
(2 Tahun Kemudian)
Tok-! Tok-! Tok-!
"Masuk!" Sebuah ketukan pintu terdengar di sebuah ruang kerja perusahaan milik Satria Putra Dinata berada sekarang. Satria Putra Dinata yang sedang mengetik pada laptopnya berhenti sejenak.
"Maaf mengganggu pekerjaan anda, Tuan." Seseorang masuk setelah membuka pintu tersebut.
"Oh, ternyata Pak Rio. Apa yang membuat anda datang ke tempat kerja saya?"
"Anda dapat memanggil saya Rio saja, Tuan Muda. Saya merasa tidak pantas menerima panggilan sebaik itu dari Tuan Muda." Rio perlahan berjalan menghadap Satria Putra Dinata. Rio adalah Sekretaris perusahaan. Tangan kanan bagi Satria Putra Dinata. Saat Satria Putra Dinata sedang berada di luar perusahaan atau pun urusan lainnya, Sekretaris Rio lah yang mengerjakan di bawah pengawasan langsung oleh Satria Putra Dinata.
"Ah, baiklah. Padahal saya sudah berkali-kali mencoba memanggil anda seperti itu karena usia kita yang berjarak sekitar 5 tahun. Saya hanya ingin menghormati anda, Rio. Walaupun demikian, anda benar-benar masih terlihat sangat muda." ungkap Satria Putra Dinata.
__ADS_1
"Mohon maaf apabila saya selalu menolaknya dan juga terimakasih atas pujian anda, Tuan Muda. Saya merasa tersanjung." Sekretaris Rio membungkuk atas rasa terimakasihnya.
"Baiklah. Mari kita lanjutkan mengenai kedatangan anda, Rio."
"Ini adalah bahan untuk rapat yang akan di adakan pada sore hari nanti. Saya ingin anda untuk mengeceknya. Apabila berkenan, Tuan Muda bisa datang ke dalam rapat itu." Sekretaris Rio mulai menyerahkan sebuah berkas. Satria Putra Dinata yang menerimanya mulai membaca dengan seksama. Sekretaris Rio memperhatikan bagaimana Satria Putra Dinata mengecek berkas yang di buat olehnya. Betapa terkagumnya ia melihat Tuan Mudanya saat sedang serius menangani berkasnya tersebut.
Sekretaris Rio sudah sejak dulu mengagumi sosok Satria Putra Dinata. Dia begitu baik dan dermawan terhadap orang-orang di sekitarnya. Dia bahkan pernah berpikir untuk siap menyerahkan nyawanya sendiri demi Tuan Mudanya itu.
"Berkasnya sudah saya periksa. Hasilnya juga bagus. Bisa anda pakai untuk rapat pada sore hari nanti." Satria Putra Dinata kembali menyerahkan berkas tersebut kepada Sekretaris Rio.
"Oh, satu hal lagi yang anda minta tadi. Sepertinya saya tidak bisa menghadiri rapat. Saya akan mempercayakannya pada anda, Rio. Saya minta maaf." ujar Satria Putra Dinata.
"Tuan muda tidak perlu meminta maaf. Seperti biasa saya akan melakukan yang terbaik. Terimakasih sudah mempercayakannya pada saya." Sekretaris Rio membungkuk atas rasa terimakasihnya.
__ADS_1
"Maaf jika lancang, apakah Tuan Muda sudah ada janji lainnya?"
"Benar. Hari ini setelah pekerjaan saya telah selesai, saya akan menemani putri saya berbelanja. Sebentar lagi dia akan memasuki Sekolah Dasar. Waktu sangat cepat berlalu." Satria terlihat tertawa kecil di hadapan Sekretaris Rio.
"Semoga hari anda dan putri anda menyenangkan, Tuan Muda." Sekretaris Rio sangat senang melihat Tuan Mudanya itu lebih berseri dari pada sebelumnya.
"Terimakasih, Rio."
"Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu untuk kembali bekerja, Tuan Muda."
"Ah, baiklah."
Sekretaris Rio pun membungkuk dan beranjak pergi dari ruangan Satria Putra Dinata. Sejenak Satria Putra Dinata melihat ke arah jendela kaca di ruangannya. Satria Putra Dinata merasa tak sabar ingin bertemu dengan putri kecilnya itu. Kemudian Satria Putra Dinata kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Waktu demi waktu terlewati. Pekerjaan yang sedari tadi di kerjakan pun telah selesai. Satria Putra Dinata mulai mengemasi barang-barang di mejanya. Memakai jas kerjanya yang di letakkan pada kursi tempatnya duduk, Satria Putra Dinata mulai beranjak pergi dari ruangannya. Saat keluar terlihat semua pegawainya memberikan salam padanya.
"Terimakasih atas kerja keras kalian." Sebuah kalimat semangat yang tak pernah bosan di ucapkan oleh Satria Putra Dinata kepada para pegawainya untuk membalas salam. Satria Putra Dinata pun menuju ke mobil yang sudah terparkir di depan, siap membawa Satria Putra Dinata kemana pun dia akan pergi.