Putri Kesayangan Tuan Muda

Putri Kesayangan Tuan Muda
Episode 10


__ADS_3

"Maaf menunggu lama, bu." Satria menghampiri ibunya yang telah menunggu di sebuah bangku. Terlihat Satria sedang menggendong Diana yang sedang mengantuk tak bertenaga di punggungnya.


"Sepertinya dia sangat kelelahan setelah bermain. Tapi lihatlah senyum di wajahnya, menandakan dia sangat menikmati saat bermain bersama dengan mu, nak." Ibunya turut senang melihat anak dan cucunya bersenang - senang bersama hari ini.


Tut, Tut, Tut~


Tiba - tiba terdengar suara telepon dari dalam saku milik Satria.


"Sini, kemarikan Diana. Biar ibu yang menggendongnya." Ibunya pun beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Terimakasih, bu." Satria pun perlahan menyerahkan Diana kepada ibunya untuk menggantikan dirinya menggendong Diana. Satria pun segera mengambil dan mengangkat teleponnya.


"Halo, tuan muda." Sebuah panggilan dari Kepala Pelayan, Pak Eko.


"Iya, Pak Eko. Ada apa ?"


"Seperti biasa, semuanya sudah berjalan dengan baik. Penutupan kegiatannya akan di lakukan tiga hari lagi. Saya harap, tuan muda dapat menghadirinya."

__ADS_1


"Tentu, Pak Eko. Kegiatan seperti itu sangat membantu bisnis kita dan juga para partner yang telah bekerja sama. Lagi pula sudah berjalan cukup lama, tidak ada alasan untuk saya tidak menghadirinya. Terimakasih informasinya, Pak Eko."


"Sama - sama, tuan muda. Kalau begitu akan saya tutup panggilannya."


"Baik, Pak Eko." Panggilan pun berakhir.


"Nak, sepertinya Diana tidak mau melepas boneka beruang sedang di genggam olehnya." Ibunya terlihat kebingungan.


"Ah, soal itu." Satria hanya dapat tersenyum saat ingin menceritakannya.


Alat capit yang sedang digerakkan sudah berada tepat di atas boneka beruang tersebut. Satria sudah menggunakan trik sejak dia mulai menggerakkan alat capit tersebut. Kembali Satria menggunakan trik dengan waktu yang telah di tentukan.


"Dapat ! Dapat ! Dapat !" Di dalam benaknya sudah menggema kata - kata tersebut. Yang berbeda adalah, kali ini Satria sangat percaya diri.


Satria pun mulai menekan tombolnya. Alat capit tersebut mulai turun dan menjepit boneka beruangnya. Dengan degup jantung yang lebih tenang, Satria memperhatikannya. Alat capit tersebut perlahan mulai menarik diri ke atas. Hal yang selama ini di nanti menjadi kenyataan. Boneka beruang tersebut ikut naik ke atas bersamaan dengan alat capitnya.


Kemudian Satria mulai menggerakkan alat capit tersebut untuk menjatuhkan boneka beruangnya ke dalam lubang pintu keluar. Dengan perlahan alat capit itu bergerak. Sampailah alat capit yang membawa boneka beruang itu tepat berada di atas lubang pintu keluar.

__ADS_1


"Diana, mau membantu papa menekan tombolnya ?"


"Mau !" Dengan semangat Diana menjawabnya. Satria pun meletakkan tangan Diana tepat di genggaman tangan milik Satria yang berada pada tombol tersebut.


"Tekan !" Tombol pun di tekan secara bersamaan. Boneka beruang tersebut mulai terjatuh. Seiring jatuhnya, rasa terharu menyelimuti Satria mengingat kegagalan yang telah di alaminya. Setelah jatuh, boneka beruang pun berhasil di dapatkan. Seketika itu pula, Satria melakukan tos dengan putrinya.


( Kembali Ke Waktu Saat Ini )


"Seperti itulah, bu." Satria pun selesai menceritakan kepada ibunya itu.


"Kalian berdua benar - benar sangat menikmatinya." Sebuah tawa kecil di perlihatkan oleh ibunya.


"Ah benar juga, kita masih belum pergi ke toko buku sama ke toko pakaian untuk membeli perlengkapan sekolah Diana, bu."


"Tenang saja, nak. Selama kalian berdua bersenang - senang, ibu sudah membelikan semua perlengkapannya. Barang - barangnya sudah ibu titipkan ke supir. Kamu tidak perlu khawatir." Senyuman manis terlihat di wajah ibunya.


"Terimakasih, bu." Yang dipikirkan oleh Satria saat ini ialah seorang ibu yang benar - benar sangat hebat.

__ADS_1


__ADS_2