Putri Kesayangan Tuan Muda

Putri Kesayangan Tuan Muda
Episode 15


__ADS_3

Hari pun sudah benar - benar hampir gelap. Air matanya juga sudah tak dapat lagi mengalir keluar. Secara perlahan, Andini mulai menghela nafas.


"Menangis dengan keras di tempat seperti ini. Aku benar - benar cengeng. Aku harus segera pulang. Ibu pasti sedang khawatir." Andini mulai beranjak berdiri. Namun tubuhnya terlalu lemas. Dia pun kembali terduduk.


"Ah, gawat ! Kalau begini harus tunggu beberapa menit lagi. Aku bakalan kena omel oleh ibu." Dia pun terpaksa menunggu agar dapat kembali berjalan seperti biasa. Andini tak ingin ibunya yang sedang sakit semakin khawatir melihat dirinya yang lemah ini. Andini selalu berusaha terlihat kuat dihadapan ibunya sejak kepergian ayahnya.


Tak terasa waktu 15 menit pun telah terlewati. Andini mencoba berdiri dan menggerakkan bagian tubuh lainnya. Terlihat tubuhnya sudah lebih baikan daripada sebelumnya.


"Hari ini aku terlalu banyak menangis, makanya seluruh penatku sudah keluar. Syukurlah, mungkin dengan begini ibu tak akan melihatku yang sedang kesulitan dalam pekerjaan. Waktunya pulang." Andini pun segera beranjak pergi.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu rumahnya yang begitu sangat sederhana, Andini menarik dan menghela nafasnya agar terlihat tak terjadi apa - apa.


"Aku pulang, bu !" Andini membuka pintu rumahnya. Ia pun segera masuk ke dalam. Seiring masuk, tercium aroma masakan yang membuat perutnya mulai menggema. Bergegas Andini menuju ke ruang dapur. Terlihat ibunya sedang memasak makanan.


"Dini ? Sudah pulang, ya. Maaf, ibu tidak mendengar suara mu. Segeralah pergi mandi ! Sebentar lagi makan malamnya selesai dibuat."


"Ibu, kenapa memasak ? Sekarang kan ibu sedang sakit. Seharusnya Dini yang memasakkan untuk makan malamnya." Andini mendekati ibunya dengan kekhawatiran.


"Ugh, perkataan ibu sangat menusuk. Baiklah, Dini mau pergi mandi dulu." Wajah Andini seketika berubah kecewa. Ia pun pergi menuju ke belakang.

__ADS_1


"Dasar anak itu. Lihatlah matanya yang sembab, pasti dia habis menangis. Rok yang sedang dikenakannya pun sedikit kotor. Kamu pikir ibu tidak akan tahu. Hari ini pasti sangat berat. Bukan, pasti sejak kamu lulus dari SMP. Maafkan ibu dan ayah, Dini." Dalam hati ibunya berkata sembari mengusap air matanya yang sedang keluar. Ia pun kembali menyiapkan makan malamnya.


Rumah yang sedang ditinggali oleh Andini dan ibunya ini tak memiliki kamar mandi. Namun sebuah ruang tak beratap yang sekelilingnya di tutupi oleh seng, terpal maupun papan kayu. Untuk persediaan airnya hanya mengandalkan sumur tua.


Sedangkan air bersihnya menggunakan air hujan. Apabila musim kemarau, mau tidak mau mereka berdua membelinya. Rumah yang dibeli dengan harta seadanya setelah hal buruk yang menimpa keluarga mereka.


Byur, Byur, Byur~


"Huwah ! Mandi di jam seperti ini sangat dingin. Tapi begitu menyegarkan. Ada baiknya tempat ini tak memiliki atap, bulannya terlihat begitu terang dan indah." Andini membersihkan dirinya dengan penuh rasa nyaman, karena saat mandilah pikiran dan tubuhnya menjadi rileks. Seperti biasa, Ia selalu membersihkan langsung pakaian yang sudah dikenakannya hari ini.

__ADS_1


"Wah, gawat ! Rok yang ku kenakan terdapat sedikit kotoran. Ini pasti karena aku terduduk di jalan. Aku lupa membersihkannya saat sudah berdiri. Ibu pasti sudah tahu apa yang terjadi hari ini. Biasanya terlambat sedikit saja, ibu sudah menanyakan banyak hal. Karena itu, hari ini dia tak menanyakan apa - apa selain langsung menyuruh ku mandi. Ibu benar - benar sangat pengertian." Andini bergegas menyelesaikannya sembari tersenyum.


__ADS_2