
Keduanya pun saling bertatap mata. Kemudian Andini segera menghampirinya. Ia memegangi salah satu tangan pria itu dengan wajah yang penuh curiga. Satria cukup terkejut dengan apa yang sedang dilakukan oleh wanita tersebut.
"Mau pergi kemana anda, pak ?" Andini berusaha mengintrogasinya.
"Tentu saja pergi dari sini." Satria merasa bingung kenapa wanita itu bertanya seperti itu.
"Apakah pakaian yang anda kenakan ini berasal dari toko ini ?"
"Iya, benar sekali."
"Saya melihat anda keluar dari ruang ganti pakaian dan terlihat terburu - buru dengan mengenakan pakaian yang berasal dari toko ini. Kalau begitu, anda seharusnya menuju ke kasir terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat ini, apakah saya salah ? Jangan bilang anda ingin mencuri pakaian ini tanpa sepengetahuan para pegawai toko ? Beruntung saya melihat anda, pak." Andini mempererat genggamannya pada tangan pria tersebut agar tak mencoba lari darinya. Satria sendiri perlahan - lahan sudah mulai memahami situasi yang sedang dihadapinya.
__ADS_1
"Sepertinya wanita ini salah paham. Apakah aku beritahu saja yang sebenarnya ? Tapi tindakannya sungguh sangat baik. Tak banyak orang berani mengambil tindakan seperti ini. Kalau dipikirkan dari sudut pandangnya, tindakan yang dia lakukan itu benar. Jika diperhatikan lagi, dia juga masih muda. Kalau begitu aku akan sedikit menjahilinya. Lalu akan kuberikan sebuah hadiah karena telah berbuat baik." bisik Satria didalam hatinya.
"Kenapa anda tiba - tiba terdiam ? Jadi benar anda ingin mencoba mencurinya ?!"
"Maaf. Saya melakukan ini karena terpaksa. Sebenarnya saat ini adalah hari ulang tahun putri saya. Saya mengatakan kepadanya kalau saya mendapatkan pekerjaan besar sebagai hadiah untuknya. Makanya saya akan mengenakan pakaian ini kehadapannya. Saya hanya ingin membuatnya tersenyum dan bangga memiliki ayah seperti saya." tutur Satria dengan wajah yang memelas walaupun ia tidak tahu apakah perkataannya tersebut dapat dipercaya oleh wanita ini.
"Maafkan papa telah menggunakanmu sebagai kejahilan ini, Diana !" teriak Satria dalam hatinya.
"Bodoh ! Kenapa anda melakukan hal ini ? Jika anda tertangkap, bagaimana nasib putri anda ? Seharusnya anda tahu, setiap anak pasti akan bangga dengan ayah mereka sendiri. Dengan berada disampingnya saja sudah membuat anak anda merasa senang. Ah, maaf. Tiba - tiba air mata saya keluar." Andini pun segera mengusap air matanya.
"Sepertinya aku sudah kelewatan. Baiklah. Aku akan menjelaskan kesalahpa-..." bisik Satria dalam hatinya yang seketika itu terpotong oleh perkataan wanita itu.
__ADS_1
"Saya akan membantu anda, pak. Ikut saya !" Andini dengan cepat menarik tangan pria itu dan menuju ke kasir.
"Kenapa kita menuju ke kasir ?"
"Saya akan membelikan pakaian yang sedang anda kenakan. Sebenarnya saya ingin melaporkan anda. Tapi putri anda pasti akan merasa sedih. Anda harus berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, mengerti pak ?"
"Baiklah. Saya berjanji." Satria pun sudah pasrah karena situasi yang sudah tak bisa ia jelaskan kembali. Selanjutnya, ia hanya menurutinya. Kejahilannya langsung mendapatkan sebuah balasan. Ia benar - benar merasa bersalah akan perbuatannya.
Keduanya pun sampai dihadapan kasir. Sang kasir yang melihat Satria pun ingin memberikan salam kepadanya. Namun dengan cepat Satria memberikan sebuah isyarat dengan menggelengkan sedikit kepalanya dan menempatkan jari telunjuk di bibirnya. Sang kasir pun memahaminya.
"Saya akan membeli ini dan juga pakaian yang sedang dikenakan oleh pria ini. Bapak jangan banyak bergerak !" Andini meletakkan pakaian yang sudah dipilihnya dan menghadapkan pria itu pada kasir. Kasir pun mulai memeriksa harga pakaian yang sedang dikenakan oleh Satria.
__ADS_1
"Aku merasa diperlakukan seperti barang. Mungkin ini balasannya padaku." bisik Satria dalam hatinya. Sang kasir mencoba menahan tawa atas situasi yang sedang dialaminya.