
"Apakah tuan muda tidak mengajak nona kecil ?" tanya Pak Eko saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke dalam gedung.
"Saya sudah mengajaknya, tapi..."
( 3 Jam Yang Lalu )
"Diana ! Dimana kamu, sayang ?" Satria memanggil putrinya yang sedang bersembunyi di rumah. Ia mencoba berkeliling dan bertanya pada para pelayannya. Namun, para pelayan tersebut sudah bekerja sama dengan Diana agar tak memberitahukan keberadaannya. Satria pun dibuat bingung.
Satria kembali berkeliling dengan mencari tempat yang memungkinkan putri kecilnya itu untuk bersembunyi. Hasilnya pun masih tetap sama. Seiring waktu, Satria mulai kelelahan.
"Tempat ini terlalu besar untuk seorang anak kecil bersembunyi. Baiklah, papa akan menerima tantanganmu, sayang. Jika dicari tidak ketemu, maka sebaiknya membuat perangkap." Satria menemukan ide supaya putrinya itu keluar dari tempat persembunyiannya. Ia pun mulai menyiapkannya.
Sementara itu, di tempat yang gelap dan sempit sedang berada Diana yang bersembunyi.
"Papa pasti gak akan menemukanku." tawa kecil Diana. Diana begitu percaya diri dengan tempat persembunyiannya. Namun, ia menyadari tak ada tanda - tanda dari ayahnya yang sedang mencarinya lagi.
Kruuk, Kruuk, Kruuk~
__ADS_1
Tiba - tiba suara perutnya mulai berbunyi menandakan ia sedang merasakan lapar. Ia tahu bahwa sekarang seharusnya sudah waktunya untuk makan. Namun, Diana mengurungkan niatnya sampai ayahnya menemukan dirinya.
"Kenapa papa lama sekali ? Tunggu. Bau apa ini ? Enak sekali." Saat mencium aroma tersebut, perut Diana benar - benar sudah tak dapat menahannya lagi.
"Udah gak tahan !" Dengan keputusan yang tanpa pikir panjang, Diana keluar dari tempat persembunyiannya. Ia pun pergi menuju ke tempat dimana aroma itu berasal.
Setelah sampai di ruang makan dimana aroma itu berasal, terlihat Satria sedang menikmati makanan yang berada di meja makan. Satria yang menyadari keberadaan putrinya itu segera menggodanya dengan makanan yang tersedia di meja.
"Ini sangat enak sekali ! Uh, enaknya !" Tiap gigitannya, Satria ekspresikan dengan wajah yang penuh kenikmatan sembari melirik - lirik putrinya itu.
"Papa curang !" Diana yang sudah tak tahan pun menuju ke meja makan dengan wajah cemberutnya. Ia bergabung dengan ayahnya dan menyantap makanan tersebut. Satria dan beberapa pelayan yang melihatnya dibuat tersenyum sendiri. Keduanya pun menyantap makanan bersama - sama.
"Diana. Nanti papa mau pergi ke sebuah acara. Apakah kamu mau ikut ?"
"Gak mau." Wajah Diana kembali cemberut dan mengalihkan pandangannya. Satria menyadari kenapa putrinya bersikap seperti itu.
"Papa minta maaf. Kamu terlalu jago saat bersembunyi. Lain kali papa pasti bakal menemukanmu. Maafin papa, ya ?"
__ADS_1
"Janji ?" Diana menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji." Satria pun menempelkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik putrinya itu. Keduanya kembali berbaikan.
"Jadi, apa Diana mau ikut dengan papa ?"
"Gak mau." jawab Diana tanpa berlama - lama.
"Kenapa ? Kamu masih marah sama papa ?" Satria begitu terkejut.
"Gak, kok. Ini hukuman karena papa berbuat curang." Diana menjulurkan lidahnya dengan senang. Ia pun pergi dari meja makan dan menuju ke kamarnya.
"Tunggu papa !" Satria pergi menyusul Diana. Keduanya berakhir saling mengejar dan Satria pun menerima hukuman dari putrinya itu.
( Kembali Ke Waktu Saat Ini )
"Jadi seperti itu kejadiannya. Nona kecil sekarang sudah berani memberikan hukuman pada anda, tuan muda." Pak Eko tak mampu menahan rasa senang terhadap keduanya.
__ADS_1
"Benar. Dia akan menjadi wanita yang tangguh saat sudah dewasa." Satria pun juga tak mampu menahan tawa kecilnya. Akhirnya, keduanya sampai tepat di depan gedung.