Putri Kesayangan Tuan Muda

Putri Kesayangan Tuan Muda
Episode 18


__ADS_3

Pasar terdekat hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja apabila berjalan kaki dari tempat tinggal Andini. Pada jam - jam seperti ini, pasar sudah sangat ramai. Namun tak juga terlambat. Hanya saja warga cenderung memilih waktunya sendiri untuk berbelanja maupun bercengkrama dengan sesama.


Andini yang sudah sampai di pasar pun segera berkeliling mencari barang yang sudah tercatat di daftar belanjaan. Seperti biasa, Andini suka bercengkrama kepada para pedagang. Para pedagang sendiri juga sudah banyak mengenal Andini. Tak heran mereka sangat senang bercengkrama bersama Andini.


Seiring berjalannya waktu, Andini sudah mendapatkan semua belanjaannya. Ia pun segera kembali ke rumah. Saat akan hampir sampai di depan rumahnya, terlihat dari kejauhan terdapat seorang pria tua berpakaian serba hitam dan mengenakan topi koboi sedang saling berhadapan dengan ibunya. Andini sangat mengenali pria itu dan segera menghampiri ibunya.


"Ibu !" Seketika itu Andini mendekati ibunya dan meletakkan belanjaannya ke lantai.

__ADS_1


"Ternyata anak mu sudah kembali. Kalau begitu, prosesnya akan jadi lebih cepat." Pria tua itu seketika tertawa.


"Bu, kenapa pak tua bangka ini datang ? Bukankah bulan ini kita sudah membayar hutangnya ?" Dahi Andini mengerut dan menatap tajam kepada pria itu. Ibunya yang sedari tadi berbicara dengannya juga terheran.


"Hei, nona muda ! Jaga bicara mu ! Aku datang ke sini menagih hutang kalian karena permintaan bos yang diatas. Aku hanya perantara. Permintaannya adalah menagih hutang kalian terus menerus, dengan begitu aku akan diberikan bonus bayaran lebih banyak. Siapa yang akan menolak permintaan seperti itu ?" Pria itu kembali membalas dengan tatapan tajamnya. Andini dan ibunya menjadi kesal karenanya.


"Ngomong - ngomong, dari dulu aku selalu memperhatikan bahwa kau dan anak mu ini sangat cantik. Untuk sekarang lupakan dulu soal anak mu yang masih belum berpengalaman, bagaimana kalau kau menjadi istri ketiga ku ? Aku pasti akan meringankan beban hutang kalian." Pria tua itu mendekati ibu Andini dan mengangkat dagunya. Seketika itu Andini tak dapat lagi menahan amarahnya dan menampar pria tua itu dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Dasar anak kecil !" Pria tua itu mengangkat tangannya dengan tinggi dan berniat membalas tamparan itu kepada Andini. Dia pun mulai mengayunkannya ke wajah Andini. Namun, tak tinggal diam ibunya menahan ayunan tangan milik pria itu.


"Sudah cukup ! Jangan berbuat seenaknya lebih jauh atau akan ku panggilkan setiap tetangga yang ada di tempat ini ?!" Ibunya yang sudah benar - benar kesal melepaskan tangan pria itu dengan kuat.


Seketika itu Andini pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa amplop dan melemparkannya dengan kasar ke arah pria tua itu. Pria itu pun membukanya dan melihat isi di dalam amplop tersebut.


"Itu untuk bayaran tiga bulan kedepan. Seharusnya jumlah uang yang ada di dalam amplop itu lebih dari cukup. Kalau sudah tidak ada keperluan lainnya, pergilah !" Andini segera mengusir pria tua itu. Pria itu sejenak menghitung sejumlah uang yang diberikan padanya.

__ADS_1


"Baiklah. Uang ini akan ku terima. Aku akan pergi. Sampai bertemu lagi tiga bulan kemudian." Pria itu memasukkan amplop itu pada sakunya. Dia pun beranjak pergi. Namun tiba - tiba dia terhenti.


"Penawaran yang ku berikan untuk menjadi istri ketiga ku, masih berlaku ! Pikirkanlah baik - baik !" Pria itu berteriak dari jauh sambil tertawa. Andini dan ibunya yang mendengar perkataan tersebut benar - benar marah dibuatnya.


__ADS_2