Putri Kesayangan Tuan Muda

Putri Kesayangan Tuan Muda
Episode 3


__ADS_3

Saat dalam perjalanan setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Satria Putra Dinata berangkat menuju ke tempat yang sudah di tentukan sebelumnya, di mana sudah menunggu putri kesayangan dan juga Ibunya. Selama 1 tahun belakangan ini, setiap Satria Putra Dinata pergi untuk bekerja, Diana Putri Dinata selalu di titipkan kepada Ibunya.


Saat 1 tahun pertama ketika Ibunya tinggal sementara untuk membantu merawat Diana Putri Dinata, Diana Putri Dinata belum sepenuhnya dekat. Diana Putri Dinata hanya menempel pada Satria Putra Dinata seorang. Jadi selama itu, Satria Putra Dinata melakukan pekerjaan kantornya di rumah.


Namun sejak 1 tahun kedua ketika Ibunya sudah akan beranjak meninggalkan rumah mereka, Diana sudah mau di ajak untuk pergi bersama. Saat ini, Diana Putri Dinata sedang di titipkan di rumah Ibu Satria Putra Dinata. Diana Putri Dinata sudah sangat dekat dengan Ibu Satria Putra Dinata yang merupakan nenek baginya.


Mereka bertiga berencana untuk jalan bersama dan pergi berbelanja untuk keperluan Diana Putri Dinata bersekolah nantinya. Semua dokumen-dokumen saat ini sedang di persiapkan.


Tak berapa lama, sampailah Satria Putra Dinata di Mall Center, pusat perbelanjaan terbesar di wilayahnya. Satria Putra Dinata pun turun dari mobil dan bergegas memasuki pintu utama Mall Center.


"Bukankah dia yang selalu muncul di media?"


"Benar. Dia seorang pengusaha termuda di negeri ini."


"Bisa tidak ya aku berfoto dengannya?"


"Wah, dia sangat tampan dengan jas itu."

__ADS_1


Orang-orang di sekitarnya pada membicarakan tentang dirinya. Beberapa orang memberi salam padanya. Tak sungkan pula, Satria Putra Dinata memberikan salam balik kepada mereka. Mereka pun terlihat sangat senang menerima salam darinya.


Sambil berjalan dengan gagahnya, Satria Putra Dinata di ikuti orang-orang di sekitarnya yang penasaran akan dirinya.


"Tuan. Kalau boleh tahu, apakah tuan sedang melajang?" Beberapa orang wanita mendekat dan salah satunya melontarkan pertanyaan padanya.


"Untuk saat ini, iya." Satria Putra Dinata menjawab pertanyaan mereka dengan senyuman. Para wanita itu berteriak riang mendapat senyuman manis darinya.


Satria Putra Dinata pun membuka smartphone-nya untuk mengecek pesan. Pada pesan itu, telah di berikan alamat tempat ibu dan putrinya menunggu. Satria Putra Dinata pun mempercepat langkah kakinya dan masih di iringi orang-orang di sekitarnya.


"Papa!" Diana Putri Dinata berlari menghampiri Satria Putra Dinata. Segera Satria Putra Dinata berlutut seperti sedang melamar untuk menyambut pelukan dari Diana Putri Dinata. Orang-orang di sekitarnya terkejut saat melihat apa yang ada di hadapan mereka.


"Eh, papa?!"


"Bukankah Tuan Satria belum menikah?"


"Apakah anak kecil yang imut itu adalah anaknya?"

__ADS_1


"Apa jangan-jangan itu adalah hasil dari hubungan gelap?"


"Tidak mungkin!"


"Lucunya!"


Sebagian orang menganggap yang mereka lihat adalah sesuatu hal yang buruk. Namun ada pula sebagian orang yang menganggap bahwa itu bukanlah hal yang buruk. Mereka sendiri tahu bahwa pemuda yang berada di hadapan mereka itu adalah sosok yang baik dan peduli. Jadi mereka lebih memilih untuk menanyakan langsung.


"Tuan. Apakah benar dia adalah putri mu?" Seseorang memberanikan diri mendekat dan bertanya padanya.


"Benar. Dia adalah putri kesayangan saya. Agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita semua untuk kedepannya, akan saya perjelas sekarang. Saya juga tidak suka untuk menyembunyikan sesuatu. Namanya adalah Diana Putri Dinata. Dua tahun yang lalu, saya mengadopsinya dari sebuah Panti Asuhan. Jadi sekali lagi saya pertegas, dia sudah putri resmi dari saya. Saya harap kalian mengerti." Satria Putra Dinata beranjak berdiri sambil menggendong Diana Putri Dinata. Terlihat Diana Putri Dinata sangat senang berada di pelukan Satria Putra Dinata.


"Beri salam pada mereka." Satria Putra Dinata menghadapkan Diana Putri Dinata ke arah orang-orang tersebut dan Diana Putri Dinata pun melambai-lambaikan tangannya yang mungil itu di hadapan orang-orang sekitar.


"Lucunya!"


Mereka yang tertarik mulai mengambil foto pada momen-momen yang baik itu.

__ADS_1


__ADS_2