirimu bisa juga merasakan yang namanya jatuh cinta."


"Kau mengejekku ? Tapi aku tak bisa menyangkalnya. Dia hadir dalam kehidupanku yang seperti ini. Semenjak dia berada di dekatku, hari - hari yang ku lewati terasa menyenangkan. Dulu kami berdua sempat berpisah dalam waktu yang terbilang singkat, namun terasa sangat lama hingga membuatku merasakan yang namanya kerinduan. Jadi, aku memutuskan untuk memilikinya sepenuhnya." Bima menjelaskannya dengan wajah bahagia.


"Aku turut bahagia setelah mendengarkan penjelasanmu. Seorang sahabat rela datang jauh - jauh hanya demi mengatakannya langsung. Tentu saja, aku pasti akan menghadirinya. Aku ucapkan selamat." Satria pun memeluk sahabatnya itu. Berhubung Rio sudah diberitahukan sebelumnya oleh Bima, ia hanya menyaksikannya dengan senyum bahagia.


"Terimakasih. Aku akan menantikan kedatanganmu di sana. Ngomong - ngomong, aku terkejut saat mendapat pesan dari dirimu dua tahun yang lalu. Kau mengadopsi seorang anak. Semenjak menerima pesan tersebut, aku selalu ingin mendengarkan penjelasan langsung darimu." Bima sangat ingin mengetahui tentang keputusan Satria tersebut.

__ADS_1


"Soal itu hampir mirip dengan penjelasan yang kau berikan padaku. Sepertinya kau sudah tahu maksudku. Dia hadir dan menyentuh bagian dalam hatiku."


"Jika seperti itu, aku mengerti. Aku jadi ingin bertemu dengan putrimu. Yang aku khawatirkan adalah kapan kau akan memiliki seorang pasangan ?"


"Aku bisa saja melajang sampai tua." Satria tertawa dengan candaannya.


"Aku sedang serius. Sebenarnya aku tak terlalu mengkhawatirkan tentangmu, tetapi aku mengkhawatirkan tentang putrimu. Bukankah sosok seorang ibu sangat penting bagi kehidupan sang anak ?"


"Kau benar sekali. Aku juga ingin putriku merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu. Kedepannya, aku akan memikirkan dan membicarakannya pada putriku. Terimakasih." Terlihat dari wajahnya, Satria merasa lega telah membicarakan hal penting seperti itu dengan Bima.


"Itulah gunanya sahabat. Sepertinya aku tak bisa berlama - lama. Pagi sekali aku akan melakukan penerbangan kembali menuju ke rumah untuk mempersiapkan pernikahanku. Jadi aku harus kembali ke hotel. Rio, aku akan merepotkanmu lagi saat mengantarkanku ke hotel dan juga bandara." Bima pun berdiri dan pergi menuju ke kasir.


"Maafkan mengenai itu, Rio." Satria yang melihatnya jadi merasa bersalah.


"Tidak apa - apa, tuan muda. Anda tidak perlu meminta maaf."


Setelah Rio menyelesaikan transaksi pembayaran, ketiganya pun beranjak keluar dari dalam restoran.

__ADS_1


"Kalau begitu kita berpisah di sini. Aku harap selama tiga bulan kedepan kau sudah bisa membawa seorang pasangan ke pernikahanku. Sampai jumpa !" Bima tertawa dengan candaannya sambil pergi menuju ke mobil yang dikendarainya.


"Ternyata dia masih saja sama seperti yang dulu." Satria juga turut pergi menuju ke mobilnya yang berada di sisi lain tempat parkir. Ketiganya pun kembali ke tujuannya masing - masing.


Sementara itu diwaktu yang sama, tepatnya di sebuah taksi yang sedang dinaiki oleh Andini dan Putri, keduanya sedang panik dengan situasi yang terjadi saat ini.


"Kak Putri, bagaimana ini ? Kalau begini kita akan terlambat kembali ke asrama. Semua ini gara - gara kakak yang berkeliling mencari barang belanjaan lainnya !"


"Kenapa disaat seperti ini kamu malah jadi menyalahkanku ? Tapi kamu kan juga menikmatinya, dasar rubah kecil !" Putri pun memberikan beberapa cubitan kecil pada perut Andini.


"Ampun, kak. Iya, Andini minta maaf." Andini tak berkutik menerima cubitan - cubitan tersebut.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai ke tujuan. Terlihat satpam sudah mulai menutup gerbang. Dengan cepat keduanya membayar dan turun dari taksi. Mereka bergegas menuju gerbang sambil berlari dengan membawa cukup banyak barang belanjaan di kedua tangan.


"Tunggu, Pak Satpam !" Putri berteriak agar Pak Satpam tak mengunci gerbangnya sebelum kedatangan mereka. Teriakannya pun berhasil didengar. Pak Satpam yang sadar menunggu keduanya masuk.


"Terimakasih banyak, pak." Dengan nafas yang terengah - engah keduanya berterimakasih.

__ADS_1


"Tadi itu hampir saja. Benar - benar sangat menyenangkan." ungkap Putri dengan senyum lebar.


"Iya. Benar sekali, Kak Putri." Andini pun ikut merasakannya. Keduanya kembali dengan selamat dan segera pergi menuju ke kamarnya. Hari yang mereka lewati dipenuhi dengan keringat kebahagiaan.


__ADS_2